Sudah sehari semalam Erina berada di apartemen milik Alexander. Arpha seperti tau cara menghargai wanita, bersedia menyiapkan semua kebutuhan Erina dengan bantuan pelayan lain.
Erina berterima kasih untuk itu. Arpha hanya mengangguk sambil sekali lagi mengatakan jika Erina harus bertingkah baik dan bekerja dengan baik.
Erina mengiyakan, meski sebenarnya dia tidak tau apa yang harus dikerjakan disini.
Tidak tau apa yang harus diperbuat selain hanya mondar mandir. Masak pun tidak ada yang menyentuh selain dirinya sendiri.
Beruntung Arpha sedikit mau memakannya.
Erina bukan tidak coba menawarkan makanan pada Alexander yang sejak semalam tidak keluar kamar. Tapi Erina malah hanya mendapat usiran kasar dari Pria itu.
Hingga sore hari Erina kembali ke kamarnya.
Sementara Alexander masih berada di kamarnya. Tidak ada yang dilakukannya kecuali duduk bersandar di sofa dengan kepala bersandar. Pikirannya tak karuan.
Besok, adalah hari pernikahannya. Bukan dia tidak khawatir atau panik. Apa yang akan terjadi? Sungguh ini membuat Alex stres berat.
Puluhan panggilan tak terjawab, bahkan puluhan Chat dari sang Ibu dan kakak perempuannya tidak ia jawab.
Alex tidak tahu harus bicara apa kepada mereka. Tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Membatalkan Pernikahan sudah terlambat tentunya. Semua persiapan sudah matang, ini pasti akan membuat keluarganya jantungan.
“Via Sialan! Aku akan menghabisimu jika aku bisa menemukanmu!” Alexander memaki. Meremas rambutnya. Hingga ketukan Arpha terdengar.
Alex membiarkan itu sampai Arpha sendiri yang membuka pintu dan berjalan masuk menghampiri.
“Tuan Alex.”
Alexander tidak menyahut juga menoleh. Arpha duduk di hadapannya. Melirik Ponsel milik Alex yang berdering dan mengulurkan tangan hendak meraihnya.
“Jangan mengangkatnya!” Ucap Alex membuat Arpha segera menarik mundur tanganya.
“Nyonya Tuan.”
“Biarkan saja.”
Arpha membuang nafas berat. Dia tau keresahan Bosnya. Ini bukan masalah sepele.
“Kita harus mencari jalan keluar Tuan. Jika anda mau, hari pernikahan anda tidak perlu batal.”
Alexander seketika mendongak untuk menatap lekat Arpha.
“Maksudmu?”
“Mencari pengantin pengganti. Hanya itu yang bisa menyelamatkanmu. Nama baik keluarga dan menutup aib keluarga.” Jelas Arpha.
Alex terdiam. Nampak sedang memikirkan usul Arpha. Kemudian Alex mengangguk angguk.
“Itu ide yang cukup cemerlang.”
“Tapi masalahnya, siapa wanita yang akan menjadi pengantin pengganti Anda Tuan. Kita harus berhati hati soal memilihnya.” Tambah Arpha.
Alex pun kembali berpikir keras. Siapa kira kira yang bisa di percaya?
Saat keduanya sedang sama sama berpikir keras, Erina masuk untuk mengantarkan minuman yang dipesan Arpha tadi.
“Maaf Tuan. Minumannya.”
“Letakkan disini.” Sahut Arpha meminta Erina membawa Minuman ke atas meja.
Alex tanpa sengaja menoleh dan pandangannya bertemu dengan Erin. Wanita itu langsung menundukkan wajahnya dan cepat melangkah mendekati meja dan menaruh minuman dari atas nampan nya.
“Permisi Tuan.” Erina segera menarik mundur kakinya untuk berlalu. Tapi tiba tiba Alex menangkap pergelangan tangannya.
“Tunggu sebentar. Aku perlu bicara.”
Jantung Erina hampir saja berhenti. Lututnya sampai gemetaran. Apa Tuan Alex akan meminta uangnya? Astaga! Erina terlihat sangat pucat.
“Duduklah.” Alex meminta Erina untuk duduk. Arpha kini berdiri dan menggeser kakinya.
“Duduklah Nona. Tidak apa apa. Mungkin Tuan Alex sedang ada perlu denganmu.” Ucap Arpha.
Erina masih dengan ketakutan akhirnya duduk di hadapan Alexander dengan wajah tertunduk.
“Siapa namamu?” Tanya Alex.
“Erina Tuan.” Jawab gugup Erina tanpa mengangkat wajahnya.
“Apa benar kau sudah bercerai dari suamimu?” Kembali Alex bertanya.
Erina hanya menjawab dengan anggukan.
“Baiklah Erina. Aku sudah mengeluarkan uang begitu banyak untuk menebusmu dari Fico. Jika aku meminta uangku kembali, apa kau bisa mengembalikannya?” Tanya Alex, kali ini membuat Erina mendongak.
