The Thief

Kau Harry Si Bukan?

“Hei ada yang mencarimu!” Cecilia, memanggil Sebastian.

“Siapa?” tanyanya sembari merapikan lembaran-lembaran foto yang berserakan di atas meja.

“Lihat saja sendiri! Ko Basti, bisakah kau memberikan kontaknya atau akun media sosialnya untukku?” Cecilia mengedipkan mata dan menunjuk pada pintu dengan dagunya.

Sebastian hanya tertawa dan memukul pelan kepala gadis itu dengan gulungan kertas yang kemudian dilemparkannya ke dalam tong sampah.

“Aku pulang dulu!” Sebastian berpamitan padanya. Cecilia mengangguk dan melambaikan tangannya.

Agensi tempat mereka bekerja merupakan agensi freelance. Tidak terkait dengan perusahaan mana pun. Agensi ini didirikan dua tahun lalu olehnya dan Cecilia.

“Apa aku mengganggumu?” Alex menatap pria muda di hadapannya dengan santai.

“Sama sekali tidak! Apakah ada masalah?” Sebastian tersenyum dan menatap Alex sekejap.

“Kita bicara di kafe saja.” Alex berbalik dan membuka pintu mobilnya. Sebastian mengangguk setuju dan bergegas menuju pelataran parkir di mana sepeda motornya berada.

Setelah mengenakan helm-nya, Huan menyalakan motor besarnya dan memacunya menyusul mobil Alex yang telah terlebih dahulu meluncur di jalanan. Mereka menuju kafe langganan mereka.

“Hei Joe! Kopi hitam tanpa gula ya untuk kami berdua!” Sebastian menyapa sang barista begitu mereka berdua memasuki cafe.

“Oke Bro!” Joe, sang barista mengacungkan jempolnya dan segera menyiapkan pesanan mereka.

Beberapa gadis yang tengah menikmati kopi di salah satu sudut berbisik-bisik dan sesekali tertawa cekikikan. Mereka jelas-jelas menatap Alex dan Sebastian. Keduanya memang selalu menarik perhatian saat muncul di tempat umum seperti ini.

Sebastian dengan gaya cueknya dan Alex yang bergaya santai tapi rapi. Dua karakter yang bertolak belakang tetapi menjadi paduan yang menarik mata dan hati.

“Ada apa dengan mereka?” Alex mengerutkan keningnya saat tanpa sengaja tatapannya jatuh pada gadis-gadis itu dan salah seorang dari mereka tak segan menggodanya dengan melambaikan tangan padanya.

“Mereka suka padamu!” Sebastian terkekeh dan membalas lambaian tangan gadis-gadis itu.

Alex melotot dan memukul bahunya kemudian mendorongnya memasuki ruangan khusus untuk para perokok. Keduanya memang perokok berat dan tidak pernah lepas dari asupan tembakau setiap ada kesempatan untuk menikmatinya.

“Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Sebastian bertanya setelah mereka duduk berhadapan di salah satu meja yang ada di sudut ruangan terbuka itu.

“Pihak Kepolisian mulai bergerak. Mereka pasti akan mencari dan menanyai dirimu.” Alex mengetuk-ngetukkan zippo-nya di permukaan meja kayu.

“Begitu? Biarkan saja, toh kita tidak menyembunyikan sesuatu bukan? Aku akan dengan senang hati membantu mereka.” Sebastian tersenyum semringah memamerkan deretan gigi putihnya yang cemerlang.

“Benar! Kita bukan kriminal, mereka hanya bisa menganggap kita melakukan transaksi tanpa transparansi dan itu legal.” Alex tersenyum tipis lebih mirip sebuah seringaian.

“Harry!” Tiba-tiba saja seorang wanita mendekati meja mereka dan menyapa Sebastian.

“Kau Harry bukan? Harry Si?” tanyanya tanpa basa-basi dan menatap Sebastian dengan tatapan menelisik.

“Maaf Nona, sepertinya Anda salah mengenali orang.” Sebastian tersenyum dan menatap wanita itu lekat-lekat.

“Begitu ya? Maafkan saya, Anda mirip sekali dengan seseorang yang saya kenal. Kalau begitu permisi!” Wanita itu membungkukkan tubuhnya dan pergi meninggalkan meja mereka menuju sudut lain di seberang tempat mereka duduk.

“Harry? Siapa dia?” Alex melirik Sebastian kemudian menatap wanita tadi yang kini duduk bertopang dagu di mejanya.

“Entahlah! Mungkin seseorang yang mirip denganku dan wanita itu salah mengenali.” Sebastian mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh.

