Part 8. Perjalanan ke Hangzhou
Udara musim semi berembus hangat. Di markas militer perbatasan, tiga pengawal pribadi Xuan Yuan sibuk menyiapkan pasukan yang akan kembali ke Hangzhou pagi ini.
Semalaman mereka tidak bisa tidur demi memastikan kondisi sang Majikan. Kendati demikian, perjalanan menuju Hangzhou tidak bisa ditunda lagi. Mereka ingin pulang membawa kebanggaan karena berhasil memenangkan pertempuran.
“Apa Yang Mulia belum keluar dari ruangan pribadinya?” tanya Yunxi kepada Xue yang berjaga di samping pintu.
Xue hanya menggeleng lemah. Ada kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan dari sorot matanya.
Melihat keduanya terdiam, Yunxi ikut berdiri tegap di sisi lain pintu. Mereka akan menunggu beberapa saat lagi. Tanpa berani mengetuk pintu.
Terdengar derit pintu terbuka. Sosok tampan Dewa Perang Da Liang terlihat gagah berdiri di sana. Akhirnya bisa bernapas lega ketika melihat Xuan Yuan terlihat baik-baik saja saat saat membuka pintu ruangan pribadinya.
“Hormat, Yang Mulia.” Yunxi dan Xue memberi hormat begitu Xuan Yuan melangkah keluar. Xuan Yuan hanya melambaikan tangan menerima hormat keduanya.
“Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Xue dengan wajah khawatir.
Xuan Yuan hanya mengangguk, tak memberi jawaban. hari ini, dia mengenakan jubah hitam dengan motif Qilin yang membuatnya terlihat heroik.
Jika bukan karena semalam Xue sempat melihat wajah panik Xuan Yuan meski hanya sekilas, mungkin dia merasa yakin bahwa Xuan Yuan benar-benar baik-baik saja. Majikannya itu sangat pandai menyembunyikan ekspresi. Apalagi dia berniat menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya terkena racun dari semua orang.
“Apa semua perlengkapan sudah selesai disiapkan?” tanyanya pada Xue yang masih memindai wajah Xuan Yuan teliti. Menyelami ekspresi sang Putra Kaisar Dan Liang itu dengan begitu detail.
“Semua sudah siap, pasukan juga sudah siap berangkat ke Hangzhou, Yang Mulia. Mereka menunggu titah Anda.”
“Baiklah, aku akan menjemput Nona Xin Qian lebih dulu.”
Xue dan Yunxi menghela napas tak berdaya. Kebiasaan baru yang sudah mulai melekat di dalam hari-hari Xuan Yuan sekarang adalah mengurus Xin Qian.
“Yang Mulia, sebaiknya Anda istirahat. Kondisi Anda—-“
“Aku baik-baik saja.” Xuan Yuan menjawab tanpa menoleh ke arah mereka sama sekali. Meski ucapan itu terdengar biasa saja, Xue dan yang lainnya jelas-jelas mengerti. Mereka harus bersikap normal untuk menghindari kecurigaan.
Jika Jendral Negara Qing mendengar berita ini, mungkin saja mereka akan bergerak menyerang kembali. Senjata surgawi yang dibuat Xin Qian sudah habis dipakai di pertempuran sebelumnya. Semua serba tidak menguntungkan bagi mereka jika berita ini tersebar di luar sana.
Mengabaikan fakta bahwa majikan mereka terinfeksi racun adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
“Bersikaplah seperti biasanya!” Sebelum melangkah pergi, dia memberi titah.
“Baik.”
Pangeran tampan itu melenggang santai menuju paviliun tempat Xin Qian tinggal. Di antara tiga pengawal, Yunxi masih belum bisa menghilangkan rasa kesal pada Xin Qian. Melihat majikannya yang sedang berpura-pura baik-baik saja, dia ingin memarahi Xin Qian dalam hati.
Semua orang bekerja keras untuk Xuan Yuan, sedangkan Pangeran ini malah bekerja keras untuk Xin Qian.
