Antara Aku dan Dia

Maafkan Aku

Tiba-tiba cacing di perut Revan berbunyi, pertanda bahwa dirinya sedang lapar. Suara perutnya terdengar hingga ke telinga gadis itu. Seketika Diandra menoleh ke arahnya.

Revan berusaha menyembunyikan rasa malu dengan menyuruh gadis itu untuk membelikan makanan untuknya. 

Revan memasang wajah nanar, memberikan beberapa lembar uang kepada gadis itu. Lalu menyuruhnya untuk segera pergi membelikan makanan, dengan sigap dia segera pergi menuju kantin yang berada di lantai dasar.

Saat gadis itu sudah melangkah keluar pintu, akhirnya Revan dapat bernapas dengan lega. 

Dia merasa sangat malu dengan gadis cantik itu, sang adik hanya menggeleng heran melihat perlakuan sang kakak yang menurutnya keterlaluan. Begitu juga dengan Renata, wanita yang sedang duduk di kursi panjang yang berada tak jauh dari brankarnya. Renata sangat marah sekali, karena putra sulungnya memperlakukan Diandra seperti anak kecil.

“Mengapa Diandra harus menampung sikap egoismu, Revan?” tukas sang mama, dia menatap putra sulungnya itu dengan tatapan gusar. 

Renata sangat kecewa karena putranya telah memperlakukan Diandra seperti anak kecil, terbesit rasa kecewa di wajah sang mama, membuat Revan semakin heran mengapa dirinya harus di marahi hanya karena menyuruh Diandra pergi membeli makanan.

“Kenapa, Ma? Dia kan sekretaris aku. Dia itu bawahan aku, Ma.” sahut Revan, wajahnya sedikit ketakutan ketika melihat respon Renata kala itu. 

Revan menelan saliva dan tak berani menatap wanita paruh baya itu. Revan tak mengerti kenapa Renata mendadak baik kepada orang baru.

Kedua putranya merasa heran mengapa Renata sangat menyayangi Diandra padahal dia tidak pernah menyukai gadis manapun yang berhubungan dengan kedua putranya itu, terutama Revan yang merupakan putra kesayangannya.

“Tidak pantas rasanya seorang pria memperlakukan wanita seperti itu! Jika nanti Diandra kembali, mama pengen dengar kamu minta maaf sama gadis itu, kalau bukan karena gadis itu mama tidak akan tahu kalau kamu terbaring di rumah sakit ini, Revan! Mama akan tunggu sampai gadis itu kembali!” tegas Renata.

“Tapi, Ma—” Kalimat Revan terpotong.

“Sudah! Mama tidak mau dengar alasan apapun, pokoknya kamu harus minta maaf sama Diandra. Buka mata kamu, zaman sekarang jarang loh, menemukan gadis yang sopan seperti dia,”

“Mama tidak pernah mendidikmu untuk bersikap kasar seperti ini, Revan!” tukas sang mama dengan penuh penekanan terhadap putra sulungnya.

“Oke, Ma. Revan akan minta maaf ke Diandra. Revan janji gak akan mengulanginya lagi. Revan akan memperlakukan Diandra dengan baik, seperti Archand yang selalu memperlakukan Diandra dengan baik,” sahut Revan dengan suara berat.

“Ya, memang seharusnya seperti itu,” sahut Renata.

Archand hanya tersenyum saat melihat ekspresi wajah Revan ketika sang mama sedang memarahinya, pria itu mencoba membuang pandangannya agar dapat melampiaskan tawanya.

Archand takut ketahuan jika dirinya sedang menertawai sang kakak yang terlihat ketakutan saat sang mama mengomelinya.

“Rasain tuh, emangnya enak di marahin mama? Siapa suruh memperlakukan mantan kekasihku seperti anak kecil.” Archand bermonolog, dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Archand tertawa sepuasnya di dalam kedua telapak tangannya. 

Tanpa dia sadari sang kakak sedang memperhatikan tingkahnya kala itu. Revan menimpuk sang adik dengan tutup botol yang berada di atas meja kecil yang terletak di samping brankar. Rasanya sangat kesal sekali jika ada yang menertawakan dirinya kala itu. Bukannya marah, sang adik justru memeletkan lidahnya.

Dia sangat puas karena Revan sudah mendapatkan teguran dari sang mama. Archand hanya bisa berharap sang kakak akan segera sadar dan membuang sikap egoisnya itu, karena dia tak tega jika nanti mantan kekasihnya terus saja di perlakukan kasar oleh kakaknya.

“Kamu kenapa, Can?” tanya Revan. 

“Aku tidak apa-apa, hanya—” 

Archand menggantungkan ucapannya dan tak berani untuk meneruskannya, pria itu memeletkan lidahnya menghampiri pintu keluar. Archand berniat untuk menyusul mantan kekasihnya di lantai dasar. Sementara Revan masih terlihat kesal dan berusaha untuk meredakan amarahnya. 

“Dasar menyebalkan, pasti dia akan menyusul Diandra di kantin. Aku tidak terima jika mereka kembali menjalin hubungan, tidak lucu jika aku harus bersaing dengan adikku sendiri?”

Pikirannya kalut, rasa cemburu terus menghantuinya, rasanya ingin sekali Revan ikut menyusul Diandra di lantai bawah. 

Revan merasa akhir-akhir ini dia sering memperlakukan Diandra dengan kasar, lebih kasar lagi dari sebelumnya.

Namun, sesal kemudian tidak akan mampu memperbaiki semuanya. Cukup memperbaiki sikapnya agar tak menyakiti gadis itu lebih dalam lagi.

“Terkadang, mama benar. Aku selalu memperlakukan Diandra seperti anak kecil, aku terlalu kasar dengannya.”

