1001 Kisah

Gara-gara Segelas Caramel Machiato

 

Penulis : Uslifatunisa 

 

Di sudut ruangan. Tempat yang selalu menjadi favoritnya dengan pesanan yang sama tiap hari, segelas cappucino. Dia selalu mengenakan setelan jas layaknya orang kantoran. Sangat cocok dipakai orang tampan dengan rahang yang tegas seperti dirinya. 

 

Diam-diam aku memperhatikannya. Setiap hari, dia selalu larut menatap layar laptop di hadapannya, jari-jari indahnya menari di atas keyboard. Sesekali dia mengacak rambutnya persis seperti orang yang tengah frustasi. Dia seolah sedang mengalami kesulitan dan tidak dapat fokus mengerjakan pekerjaannya. 

 

Pandangannya mengarah pada ponsel yang diletakkan tepat di samping gelas cappucino pesanannya. Tatapan itu terlihat dalam, tapi mengandung kesedihan. Aku bisa merasakan itu hanya dengan melihatnya. 

 

Dia mengambil layar enam inci itu dan tampak kesal menatapnya. Kemudian, dimasukkan ke dalam saku celana. Sebenarnya ada apa dengan dia? Jujur saja aku selalu bertanya-tanya akan hal itu. 

 

Anehnya, dia tidak pernah meminum apa yang telah dia pesan. Padahal, kalau memang tidak suka dia bisa memesan minuman lainnya. Aku heran setiap kali waitress membersihkan mejanya, gelas berisikan cappucino itu masih utuh tanpa tersentuh sedikit pun. 

 

Biasanya dia akan pergi ketika kafe tempatku bekerja akan segera ditutup. Dia sudah hampir dua minggu mengunjungi kafe ini, dan tidak sekali pun aku melihatnya tersenyum. 

 

Aku Livia, seorang perempuan yang memutuskan untuk merantau demi memenuhi kebutuhan hidup orang tuaku di kampung. Aku bekerja sebagai barista di sebuah kafe terbesar di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan.

 

Sejak kecil aku suka meracik kopi itulah sebabnya aku bisa dengan mudah menjadi barista. Sudah hampir tiga tahun aku merantau di sini. Belum sekali pun aku mengunjungi orang tuaku karena memilih untuk menetap beberapa tahun sebab ingin berusaha melupakan sesuatu yang sangat sulit kulakukan di sana.

 

Aku bertukar kabar dengan mereka lewat sambungan telepon. Separuh gajiku akan aku kirimkan pada orang tuaku melalui teman masa kecil. Namun, tahun ini aku berencana untuk mengunjungi mereka menggunakan cuti yang selama ini tidak pernah kupakai. 

 

Sejenak aku kembali menatap pria itu, seperti biasa tatapannya sendu, pandangannya kosong ke arah segelas cappucino itu. Dia sepertinya kesepian dan menjadikan minuman itu sebagai teman duduknya. Namun, setengah jam lagi kafe ini akan tutup. Kulihat dia mulai fokus menarikan jari-jarinya kembali di atas keyboard walaupun tatapan sendu itu masih saja menghiasi wajah tampannya. 

 

Rasanya aku ingin berbuat sesuatu, setidaknya bisa memberikan suntikan semangat untuknya. Pelanggan mulai berkurang seolah orang-orang tahu kafe ini akan segera tertutup. Saat itulah aku gunakan untuk membuatkan segelas minuman untuknya. Padahal aku tahu minuman di mejanya saja masih belum tersentuh, tapi dengan sangat yakin aku tetap membuatkannya caramel macchiato.

 

Kemudian, dengan berani aku menghampiri langsung pria itu dengan membawa segelas caramel macchiato yang baru saja selesai aku buat. 

 

“Malam, Mas. Ini caramel macchiato. Silakan dicoba dulu,” ujarku yang ditatap bingung olehnya. 

 

“Perasaan saya tidak memesan itu,” jawabnya lirih tanpa ekspresi sedikit pun. Wajahnya datar sangat datar seolah dia tidak suka akan kehadiranku. 

 

“Ini bonus untuk pengunjung setia di kafe ini,” kataku dengan menampilkan senyuman termanis yang kumiliki. 

 

Dia tersenyum tipis. “Terima kasih.”

 

Aku mengangguk senang. “Aku harap setelah meminumnya, Mas akan merasa jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Percayalah setiap kesedihan pasti akan ada kebahagiaan.”

 

Dia tertegun, aku tidak tahu apa ucapanku salah? Apa aku telah salah sampai membuatnya menatapku dengan tajam kali ini. Dia sontak berdiri dengan rahang yang mengeras serta mata yang membulat sempurna. 

 

“Memangnya kamu siapa? Apa aku terlihat menyedihkan di depanmu? Kamu bukan siapa-siapa sampai mengatakan hal seperti itu padaku,” tegasnya dengan sorot mata yang tajam. 

 

Dia langsung memasukkan laptop ke dalam tempatnya dan pergi meninggalkanku yang masih tertunduk sedih. Tunggu! Air mataku jatuh. Aku menangis. Menangisi dia yang pergi begitu saja. 

 

Apa tadi? Katanya aku bukan siapa-siapa? Rasanya menyakitkan mendengar dia mengatakan itu. 

 

Sungguh, aku pikir dengan melihatku dia akan merasa senang. Namun, nyatanya dia sudah tidak mengingatku. Aku yang dulunya disebut sebagai Putri Manis. 

