Alexander membawa Erina memasuki kamarnya. Rupanya benar kata Mama jika kamar ini sudah dirias layaknya kamar pengantin.
Kamar dengan nuansa putih itu dihiasi dengan banyak bunga bertaburan,di penuhi dengan lilin lilin yang menyala menjadikan kamar ini sangat romantis bagi pasangan yang menikah sungguhan.
Saat melangkahkan kakinya masuk, Erina dibuat terkagum kagum. ‘ Ya ampun. Kamar ini benar benar dihias layaknya kamar pengantin. Ah…’ Erina tersenyum, untung Alex tidak melihat sampai Erina tersandar.
‘Stop Erina! Kamu jangan terbawa suasana. Kamu menikah hanya karena hutang ingat itu!’ Erina memperingati dirinya sendiri.
‘ Andai pernikahan ini beneran. Suasananya mendukung buat belah duren. Hehehe..’ batin Alen dengan tersenyum simpul tanpa ia sadari.
Alex berjalan mencari saklar untuk menyalakan lampu.” Kamu mau istirahat apa bersih bersih dulu?” Tanya Alex pada Erina yang masih berdiri mematung.
“Erina!” panggil Alex sekali lagi.
“Ah..ia ada apa tuan?” Tersadar dari lamunannya.
“Kenapa malah bengong. Kamu mikirin apa hayo..!” ledek Alex. Tentu saja itu membuat wajah Erina merah karena malu dan juga kesal. Malu karena ketahuan sedang melamun kesal karena Alex selalu berbicara absurd menurutnya.
“Tidak apa apa! Hanya saja saya sedang memikirkan mau tidur dimana?” tanyanya seperti orang bingung.
Tentu saja mendengar itu Alex terkekeh” Tidur ya disitulah Erina.kamu ini aneh.” menunjuk ranjang king sizenya.
“Ia saya tau,kalau saya tidur di sana tuan dimana?”
” Ya disana juga lah. Masa aku harus tidur di sofa!”
“Ah..ia benar,kalau begitu saya yang tidur di sofa.” ucapnya bersemangat. Kemudian berjalan menuju sofa, membaringkan tubuh lelahnya disana.
“Hey, siapa suruh kamu tidur disitu!” tuding Alex. Tentu saja Erina terperanjat mendengar hal itu.
“Terus saya harus tidur dimana?”
“Disana!” Alex menunjuk tempat tidurnya.
“Disana?” Erina kembali bertanya seolah yang ia dengar adalah salah.
“Ya!”
“Anda jangan macem macem ya tuan!” tuding Erina.
“Biar aku yang tidur di sofa. Jangan membantah.” ucapnya kemudian Alex berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Erina hanya menurut ia bangun dan berjalan ke tempat tidur. Merebahkan dirinya di sana. Mungkin karena lelah, tanpa menunggu lama ia sudah menembus alam mimpi.
Sekitar sepuluh menit Alex keluar kamar mandi.Melihat Erina sudah tertidur pulas ia pun menghampirinya, membenarkan selimut agar menutupi tubuh Erina. Alex memperhatikan wajah ayu Erina yang sedang tertidur pulas.’ Cantik banget sih istriku.’ batinnya.
Puas memandangi wajah Erina, Alex pun menaiki ranjang dan berbaring di sebelah Erina,sebelum ia benar benar berselancar di alam mimpi pria itu sempat berpikir jika Erina pasti akan pencak silat kalau tau dia tidur juga disini.
‘Ah, ini kan ranjang ku. Hehe. Tidak masalah. Kalau dia marah, aku akan mengancamnya lagi.”
Alex mencium kening Erina. ” Selamat tidur,semoga mimpi indah.” ucapnya. Kemudian ia ikut terlelap di sebelah Erina.
Pagi mulai tiba. Sinar mentari mulai mengintip melalui celah jendela menembus gorden.
Erina menggeliat dan mulai terbangun saat merasakan sesuatu yang terasa berat di bagian perutnya.