“Tuan. Saya tidak mungkin mempunyai uang sebanyak itu. Tapi jika anda memintanya, saya pasti akan mengembalikan walau saya tidak bisa menjanjikan sampai kapan saya bisa melunasinya. Tapi saya akan tetap berusaha walau harus seumur hidup saya.” Jawab Erina. Sekarang air matanya lolos di hadapan Alexander.
“Oh.. Baiklah. Jadi begini. Aku akan menganggap hutangmu lunas, tapi dengan satu syarat. Menikahlah denganku.”
Jedar!
Kata kata itu begitu mengejutkan Erina, Arpha pun sempat terkejut karena tidak menyangka jika Tuannya akan memilih Wanita ini untuk menjadi pengantin penggantinya.
“Me-Menikah?”
“Ya. Menikahlah denganku besok.”
“Besok??” Erina semakin terkejut. Kenapa nasibnya Seperti ini? Lepas dari Fico kembali bertemu dengan laki laki yang akan memaksanya untuk menikah lagi ?
“Kamu tidak usah khawatir. Kita hanya akan menikah kontrak. Selama beberapa waktu tertentu. Setelah situasi aman, aku akan menceraikanmu dan kau bisa bebas kemana pun kau mau. Jadi , bantu aku menyelamatkan nama baik ku, dan hutangmu kuanggap lunas. Bagaimana?”
Erina masih belum bisa berkata apa apa.
“Pikirkan baik baik Erina. Tidak akan ada yang dirugikan dalam pernikahan nanti. Aku tidak akan menuntut apapun kepadamu kecuali hanya berpura pura lah menjadi istri yang mencintaiku di hadapan seluruh orang termasuk keluarga ku. Aku sudah menyelamatkan hidupmu dari Fico mesum itu. Dan kau harus menyelamatkan aku.” Tambah Alex.
“Tapi, sebenarnya ada apa Tuan? Dan kenapa harus saya. Saya,”
“Arpha akan menceritakan nanti. Sekarang jawab saja. Apa kau bersedia? Aku tidak punya banyak waktu untuk memilih wanita mana yang akan menjadi Mempelai wanita ku besok. Dan aku butuh jawabanmu sekarang.”
Erina terdiam, dia bisa sedikit paham sekarang. Sepertinya pria dihadapannya ini sedang mempunyai masalah yang cukup serius.
“Baiklah Tuan. Aku bersedia. Tapi anda harus berjanji , jika anda tidak akan mempersulit saya dalam pernikahan itu.”
Alexander menarik nafas lega, menoleh pada Arpha yang Mengangguk mantap.
“Arpha akan membuat surat perjanjian kita. Apa yang kau inginkan kau bisa sebut saja. Arpha akan menulisnya.” Ucap Alexander.
Erina hanya mengangguk.
“Pergilah, dan beristirahat lah. Terima Kasih atas kesediaan mu.” Ucap Alexander.
Erina mengangguk kembali dan segera beranjak.
“Mari Nona. Aku akan mengantarmu.” Arpha mengiringi langkah Erina keluar dari Kamar Alexander.
“Terimakasih Nona Erina. Kau sudah bersedia membantu Tuan Alex.” Ucap Arpha saat sudah berada di depan kamar Erina.
Erina menoleh. “Sebenarnya ada apa Tuan? Kalau boleh, saya hanya ingin tau sedikit agar tidak bingung nantinya.”
Arpha mengangguk, lalu membukakan pintu untuk Erina. “Masuklah. Aku akan memberitahumu.”
Erina pun masuk tanpa ragu, Arpha mengikuti dengan biarkan pintu terbuka lebar.
“Tuan Alex dikhianati kekasihnya tepat setelah undangan pernikahan mereka sudah tersebar. Itu pasti menyakitkan hatinya. Dia tidak mungkin membatalkan hari itu atau nama baik dirinya dan keluarganya akan hancur seketika. Itu sebabnya Tuan Alex begitu kacau!”
Erina mengangguk, sekarang dia sadar betapa besar masalah Alexander.
“Tapi kenapa wanita itu begitu ceroboh? Tidak mungkin tidak alasan bukan?” Tanya Erina.
“Kekasih Tuan Alex adalah adik kandung dari Fic. Semua orang tau riwayat tidak baik mereka. Tapi Tuan Alex dibutakan oleh cinta membuat dia tidak mempercayai semua perkataan orang termasuk Ibunya sendiri. Jika Kekasihnya itu hanya ingin membuatnya hancur.”
Erina sekarang mulai mengerti. Dia sangat menyayangkan tindakan bodoh wanita itu. Tapi, entahlah. Erina tidak bisa ikut campur urusan mereka. Karena saat ini dia hanya semata mata ingin membantu dirinya sendiri menebus hutangnya ada Alex. Meskipun dengan cara menikah kontrak dengannya.
“Baiklah. Sekarang beristirahatlah dengan baik. Dan siapkan dirimu untuk besok dengan sebaik baiknya. Ku mohon kerjasamanya.” Ucap Arpha, kemudian keluar dari kamar itu dan menutup pintu.
______