“Huh, apakah gadis itu layak?” gumamnya setelah majikannya pergi.
“Apa kamu sudah siap kehilangan kepala?” Xue mengingatkan.
“Gadis berandalan itu—”
“Dia yang membantu Da Liang memenangkan pertempuran ini. Apa kamu lupa?”
“Huh!”
Tanpa memedulikan Xue dan Yunxi yang masih berdebat di belakangnya, Xuan Yuan bergegas menuju halaman belakang. Xin Qian telah berjalan menyusuri lorong ketika pemuda bermahkota giok itu tiba.
Wanita inilah yang telah membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak sejak satu pekan terakhir.
Senyuman terbit dari bibir merah Xuan Yuan. Jika Xue dan Yunxi melihatnya, mungkin dia akan mengeluh di dalam hati. Tadi, saat bicara dengan mereka, bibir pria ini terkatup rapat. Sekarang, hanya karena melihat sosok Xin Qian, ada senyum melengkung dengan indah.
Xuan Yuan benar-benar telah kejam pada Xue dan yang lainnya.
“Apakah tidur Anda semalam nyenyak, Nona Xin Qian?” tanyanya begitu jarak terpangkas antara keduanya.
Xin Qian mengangguk. Lalu, gadis itu balik bertanya, “bagaimana dengan Anda, Yang Mulia?”
“Udara musim semi sangat hangat, bisa tidur dengan nyaman adalah berkah,” balasnya.
“Benar, bunga persik sudah mulai mekar, saya tidak sabar makan buah persik.” Xin Qian berkata dengan mata berbinar.
“Ha-ha-ha, musim panen masih lama, Nona. Kelak, kita akan menikmati buah persik di Istana Xi Wei.”
Xuan Yuan bahkan tidak bisa menahan rasa bahagia yang tiba-tiba meledak di dalam dadanya. Sangat bagus, jika wanita ini bersedia tinggal di Istana Xi Wei sampai musim panen.
Xin Qian hanya bisa mengeluh di dalam hati. Bagaimana mungkin pria ini begitu percaya diri bisa menikmati buah persik bersamanya di musim panen. Bukankah itu masih harus menunggu musim gugur tiba?
Aah, itu terlalu lama.
Bahkan Xin Qian berencana akan segera pergi meninggalkan Xuan Yuan setelah mendapatkan hadiah besar dari Kaisar. Dia tidak mau terikat dengan orang dan urusan di zaman ini. Jika ada kesempatan untuk memperbaiki mesin waktunya, dia akan segera berteleportasi untuk kembali ke zaman modern.
“Nona Xin Qian, mari kita berangkat!” ajaknya.
Xin Qian mengangguk sembari melebarkan senyuman. Perjalanan ke Hangzhou kali ini akan menjadi petualangan pertamanya di zaman kuno.
Hangzhou merupakan ibukota Negara Da Liang, dimana Istana kekaisaran berdiri. Otak Xin Qian bergerak cepat, semegah apa penampakan Istana milik Dinasti Murong ini? Mungkinkah lebih indah dari Istana yang sudah pernah dilihatnya?
Dari film kolosal bertema kerajaan yang pernah dilihatnya di serial televisi, sebesar apa istana belakang yang ada di sana, menunjukkan berapa jumlah selir yang dimiliki Kaisar. Berpikir tentang hal ini, Xin Qian seketika tersadar. Pria yang beberapa pekan terakhir selalu bersamanya ini, mungkin telah mempunyai ratusan selir di Istananya.
Xin Qian akan tinggal di Istana Xi Wei milik Sang Pangeran, jangan-jangan dia harus tinggal bersama puluhan atau bahkan ratusan selir itu?
Hah, tidaaak….
Seketika raut ceria yang sejak semalam menghias wajah gadis cantik itu berangsur menghilang.
Xuan Yuan membantu Xin Qian naik kereta. Begitu mereka berdua sudah berada di dalam, Xin Qian mengedarkan pandangan liar ke seluruh sudut. Ada dua ruangan yang ada di dalam kereta ini. Tempat duduk yang empuk dan nyaman telah disiapkan untuk kenyamanan mereka selama dalam perjalanan tiga puluh hari ke depan.