Alex tidak bertanya lagi. Kebetulan pelayan datang membawakan pesanan mereka. Keduanya berdiam diri dan hanya menikmati rokok mereka hingga pelayan selesai menyajikan kopi dan beberapa camilan pesanan mereka.

Mereka kembali melanjutkan perbincangan setelah pelayan pergi. Namun Sebastian dapat melihat tatapan Alex yang lebih terfokus pada wanita yang tadi menyapanya.

“Kenapa? Dia cantik ya?” Sebastian terkekeh pelan.

“Sejujurnya dia wanita yang cantik dan baru kali ini ada seorang wanita yang membuatku ingin terus menatapnya.” Alex tertawa pelan dan menghentikan rokoknya sembarangan.

“Astaga! Ternyata Alexander Lim bukanlah gay dan dia merupakan perayu ulung. Media akan sangat senang sekali jika tahu ini.” Sebastian tertawa menggodanya.

“What?! Aku gay? Kupotong lehermu Basti! Aku normal!” Alex berseru kesal.

“Oh ya? Bukankah kau tidak memiliki kekasih atau bahkan teman dekat wanita?” Sebastian kembali menggodanya.

“Bukankah kau juga sama? Meski ada Cecilia di kantormu tetapi aku rasa dia tidak termasuk dalam kategori wanita.” Alex tersenyum masam.

“Hei! Aku normal dan aku sangat menyukai wanita. Wanita yang cantik dan seksi dengan dada besar, pinggang ramping dan pinggul penuh.” Sebastian terkekeh dan menggerakkan tangannya membentuk tubuh ideal wanita idamannya.

“Dasar mesum!” Alex mendengus kesal. Tiba-tiba saja wanita tadi berdiri dan sepertinya hendak meninggalkan ruangan.

“Sebentar!” Alex turut berdiri dan meninggalkan meja mereka, dia memberi isyarat pada Sebastian untuk tetap menunggu dan memperhatikannya.

“Halo Nona!” Alex menyapa wanita itu saat dia melewati meja mereka.

Wanita itu terkejut dan menatapnya dengan heran. Sepertinya dia baru menyadari jika ada dua orang pria di meja yang tadi disambanginya karena dia salah mengenali seseorang.

“Maaf, ada apa Tuan?” Tanyanya dengan ramah dan sopan.

“Tidak ada, saya hanya ingin mengatakan Anda cantik sekali.” Alex tersenyum tipis.

Wanita itu menatap Alex dengan tatapan aneh. Dia tidak terkejut dengan ucapan Alex barusan juga tidak merasa kesal.

“Tuan jika Anda sedang belajar merayu seorang wanita, saya akan dengan senang hati mengajari Anda.” Wanita itu tersenyum ramah dan menatap Alex lekat-lekat.

“Ivy!” Seorang wanita tiba-tiba merangsek ke meja mereka. “Maaf aku terlambat!” Wanita itu berhenti di dekat mereka dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Sepertinya dia habis berlari tadi.

“Tidak apa, Ve!” Wanita yang tengah berbincang dengan Alex tersenyum dan menepuk bahunya dengan lembut.

“Ko Alex! Kau sedang apa di sini?” Ve tiba-tiba berseru saat menyadari pria yang berbincang dengan temannya adalah Alexander Lim.

“Astaga Ve! Kau juga sedang apa di sini?” Alex tak kalah kaget dengan kehadiran Ve di kafe ini yang tak lain adalah, Veronica Lim, saudari sepupunya. Cucu perempuan satu-satunya Tuan Tua Lim.

“Kalian saling kenal?” Ve menatap Ivy dan Alex silih berganti.

“Wah sepertinya ini reuni yang menyenangkan! Bagaimana jika kita merayakannya dengan menikmati kopi bersama?” Sebastian yang melihat situasi canggung itu segera berdiri dan merangkul Alex sekaligus Ivy, menawarkan untuk menikmati kopi bersama.

Alex dan Ivy saling bertatapan bingung. Hanya Veronica yang sepertinya tidak terpengaruh dengan situasi ini.

“Ide bagus! Ayo kita pesan tempat privat!” Gadis itu berseru riang dan tanpa menunggu reaksi yang lain bergegas menyeret lengan Ivy dan Alex diikuti Sebastian.

“Ve!” Ivy berteriak memprotesnya, tetapi Ve tidak mengindahkannya dan membawa mereka menuju resepsionis.

“Satu privat room dan bill-nya dijadikan satu dengan meja mereka!” Pesannya pada gadis di resepsionis yang kemudian dengan cekatan menyiapkan pesanannya.

