Myriad of Meridium

Prologue

Saat petaka menghantam, saat api hanya menyisakan bara dan arang, saat samudera mencekik daratan, saat langit berteriak kesakitan, dan saat tanah tak lagi memiliki kasta, sehingga hanya tersisa jiwa-jiwa yang memandang tinggi dari pangkuan surga, atau menengadah dari dalamnya lubang neraka, mengapa hanya dia seorang yang tersisa?

Tempatnya bernaung dan tertawa, pelukan dari mereka yang tersayang, serta candaan yang memberi bunga pada sang kehidupan, ketika semua telah jauh dari raih tangannya, yang tersisa hanyalah satu, sebuah kenangan yang tak ingin lagi dia ingat.

Kejarlah mimpi setinggi angkasa, kata mereka. Sebuah pengkhianatan bagi dirinya yang hanya bisa terbaring di bawah sang mentari, kering, panas, dan tak peduli.

Dia rela bersujud dan membuang seluruh harga dirinya. Namun, tetes air mata hanyalah pinta yang buta. Isak suara hanyalah rengekan yang bisu. Sedangkan doa dari dalam hati tak akan pernah terdengar, seperti dengungan yang tuli.

Apakah itu semua adil? Apakah dalam hidupnya, dia pernah berdosa dengan begitu beratnya? Apakah timbangannya selalu berat sebelah tanpa dia ketahui?

Ketika dunia berbicara tentang keadilan, sejatinya itu adalah cara dunia untuk mengambil kembali apa yang telah menjadi miliknya. Dialah sang hakim, dan dialah sang pemberi keputusan. Apa daya seorang penuntut di hadapannya?

Akan tetapi, pertanyaannya bukanlah demikian. Dia hanya mencari sebuah jawaban. Sebuah alasan untuk meraih sesuatu yang dapat dia katakan sebagai logika. ‘Kenapa’, hanya itu saja.

Abu telah meniupkan kehidupan yang tadinya layu. Air telah puas melepas rindu dengan sang benua. Dan langit kembali menyambut kicauan para makhluk terbangnya. Setelah sekian lama, titik terang itu masih tetap lebih kecil daripada sebuah titik.

Layaknya mencari berlian di permukaan bumi. Tentu dia tahu. Itu bukanlah tempatnya. Di balik tabir sejarah, ada tirai yang belum terbuka, ada pintu yang masih terkunci. Kunci itu, adalah sumber segala penderitaannya.

“Aku menulis paragraf ini untukmu, yang aku tahu tak akan pernah mencapaimu. Hei, tegakkan punggung, dan kuatkan dirimu. Kesedihan akan menghampiri, lalu keputusasaan akan menjadi satu-satunya pandangan hidupmu. Tidak apa-apa, itulah jalanmu. Namun, jangan lupakan mereka, karena ingatan itulah yang akan membuatmu tetap berdiri.”

Kau akan penuh dendam dan luka. Langkahmu akan berat dan bersimbah darah. Apa yang kau bangun kelak akan hancur, dan apa yang kau perbaiki tak akan menebus kesalahanmu. Ironi akan menunjukkanmu kepada kebenaran. Saat itu, bukalah hatimu untuknya.”

 

Lates Chapters

XX – When the Charade’s a Masquerade

Gores pena terakhir di kertas ini bertuliskan namaku. Nama yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Nama yang… entah sudah berapa purnama tak pernah lagi kudengar.…

XIX – When the Heart Aches for a Dream

Eon menemukan kesunyian yang dia cari, terisolasi dari hingar-bingar para murid yang sedang bergairah mengayunkan pedangnya. Di bawah rimbun pohon kuno, bersama desir lembut yang…

XVIII – When the Duel Finally Commenced

Ellyalana Artemisia membuka jubahnya, memperlihatkan bentuk tubuh ramping yang terbalut oleh tunik abu-abu sepanjang kaki, dan celana kulit yang terkesan sederhana. Berjarak empat meter darinya,…

XVII – When the Guests Arrived

Akhirnya selesai. Aku berdiri seraya mendesah lelah, mencoba melepaskan kepul uap di dalam otakku yang mendidih. Tangan ini menggenggam buku, mengetuk-ngetuknya secara vertikal di atas…

