Tiba-tiba cacing di perut Revan berbunyi, pertanda bahwa dirinya sedang lapar. Suara perutnya terdengar hingga ke telinga gadis itu. Seketika Diandra menoleh ke arahnya.
Revan berusaha menyembunyikan rasa malu dengan menyuruh gadis itu untuk membelikan makanan untuknya.
Revan memasang wajah nanar, memberikan beberapa lembar uang kepada gadis itu. Lalu menyuruhnya untuk segera pergi membelikan makanan, dengan sigap dia segera pergi menuju kantin yang berada di lantai dasar.
Saat gadis itu sudah melangkah keluar pintu, akhirnya Revan dapat bernapas dengan lega.
Dia merasa sangat malu dengan gadis cantik itu, sang adik hanya menggeleng heran melihat perlakuan sang kakak yang menurutnya keterlaluan. Begitu juga dengan Renata, wanita yang sedang duduk di kursi panjang yang berada tak jauh dari brankarnya. Renata sangat marah sekali, karena putra sulungnya memperlakukan Diandra seperti anak kecil.
“Mengapa Diandra harus menampung sikap egoismu, Revan?” tukas sang mama, dia menatap putra sulungnya itu dengan tatapan gusar.
Renata sangat kecewa karena putranya telah memperlakukan Diandra seperti anak kecil, terbesit rasa kecewa di wajah sang mama, membuat Revan semakin heran mengapa dirinya harus di marahi hanya karena menyuruh Diandra pergi membeli makanan.
“Kenapa, Ma? Dia kan sekretaris aku. Dia itu bawahan aku, Ma.” sahut Revan, wajahnya sedikit ketakutan ketika melihat respon Renata kala itu.
Revan menelan saliva dan tak berani menatap wanita paruh baya itu. Revan tak mengerti kenapa Renata mendadak baik kepada orang baru.
Kedua putranya merasa heran mengapa Renata sangat menyayangi Diandra padahal dia tidak pernah menyukai gadis manapun yang berhubungan dengan kedua putranya itu, terutama Revan yang merupakan putra kesayangannya.
“Tidak pantas rasanya seorang pria memperlakukan wanita seperti itu! Jika nanti Diandra kembali, mama pengen dengar kamu minta maaf sama gadis itu, kalau bukan karena gadis itu mama tidak akan tahu kalau kamu terbaring di rumah sakit ini, Revan! Mama akan tunggu sampai gadis itu kembali!” tegas Renata.
“Tapi, Ma—” Kalimat Revan terpotong.
“Sudah! Mama tidak mau dengar alasan apapun, pokoknya kamu harus minta maaf sama Diandra. Buka mata kamu, zaman sekarang jarang loh, menemukan gadis yang sopan seperti dia,”
“Mama tidak pernah mendidikmu untuk bersikap kasar seperti ini, Revan!” tukas sang mama dengan penuh penekanan terhadap putra sulungnya.
“Oke, Ma. Revan akan minta maaf ke Diandra. Revan janji gak akan mengulanginya lagi. Revan akan memperlakukan Diandra dengan baik, seperti Archand yang selalu memperlakukan Diandra dengan baik,” sahut Revan dengan suara berat.
“Ya, memang seharusnya seperti itu,” sahut Renata.
Archand hanya tersenyum saat melihat ekspresi wajah Revan ketika sang mama sedang memarahinya, pria itu mencoba membuang pandangannya agar dapat melampiaskan tawanya.
Archand takut ketahuan jika dirinya sedang menertawai sang kakak yang terlihat ketakutan saat sang mama mengomelinya.
“Rasain tuh, emangnya enak di marahin mama? Siapa suruh memperlakukan mantan kekasihku seperti anak kecil.” Archand bermonolog, dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Archand tertawa sepuasnya di dalam kedua telapak tangannya.
Tanpa dia sadari sang kakak sedang memperhatikan tingkahnya kala itu. Revan menimpuk sang adik dengan tutup botol yang berada di atas meja kecil yang terletak di samping brankar. Rasanya sangat kesal sekali jika ada yang menertawakan dirinya kala itu. Bukannya marah, sang adik justru memeletkan lidahnya.
Dia sangat puas karena Revan sudah mendapatkan teguran dari sang mama. Archand hanya bisa berharap sang kakak akan segera sadar dan membuang sikap egoisnya itu, karena dia tak tega jika nanti mantan kekasihnya terus saja di perlakukan kasar oleh kakaknya.
“Kamu kenapa, Can?” tanya Revan.
“Aku tidak apa-apa, hanya—”
Archand menggantungkan ucapannya dan tak berani untuk meneruskannya, pria itu memeletkan lidahnya menghampiri pintu keluar. Archand berniat untuk menyusul mantan kekasihnya di lantai dasar. Sementara Revan masih terlihat kesal dan berusaha untuk meredakan amarahnya.
“Dasar menyebalkan, pasti dia akan menyusul Diandra di kantin. Aku tidak terima jika mereka kembali menjalin hubungan, tidak lucu jika aku harus bersaing dengan adikku sendiri?”
Pikirannya kalut, rasa cemburu terus menghantuinya, rasanya ingin sekali Revan ikut menyusul Diandra di lantai bawah.
Revan merasa akhir-akhir ini dia sering memperlakukan Diandra dengan kasar, lebih kasar lagi dari sebelumnya.
Namun, sesal kemudian tidak akan mampu memperbaiki semuanya. Cukup memperbaiki sikapnya agar tak menyakiti gadis itu lebih dalam lagi.
“Terkadang, mama benar. Aku selalu memperlakukan Diandra seperti anak kecil, aku terlalu kasar dengannya.”
“Padahal selama ini gadis itu selalu sabar menghadapi sikapku.” Revan mengusap wajahnya pelan.
Oh, Diandra, maafkan aku yang selalu bersikap kasar kepadamu ajari aku untuk menjadi pria yang lebih baik lagi.
Revan bermonolog, lalu kembali menyapu wajahnya dengan kasar. Rasanya ingin sekali dia memaki dirinya sendiri.
Rasanya dia gagal menjadi pria sejati saat saat mengabaikan nasihat yang selalu diterapkan oleh sang mama. Revan mengakui bahwa sikapnya dengan sang adik jauh berbeda.
Archand selalu bisa bersikap manis kepada seorang wanita, sekalipun wanita tersebut bukanlah incarannya, tetapi pria itu selalu berusaha untuk bersikap lembut layaknya pria sejati yang berperan sebagai pahlawan untuk para wanita.
Terlebih lagi untuk sang mantan yang masih mengisi relung hatinya–Diandra masih menjadi yang pertama dalam hidupnya.