1001 Kisah

Cinta Tak Pandang Rupa

Penulis : Nyonyapap

 

“Agghhh … apakah kesalahan dan dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan? Sampai-sampai aku haruskah kamu hukum seperti ini? Ini sudah kali kedua aku dikhianati oleh wanita, tetapi ini yang paling sakit dia tega menjalin hubungan ayah dengan kandungku. Aku tidak akan pernah percaya lagi dengan yang namanya cinta…!” Aku berteriak sekencang-kencangnya berharap luka yang sangat perih di dalam hatiku ini hilang terbawa angin di tepi jurang ini.

 

Aku dikagetkan oleh seseorang, dia memeluk tubuhku dengan sangat erat dari belakang, “Seperti apakah berat masalah yang kamu alami, Anak Muda? Sampai kamu ingin mengakhiri hidup kamu di jurang ini?” tanyanya padaku.

 

“Siapa kamu? Baiklah aku…!” seruku padanya. Akan tetapi, bukannya melepaskan, dia malah semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhku.

 

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Anak Muda. Jikalau kamu mau bunuh diri, jangan di sini!” Dia berbicara tanpa melepaskan pelukannya dari tubuhku.

 

“Apa urusanmu? Terserah aku mau ngapain saja lagi pula aku tidak kenal sama kamu, jadi jangan ikut campur dengan urusanku,” cetusku dia

 

“Aku tidak akan pernah melarang kamu mau ngapain saja, asal aku tidak melihatnya. Jikalau memang kamu sudah nekat ingin berpindah alam, pergilah yang jauh aku tidak akan menahan kamu! Akan tetapi, asal kamu tahu mengakhiri hidup dengan cara seperti ini terasa sakit.” Dia terus saja bicara apa pun yang dia mau tangannya tidak lepas sedikit pun dari tubuhku.

 

“Berisik, lepaskan aku!” seruku lagi padanya.

 

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu,” sahutnya lagi.

 

“Kenapa? Apa pedulimu padaku?” cecarku lagi itu.

 

“Ha-ha-ha, aku tidak peduli padamu, Anak Muda. Tapi, aku takut nanti akan kesulitan mencari kayu bakar!” Dia terus saja menjawab ucapanku dengan cepat dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuhku.

 

“Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran.

 

“Karena hantu kamu pasti akan gentayangan di sini, lalu di mana lagi aku akan mencari kayu bakar untuk bertahan hidup!” mengungkapkannya dengan suara yang sudah mulai memanas.

 

“Aduh… aduh, jangan lompat ya! Kakiku sarang semut rangrang ini!” titahnya padaku. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh tanpa menunggu jawaban dariku terlebih dahulu, saking sakitnya gigitan semut rangrang itu dia sampai lompat-lompat, tetapi dia tidak berhenti melarang agar aku tidak melompat ke jurang.

 

Aku pun memutar tubuhku melihat ke arahnya, tenyata yang dari tadi memeluk tubuhku dengan begitu erat adalah seorang wanita paruh baya. Kalau diperkirakan umurnya sekitar lima puluh lima tahun, aku bingung mau bilang apa dia akhirnya aku pun pergi begitu saja dari sana tanpa mengucapkan kata pun.

 

Karena bergegas ingin segera pergi dari sana tidak sengaja kakiku masuk ke dalam lobang. “Awuu …,” teriakku. 

 

“Ha-ha-ha baru juga seperti itu kamu sudah mengerang kesakitan, apalagi kalau sampai kamu jatuh ke dasar jurang itu? Coba kamu bayangkan bagaimana rasa sakit yang akan kamu dapatkan setelah kamu sampai di bawah sana?” katanya padaku. Sambil mengusir semut rangrang yang menggigit kakinya, tetapi tidak satu pun dari semut rangrang itu yang dibunuh olehnya.

 

Setelah berhasil mengusir semut rangrang itu, dia mendekat padaku. “Tunggu apa lagi? Bukannya kamu ingin mencari tempat lain untuk berpindah alam?” ucapnya, sambil tersenyum mengejek melihat kearahku.

 

“Kalau Nenek tidak mau bantu, lebih baik Nenek pergi dari sini dan jangan terlalu banyak bicara jikalau ucapan Anda hanya membuat sakit hatiku!” Aku bicara tanpa mau melihat ke arahnya sebab aku tidak suka dengan cara dia mengejekku tadi.

 

 “Baiklah kalau itu maumu, Anak Muda. Aku akan pergi dari sini, tetapi kamu harus ingat kalau sebentar lagi malam segera tiba pasti di sini sangatlah gelap, dan sepertinya juga akan turun hujan asal kamu tahu biasanya hantu-hantu penunggu bukit ini akan bergentayangan!” Dia bicara sambil bergidik menceritakan padaku tentang hantu yang ada di bukit ini, kemudian dia mengambil kayu bakar yang sudah diikat tidak jauh dari tempatku duduk saat ini.

 

Setelah bicara seperti itu dia bergegas pergi sambil memikul kayu bakar yang ada didekatnya. “Dasar, Orang Tua. Sudah tahu kakiku sakit, tidak bisa berjalan, bukannya membantu malah semakin menakut-nakuti!” Aku bicara sambil berusaha untuk menggerakkan kakiku yang sakit akibat keseleo tadi, ternyata dia mendengar ucapanku dia kembali berbalik dan menawarkan bantuan padaku.

