Masih saja terdengar gelak canda tawa dari kamar Mama. Sepertinya Alin juga sudah bergabung di sana beberapa saat yang lalu.
Selesai makan siang tadi, Alin ikut menguntit di belakang bokong Mama rupanya, saat mendengar Mama kembali mengajak Erina ke kamarnya. Akhirnya tiga wanita itu saling mengobrol hangat. Obrolan yang hanya seputar tentang wanita. Fashion dan tentunya Skincare dan hal hal sepele lainnya.
Biasalah, meskipun hal sepele seperti itu kalau bagi para wanita menjadi topik paling menyenangkan untuk dibahas. Tak pandang umur sepertinya. Antara Mama dan Shela pun tidak ada yang bertanya aneh aneh pada Erina. Sedikit pun. Mereka sengaja, ingin menciptakan kenyamanan untuk Erina. Sepertinya begitu.
Mama melirik jam yang sudah bergeser dari angka dua belas.
“Erina. Sebaiknya kau ke kamar dan beristirahat lah.” Suruh Mama pada Erina.
“Mama tidak apa apa ini ditinggal?” Tanya Erina ragu ragu.
“Tidak apa apa. Ada kak Alin yang menemani bukan?” Jawab Mama.
Shela tersenyum pada Erina tanda setuju dengan keinginan Mama.
“Oh ya baiklah. Kalau begitu Erina ke kamar ya Ma, Kak Alin?”
Keduanya mengangguk bersamaan.
Erina pun melangkah keluar dari kamar Mama untuk ke kamarnya. Ah, bukan. Lebih tepatnya ke kamar Alex. Erina kan tidak punya kamar khusus di Rumah ini.
“Hihi..”
Erina terkikik hatinya memikirkan itu.
Setelah punggung Erina sudah tak nampak di pandangan Alin yang mengintip di ambang pintu, Alin langsung menutup pintu dan mendekati Mama kembali.
“Ma.. Sekarang bagaimana?”
“Entahlah.” Jawab Mama sambil menggeleng dengan wajah yang tadi ceria kini tiba tiba berubah Frustasi.
“Ma. Kita harus mempertahankan Erina bagaimanapun caranya. Mama bisa melihat kan? Erina itu baik, lembut, perhatian, penuh kasih sayang. Dia jujur, dia itu tulus. Kita sudah membuktikan sendiri. Lalu kapan lagi kita akan bertemu wanita seperti itu Ma. Wanita seperti dia langka di dunia ini sekarang Ma. Aduh, kalau Alex melepaskan dia, dimana lagi dia bisa mendapatkan wanita seperti Erina itu. Iya kalau nanti Alex salah jalan lagi dan bertemu wanita seperti Via. Kacau lagi Ma.” Celoteh panjang lebar dari Alin yang langsung di sergah Mama.
“Sudah diam. Kau ini. Mama juga sedang berpikir begitu. Tapi masalahnya, mereka itu hanya Menikah kontrak Alin! Dan kesepakatan Alex hanya sementara waktu. Sampai keadaan tenang saja. Ya ampun! Kalau mereka bercerai saat tiba waktunya nanti bagaimana Alin? Mama tidak ingin kehilangan menantu Mama itu! Huhu..” Mama malah menangis sekarang.
“Aduh.. Mama kan bisa berencana dong. Apa gitu. Atau Mama bisa ajak Erina bicara baik baik dan membujuk Erina agar dia mau tetap menjadi istri Alex. Untuk selamanya. Kalian kan sudah saling dekat ini.” Sahut Alin.
“Ide kamu bagus. Tapi itu akan menyinggung perasaan Erina. Selama ini dia tidak tau kalau kita mengetahui ini semua. Kita pura pura tidak tau. Mana Mama sanggup berbicara padanya atau untuk bertanya! Mengungkit sedikit saja Mama tidak sanggup. Kamu saja. Kamu kan orangnya sinis plus sadis. Kamu pasti bisa.” Usul Mama.
“Iya sih. Tapi kalau udah di depan Erina aku luluh Ma. Mukanya itu gemesin. Aku jadi tidak tega jika melihat wajahnya memerah. Aku malah ingin mencubitnya.” Jawab Alin.
“Aduh.. lalu bagaimana?” Mama nampak berpikir keras.
“Oh, Alex saja. Aku harus berbicara pada Alex saja.” Ucap Mama.
Alin berpikir benar juga kata Mama, akhirnya mereka sepakat untuk mencoba berbicara dengan Alexander saja.
Ya. Mama akan berbicara pada Alexander. Tidak peduli Alexander menolak. Mama akan tetap memaksa Alexander untuk mempertahankan Erina sebagai Menantunya. Dengan cara apa? Begini,
“Alex.. Sepertinya waktu Mama tidak akan lama Lagi.” Mama menangis sambil memegangi dadanya. Wajahnya memucat dan tubuhnya berbaring lemah di atas Ranjang.