“Yang Mulia, hamba telah menyiapkan bubur dan sup obat untuk Anda.” Xue berkata pelan.
Xue datang membawa makanan dan minuman untuk mereka. Teh yang masih mengepulkan asap menyebarkan bau harum yang menggoda.
Saat mendengar kalimat yang diucapkan Xue, wajah cemberut Xin Qian sedikit memudar. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah pria ini sedang sakit, kenapa harus minum sup obat?
“Apakah Anda sakit?” Aroma beberapa jenis herbal menyapa indra penciuman. Xin Qian melirik mangkuk yang saat ini masih dipegang Xue.
“Tidak, Nona. Ini hanya ramuan untuk menambah vitalitas, perang ini telah berlangsung lama. Jika tidak menjaga tubuh dengan baik, tubuhku akan rusak.”
Bibir gadis itu melengkung indah mendengarnya. Xuan Yuan tidak berbohong. Xin Qian mempunyai hidung tabib sakti yang sangat peka dan tajam. Hanya dengan mencium aromanya saja, dia tahu herbal apa yang terkandung di dalam sup obat tersebut. Itu adalah herbal yang berfungsi untuk menjaga vitalitas dan kekebalan tubuhnya. Bukan untuk mengobati penyakit.
Sebelum bergabung dengan agen pembunuh, dia bertahun-tahun belajar berbagai macam jenis tanaman obat dan racun. Indra penciumannya sangat sensitif untuk dua jenis ini.
Tanpa ragu, Xuan Yuan meminum sup obat itu. Dia tahu, tiga pengawalnya saat ini sedang mengkhawatirkan dirinya, hanya mereka yang mengetahui dirinya sedang terinfeksi racun.
“Benar, Anda tidak boleh sakit, Yang Mulia.”
Mereka melanjutkan dengan menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Xue. Xin Qian menambahkan daging dan sayuran di mangkuk Xuan Yuan penuh perhatian. Pria ini mana boleh sakit. Jika dia sakit sebelum Xin Qian mendapatkan hadiahnya, bukankah itu akan menunda rencananya?
Di dalam hati, Xin Qian telah memutuskan untuk merawat pria ini sampai mereka tiba Istana. Setelah dia mendapatkan hadiah dari Kaisar, dia akan segera pergi meninggalkan pria ini sejauh mungkin.
Xuan Yuan sangat bahagia dengan perhatian kecil ini. Tak bisa menahan diri untuk terus menyunggingkan senyuman.
Xue hanya bisa menyaksikan semuanya dalam diam. Majikannya ini sudah berubah menjadi aneh akhir-akhir ini. Pria dingin itu sudah menjadi majikannya selama belasan tahun, tapi baru kali ini mempunyai senyuman yang begitu berlimpah.
“Yang Mulia, apakah masih ada lagi perintah untuk hamba?” tanya Xue. Dua orang ini saling memberi perhatian dengan hangat, sungguh membuatnya canggung berada di antara mereka.
“Pergi!”
Xuan Yuan mengibaskan tangannya, memberi tanda supaya Xue keluar dari kereta.
Xue, “…”
‘Anda bisa tersenyum dan bersikap lembut pada Nona Xin Qian. Kenapa begitu galak pada hamba, Yang Mulia?’ batinnya.
Lagi-lagi, Xue hanya bisa menghela napas tak berdaya. Dia keluar dari kereta dengan patuh. Hanya saja, dia merasa sedikit sakit hati. Sebagai pengawal pribadi, bahkan Xue belum pernah sedekat ini dengan Xuan Yuan.
Sementara wanita aneh ini baru beberapa pekan bersama mereka, tapi sudah berhasil membuat Xuan Yuan lebih menyayanginya.
‘Anda sangat kejam pada hamba, Yang Mulia.’ Xue mengeluh di dalam hati.
Yunxi dan Ming Ye menatap Xue yang baru turun dari kereta penuh tanda tanya.