 

“Terserah kamu mau bilang apa, Anak Muda. Akan tetapi, sebagai sesama manusia aku tidak tega meninggalkan kamu! Jadi akan menawarkan bantuan kepadamu, apakah kamu mau ikut denganku karena sebentar lagi hujan akan segera turun!” Dia bicara tanpa menurunkan kayu bakar yang ada di kepalanya.

 

Karena aku tidak menjawab pertanyaan dia kembali bicara, “kalau memang kamu tidak mau, ya tidak masalah karena aku tidak punya banyak waktu, aku tidak bisa kalau kena hujan malam dari pada nanti aku yang menderita menahan rasa itu lebih baik aku menjadi manusia tega kali ini!” Setelah bicara seperti itu dia langsung bergegas pergi, akhirnya aku pun berteriak memanggil wanita paruh baya itu.

 

“Tunggu …, aku mau ikut karena kamu yang memaksa, kalau tidak aku juga tidak akan ikut denganmu, tetapi tolong bantu dulu aku berdiri!” seruku kepadanya.

 

kemudian tanpa banyak bicara dia langsung menurunkan kayu bakar yang sudah dipikulnya tadi lalu membantuku berdiri. “Ayo sini aku bantu!” katanya singkat. Akhirnya aku pun berusaha berdiri dengan berpegangan padanya, baru saja beberapa langkah kami berjalan tiba-tiba saja hujan deras pun turun dia tidak mengatakan apa pun. Akan tetapi, aku merasakan tubuhnya bergetar hebat.

 

Aku merasa ada yang aneh di sini karena sebab tidak mungkin dia langsung membeku karena kedinginan, hujan baru saja turun. “Apa mungkin karena usianya yang sudah mulai sewa hingga dia tidak kuat terhadap hujan? Ah, entahlah aku tidak mau menerka-nerka.” Aku mengikuti langkah kakinya, hingga kami sampai di sebuah gubuk yang sangat kecil.

 

Sesampainya kami di sana hari pun sudah mulai gelap dan hujan masih saja turun, tubuh wanita paruh baya itu semakin membusuk. Dia merebahkan tubuhnya dan aku melihat dia mencengkram kuat kedua tangannya, keringat pun jatuh bercucuran keluar dari sekujur tubuhnya. Aku tidak tega melihatnya seperti dia sedang mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan, perlahan aku mulai mendekatinya tetapi dia malah membuatku marah.

 

“Pergi… jangan dekati aku!” teriakannya keras. Namun, aku tidak menghiraukan ucapannya, aku terus saja mendekatinya tetapi aku tidak mengira dia langsung menyerang aku dengan sangat berutal, tenaganya begitu kuat, sehingga aku tidak bisa melakukan perlawanan.

 

Akhirnya penyatuan antara aku dan dia sudah tidak bisa dielakkan lagi. Aku bertambah kaget saat melihat wajahnya yang sudah mulai keriput ternyata masih bersegel.

 

Keesokan harinya dia tidak mau bicara atau melihat ke arahku, apa pun yang aku tanyakan dia tidak mengacuhkanku sedikit pun, kami berdua tinggal satu ata. Dia selalu mengurusi semua kebutuhanku, tapi tidak pernah bertegur sapa denganku.

 

Aku tahu kalau dia sangat baik berbeda dengan wanita yang selama ini aku temui, karena aku lama tinggal bersama akhirnya benih-benih cinta mulai bersemi kembali di dalam hatiku, bahkan cintaku kali ini lebih besar daripada rasa cinta yang pernah ada untuk dua mantan kekasihku, meskipun aku tahu dia sudah tidak muda lagi.

 

Dia berhasil menyembuhkan rasa traumaku akan cintanya wanita, meskipun dia tidak pernah mau menatap wajahku, tetapi aku akan terus berusaha untuk merebut hatinya hingga aku berhasil membuat dia menerima cintaku.

 

Setelah lama berusaha akhirnya aku bisa mendapatkan hatinya, kami pun menikah dan hidup bersama di tengah hutan belantara. Semenjak kejadian itu dia tidak lagi berpengaruh terhadap hujan, ternyata cinta kami bisa menghilangkan semua trauma kami di masa lalu.

 

 

Lates Chapters

Cerita Cinta Cendana

  Penulis : Wishper   Sayup isak tangis di keheningan menjelang malam terdengar merana, mengukir pedih di langit yang tengah merah merona. Lembayung baru saja…

Jodohku Dari Facebook

Penulis : Syarmalee97     "Jangan terlalu membenci seseorang. Karena bisa saja rasa bencimu berubah jadi cinta."   Kenalin nama gadis cantik ini Nayara Anandhita,…

Gara-gara Segelas Caramel Machiato

  Penulis : Uslifatunisa    Di sudut ruangan. Tempat yang selalu menjadi favoritnya dengan pesanan yang sama tiap hari, segelas cappucino. Dia selalu mengenakan setelan…

Sehidup Sesyurga

Penulis : Yuyun Ambaryani   Di sebuah restoran seafood di daerah Jimbaran, Bali. Asha dibantu oleh para karyawan restoran mengadakan pesta kejutan kecil untuk Murad,…

You and Me

Penulis : White Lily_   Sore ini, seperti biasa Dara pergi ke salah satu toko buku di pusat dunia dunia di Jakarta.   Cuaca cukup…

Melepas Luka Cinta Darimu

Penulis : Raraf   Sejak dikecewakan oleh Heri, Dila tak ingin kenal lagi dengan cowok. Heri telah berhasil membekaskan luka hati yang mendalam. Dila sangat…
error: Content is protected !!