Iparku Suka Numpang Makan
Part 23
Oleh-oleh.
Pria yang menggunakan tas ransel di punggungnya itu pun masuk dan menyapa kami semua yang sudah berada diruang tamu.
“Kak Doni, gimana kak kabarnya?” kak Zidan langsung menyalami kak Doni dan kak Doni pun langsung menyambut uluran tangan kak Zidan.
“Baik Dan, kamu sendiri sama Nur gimana kabarnya?” tanya kak Doni sambil duduk di bangku yang telah disiapkan oleh kak Lily.
“Alhamdulillah baik kak.”
“Wuah anakmu tau-tau sudah besar aja ya Dan.” Kak Doni menggoda anaknya kak Zidan tapi tidak dengan memegangnya karena baru datang dari berpergian.
Sekilas aku lihat sepertinya kak Doni berbeda dengan kak Lily, dia sepertinya ramah berbanding kebalik dengan istrinya.
“Eh Zahdan, yang masih bau pengantin baru, bagaimana nih kabarnya?” tiba-tiba kak Doni menghadap kearah aku dan mas Zahdan.
“Alhamdulillah, kami berdua baik kak.” Jawab mas Zahdan pun sambil menyalami kak Doni, iyah hanya bersalaman dengan mas Zahdan saja tidak dengan ku karena memang posisi duduk kak Doni lebih dekat dengan mas Zahdan.
“Eh iya ada Bu Sri, Bu Etty, dan Bu Siska, haduh maaf ya Bu jadi belakangan menyapanya.” Mereka bertiga pun saling berpandangan dan tersenyum bareng tanpa dikomando.
“Iya pak Doni tidak apa-apa, pasti sudah kangen juga sama adiknya Bu Lily.” Ujar Bu Sri mewakili kedua temannya.
Kak Doni hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Bu Sri.
“Ini mana minumannya kok belum ada?” kak Doni menatap meja tamu yang masih putih polos sesuai dengan warna taplak mejanya, tak ada cemilan ataupun sekedar air mineral dimeja tamu miliknya.
“Mah, mamah, mana jamuannya kok ga ada!” pinta kak Doni pada kak Lily, yang baru aku sadari bahwa kak Lily belum keluar lagi semenjak menyambut kak Doni pulang dan membawakan tas ransel yang kak Doni bawa, iya kak Doni hanya membawa tas ransel saja.
“Iya sebentar.” Ujar kak Lily terdengar dari dalam kamarnya.
Aku hanya terdiam sambil memperhatikan kak Doni yang sedang berbincang dengan para ibu-ibu tetangga rumahnya, untuk sementara penilaian ku terhadap kak Doni, dia adalah orang yang ramah dan sepertinya baik. Tapi entahlah kedepannya apakah penilaianku ini akan berubah atau tidak.
“Ini minumannya pah.” Ujar kak Lily sambil meletakkan tiga buah kopi panas yang diletakkan didepan suaminya dan kedua adiknya, sedangkan untuk kami yang perempuannya kak Lily memberikan air gelas mineral.
Yah itu saja tanpa ada kue ataupun cemilan pendamping, padahal kak Lily loh yang mengundang kami semua kesini.
“Loh mah, kue yang tadi aku bawa mana, kok ga dikeluarin?” tanya kak Doni lagi.
“Iya sebentar pah.” Kak Lily kembali masuk kedalam.
“Mas, emang seperti ini ya biasanya?” tanyaku pada mas Zahdan sambil berbisik pelan, dan mas Zahdan hanya mengangguk saja.
Tak lama kak Lily pun kembali keluar dengan membawa dua piring yang berisi keripik tempe berbentuk lingkaran.
“Ini pah.” Ujar kak Lily sambil meletakkan dua piring itu dimeja tamu.
Ok, sabar Zeta, ini mungkin hanya cemilan yang kak Lily beli, kalau oleh-olehnya bukan ini pastinya, karenakan kak Lily pernah bilang bahwa oleh-olehnya spesial.
“bolunya mana mah?”
“Udah dimakan sama anak-anak.” Ujarnya santai.
“Aduh maaf ya ibu-ibu udah dimakan ternyata bolu pisangnya, silahkan Bu dimakan keripiknya.” Ucap kak Doni.