“Jangan berbicara seperti itu Ma. Ku mohon.” Alex di sampingnya menangis.
“Maafkan Mama jika tidak bisa menemanimu lagi.”
“Mama. Ku mohon jangan bicara seperti itu. Mama akan sembuh. Alex akan melakukan apapun agar Mama sembuh. Alex belum bisa hidup jika harus tanpa Mama.”
Lalu wajah Mama seketika sumringah.
“Benarkah? Kau akan lakukan apapun untuk Mama? Agar Mama bisa bertahan lama menemanimu?”
Alex pun mengangguk. “Katakan, katakan apapun Ma. Alex akan lakukan.”
“Beri Mama Cucu. Mama hanya ingin cucu dari Erina.”
Alex terbelalak!
“Kau tidak bisa? ah, baiklah. Kalau begitu Mama ingin cepat mati saja.”
“Jangan Ma! Ba, Baiklah. Alex berjanji. Akan memberimu cucu dari Erina.”
Mama dan Alin terbahak bahak. Itu adalah khayalan Mama. Mama sudah menyiapkan skenario yang matang untuk mempersatukan Alex dan Erina. Dengan cara begitu.
“Lakukan Ma. Lebih cepat lebih baik.” Alin memberi Semangat pada Mama.
Sementara ini, Erina sudah berada di kamar. Dia melirik jam yang masih jauh dari sore. Dia membaringkan diri di ranjang. Ingin tidur sejenak. Mungkin sangat nyaman jika tidur tanpa adanya Alex di kamar itu.
Tapi setelah memejamkan matanya, Erina ternyata tidak bisa tidur. Terlihat dia gelisah. Meraba sisi kanan dan kiri yang kosong. Seperti ada yang kurang.
Apa ya? Ah, dia berpikir apakah karena biasanya dia tidak pernah tidur siang? Atau karena dia mulai terbiasa tidur dan disampingnya ada sosok lain? Sekarang dia sendirian.
Erina menarik tubuhnya lagi. Duduk bersandar di ujung ukiran Ranjang. Tangannya meraih Hp pemberian Alex. Sejenak ia tersenyum mengusap sebuah Poto wallpaper hp itu.
“Kenapa dia memasang Potonya disini? Apa maksudnya?” Batin Erina.
Kemarin Alexandee sendiri yang memasang Wallpaper itu. Dan saat Erina memprotes Alex mengatakan siapa tau kau merasa kesepian. Kau bisa menatap wajahku ini dan menganggap jika aku sedang ada di dekatmu.
Erina tertawa kecil. Kenapa pria itu sangat lucu ya?
“Lama lama aku juga gemes padanya.” Ia menusuk Poto itu dengan jarinya.
Lalu Erina merasa penasaran dengan wallpaper di Hp milik Alexander.
“Apa dia memakai Poto mantan kekasihnya untuk wallpaper hpnya ya?” Entah Kenapa Erina tiba tiba ingin tau Wallpaper milik Alex.
“Dia sedang apa ya sekarang?” Kemudian tangannya mulai menggeser menu dan menuju simbol panggilan warna hijau.
Nama My Husband tampan tertera di sana. Itu juga hasil ketikan Jari Alex sendiri.
Erina kembali tertawa kecil. “Bisa bisanya. Dia sedang bercanda apa sih?” Tangannya hampir saja menyentuh tombol panggilan. Tapi segera mengurungkan niatnya.
“Dia pasti sedang sibuk.”
Di dalam sebuah mobil yang melaju, Arpha Beberapa kali melirik bosnya yang tengah fokus menatapi layar hpnya.
“Hubungi saja Tuan. Dari pada penasaran.”
Alex melirik saja, lalu segera menggeser menu dan menekan nama Cute Cut…cut… di sana. Sambil terkikik kecil menertawakan nama panggilan yang ia buat sendiri itu. Tapi tiba tiba ia menahan jarinya. Dan kembali menyimpan Hpnya.
“Kenapa Tuan? Kau ragu?” Tanya Arpha.
Alex menarik sebelah pipinya.
“Untuk kejutan saja. Aku ingin tau jam segini dia sedang apa.”
Lalu pria itu tersenyum senyum membayangkan pipi gembul Erina dan bibir mungil warna pink yang sudah pernah di cicipnya.
Arpha sudah tau jawaban dari semua pertanyaannya. Dia ikut bahagia seperti halnya Bosnya saat ini, dan Arpha mulai berjanji, apapun yang terjadi tidak akan mengijinkan wanita yang sudah membuat Bosnya bahagia dan kembali bangkit ini pergi meninggalkan Bosnya lagi.
___