Lates Chapters

Berakhir

"Wah! Mirip istana di negeri dongeng!" Cecilia berseru saat motor besar Harry berhenti di depan sebuah bangunan megah bak istana. "Rumah keluarga Wong kurang lebih…

Sahabat Masa Kecil

"Pak Wang silakan!" Sebastian mempersilakan Darren Wang untuk duduk. Mereka kini berada di kafe yang dikelola anak buah mendiang Anthony. Di sudut kafe yang sepi…

Di Pelabuhan

Sebastian menatap ke sekeliling yacht. Sepi, seperti tidak ada yang menjaga. Perlahan dia menelusuri geladak dan mengetuk pintu yang diyakininya sebagai sebuah ruangan pribadi. Itu…

Mengejar Penyusup

Cecilia terbangun saat smartphone yang diletakkannya di bawah bantalnya bergetar dengan keras. Masih setengah terpejam diambilnya benda itu dan menerima panggilan video yang masuk. "Ceci…

Bukan Buku Harian Biasa

"Ini kotak musiknya?" Jonathan menatap kotak musik di atas meja. "Lihat, perhatikan dengan seksama. Mirip bukan?" Sebastian membuka sebuah album foto yang diambilnya dari tas…

Catatan Dalam Kotak Musik

Cecilia berganti pakaian dan membersihkan lantai mezanin. Ada beberapa serpihan kaca yang masih tertinggal. Dia memiliki praduga itu serpihan kaca dari bola kaca saljunya yang…

Pencuri

"Kau yakin dengan informasi itu?" Wanita cantik itu menatap pria yang berdiri menunduk di hadapannya. "Benar Nona!" Pria itu menganggukkan kepalanya. "Baiklah! Kalian harus bisa…

Kotak Musik Sang Balerina

"Kotak musik?" Harry menatap Jonathan dengan kening berkerut. "Benar Tuan. Nyonya Liliana kehilangan kotak musiknya beberapa hari yang lalu. Sepertinya Nona Anna, cucunya telah membersihkan…

Cecilia Dan Anthony

"Kau bisa memperbaikinya bukan?" Cecilia berjongkok di depan pemuda yang tengah mengamati kotak musiknya. "Aku rasa bisa, ini hanya tuasnya saja yang bermasalah. Sebentar aku…

Bertemu Tuan Tua Wong

Bunyi bel membuat Sebastian segera melompat dari tempat tidurnya. Sepagi ini dia masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Dia bergegas mengenakan kaosnya dan turun dari…

Toko Loak

"Setelah ini kalian mau kemana?" Alex bertanya setelah menghabiskan dimsumnya. "Aku mau jalan-jalan di sekitar sini. Aku mau mencari kotak musik. Sayangnya masih hujan," keluh…

Street Food

Lau pa sat festival paviliun di malam hari sungguh ramai dan menggoda siapa saja untuk mampir ke salah satu pusat kuliner di Teluk Ayer ini.…

Kisah Di Balik Berlian

"Berlian yang indah," gumam Ve menatap Karen Yu yang berputar di depannya, memamerkan gaun yang membalut tubuh semampainya. "Ini berlian hadiah dari ayahku. Menurut beliau…

Penyesalan

"Pak, tumben sekali Anda mengajak kemari?" Kai, pemuda blasteran Melayu-China itu bertanya pada Darren Wang seraya menatap ke sekeliling kafe. Hanya sebuah kafe biasa seperti…

Anthony Wong

"Kau baik-baik saja?" Harry berjongkok di depan Milli. Gadis berambut ikal itu menatapnya ketakutan. Dia memeluk kedua lututnya erat-erat.   "Milli kenapa kau takut padaku?…

Kaulah Cinderella-ku

Suasana di butik Depeche malam ini sangat meriah. Peluncuran produk baru mereka dihadiri tamu undangan dari berbagai kalangan. "Aku penasaran dengan sepatu mereka kali ini,"…

Fotografer Yang Mencurigakan

"Hanya sebuah kecerobohan kecil saja!" Darren Wang bergumam menatap lembaran laporan di tangannya. "Benar Pak! Menurut keterangan, sepertinya Nona Jill sendiri yang lupa mematikan puntung…

Kebakaran

"Tuan Xie, hari ini terakhir pemotretan bukan?" Salah seorang karyawan butik bertanya pada Sebastian. "Iya, Nona!" Sahut Sebastian tanpa mengalihkan perhatiannya dari sepasang sepatu yang…

Bahagia Hidup Bersamamu

"Tempat yang sangat sulit untuk ditembus. Dengan sistem pengamanan yang canggih dan kamera pengawas di mana-mana." Harry tersenyum menatap butik di depannya dengan seksama. Tengah…

Depeche

Butik itu baru saja dibuka. Sebastian berdiri di depan pintu kaca dan mendongak menatap papan nama yang terpampang di atasnya. "Depeche," gumamnya pelan. Sebuah kata…
error: Content is protected !!