 

Aku cepat-cepat menghapus air mataku yang mengalir deras itu, rasanya benar-benar sakit mengingat dialah alasanku tidak ingin kembali ke kampung. 

 

Tidak tega melihat dia terpuruk seperti itu membuatku berpikir untuk membuatkan segelas caramel macchiato. Minuman favoritnya sejak kita masih duduk di bangku SMP dulu. Mengingat dia tidak pernah suka dengan cappucino. Aku tidak peduli mengapa dia memesan minuman yang sama sekali tidak disukainya itu setiap hari.

 

Kupikir setelah delapan tahun lamanya aku bisa menjadi alasan dia untuk kembali bangkit dari keterpurukan yang tengah melanda pria itu. Namun, aku memang salah. Seharusnya aku tidak mencampuri urusannya. Terlebih aku memang tidak tahu apa-apa. Sudah saatnya aku melupakannya, bukan? Melupakan cinta pertamaku, Fathir. 

 

Sejak kecil kita sering menghabiskan waktu bersama. Namun, saat lulus SMP dia pindah ke kota karena ayahnya menikah lagi setelah setahun ibunya meninggal. Sebelum dia pergi, kami sempat berbincang. 

 

“Maafkan aku karena harus pindah ke kota, tapi percayalah aku tidak akan melupakanmu. Aku juga akan selalu meminum kopi buatanmu ketika kita sudah menikah nanti,” ujar Fathir dengan raut wajah yang cukup serius. 

 

“Jangan ngadi-ngadi. Udah sono. Ayahmu menunggu,” kataku dengan menyentuh kedua pundaknya mendorong Fathir mendekati mobil yang akan membawanya pergi dari kampung kelahirannya.

 

“Kamu mengusirku, ya. Padahal aku masih mau bermain denganmu.” 

 

“Bukan begitu, tapi sering-seringlah berkunjung ke sini. Ingat, aku menunggumu.” 

 

“Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Aku pasti akan merindukanmu Livia,” ucap Fathir sebelum masuk ke dalam mobil. 

 

Aku hanya tersenyum tipis, menatap kepergian Fathir sampai mobil yang ditumpanginya menghilang dari pandanganku. Sejak itu aku merasa kesepian. Dia juga tidak pernah sekali pun menghubungiku apalagi mengunjungi kampung kelahirannya ini. 

 

Walaupun begitu, perasaanku belum berubah. Kenanganku bersamanya masih tersusun rapi. Hingga hari ini aku akan memutuskan untuk menghapus perasaan yang hanya membuatku menderita sendirian. 

 

Sepekan berlalu begitu cepat. Aku memutuskan untuk menikah dengan pria yang dijodohkan oleh orang tuaku dan berhenti bekerja, lalu akan tinggal di Kota Bunga. Kediaman calon suamiku. 

 

Saat duduk di atas pelaminan, Fathir menyalamiku juga pria yang telah menjadi suamiku itu dengan sebuah buket bunga. Aku tidak menyangka dia datang di hari pernikahanku. Aku benar-benar tidak percaya sampai-sampai aku tertegun sejenak menatapnya. Apakah benar jika pria yang tengah berdiri di depanku adalah Fathir? Kemudian, dia menatapku dengan tersenyum manis. Senyuman yang pernah kurindukan. 

 

Fathir menyebut namaku. “Maaf kalau waktu itu aku terlalu kasar padamu.”

 

Aku tersenyum simpul. “Tidak masalah, aku sudah melupakannya.”

 

“Kamu pasti marah padaku waktu itu,” jelas Fathir tertunduk malu. 

 

“Aku tidak akan pernah bisa marah padamu,” kataku seperti yang selalu aku katakan ketika dulu dia mengira aku marah padanya. 

 

Dia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Aku telah ditinggal nikah untuk kedua kalinya, tapi sakina mawaddah warohmah untukmu, Putri Manis,” ucapnya sedikit bergetar sebelum berlalu pergi. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lates Chapters

Cerita Cinta Cendana

  Penulis : Wishper   Sayup isak tangis di keheningan menjelang malam terdengar merana, mengukir pedih di langit yang tengah merah merona. Lembayung baru saja…

Jodohku Dari Facebook

Penulis : Syarmalee97     "Jangan terlalu membenci seseorang. Karena bisa saja rasa bencimu berubah jadi cinta."   Kenalin nama gadis cantik ini Nayara Anandhita,…

Sehidup Sesyurga

Penulis : Yuyun Ambaryani   Di sebuah restoran seafood di daerah Jimbaran, Bali. Asha dibantu oleh para karyawan restoran mengadakan pesta kejutan kecil untuk Murad,…

You and Me

Penulis : White Lily_   Sore ini, seperti biasa Dara pergi ke salah satu toko buku di pusat dunia dunia di Jakarta.   Cuaca cukup…

Cinta Tak Pandang Rupa

Penulis : Nyonyapap   “Agghhh … apakah kesalahan dan dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan? Sampai-sampai aku haruskah kamu hukum seperti ini? Ini sudah kali…

Melepas Luka Cinta Darimu

Penulis : Raraf   Sejak dikecewakan oleh Heri, Dila tak ingin kenal lagi dengan cowok. Heri telah berhasil membekaskan luka hati yang mendalam. Dila sangat…
error: Content is protected !!