Iparku Suka Numpang Makan
Part 22
Kak Doni.
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya besok kak Doni suaminya kak Lily pulang juga.
Jangan dikira kalau aku dan kak Lily selama ini tenang-tenang saja tanpa ada keributan, itu adalah hal yang sangat mustahil.
Yang enaknya, kak Lily benar-benar sudah tidak sarapan dirumahku, itu adalah anugerah terindah bagiku.
Kalian tahu, semakin mendekati kepulangan kak Doni, kak Lily semakin banyak ulah, ada saja yang membuat kami atau orang-orang disekitar sampai ngelus dada atau menggelengkan kepala dan atau menghembuskan nafas dengan kasar melihat ulah kak Lily.
“Mas, besok suaminya kak Lily pulang loh.” Ujarku.
“Ya mas tahu kok dek.” Ujarnya sambil makan somay yang tadi kami beli di abang tukang lewat.
Ya tentu saja mas Zahdan tahu, tidak ada yang tak tahu tentang kepulangan kak Doni, hampir beberapa orang tetangganya kak Lily diberitahu oleh kak Lily tentang kepulangan suaminya, mungkin kang kredit yang belum tahu kalau besok suaminya kak Lily pulang, atau aku beritahu saja ya, kan harus dibayar tuh kreditan, hehe.
“Terus kalau kak Doni pulang, memangnya ada apa dek? Tanya mas Zahdan sambil membersihkan bumbu somay yang masih tersisa di piringnya, duh mas Zahdan segitu menikmatinya.
Mas Zahdan kalau setiap Sabtu, kerjanya hanya setengah hari, tapi terkadang juga dia harus lembur jika sedang banyak pekerjaan, dan ini lah yang aku suka jika mas Zahdan pulang cepat, bisa me time berdua walau hanya duduk di teras sambil menikmati sepiring somay.
“Ga, aku cuma mau mengingatkan pesan kak Lily saja.” Ujarku.
“Pesan apa?” tanya mas Zahdan bingung.
“Pesan, kalau ga boleh minta oleh-olehnya.” Ucapku lagi sambil ketawa.
“Hahaha, kamu ini dek ada-ada saja. Mas kira pesan apa.”
“Ya kali aja mas Zahdan lupa, terus besok minta oleh-oleh lagi, kan malu.” Ucapku sambil tertawa.
“Halah, oleh-oleh begitu mah mending kita beli sendiri, banyak kok dijual dimana aja.” Ujarnya sambil menyeruput kopinya.
“Emangnya apa sih mas oleh-olehnya?”
Ya tentu saja aku penasaran, karena mas Zahdan dan ibu juga bilang kalau oleh-olehnya ga spesial, bisa dibeli dimana saja.
“Kenapa, kepengen, udah kalau buat kamu nanti mas yang beliin.” Ujar mas Zahdan menggodaku sambil mencubit hidungku.
“Bukannya kepengen mas, hanya penasaran saja, secara kak Lily bahas oleh-oleh terus, apalagi beberapa hari belakangan ini, sering banget dia bahas tentang oleh-oleh.” Ucapku sambil mengelus hidung yang ga seberapa mancungnya.
“Kak Lily kan emang begitu orangnya, entahlah mas juga ga ngerti apa yang ada dalam pikirannya.”
“Iya tapi apa sih, biar aku ga penasaran gitu.” Ujarku menarik lengan baju mas Zahdan.
“Sudah lihat saja besok kamu juga bakalan tahu kok.”
“Ih mas Zahdan sama aja kayak ibu, kalau ditanyain pasti jawabannya, lihat saja besok dan besok.” Ujarku sambil pura-pura ngambek.
“Lagian mana mungkin kita besok bisa tahu oleh-olehnya sih, kan dikasih aja juga ga.” Tambahku lagi.
“Emang kamu nanya apa ke ibu?”
“Aku tanya, kak Doni seperti apa sih Bu, karena aku kan penasaran mas, ga pernah ketemu sama dia jadi ga tahu karakternya seperti apa, apa sebelas dua belas sama kak Lily atau ga, eh dijawab sama ibu, besok aja lihat.” Jelasku panjang lebar, untung saja somayku udah habis jadi ga bikin aku keselek ngomong panjang begini sama mas Zahdan.
“Ya benar kata ibu, kamu besok lihat saja sendiri terus perhatikan kak Doni itu seperti apa.”
“Lagian kalau tentang oleh-oleh, walaupun kita ga bakal dikasih yang pasti kak Lily bakal ngasih tau ke orang-orang, apa saja yang dibawa sama suaminya.” Jelas mas Zahdan.
