Si gadis menepuk tutup buku hitam tebal yang telah dia baca selama beberapa waktu, masih di dalam kamar si bocah, masih bersandar di dinding, di atas ranjang putih yang nyaman. Sepoi angin menyusup melalui jendela, di mana hiruk-pikuk kian terdengar ketika hari semakin bertambah sore.
Dia menarik napas panjang, masih terheran atas paragraf-paragraf yang baru saja masuk ke dalam otaknya. Liriknya ke atas, berusaha untuk berimajinasi dan mengubah kata-kata menjadi sebuah ilustrasi. Lalu, setelah beberapa saat sesudah dia temukan gambarannya, Lucia bertanya kepada Eon, yang tengah tengkurap di atas bantal, menyelesaikan untaian kisah yang lain.
“Eon, apa kau yakin Tuan Aldebaran tidak salah orang waktu meminjamkanmu buku ini?”
“Hmmm, kurasa tidak,” jawabnya tak acuh, mengabaikan tatap cemas Lucia dan tetap berkonsentrasi ke dalam konflik utama cerita. “Karena aku yang bertemu langsung dengannya. Mana mungkin dia salah mengenali wajah orang?”
“Maksudku bukan begitu,” bantahnya. “Cuma … meskipun ini bukan yang pertama kali aku membacanya, aku tetap tidak paham dengan buku ini. Rasanya seperti dongeng, tapi entah kenapa—”
“Seperti kisah nyata, bukan? Kau juga bilang begitu tempo hari,” potong Eon, menebak isi hati si gadis yang pernah tersampaikan, yang mungkin terlupakan olehnya.
Lucia mengangguk, “Uhm. Penulis tanpa nama ini menyebut mereka Aether, sebuah julukan yang benar-benar asing. Bahkan saat di Eulandrius dulu aku tidak pernah tahu soal ini.”
Eon sontak menoleh untuk memastikan pendengarannya, “Di mana?”
“Di rumah,” balasnya cepat, namun segera dia banting pengalihan isu Eon. “Lupakan soal itu, ini, penulisnya menggambarkan Aether seakan-akan dia pernah bertemu langsung dengan mereka, seperti dia sedang mereka ulang masa lalunya, sampai-sampai aku merinding sendiri waktu membayangkannya.”
Selagi dia mengoceh dalam kegelisahannya, Lucia kembali membuka buku itu. Di dalamnya, mata sepekat buah delima itu menemukan satu alinea yang sebelumnya telah dia baca.
Di sana tertuliskan, ‘setelah kuhabiskan malam di pondok terjal dengan dindingnya yang hangat, aku tiba di puncak tertinggi Kaltvayr. Aether itu muncul dari kabut yang gelap, dari gua yang menganga. Dia menyapaku dengan geram panas napasnya. Aku menghitung empat kali tinggi diriku ketika dia mendekat dan merunduk untuk mengusirku.
Kilau matanya seperti bola besi yang meleleh, menyala bagaikan kobaran api, tak bergeming seolah siap untuk menarikku ke dalam lubang neraka. Tubuhnya dipenuhi oleh sisik semerah permata, dan bentang sayapnya selebar gerbang istana emas di Ashenstar. Masing-masing tangan dan kakinya berhiaskan cakar yang kuyakin lebih tajam daripada pedang obsidian.
Dia mengunci tatapannya kepadaku, sebelum berbalik membelakangi dan mengibaskan ekor rampingnya ke mukaku. Namun, di tengah-tengah liuk geraknya yang mengguncang pijakanku, moncong panjang yang menyembunyikan puluhan taring itu terbuka, menuturkan sebuah kata dengan suara yang menggemakan seluruh tulang di tubuh ini. Aku yakin itu adalah namanya. ‘Renanin’’.
Lucia sekali lagi menelan ludah dalam kegugupan. Dia buru-buru menunjukkan temuannya, merangkak ke samping Eon, lalu menghantam bukunya pelan di atas bacaan si bocah. “Lihat, seperti yang satu ini.”
Eon tak memiliki pilihan lain pun membacanya lagi, sepotong paragraf yang baru saja membuat bulu kuduk Lucia menjerit. Walaupun begitu, reaksinya tak begitu menggairahkan. “Mungkin memang begitu?”
Cemberut Lucia menolak tanggapan Eon, terus menyerangnya untuk menagih setitik kebenaran. “Lalu kenapa kita tidak pernah bertemu dengan satu pun dari Aether ini? Aku ingat di dalam sini dituliskan kalau ada Aether yang tinggal di taman Strovilorn, tapi waktu aku ke sana tempo hari, aku tidak melihat apa pun selain taman bunga yang warna-warni!”
Eon kemudian menutup buku itu, dan menutup bukunya juga. Dia bangkit dari posisi tengkurapnya, duduk bersila menghadap Lucia.
Dengan nada yang tenang, seolah sedang menghemat energinya, dia menjelaskan, “Aku cuma bilang ‘mungkin’, ‘kan? Lagi pula memangnya kenapa? Fakta atau fiksi, pada akhirnya kita cuma membaca tulisan dari sebuah buku, ‘kan? Daripada memusingkan itu, aku lebih memilih mengagumi penulis ini karena bisa membuatmu jadi se-emosional ini waktu membacanya. Bukankah itu inti dari sebuah cerita?”
Lucia tertunduk dan terdiam. Dia merasa Eon benar, pada satu sisi. Namun, sisi lain dari dirinya yang keras kepala masih tak bisa menerima konklusi itu. Ingin sekali dia menemui penulis dari buku itu, mengomelinya sambil meminta kejelasan tentang asal usul tulisan yang telah membuatnya kesal dan penasaran.