Erina perlahan membuka matanya memperhatikan benda apa yang menindih bagian tubuhnya itu. Betapa terkejutnya saat sebuah tangan melingkar di perutnya.
Hampir saja dia berteriak jika dia tidak segera menyadari jika ini berada dimana.
Dengan perasaan bercampur aduk kesal Erina menyingkirkan tangan Alex.” dasar si pencuri kesempatan! Katanya tidur di sofa tapi apa ini!” omelnya. Ingin sekali rasanya Erina mendorong Alex yang masih pulas itu.
Tapi itu hanya angannya saja,buktinya ia tak bisa melakukan apapun. Erina memilih bangun dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Tiga puluh menit berlalu Erina baru keluar dari kamar mandi,Ia sudah berganti pakaian di sana karena takut jika Alex keburu bangun. Melihat Alex yang masih tertidur Erina melangkah keluar kamar tujuannya adalah dapur. Ia ingin memasak untuk sarapan.
Erina keluar dari kamar suasana di masih sepi karena masih terlalu pagi,Ia meneruskan jalannya menuruni anak tangga.
Rumah mewah dengan nuansa klasik dari mulai cat dan pernak perniknya. Sambil berjalan Erina memperhatikan sekitarnya. Menghafal setiap ruangan yang ia lewati hingga Erina mendengar suara bising.’ Di sana pasti dapur’ bantin Erina.
Erina bergegas ke ruangan paling belakang di rumah ini,benar saja di sana sudah ada beberapa asisten rumah tangga yang sedang mempersiapkan bahan masakan untuk sarapan.
“Permisi” ucapnya setelah sampai di dapur. Sontak para pelayan yang sedang khusu dengan pekerjaannya pun menoleh bersamaan, mereka saling pandang hingga akhirnya salah satu dari mereka membuka suaranya.
“Maaf nona siapa ya? Dan ada perlu apa?” tanyanya. Mungkin dia kepala pelayan di rumah ini.
“Ah..ia perkenalkan saya Erina istrinya Alexander.” jawabnya santai lain halnya dengan mereka mendengar perkataan Erina sontak mereka semua bangun dan menunduk hormat.
“Maaf nona jika kami telah lancang,kami tidak tau.” ucapnya seperti ketakutan.
” Nona ada perlu apa,sampai sampai harus pergi kedapur?” tanyanya lagi.
“E..e..eh sudah sudah jangan begitu,saya sama saja dengan kalian. Jangan menganggap saya Nona di rumah ini.” ucap Erina tak enak hati.
“Saya kesini mau memasak untuk sarapan.” jawab Erina.
“Biar kami yang masak nona. Nona tinggal bilang ingin di masakkan apa.” ucap kepala pelayan.
” Gak apa apa, saya udah biasa masak kok.” jawab Erina kekeh.
“Tapi non kalau nyonya tau bisa marah”
” Tenang aja nanti biar saya yang ngomong. Kalian gak akan di marahin percaya deh” Erina meyakinkan kepala pelayan agar di izinkan masak.
Terlihat kepala pelayan kebingungan. Ia takut kena marah jika mengizinkan kalau gak juga ya gimana.
“Tapi non saya…”
“Plis ya boleh ya.” Erina terus memohon.Kepala pelayan akhirnya membiarkan Erina memasak. Semua yang Erina butuhkan di siapkan asisten rumah tangga yang lain Jadi Erina tinggal memasak.
Erina terlihat sangat cekatan mengaplikasikan alat alat dapur seperti koki yang ada di tv. Hehehe
Kali ini ia memasak nasi goreng seafood,ayam goreng bumbu kuning,lalapan dan kerupuk sebagai pelengkapnya.
‘ Wah nona Erina sepertinya pintar memasak,dan aromanya pun.hemmm..wangi banget’ batin kepala pelayan. Begitu juga dengan yang lain mereka hanya saling berbisik satu sama lainnya.
