Myriad of Meridium

XVI – When the Mundane Life Continues

Simbol jantung kehidupan terbangun dan berdetak, lonceng raksasa di puncak menara akademi lantas berdentang. Nyanyian gemanya yang berayun menggetarkan dinding, merayap ke permukaan tanah, menggugah kesadaran dengan panggilan yang lantang. Langkah kaki para pelajar berbondong-bondong kembali ke pelukan ilmu pengetahuan, dan ketika gelombang bunyi terakhir meresap ke sisa-sisa udara pagi, satu hari panjang di dalam ruang belajar pun dimulai.

“Perang Zeldarine. Apa ada yang bisa menjelaskannya secara singkat?”

Pertanyaan pertama sang profesor ditembakkan tepat pada sasaran, ke dalam belasan otak yang masih dingin termangu, dengan sengaja menuntut kelasnya untuk menggali relung ingatan dan memuaskannya dengan sebuah jawaban.

Keheningan singkat memekakkan telinga. Ada yang menggerutu dan mengetuk-ngetuk pelipisnya, berlagak berpikir walaupun mereka tak tahu apa-apa, ada juga yang terdiam meskipun mengetahui semuanya.

Satu pelajar kemudian mengangkat tangan lalu berdiri. Dia adalah minoritas dari kawan yang hanya menatapnya penuh penantian, entah karena mereka enggan terlihat mencolok, atau mungkin karena mereka telah menyerah untuk memecahkan perkara yang sedang diangkat.

“Perang Zeldarine adalah perang besar yang terjadi di padang tundra Zeldarine, Republik Liberta, pada 507 Anno Stellaris.”

“Bagus. Duduklah,” setelah menyimak tajam penjelasan pelajar itu, sang profesor menggeser pandangannya ke penjuru kelas. “Yang lain, apa tidak ada lagi yang kalian ketahui tentang perang itu?” Nadanya dengan sengaja terdengar merendahkan, ditambah aksen ekspresi mengangkat alis untuk memancing emosi kelasnya.

Satu pelajar lain mengangkat tangan, berdiri dengan postur yang tegap ideal. Dia adalah pelajar biasa bersurai cokelat seperti kacang hazel, dengan rona wajah yang lembut, kendati memiliki sorot tegas dari netranya. Dia yang bernama Eon Richter itu kemudian menarik napas, dan mulai menurutkan ilmunya.

“Perang itu juga dikenal dengan nama Perang Pleniluna, yang diambil dari lama perang itu berlangsung. Peperangan itu, meskipun terjadi di Benua Seira di timur, memberikan dampak luar biasa bahkan sampai ke kerajaan kita di Benua Arkensia.”

Selepas kalimat terakhir itu, dia menekuk lututnya untuk kembali duduk, memutuskan untuk tidak melanjutkan uraiannya lebih panjang lagi.

Sang profesor memberikan afirmasi dengan anggukan singkat tanpa ekspresi. “Perang Zeldarine 700 tahun yang lalu tercatat telah merenggut 40% dari populasi dunia saat itu, yang mana setara dengan hampir seluruh penduduk Kerajaan Chroma pada masa ini.”

Suara kesiap yang samar terdengar bersahut-sahutan begitu seisi kelas mempelajari fakta mengerikan yang diutarakan oleh sang profesor. Namun dia tak berhenti sampai di sana, dan kembali menyodorkan pertanyaan lain kepada para muridnya.

“Sekarang, apa ada yang tahu bagaimana perang itu berawal?”

Sang profesor menunggu, dengan santai, sambil saling menggenggam tangan di punggungnya, berjalan mengitari kelas. Satu ketap, dua ketap, tiga ketap langkah, tetapi tak pula ada yang mengangkat tangan seperti dua pelajar teladan sebelumnya.

Sampai ketika sang profesor berhenti karena mendengar bisikan malu-malu dari seorang pelajar gadis di pojok ruangan, dalam ringkuk yang tampak seperti dia enggan untuk menjawab.

“T-Tenmei….”

“Hm?” toleh sang profesor ke arahnya, yang tanpa sengaja membuat gadis itu semakin gugup. “Tenmei kenapa? Coba jelaskan, tidak usah malu.”

