Antara Aku dan Dia

Mengaguminya

Seketika Revan telah membuat gadis itu menjadi emosi, dengan berani gadis itu kembali membentak Revan kemudian berlari menuju pintu keluar.

Florensia benar-benar tidak habis pikir kenapa Revan begitu dendam padanya, menuduh gadis itu dengan hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali.

“Maaf ya, jika kamu tidak menyukaiku. Maka, kamu bisa mengusirku dengan cara baik-baik. Bukan dengan menuduhku melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan. Aku berharap kamu bisa menjaga ucapanmu, Tuan!” Florensia melangkah menuju pintu keluar, membawa amarah yang masih bersarang di dada.

Melihat gadis itu keluar dengan wajah kesal, akhirnya Renata juga ikut marah dengan sikap putra sulungnya itu. 

“Revan, kamu ini kenapa sih? Setiap gadis yang dekat sama kamu selalu saja kamu bentak. Ada apa sebenarnya? Kalau bukan gadis itu yang menolong mama, mungkin mama tidak akan selamat dari copet itu dan mama kehilangan cincin nikah mama!” tegas Renata lalu berlari menuju pintu keluar untuk mengejar Florensia yang larinya belum terlalu jauh.

Saat Florensia ingin memasuki lift, dengan cepat wanita paruh baya itu menariknya dan langsung memeluknya. Ranata merasa menyesal karena tidak bisa mendidik putra sulungnya dengan baik. Renata sadar putra sulungnya itu memiliki sikap egois yang tinggi.

“Nak, maafkan Revan, ya.” Renata mendekap gadis itu dengan erat, merasa malu dengan sikap putra sulungnya. Jauh dari lubuk hatinya, dia berharap semoga gadis itu mau memaafkan putranya. “Tante gagal mendidik putra sulung tante.” 

“Udahlah, Tante. Flo gak marah kok, justru Flo yang harus minta maaf sama tante, karena pergi tanpa pamit. Maafkan Florensia ya, Tante.” 

Gadis itu mengelus punggung Renata Dengan lembut, merasa bersalah kian meremas hatinya karena sudah membentak Revan di depan sang mama.

“Tidak apa-apa, Nak. Tante mengerti, kamu pasti kesal dengan perlakukan Revan tadi. Entah mengapa Revan selalu bersikap kasar dengan orang lain,” sahut Renata. Kemudian mengurai dekapannya, mengusap wajah mulus milik gadis cantik yang berdiri di depannya itu. Gadis itu tampak manis dengan senyumannya.

Gadis itu berusaha menahan air matanya yang sedari tadi telah dia bendung agar tak terjatuh membasahi pipinya. Florensia tampak cantik dengan pakaian kerjanya yang casual. 

Sekuat tenaga, dia berusaha memaafkan pria itu. Membuatnya sadar bahwa kemarin dia sudah keterlaluan hingga mempermalukan Revan di depan umum. 

“Terima kasih ya, Tante,” ucap Florensia.

Tak lama kemudian Renata menerima pesan singkat dari Archand, mengatakan bahwa dia tidak bisa pulang lebih cepat untuk menemani Revan di rumah sakit. Putra bungsunya itu harus mengurus perusahaan dan mengelola restoran milik Revan. 

Renata mengembus nafas panjang. Dia bingung bagaimana pulang dalam keadaan tenang? Tak mungkin dia meninggalkan putra sulungnya sendirian di rumah sakit. Bagaimana jika suster memanggilnya?

Dengan berat hati Florensia menawarkan diri menjaga putra sulungnya itu. Mendengar hal tersebut Renata sedikit lega dan segera menggandeng tangan gadis itu dengan lembut.

Kedua manusia berbeda generasi itu berjalan bersisian, meninggalkan taman. Florensia membuka pintu dengan hati yang berbelah bagi. Mau tidak mau, dia berusaha mengumbar senyuman kepada pria tampan itu.

Dasar pria dingin! Kalau saja bukan karena tante Renata, aku sangat ogah jagain kamu di sini.

Awas saja kalau berani macam-macam denganku.

Florensia bermonolog dan menatap tajam kepada pria itu. Mereka saling menatap tajam satu sama lain.

“Dasar tidak sopan, beraninya kamu menatapku dengan tatapan seperti itu. Awas saja jika berani cari muka sama mama.” Revan bermonolog, dan menatap tajam kepada gadis cantik itu. Revan risih dengan tatapannya.

“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan bertanggung jawab jika kamu terpesona denganku, Nona,” tukas Revan.

“Aku pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi!” sahut Florensia ketus.

“Kita lihat saja nanti.” ucap Revan

Florensia menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang berada di samping brankar yang ditempati Revan. Berusaha mendekati pria itu agar berhenti bersikap ketus padanya. Sebisa mungkin dia berbesar hati untuk bersikap baik kepada pria itu, agar Renata tak cemas meninggalkan Revan bersamanya.

Seperti perkiraannya, Renata menjadi sedikit tenang meninggalkan putra sulungnya. Dia mempercayakan gadis itu untuk menjaga Revan.

“Alhamdulillah, kalian akhirnya akur juga. Kalau begini mama jadi lebih tenang untuk ninggalin kalian berdua. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin tante ya, Flo,” titah Renata.

“Baiklah, Tante. Hati-hati di jalan ya,” sahut Flo dengan sopan.

“Terima kasih, Nak.” Renata membuka pintu dan kembali menguncinya. Setelah memastikan Renata keluar, akhirnya Florensia kembali menjauh dari pria itu. 

Dia tidak mau menatap wajah pria itu lebih lama lagi.