Jam eman tiga puluh Erina sudah selesai memasak. Ia menatanya di meja makan di bantu oleh pelayan yang lain.
Erina hendak membersihkan peralatan dapur bekasnya memasak tapi tidak di perbolehkan.
“Nona sudah,biarkan yang lain yang mengerjakan” kepala pelayan mencegah Erina.
“Ah.. Baiklah,terima kasih sudah diijinkan ngacak acak dapurnya”
” Sama sama Non.” ucap kepala pelayan.
Arumi bergegas naik ke atas, berniat untuk membangunkan Alex.Benar saja saat Erina sampai di kamar Alex masih tertidur pulas di bawah selimut. ” Ya ampun.udah siang gini masih aja pules” ucapnya lirih.
Erina berdiri di samping Alex,mencoba membangunkannya.
“Tuan.Bangun ini sudah siang” Erina mengoncang goncang tangan Alex.
“Hemmm.” Alex hanya bersuara tapi tak kunjung membuka matanya.
“Tuam. Ini sudah siang loh,sudah jam enam pagi.”
“Iya ia lima menit lagi” ucapnya. Alex kembali masuk dalam selimut. Walaupun sudah kesal karena membangunkan Alex yang tak kunjung bangun Akhirnya ia berinisiatif untuk menyiapkan air hangat terlebih dulu.Erin pun berjalan ke kamar mandi.
menit Arpha baru saja menyelesaikan semuanya.Arpha menutup laptopnya,merapihkan berkas berkas yang ada di meja kerjanya menyusunnya dengan rapi.
Selesai merapihkan meja kerja.Kini arpha sudah siap siap untuk pergi.Arpha berjalan ke ruang ruangan.Ia pergi tanpa memberitahu Hanz.
Kini Arpha sudah berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.Arpha trus berjalan membeah lautan manusia yang mengisi gedung mall tersebut.
Setelah beberapa saat lamanya.Arpha sampai di gerai Handphone.Setelah berberapa saat Arpha memilih milih Handphone keluaran terbaru.Akhirnya pilihannya jatuh pada merek apel tergigit.Masalah harga berapa pun itu tidak masalah bagi Hanz.
“Ko. Saya mau Handphone yang ini” Tunjuk Arpha pada Handphone pilihannya.
“Siap” Koko pun mengambil Handphon tersebut dan memberikannya pada Arpha.
Arpha mengambil Handphone tersebut.Arpha merogoh saku celananya mengeluarkan dompet,membukanya dan mengeluarkan kartu Atm yang di berikan Hanz tadi padanya sebelum keluar dari kantor.
“Bayarnya pake ini ya Ko” Memberikan Atm pada Koko. Dengan senang hati Koko menerima Atm tersebut dan menggesekkannya pada alat yang tersedia di situ.
Setelah pembayaran selesai,Arpha meninggalkan gerai tersebut,berjalan kembali membelah lautan manusia. Sesampainya di parkiran Arpha bergegas menuju mobilnya. Baru saja ia naik dan hendak pergi.Arpha malah diam saat melihat seseorang keluar dari dalam mobil di depannya yang baru saja di parkirkan.
arpha menatap nanar perempuan yang ada Arpha liat tadi. Ingin rasanya Arpha yang memukul wajah perempuan tadi,Sudah berani beraninya menyakiti hati bosnya.
‘ Dasar wanita jalang! Sepertinya dia lupa dengan siapa ia berurusan.
Dengan perasaan sedikit kesal Arpha meninggalkan parkiran Mall,Arpha langsung tancap gas,membelah jalanan ibu kota yang ramai. Perjalanan dari Mall ke kantor lumayan jauh memakan waktu tiga puluh menit. Sesampainya di kantor Arpha memarkirkan mobilnya di parkiran kantor.
Arpha membuka Pintu mobil dan segera keluar,sebelum ia keluar ia mengambil paperbag berisi Handphone yang baru saja ia beli.
Alex.