Mudah baginya untuk berkata seperti itu. Di sisi lain, walaupun gadis terasing itu ingin setidaknya menjadi pusat perhatian di kelas, mengeluarkan sepatah kata saja membutuhkan seluruh nyali di dalam sosok kecilnya.

Dia menarik napas yang tersengguk, mencari keberanian walaupun dengan wajah semerah tomat yang terbenam dan bersembunyi di balik tata rambutnya. Seraya mengangkat tangan yang gemetaran setinggi dada, dia terpatah-patah dalam bertutur kata.

 “T-Tenmei adalah penyebab P-Perang Zeldarine. Me-mereka bekerja sama dengan kelompok radikal be-berrnama Lier Egalita untuk m-m-menguasai dunia.”

Sang profesor sudah cukup mendengarkan. Untuk sesaat, dia tak memberikan respons atau apresiasi apa-apa terhadap gadis itu, dan hanya melanjutkan langkah untuk menuju ke podium di depan kelas. Dia memegang kedua sisi podium, lantas bersuara lantang untuk memaparkan sisanya.

“Tepat seperti kata Nona Meyer. Rakyat Tenmei dan Lier Egalita, merekalah faktor utama dari Perang Zeldarine. Namun biarkan saya merapikan kata-katanya. ‘Menguasai’… bukanlah ungkapan yang sempurna. Tenmei dan Lier Egalita berkonspirasi untuk satu tujuan, yakni memonopoli kekuatan dunia.

Konspirasi dari kedua kelompok itu seringkali diibaratkan sebagai udang di balik batu, dan juga serigala berbulu domba. Umat manusia beruntung karena memiliki Dux Astrae—pemimpin para pahlawan kita di medan perang—yang berhasil menguak politik kotor Lier Egalita, dan mempersatukan seluruh dunia di atas satu bendera melawan Tenmei. Walaupun harus disayangkan, kemenangan kita ketika itu harus dibayar dengan nyawa mereka.”

Pembawaan sikap sang profesor dalam syarahnya penuh dengan wibawa, cukup kuat untuk menjerat mata dan telinga penjuru kelas agar tetap memelototi gerak mulutnya yang melepehkan ilmu-ilmu baru, tanpa berani untuk memalingkan muka.

Kemudian, setelah jeda singkat, dia membuka buku teksnya di atas podium, dan pertanyaan lain merekah. “Sekarang, apa ada di antara kalian yang bisa menyebutkan siapa saja Dux Astrae itu?”

Setiap teka-teki yang dia lemparkan sejak kelas dimulai terkesan dibuat setengah hati, seolah dengan sengaja ingin menyulut hasrat di dalam hati para muridnya untuk membuktikan diri.

Sang profesor, menarik tipis satu ujung bibirnya sembari melirik gadis pemalu bernama Meyer, memberikan pujian yang tersirat kepadanya. Berkat upaya dari sang gadis, satu tangan terangkat, lalu satu tangan lain turut mengikuti. Seperti reaksi berantai, berawal dari sebuah katalis kecil, kondisi psikologis mereka yang masih belia dan sederhana menggenggam harga diri yang tinggi.

‘Kalau gadis bernama Meyer itu bisa, lantas kenapa aku tidak?’

Panel diskusi tak kunjung usai, dan paparan terus berjalan. Papan hijau yang tadinya bersih tanpa noda, kini penuh dengan coretan berdebu dari sekotak batang kapur. Sinar matahari yang menyorot kelas telah berpindah posisi, tanpa ada satu pun yang menyadari. Pikiran yang terlena melupakan detik waktu, terlepas dari genggaman sejak ketika hari masih remaja.

Satu bunyi yang menggugah penghuni akademi untuk berhenti, adalah dentang bunyi yang sama dari lonceng raksasa yang menggiring mereka untuk memulai masing-masing kelasnya. Jam makan siang akhirnya tiba. Sekali lagi, para pelajar terbagi menjadi dua faksi yang saling bertolak belakang.

Satu bagian adalah mereka yang berperut sempit, yang mencerna makanan lebih lambat dari biasanya, sehingga buku di atas meja mereka masih terbuka, dan tangan mereka masih menggerutu mencatat pengetahuan baru yang barusan didapat.