“Masa sih mas, tapi bagaimana sih perasaan kak Lily, enak ga itu mas, kasih lihat ke orang tapi ga dibagi ke orang-orang?”
“Yah namanya juga kak Lily, makanya ibu ga mau kerumah kak Lily kalau pas kak Doni baru datang, ga enak sama tetangga kata ibu.”
“Iya lah kalau jadi ibu aku juga pasti ga bakal datang mas, malu lagi.”
“Tapi kita tetap besok harus kesana karena kak Lily kan anak tertua.” Ujar mas Zahdan lagi penuh dengan penekanan dengan maksud agar aku tetap mau ikut besok.
Iya besok kami sebagai adiknya memang harus kerumah kak Lily, rumah yang paling aku hindari untuk aku kunjungi jika tak mendesak sama sekali, tapi karena kak Lily sudah bilang sama adik-adiknya untuk datang besok Minggu, mau ga mau ya kami harus datang besok.
Hari Minggu pun akhirnya tiba, kata mas Zahdan tadi kak Doni pulangnya mungkin sekitar jam 10an jadi aku bisa sarapan dulu bersama mas Zahdan diluar sambil olahraga pagi.
“Mas, Rama dan Yana hari ini makan dirumah ibu atau tidak mas?” Tanyaku saat kami sedang menikmati semangkok bubur ayam yang sudah tinggal separuh itu dengan sate telur puyuh dan hati ampela nya.
“Kenapa memangnya?” tanya mas Zahdan.
“Aku mau beliin sate telurnya buat mereka, mereka berdua kan suka banget mas.”
“Kalau kak Doni mau pulang, pasti kak Lily akan masak dek, jadi Rama dan Yana sarapan di rumahnya.”
“Oh gitu mas. Kak Lily bisa masak ya mas berarti?”
“Ya gitu deh, nanti juga kamu bakal tahu sendiri.” Ujarnya menggodaku.
“Mulai deh, bilangnya nanti saja, nanti saja.” Aku langsung menggigit sate telurnya dengan greget.
“Hati-hati tuh lidinya ketelan juga nanti.”
“Apa sih mas. Nyebelin ih.” Mas Zahdan malah tertawa melihat istri nya lagi ngambek gini.
“Mas, habis ini kita ke taman pojok itu ya?” ajakku.
“Mau ngapain, mending kita langsung pulang saja, istirahat sebentar terus langsung ke rumah kak Lily.”
“Ih mas, aku mau beli cilok itu, sama odadingnya, kan enak banget itu mas.” Tunjukku ke arah pedagang di pojok taman.
“Ya ampun istri mas, masih kurang kenyang apa kamu dek?”
“Halah mas, nanti juga kalau aku beli bakal ikut makan juga di rumah.”
“Haha, iya iya, ayo dah, yang pedes yang nanti ciloknya.”
“Tuh kan, tuh kan, mau juga.”
Kami berdua pun tertawa dan pergi berjalan ke arah taman pojok dimana terdapat banyak tukang jualan disana, sungguh ujian yang berat bagi kaum wanita yang ingin diet, hehe.
Kami kini sudah berada dirumah kak Lily, sudah ada kak Zidan yang sedang menggendong buah hatinya dan kak Nur duduk disebelahnya, ada juga tiga orang tetangga kak Lily yang sepertinya tidak bersemangat sekali berada dirumah kak Lily.
“Hei Zeta, sini bantuin kakak nata meja makan, Nur kan sedang ada bayi jadi ga bisa bantuin!”
Halah kak Lily itu bukannya ga mau nyuruh kak Nur tapi dia takut aja sama kak Zidan. Batinku.
“Haduh maaf kak, kaki Zeta lagi pegal nih tadi habis lari pagi sama mas Zahdan.” Ujarku malas sambil memegangi lengan mas Zahdan pura-pura bermanja ria.
“Awas kamu ya, ga bakal kakak ijinin makan siang disini!”
“Ga apa-apa kak, nanti Zeta saya beliin makanan dari luar saja.” Jawab mas Zahdan, aduh senengnya dibela begini sama suami.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dan salam dari luar. Suara yang belum pernah aku dengar, iya suara laki-laki, apa dia itu kak Doni ya.
Rama dan Yana yang sedari tadi ikut sibuk membantu ibunya, langsung berlari keluar seraya ingin membukakan pintu, di ikuti oleh kak Lily dibelakangnya.
Benar berarti bahwa dia adalah kak Doni, haduh aku jadi tambah penasaran. Kak Lily menarik handle pintu dan membukanya, muncullah sosok pria sambil mengenakan tas ransel di pundaknya.
Aku pun memperhatikan pria yang baru masuk itu, jadi ini yang disebut kak Doni.