Gadis itu memilih membaca novel yang berada di sampingnya. Novel itu merupakan karya dari Renata. 

Dia terperangah saat membaca sampul berwarna jingga itu. Di sana tertulis nama lengkap Renata–wanita paruh baya yang sudah lama dikaguminya. Tak percaya, jika dirinya terlalu dipertemukan dengan penulis favoritnya.

Tanpa sadar, gadis itu melempar pujian untuk Renata, kalimat yang diucapkannya mampu terdengar oleh Revan, meski jarak antara mereka cukup jauh.

“Jadi, aku sudah dipertemukan dengan idolaku dulu. Tante Renata penulis terkenal?” 

Gadis itu tersenyum, memeluk novel tersebut dengan erat. “Aku beruntung mengenal wanita cantik dan baik ini.”

“Sungguh aku sangat bahagia sekali.” 

Lates Chapters

Ingatlah Hari Ini

“Berawal dari kebencian, perlahan hati itu luluh dengan sendirinya. Ketika pertama kali melihatnya bersikap dingin kepadaku, dikarenakan kesalahan masa lalu. Aku pernah mengabaikannya, perlahan aku…

Melamarmu di Hari Ulang Tahunku

Malam itu menjadi saksi kebahagiaan mereka di mana mereka sedang menyaksikan percikan kembang api yang menghiasi langit nan kelam. Gadis itu tersenyum bahagia saat menyaksikan…

Malam Pertunangan

Archand menggandeng tangan Florensia dengan penuh kehangatan, dia menuntum kekasihnya hingga sampai ke atas pentas. Saat itu Arhcanda mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Hal tersebut membuat…

Merayakan Ulang Tahun di Cafe

Malam telah tiba, mereka sedang asik mendengarkan alunan musik yang mengalun merdu di telinga, di tambah lagi dengan iringan suara dari seorang vokalis. Diandra menikmati…

Kejutan Hari Ulang Tahun

Saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi, di mana kedua pasangan pengantin tesebut masih betah di dalam kamar. Diandra memandang wajah suaminya dan membalas lembut…

Hari Pernikahan

Akhirnya momen yang yang di tunggu telah tiba, di mana Diandra dan Revan akan melaksanakan ijab kabul. Diandra duduk di meja rias dan menatap wajahnya…

Saat Terindah Bersamamu

“Archand!” teriak Florensia.    “Apa Sayangku? Kalau kangen gak usah teriak-teriak begitu dong, malu di dengarkan mama. Kalau kamu pengen bareng sama aku, yuk! Kita…

Kepulangan Florensia

Sudah tiga hari Florensia terbaring lemah di rumah sakit, kondisinya sudah mulai pulih dan sudah kembali bertenaga. Florensia sudah bertemu dokter dan sudah di perbolehkan…

Darah Untukmu

Archand memasang wajah melas terhadap sang mama, agar mendapatkan perhatian yang sama seperti yang di dapatkan oleh Florensia. Pria itu berharap sang mama masih menyayanginya…

Ceritakan Tentang Kita

Sesampainya di rumah sakit gadis itu bergegas menghampiri ruang depan. Diandra mengabaikan Suci yang masih duduk di dalam mobil untuk membayar ongkos taksi Online. Diandra…

Mencari Hadirnya

Mendengar pernyataan dari gadis itu, bi Narsih pun tersenyum. Seketika dia mengingat putri tunggalnya yang kini sedang bekerja di perusahaan milik keluarga Aldhinara. Namun, hingga…

Mencari Ketenangan

Diandra berada di sudut kamarnya, gadis itu masih memikirkan adiknya yang diam-diam dia tinggalkan saat gadis itu sedang melaksanakan rutinitasnya setiap pagi. Diandra mencuri kesempatan…

Kepergian Diandra

Pagi itu Florensia mengetuk pintu kamar Diandra, gadis itu mengetuk pintu kamar sang kakak berkali-kali. Namun, tetap saja dia tak kunjung menerima jawaban apapun dari…

Batal Nikah

Archand bingung harus bagaimana untuk menanggapi keluarganya itu. Dia berharap keputusan yang di buat oleh keluarganya adalah keputusan yang tepat. Meskipun Archand tahu mereka selalu…

Kisah Nan Indah

Mereka sampai ke tempat tujuan, di mana mereka sedang asik memandangi pemandangan nan indah yang berada di tengah kota. Florensia menyisir jalanan yang tampak mulus.…

Ceritakan Tentang Kita

Akhirnya Revan menyerah. Revan mengakui bahwa dirinya benar-benar cemburu saat mendapati Diandra dekat dengan pria lain. Termasuk dengan adik kandungnya sendiri. Revan memang menyimpan perasaan…

Cuirga

Archand menatap curiga kepada gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu. Rasanya ingin sekali Archand memarahi gadis itu. Akan tetapi, pria itu masih butuh nyali…

Calon Besan

Setelah bersiap-siap Florensia dan Diandra keluar bersamaan di dalam kamar. Sontak membuat sang mama terkejut ketika melihat dua anak gadisnya tampil lebih cantik dan berbeda…

Salah Paham

Cuaca sangat cerah pada sore itu, meskipun mentari mulai bersembunyi di balik awan. Kedua insan tersebut sibuk menghabiskan waktu berdua, kata-kata demi kata telah terucap…

Berkumpul Bersama Keluarga

Renata sedang asik berdiskusi dengan calon besan yaitu; Anantasya. Mereka sedang asik membahas rencana pernikahan anak-anak mereka. Mereka mencoba untuk menemukan tanggal bagus untuk melaksanakan…
error: Content is protected !!