Bagian lain adalah mereka yang mengikuti norma standar, yang segera menutup buku pelajaran untuk berjalan ke arah kafetaria di bagian belakang gedung akademi, berniat mengisi perut untuk bahan bakar sesi pembelajaran seusai istirahat makan siang.

Eon adalah salah satu dari bagian yang kedua. Di kafetaria yang luas, dengan kaca-kaca tinggi sebagai dinding tembus pandang menuju pemandangan taman hijau, dia berjalan di antara meja-meja panjang, penuh dengan celoteh para pelajar, dan denting alat makan yang saling tergores satu sama lain.

Sewaktu dia mencari-cari sambil berpikir makan siang apa yang ingin dia kunyah untuk hari ini, sesosok manusia berdiri, bersama satu tangan yang terangkat tinggi, memanggilnya dari ujung meja panjang. Eon mengernyitkan mata untuk memastikan siapa orang yang melambaikan tangan itu, dan segera menghampirinya.

“Duduklah, Eon,” suruh Yurgen yang tampak sudah menantikan kehadiran Eon.

“Apa ini?” si pemuda itu berkelit untuk duduk menghadap kawannya. Di atas meja itu, tersaji dua piring berisikan roti lapis tebal yang masih tertata rapi, belum tersentuh tangan.

“Makan siangmu Aku kalah taruhan, bukan?” tegas Yurgen, akhirnya mencaplok rakus roti itu untuk menenangkan gemuruh lambungnya.

Namun Eon mendengus remeh, bergeleng di dalam benaknya. “Aku tak menyangka kalau kau menganggapnya serius, Yurgen.”

“Huh?” pelongo Yurgen yang tak menangkap sepenuhnya perkataan Eon karena keramaian di sekitar.

“Tidak,” Eon mengambil roti itu, dan mulai memakannya. “Aku hanya bilang, ‘selamat makan’.”

Enam puluh menit berlalu singkat bagi mereka yang terlarut dalam cengkerama ringan antar rekan sebaya. Lonceng raksasa memang belum berbunyi lagi, tetapi sebagai pengganti, pendulum jam dinding yang menggantung di salah satu sisi kafetaria meneriakkan waktu dengan dentang yang sama nyaringnya.

Waktu istirahat makan siang pun berakhir, dan akan segera dilanjutkan dengan jam pelajaran yang mendidihkan otak. Berbeda dengan sesi pagi yang terasa begitu cepat, sesi siang—yang dimulai ketika perut sudah kenyang—seringkali diisi oleh uapan mulut, leher yang berat, dan jemari yang lemas menggenggam pena.

Dengan kata lain, mayoritas pelajar Akademi Eisenblume menganggap jam pelajaran siang itu sebagai nyanyian pengantar tidur di dalam sebuah penjara. Banyak korban berjatuhan setiap harinya, dan banyak ubun-ubun yang kembali dihidupkan oleh hangatnya belaian buku berkekuatan penuh dari tangan seorang profesor.

Tak lain halnya dengan Eon. Sebisa mungkin dia berusaha untuk fokus, terkadang teks yang tertulis di dalam bukunya justru terlihat bergoyang dan buram, dan kelopak matanya terasa seperti sedang memikul sekarung gandum.

Walaupun pada akhirnya, para pelajar dibebaskan tanpa syarat setelah menjalani masa hukuman penjara yang penuh dengan rasa kantuk setelah dua jam lamanya. Sayangnya, setelah mereka bebas, entah mengapa rasa kantuk yang ditahan-tahan itu pun mendadak menghilang begitu saja.

Lates Chapters

XX – When the Charade’s a Masquerade

Gores pena terakhir di kertas ini bertuliskan namaku. Nama yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Nama yang… entah sudah berapa purnama tak pernah lagi kudengar.…

XIX – When the Heart Aches for a Dream

Eon menemukan kesunyian yang dia cari, terisolasi dari hingar-bingar para murid yang sedang bergairah mengayunkan pedangnya. Di bawah rimbun pohon kuno, bersama desir lembut yang…

XVIII – When the Duel Finally Commenced

Ellyalana Artemisia membuka jubahnya, memperlihatkan bentuk tubuh ramping yang terbalut oleh tunik abu-abu sepanjang kaki, dan celana kulit yang terkesan sederhana. Berjarak empat meter darinya,…