“Kita berangkat sekarang?” tanyanya.
“Berangkat sekarang!” Xue tidak berani mengeluh. Dua sahabatnya ini juga pasti sudah menemukan hal yang dia rasakan sekarang.
Saat ini, ada dua puluh ribu pasukan yang akan dibawa Xuan Yuan pulang ke Hangzhou. Sisanya akan tinggal di barak militer perbatasan. Ada juga yang kembali markas militer yang ada di kota-kota lain.
Iring-iringan pasukan militer Da Liang sepanjang dua puluh kilo meter menyusuri jalanan menuju Hangzhou. Pekikan dan nyanyian semangat juang pasukan Da Liang yang agung terdengar di sepanjang jalan.
Pohon willow yang tumbuh di sepanjang jalan yang mereka lewati telah menghijau. Tidak sia-sia Murong Xuan Yuan menunggu pergantian musim untuk pulang ke Hangzhou. Musim semi akan membuat perjalanan mereka lebih menarik daripada musim dingin. Dia ingin melihat pemandangan mengesankan selama perjalanan ini dengan Xin Qian.
Suhu udara yang hangat juga tidak terlalu menyakitkan untuk dua puluh ribu prajurit yang dibawanya pulang.
Xin Qian tak bisa menyembunyikan tatapan takjub. Binar matanya berkilat penuh antusias melihat pemandangan di sepanjang jalan. Xuan Yuan tak melewatkan tatapan kagum gadis itu sedikit pun. Dia memperhatikan detail setiap gerak-gerik yang dilakukan wanita di sampingnya tersebut.
“Bunga persik mekar di sepanjang jalan, menunggu dua musim lagi untuk bisa menikmati buahnya. Anda harus bersabar menunggunya di Istana Xi Wei, Nona Xin Qian,” ucapnya pelan.
Kalimat yang manis. Aah, Pangeran ini … benar-benar pandai merayu wanita. Xin Qian penasaran, ada berapa banyak selir yang dimiliknya di Istana Xi Wei-nya itu.
Di dalam hati, Xin Qian ingin menangis. Pria tampan ini sudah dua kali mengatakan kalimat yang sama padanya.
“Yang Mulia, seberapa luas daratan ini?” tanya Xin Qian mengalihkan perhatian.
Tidak menampakkan kerumitan hatinya. Saat ini dia memang membutuhkan uang dari Xuan Yuan dan Kaisar untuk bertahan hidup di zaman kuno. Jadi, bagaimanapun dia harus bersikap baik pada pria ini.
“Ada enam negara di daratan ini. Jika ada kesempatan, rasanya ingin berkelana dengan bebas ke negara lain.”
Mendengarnya, sepasang netra Xin Qian berbinar. Hal menarik baginya adalah melakukan perjalanan. Dia sama sekali tidak tertarik jika harus berdiam diri di Istana seperti para wanita di zaman ini.
“Benar, jika ada kesempatan tentu saja harus melakukannya,” jawabnya dengan wajah berbinar.
Dengan berkelana, mungkin saja dia menemukan hal baru yang akan membuat dirinya memiliki pemahaman dan ilmu baru.
Xuan Yuan memperhatikan kegembiraan yang meledak di hati Xin Qian saat membicarakan tentang petualangan. Berbeda dengan respon gadis itu ketika sang Pangeran mengatakan untuk tinggal di Istana Xi Wei selama dua musim.
Meski ada sedikit kecewa di dalam hati, Xuan Yuan tidak mengungkapkannya. Mereka belum memiliki pemahaman mendalam satu sama lain. Mungkin saja Xin Qian tidak merasakan sesuatu yang sama dengan dirinya.
“Nona Xin Qian, Anda tertarik untuk mengunjungi beberapa negara itu?” tanyanya kemudian.
Xin Qian mengangguk. Matanya berbinar indah seperti bintang kejora. Xuan Yuan begitu menyukai gadis seperti Xin Qian yang pandai mengekspresikan kegembiraan.
