Saat petaka menghantam, saat api hanya menyisakan bara dan arang, saat samudera mencekik daratan, saat langit berteriak kesakitan, dan saat tanah tak lagi memiliki kasta, sehingga hanya tersisa jiwa-jiwa yang memandang tinggi dari pangkuan surga, atau menengadah dari dalamnya lubang neraka, mengapa hanya dia seorang yang tersisa?
Tempatnya bernaung dan tertawa, pelukan dari mereka yang tersayang, serta candaan yang memberi bunga pada sang kehidupan, ketika semua telah jauh dari raih tangannya, yang tersisa hanyalah satu, sebuah kenangan yang tak ingin lagi dia ingat.
Kejarlah mimpi setinggi angkasa, kata mereka. Sebuah pengkhianatan bagi dirinya yang hanya bisa terbaring di bawah sang mentari, kering, panas, dan tak peduli.
Dia rela bersujud dan membuang seluruh harga dirinya. Namun, tetes air mata hanyalah pinta yang buta. Isak suara hanyalah rengekan yang bisu. Sedangkan doa dari dalam hati tak akan pernah terdengar, seperti dengungan yang tuli.
Apakah itu semua adil? Apakah dalam hidupnya, dia pernah berdosa dengan begitu beratnya? Apakah timbangannya selalu berat sebelah tanpa dia ketahui?
Ketika dunia berbicara tentang keadilan, sejatinya itu adalah cara dunia untuk mengambil kembali apa yang telah menjadi miliknya. Dialah sang hakim, dan dialah sang pemberi keputusan. Apa daya seorang penuntut di hadapannya?
Akan tetapi, pertanyaannya bukanlah demikian. Dia hanya mencari sebuah jawaban. Sebuah alasan untuk meraih sesuatu yang dapat dia katakan sebagai logika. ‘Kenapa’, hanya itu saja.
Abu telah meniupkan kehidupan yang tadinya layu. Air telah puas melepas rindu dengan sang benua. Dan langit kembali menyambut kicauan para makhluk terbangnya. Setelah sekian lama, titik terang itu masih tetap lebih kecil daripada sebuah titik.
Layaknya mencari berlian di permukaan bumi. Tentu dia tahu. Itu bukanlah tempatnya. Di balik tabir sejarah, ada tirai yang belum terbuka, ada pintu yang masih terkunci. Kunci itu, adalah sumber segala penderitaannya.
“Aku menulis paragraf ini untukmu, yang aku tahu tak akan pernah mencapaimu. Hei, tegakkan punggung, dan kuatkan dirimu. Kesedihan akan menghampiri, lalu keputusasaan akan menjadi satu-satunya pandangan hidupmu. Tidak apa-apa, itulah jalanmu. Namun, jangan lupakan mereka, karena ingatan itulah yang akan membuatmu tetap berdiri.”
Kau akan penuh dendam dan luka. Langkahmu akan berat dan bersimbah darah. Apa yang kau bangun kelak akan hancur, dan apa yang kau perbaiki tak akan menebus kesalahanmu. Ironi akan menunjukkanmu kepada kebenaran. Saat itu, bukalah hatimu untuknya.”