Aku langsung melihat kedua anak kak Lily, sepertinya kedua anak kak Lily sedari tadi didekat kak Doni terus, kapan dia makannya.
Jadi ini oleh-oleh spesial dan istemewa menurut kak Lily, keripik tempe dan bolu pisang, bukannya aku ingin mengejeknya, hanya saja benar kata mas Zahdan bahwa ini masih bisa ditemui di toko kriuk dan toko kue juga ada. Aku kira oleh-olehnya hanya ada di kota tempat kak Doni kerja.
Kulihat mas Zahdan yang tidak mengambil keripik tempe itu, begitu pula dengan kak Zidan, kak Nur bahkan Bu Sri dan teman-temannya juga tidak mengambilnya mereka lebih memilih untuk meminum air mineral itu, ada apa ini.
Aku melihat ke arah mas Zahdan dan dia juga ternyata sedang memperhatikanku ternyata, seperti tau dengan apa yang aku pikirkan, lantas mas Zahdan seperti teringat sesuatu, lalu mas Zahdan keluar dan balik lagi dengan membawa kue bolu ditangannya, oh pantas saja sebelum ke rumah kak Lily tadi mas Zahdan mengajakku untuk pergi ke toko kue dulu dengan mengendari sepeda motor, aku kira habis dari rumah kak Lily, kami akan pergi ke suatu tempat, karena biasanya kalau mas Zahdan mau kerumah kak Lily dia tidak pernah mampir untuk beli sesuatu dulu.
“Oh iya sampai lupa tadi saya beli ini, ayo kak Doni dan yang lainnya kita makan bareng.” Ajak mas Zahdan, dan ajaibnya kak Zidan, kak nur serta Bu Sri dan teman-temannya langsung mengambil potongan kue bolu itu.
Loh ada apa ini sebenarnya, ga mungkinkan mereka semua tidak suka keripik tempe itu, apalagi keripik tempe itu kelihatannya sangat garing sekali.
Sedari tadi aku lebih banyak diam, memperhatikan mereka semua.
Akhirnya makan siang pun tiba, kak Lily mengajak kami semua keruang makannya, ada opor ayam dan tempe goreng serta kerupuk.
Tunggu, apa opor ayam ini cukup untuk kami semua, sementara opor ayam yang terhidang hanya ditaruh di wadah yang berukuran sedang, kalau kami semua yang hadir disini kurang lebih berjumlah tujuh orang belum termasuk keluarga kak Lily sendiri sepertinya tidak akan cukup.
“Ayo ibu-ibu kita makan dulu ya.” Ajak kak Lily.
“Maaf kak Doni kami pulang duluan ya.” Ujar kak Zidan sambil memegangi tangan kak nur yang kini menggendong buah hatinya.
“Kami juga pak Doni, kami pamit pulang.” Bu Sri dan teman-teman ikut mengekor kak Zidan, aku lantas menatap suamiku, mas Zahdan juga sepertinya sedang bersiap-siap untuk pamit.
Baiklah sesudah pulang dari sini, mas Zahdan berhutang penjelasan padaku, ada apa sebenarnya dengan apa yang aku lihat hari ini.
“Iya kak, Zahdan juga pamit ya kak.”
“Aduh kok malah pada pulang semuanya sih, kenapa ga makan dulu, kamu juga Zahdan kenapa ikut-ikutan pulang.”
“Iya kak, maaf ya, udah mau Dzuhur soalnya.”
“Oh ya sudah kalau begitu, makasih ya udah mau datang.”
“Iya kak.” Kami berdua pun akhirnya pulang, kak Doni dan kak Lily tidak mengantar kami tapi tak mengapa mungkin mereka ingin melepas rindu.
Saat tiba diluar kulihat Bu Sri dan teman-teman masih ada diluar.
“Haduh mas Zahdan makasih loh udah bawa cemilan, tau aja nih kita-kita pada lapar.”
“Iya Bu, maafkan kak Lily ya Bu. Mari Bu saya duluan ya.” Ujar mas Zahdan langsung menarikku ke motornya, sepertinya dia tau kalau istrinya yang manis ini sedang kepo dan bersiap untuk banyak bertanya pada para tetangga itu.