“Da Liang sangat indah, aku ingin melihat negara lain. Apakah negara lain juga seindah Da Liang?” tanyanya sambil membayangkan.
Meski ini zaman kuno yang tidak memiliki perlengkapan canggih seperti di zaman modern, dia tidak akan melewatkan kesempatan.
“Baik, aku akan menemani Anda berkelana.”
Xin Qian terkesiap mendengarnya.
“Tidak, tidak. Anda adalah Dewa Perang Da Liang. Bagaimana bisa Anda meninggalkan tugas Anda demi aku. Itu tidak pantas.” Xin Qian menggelengkan kepala cepat.
“Tidak masalah, aku akan minta izin pada Ayahanda Kaisar. Sudah bertahun-tahun, aku menghabiskan waktu di medan perang.” Xuan Yuan berusaha menjelaskan.
Sebenarnya, pangeran sudah salah paham. Xin Qian bukan menolak karena merasa tidak pantas, melainkan karena dia ingin pergi sendirian. Namun, mana berani dia mengatakan hal ini pada pria ini. Meski begitu ramah padanya, dia tahu pria ini mempunyai temperamen yang tidak bisa disinggung. Xin Qian terlalu malas membuat masalah di tempat ini. Jadi, dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
Sang Pangeran Ketiga mengira, Xin Qian telah setuju. Jadi, dia tersenyum manis.
“Nona, aku tidak akan mengingkari janji untuk menjaga dan melindungi Anda.”
Xuan Yuan begitu takjub dengan sepasang mata Xin Qian yang berbinar. Mata yang jujur dan polos mengekspresikan kegembiraan dan kemarahan. Sangat sulit mendapatkan wanita lugas seperti ini di dalam Istana.
Dia tinggal di sana sejak kecil. Di dalamnya, para wanita begitu pandai menyimpan dendam dan permusuhan. Mereka bahkan sering memainkan trik licik demi mendapatkan perhatian dari Kaisar.
“Yang Mulia.”
“Ya.”
“Aku … apa boleh punya permintaan?” cicitnya pelan tak berani menatap mata Xuan Yuan. Melihatnya, sudut bibir Xuan Yuan melengkung.
“Katakan!”
“Aku … aku … saat tiba di Istana, aku tidak ingin tinggal bersama para selir Anda.”
Tinggal bersama para selir di Istana pasti sangat mengerikan. Bahkan, jauh lebih mengerikan jika dibandingkan dia berjumpa dengan monster. Kelak, hidupnya tidak akan pernah tenang jika harus menghadapi kecemburuan para selir.
Jika memang harus tinggal di Istana itu, dia harus tinggal paviliun yang berbeda dari para selir. Dengan begitu, dia bisa tinggal dengan tenang selama di Istana.
Saat ini dia tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi saat mereka tiba di Istana. Belum tentu dia bisa pergi dengan segera dari sana, sehingga Xin Qian harus memastikan tempat tinggal yang jauh dari konflik seputar memperebutkan suami. Dia terlalu malas untuk itu.
Xuan Yuan memindai wajah Xin Qian yang terlihat rumit. Jadi, gadis ini mengira dirinya adalah seorang pria yang memiliki banyak selir?
“Selir?” Xuan Yuan mengeja kata itu dengan rasa entah. Ada rasa tidak suka saat mendengar Xin Qian menyebut kata tersebut.
“Ya, Anda pasti mempunyai banyak sekali selir di Istana Anda, Yang Mulia. Aku menginginkan tempat yang jauh dari mereka semua,” ulangnya.
Terdengar suara dengusan pelan. Xuan Yuan jelas tidak suka mendengarnya. Gadis ini tidak tahu kalau Pangeran Ketiga tidak pernah menyukai wanita sebelumya.
“Baiklah, Anda tidak akan tinggal bersama orang lain.” Xuan Yuan berkata pelan.
Sebenarnya dia ingin mengatakan kalau dirinya tidak memiliki selir, tapi dia mengurungkannya. Kelak, Xin Qian akan melihatnya sendiri.