XVI – When the Mundane Life Continues

Simbol jantung kehidupan terbangun dan berdetak, lonceng raksasa di puncak menara akademi lantas berdentang. Nyanyian gemanya yang berayun menggetarkan dinding, merayap ke permukaan tanah, menggugah…

XV – When Days Have Gone in Seasons

Hari-hari datang dan pergi silih berganti. Berkat desakan sang waktu, dia yang dahulu lebih memilih untuk bertengger di dalam sangkarnya, kini harus melangkah keluar dan…

XIV – When Nights Passed in My Solitude

Sampai saat ini, aku masih mengingatnya. Kurasa sedikit lucu, bagaimana aku bisa mengingat semua hal kecil dan remeh saat bersama anak itu, bahkan ketika aku…

XIII – When I Came to Know Her

Apakah dunia selalu seterang ini? Sejak saat Ayah membawaku keluar dari rumah, mendorongku ke sana kemari di atas kursi rodaku, aku tidak bisa benar-benar menyesuaikan…

XII – When the Decision Finally Made

Si gadis memimpin langkah melewati sisi Taman Strovilorn. Dia terus bungkam, sementara si bocah juga berat bibir untuk membuka obrolan. Di tengah habitat terbuka yang…

XI – When Sun Shines on The Spiral Garden

Matahari terbit dan terbenam. Bulan pun bersinar lalu menghilang. Tanggal di dalam kalender terus dicoret, hari kian berjalan. Sang waktu seolah tak peduli, tentang apa…

X – When Tears Flow Deep into The Earth

Teriakan pekik Lucia menggema ke penjuru jalanan, mengundang perhatian yang tak diinginkan. Sesaat dia melarikan diri dari kediaman Aventine, seluruh mata tertuju padanya, saling berbisik…

IX – When the Light Shines, The Tears Dry

Tiupan angin melemaskan tubuh. Pohon yang rindang adalah payung yang sejuk. Batang kerasnya pula adalah sandaran yang nyaman. Rerumputan di tanah, permadani sang alam. Biru…

VIII – When Secrets Are Laid Bare

Detik waktu kembali ke dalam hawa musim gugur. Di bawah lembayung senja yang kian memudar, di atas dedaunan kering yang berserakan mewarnai jalan, dan di…

VII – When Suspicions Taken Over

Anak kecil itu mengerutkan dahi. Begitu pula dengan jemari yang terus mengepal erat menyembunyikan basah gelisah dari telapak tangan. Dia menelan ludah ketika melihat mereka…

VI – When They Are Fated for an Encounter

Kala itu, langit biru tersiar di atas Huegel. Biru itu begitu cerah, begitu silau, matahari hanya sendiri tanpa adanya gulungan awan yang menemani. Bagi sebagian…

V – When He Finally Realized

“Kita sampai, Eon.” Perjalanan pendek telah membawa mereka ke tempat tujuan misterius yang dipilih oleh Lucia, tanpa sepengetahuan Eon. Kepala si bocah mendangak, kelopak matanya…

IV – When the Sun Starts to Set

Mereka pergi diikuti oleh bayangan panjang mereka sendiri. Ketika si gadis menoleh ke belakang, terang lampu pesta mulai berpendar, dan riuh festival masih samar terdengar.…

III – When They Arrived at The Festival

Minggu pertama di bulan kesepuluh, tepat ketika dedaunan mulai mengering pada babak pembuka musim gugur, tersaji dekorasi kota bercorak merah dan cokelat yang hangatnya perlahan…

II – When Afternoon Finally Comes

Si gadis menepuk tutup buku hitam tebal yang telah dia baca selama beberapa waktu, masih di dalam kamar si bocah, masih bersandar di dinding, di…

I – When One’s Eyes Awaken to the Sunrise

Hirup napasnya yang pertama ketika dia membuka iris zamrud itu, panjang dan bersih. Ada tetes air mata yang berpindah dari ujung kelopak mata ke jemari…
error: Content is protected !!