XVII – When the Guests Arrived

Akhirnya selesai. Aku berdiri seraya mendesah lelah, mencoba melepaskan kepul uap di dalam otakku yang mendidih. Tangan ini menggenggam buku, mengetuk-ngetuknya secara vertikal di atas…

XV – When Days Have Gone in Seasons

Hari-hari datang dan pergi silih berganti. Berkat desakan sang waktu, dia yang dahulu lebih memilih untuk bertengger di dalam sangkarnya, kini harus melangkah keluar dan…

XIV – When Nights Passed in My Solitude

Sampai saat ini, aku masih mengingatnya. Kurasa sedikit lucu, bagaimana aku bisa mengingat semua hal kecil dan remeh saat bersama anak itu, bahkan ketika aku…

XIII – When I Came to Know Her

Apakah dunia selalu seterang ini? Sejak saat Ayah membawaku keluar dari rumah, mendorongku ke sana kemari di atas kursi rodaku, aku tidak bisa benar-benar menyesuaikan…

XII – When the Decision Finally Made

Si gadis memimpin langkah melewati sisi Taman Strovilorn. Dia terus bungkam, sementara si bocah juga berat bibir untuk membuka obrolan. Di tengah habitat terbuka yang…

XI – When Sun Shines on The Spiral Garden

Matahari terbit dan terbenam. Bulan pun bersinar lalu menghilang. Tanggal di dalam kalender terus dicoret, hari kian berjalan. Sang waktu seolah tak peduli, tentang apa…

X – When Tears Flow Deep into The Earth

Teriakan pekik Lucia menggema ke penjuru jalanan, mengundang perhatian yang tak diinginkan. Sesaat dia melarikan diri dari kediaman Aventine, seluruh mata tertuju padanya, saling berbisik…

IX – When the Light Shines, The Tears Dry

Tiupan angin melemaskan tubuh. Pohon yang rindang adalah payung yang sejuk. Batang kerasnya pula adalah sandaran yang nyaman. Rerumputan di tanah, permadani sang alam. Biru…

VIII – When Secrets Are Laid Bare

Detik waktu kembali ke dalam hawa musim gugur. Di bawah lembayung senja yang kian memudar, di atas dedaunan kering yang berserakan mewarnai jalan, dan di…

VII – When Suspicions Taken Over

Anak kecil itu mengerutkan dahi. Begitu pula dengan jemari yang terus mengepal erat menyembunyikan basah gelisah dari telapak tangan. Dia menelan ludah ketika melihat mereka…

VI – When They Are Fated for an Encounter

Kala itu, langit biru tersiar di atas Huegel. Biru itu begitu cerah, begitu silau, matahari hanya sendiri tanpa adanya gulungan awan yang menemani. Bagi sebagian…

V – When He Finally Realized

“Kita sampai, Eon.” Perjalanan pendek telah membawa mereka ke tempat tujuan misterius yang dipilih oleh Lucia, tanpa sepengetahuan Eon. Kepala si bocah mendangak, kelopak matanya…

IV – When the Sun Starts to Set

Mereka pergi diikuti oleh bayangan panjang mereka sendiri. Ketika si gadis menoleh ke belakang, terang lampu pesta mulai berpendar, dan riuh festival masih samar terdengar.…

III – When They Arrived at The Festival

Minggu pertama di bulan kesepuluh, tepat ketika dedaunan mulai mengering pada babak pembuka musim gugur, tersaji dekorasi kota bercorak merah dan cokelat yang hangatnya perlahan…

II – When Afternoon Finally Comes

Si gadis menepuk tutup buku hitam tebal yang telah dia baca selama beberapa waktu, masih di dalam kamar si bocah, masih bersandar di dinding, di…

I – When One’s Eyes Awaken to the Sunrise

Hirup napasnya yang pertama ketika dia membuka iris zamrud itu, panjang dan bersih. Ada tetes air mata yang berpindah dari ujung kelopak mata ke jemari…

Prologue

Saat petaka menghantam, saat api hanya menyisakan bara dan arang, saat samudera mencekik daratan, saat langit berteriak kesakitan, dan saat tanah tak lagi memiliki kasta,…
error: Content is protected !!