Menyadari renung raut si gadis, Eon menengok ke arah jendela yang silaunya tengah menguning. Dia yang terbiasa berada di kamarnya sepanjang waktu tahu betul kapan itu kapan. “Lucia, daripada suasana hatimu makin kacau, bagaimana kalau kita pergi sekarang? Kurasa festival panen tahun ini akan dimulai sebentar lagi.”
Si gadis mengangkat kepala, menunjukkan ketertarikannya, sekaligus teringat alasan awal kenapa dia bisa berada di dalam kamar Eon dan malah tenggelam ke dalam rasa jengkelnya sendiri.
“Ya,” angguknya, “aku mau.”
“Kalau begitu, tunggulah di ruang tamu. Aku mau ganti pakaian dulu.”
“Baiklah.” Gadis itu menuruti permintaan Eon dan berjalan keluar, menutup pintu kamar dan meninggalkan si bocah sendirian.
Sembari membawa dua buku bacaan mereka tadi, Eon berjalan ke arah meja baca untuk mengembalikannya, lalu pergi ke ujung lain dari kamar itu untuk membuka lemari pakaian miliknya.
Wewangian kayu kering menyeruak ketika dia mengambil lalu mengenakan satu setel kemeja putih berlengan panjang, dan celana cokelat pendek dengan bretelnya, tanpa berpikir panjang, tanpa menghabiskan banyak waktu di antara satu-dua koleksi pakaiannya.
Hanya sekitar lima menit berlalu bagi Eon untuk menyelesaikan dandanannya. Dia berjalan ke luar kamar dengan rambut cokelatnya yang tertata rapi, lengkap dengan kaus kaki putih setinggi betis yang telah membalut kakinya.
Di ruang depan, dari kejauhan bocah itu menyaksikan Lucia dan Aurum mendorong sebuah kursi roda kayu ke arah pintu utama. Eon sontak memanggilnya, “Lucia,” membuat mereka berdua menoleh dan berhenti serentak.
“Eon?” kejut Lucia melihat si bocah datang lebih awal dari perkiraannya, “Cepat sekali?”
Aurum terkekeh, “Begitulah dirinya.”
Eon mendekati mereka, memandang si gadis yang tampak baru saja menyegarkan riasannya. Dari dalam hati, pada awalnya dia ingin berkata kalau Lucia tidak perlu repot-repot menyiapkan perlengkapan milik Eon, namun dia teringat satu nasihat yang pernah dituturkan oleh sang ibu kepadanya.
“Terima kasih, Ibu, dan Lucia juga.” Eon tersenyum di hadapan wajah si gadis.
“Y-yah, tidak masalah,” alih pandangnya menatap lantai, kedua tangannya menggenggam pegangan dorong kursi roda itu. “lagian cuma begini saja.”
Aurum kemudian berlutut di depan sang anak. Jemarinya yang masih terasa hangat karena telah berjam-jam mengangkat loyang pai merapikan bretel di pundak Eon, begitu pula dengan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana pendeknya.
Selagi itu, dia memberikan sepatah pesan untuknya. “Eon, tolong berhati-hatilah waktu di luar sana. Jangan memaksakan dirimu.”
Eon mengangguk, “Ya. Eon mengerti.”
Aurum lalu menengok ke arah si gadis, tak lupa juga untuk menitipkan sebuah kalimat untuknya. “Lucia, tolong jaga Eon, ya?”
Dalam senyum yang tenang dia menjawab ringan. “Tenang saja, Bibi Aurum. Lucia juga sudah mengerti keadaan Eon.”
Sebelum mereka pergi, Aurum mengusap pipi sang anak, “Baiklah. Kalian berdua bersenang-senanglah di festival.”
“Kami pergi dulu,” pamit Eon. Tak lupa dengan Theodore yang masih berada di kursi kasir, “Kakek! Eon dan Lucia berangkat dulu ke festival!”
Perhatian Theodore yang menulis catatan keuangan hari ini dipecahkan oleh cucunya sendiri. Dia pun melambaikan tangannya, “Ah, ya! Hati-hati di jalan, Eon dan Lucia.”
Aurum membuka pintu utama, mempersilakan Eon dan Lucia pergi melewatinya. Dia berdiri di ambang pintu, memperhatikan kedua bocah itu saling beraba-aba untuk membiarkan Eon duduk di kursi roda, sementara Lucia dengan sukarela mendorongnya.
Mereka berjalan semakin menjauh, sampai fokus mata Aurum tak sanggup lagi untuk memperhatikannya. Dia berlanjut menengok ke sekitar, ke halaman depan rumah yang diisi lengang oleh beberapa pelanggan, bercengkerama santai di bawah payung teras sambil menikmati pai buatannya.
Hari telah semakin siang, dan semakin sore. Matahari mulai tergelincir dari takhtanya di puncak langit. Itu artinya, Aurum dan Theodore pada akhirnya bisa kembali bernapas lega setelah melewati pagi yang sibuk dan ramai.
“Aurum,” panggil Theodore dari balik jendela yang terbuka, tanpa melihat sosok buah hatinya, “Kau yakin dia akan baik-baik saja?”
Wanita yang sedang mengamati hiruk-pikuk kota itu bersandar tanpa beban di kusen pintu, menyilangkan tangannya sekalian. “Ya. Aku yakin.”
“Kau tahu ini adalah pertama kalinya aku melihatmu bersikap seperti ini setelah sekian lama.”
“Dan bukankah Ayah harusnya bersyukur?”
Theodore tertawa ringan dengan suaranya yang berat. “Benar juga. Aku turut senang melihatnya bisa mendapatkan teman yang tulus seperti Lucia.”
“….” Sesaat Aurum hening. Dia ingin membuka mulutnya, memperjelas alasannya, tetapi dia urungkan niat itu, menggantinya dengan sebuah senyuman manis. “Aku tahu.”