“Padahal selama ini gadis itu selalu sabar menghadapi sikapku.” Revan mengusap wajahnya pelan. 

Oh, Diandra, maafkan aku yang selalu bersikap kasar kepadamu ajari aku untuk menjadi pria yang lebih baik lagi.

Revan bermonolog, lalu kembali menyapu wajahnya dengan kasar. Rasanya ingin sekali dia memaki dirinya sendiri.

Rasanya dia gagal menjadi pria sejati saat saat mengabaikan nasihat yang selalu diterapkan oleh sang mama. Revan mengakui bahwa sikapnya dengan sang adik jauh berbeda.

Archand selalu bisa bersikap manis kepada seorang wanita, sekalipun wanita tersebut bukanlah incarannya, tetapi pria itu selalu berusaha untuk bersikap lembut layaknya pria sejati yang berperan sebagai pahlawan untuk para wanita.

Terlebih lagi untuk sang mantan yang masih mengisi relung hatinya–Diandra masih menjadi yang pertama dalam hidupnya. 

Lates Chapters

Ingatlah Hari Ini

“Berawal dari kebencian, perlahan hati itu luluh dengan sendirinya. Ketika pertama kali melihatnya bersikap dingin kepadaku, dikarenakan kesalahan masa lalu. Aku pernah mengabaikannya, perlahan aku…

Melamarmu di Hari Ulang Tahunku

Malam itu menjadi saksi kebahagiaan mereka di mana mereka sedang menyaksikan percikan kembang api yang menghiasi langit nan kelam. Gadis itu tersenyum bahagia saat menyaksikan…

Malam Pertunangan

Archand menggandeng tangan Florensia dengan penuh kehangatan, dia menuntum kekasihnya hingga sampai ke atas pentas. Saat itu Arhcanda mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Hal tersebut membuat…

Merayakan Ulang Tahun di Cafe

Malam telah tiba, mereka sedang asik mendengarkan alunan musik yang mengalun merdu di telinga, di tambah lagi dengan iringan suara dari seorang vokalis. Diandra menikmati…

Kejutan Hari Ulang Tahun

Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi, di mana kedua pasangan pengantin tesebut masih betah di dalam kamar. Diandra memandang wajah suaminya dan membalas lembut…

Hari Pernikahan

Akhirnya momen yang yang di tunggu telah tiba, di mana Diandra dan Revan akan melaksanakan ijab kabul. Diandra duduk di meja rias dan menatap wajahnya…

Saat Terindah Bersamamu

“Archand!” teriak Florensia.    “Apa Sayangku? Kalau kangen gak usah teriak-teriak begitu dong, malu di dengarkan mama. Kalau kamu pengen bareng sama aku, yuk! Kita…

Kepulangan Florensia

Sudah tiga hari Florensia terbaring lemah di rumah sakit, kondisinya sudah mulai pulih dan sudah kembali bertenaga. Florensia sudah bertemu dokter dan sudah di perbolehkan…

Darah Untukmu

Archand memasang wajah melas terhadap sang mama, agar mendapatkan perhatian yang sama seperti yang di dapatkan oleh Florensia. Pria itu berharap sang mama masih menyayanginya…

Ceritakan Tentang Kita

Sesampainya di rumah sakit gadis itu bergegas menghampiri ruang depan. Diandra mengabaikan Suci yang masih duduk di dalam mobil untuk membayar ongkos taksi Online. Diandra…

Mencari Hadirnya

Mendengar pernyataan dari gadis itu, bi Narsih pun tersenyum. Seketika dia mengingat putri tunggalnya yang kini sedang bekerja di perusahaan milik keluarga Aldhinara. Namun, hingga…

Mencari Ketenangan

Diandra berada di sudut kamarnya, gadis itu masih memikirkan adiknya yang diam-diam dia tinggalkan saat gadis itu sedang melaksanakan rutinitasnya setiap pagi. Diandra mencuri kesempatan…

Kepergian Diandra

Pagi itu Florensia mengetuk pintu kamar Diandra, gadis itu mengetuk pintu kamar sang kakak berkali-kali. Namun, tetap saja dia tak kunjung menerima jawaban apapun dari…

Batal Nikah

Archand bingung harus bagaimana untuk menanggapi keluarganya itu. Dia berharap keputusan yang di buat oleh keluarganya adalah keputusan yang tepat. Meskipun Archand tahu mereka selalu…

Kisah Nan Indah

Mereka sampai ke tempat tujuan, di mana mereka sedang asik memandangi pemandangan nan indah yang berada di tengah kota. Florensia menyisir jalanan yang tampak mulus.…

Ceritakan Tentang Kita

Akhirnya Revan menyerah. Revan mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu saat mendapati Diandra dekat dengan pria lain. Termasuk dengan adik kandungnya sendiri. Revan memang menyimpan perasaan…

Cuirga

Archand menatap curiga kepada gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu. Rasanya ingin sekali Archand memarahi gadis itu. Akan tetapi, pria itu masih butuh nyali…

Calon Besan

Setelah bersiap-siap Florensia dan Diandra keluar bersamaan di dalam kamar. Sontak membuat sang mama terkejut ketika melihat dua anak gadisnya tampil lebih cantik dan berbeda…

Salah Paham

Cuaca sangat cerah pada sore itu, meskipun mentari mulai bersembunyi di balik awan. Kedua insan tersebut sibuk menghabiskan waktu berdua, kata-kata demi kata telah terucap…

Berkumpul Bersama Keluarga

Renata sedang asik berdiskusi dengan calon besan yaitu; Anantasya. Mereka sedang asik membahas rencana pernikahan anak-anak mereka. Mereka mencoba untuk menemukan tanggal bagus untuk melaksanakan…
error: Content is protected !!