Iparku Suka Numpang Makan
Part 24
Diprotes.
Setibanya di rumah, mas Zahdan langsung masuk meninggalkanku, padahal banyak sekali yang aku ingin tanyakan padanya, minimal kan dia bisa membersamai langkahnya dan langkahku saat masuk kedalam.
Aku gegas mengejarnya, tapi aku tak mendapatkan mas Zahdan diruang tamu, apa dia sudah ada dikamar ya, aku pun segera mencari pria yang menjadi suamiku itu, tapi di kamarku juga tidak menemukannya.
Saat aku berjalan kebelakang ternyata aku mendengar suara air yang sedang mengalir dari kamar mandi belakang.
Tak lama pun keluar mas Zahdan dari dalam kamar mandi.
“Mas, kamu habis ngapain?” tanyaku heran.
“Perut mas mules banget, makanya tadi langsung buru-buru masuk.”
Oh karena itu, ya ampun, aku udah berprasangka yang tidak-tidak saja pada mas Zahdan.
“Tapi kenapa ga di kamar mandi yang ada dikamar kita saja mas? kebelakang gini kan kejauhan kalau lagi buru-buru.” Ujarku sambil menahan tawa, mengingat langkahnya mas Zahdan tadi yang terburu-buru masuk.
“Kamar kita kan biasanya kamu kunci, makanya mas langsung aja ke belakang.”
“Eh tadi aku padahal lagi lupa loh ngunci kamar.”
“Ah, ya sudah lah yang penting sudah terlaksana dengan baik dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Ujarnya sambil tertawa.
“Ih apaan sih, begitu banget ngomongnya, jorok tau.” Ujarku seraya menutup hidung.
“Ya udah buruan wudhu, kita sholat jamaah dulu, habis itu makan siangnya pesan online aja ya?”
“Emang kenapa mas ga beli saja langsung diluar?”
“Aku capek dek, dan lagi panas banget cuacanya, lagi pula dek kalau ada yang mudah kenapa cari yang sulit sih.”
“Huh ya udah deh, serah saja apa kata pak bos.” Ujarku sambil berlalu ke kamar untuk mengambil wudhu dan meninggalkan mas Zahdan yang lagi menuangkan air dingin ke dalam gelasnya.
Setelah beberapa menit, kami pun selesai melaksanakan sholat berjamaah dan kini sama-sama duduk di sofa ruang tamu, sambil memesan makanan lewat online.
“Dek mau makan apa kamu?” tanya mas Zahdan sambil menscroll handphone nya mencari menu makanan.
“Mas, emangnya pesan apa?” aku balik bertanya.
“Mas lagi pengen soto Bogor ini, kayaknya enak makan siang-siang begini.”
“Ya udah deh aku samain juga, ibu sama bapak gimana mas, pesenin juga ya, ibu sama bapak juga suka loh sotonya.”
“Tapi kalau ibu sudah masak gimana dek?”
“Ga apa-apa yang penting kuahnya minta dipisah saja, biar bisa di makan pas sore atau malam nanti.”
“Ya udah, mas pesenin empat ya.” Aku langsung mengangguk sambil memakan kue sagu.
Beginilah kata mas Zahdan, aku ini sebenarnya modus minta disedian aneka kue yang katanya buat stok kalau ada tamu, tapi yang ada habis dicemilin sama aku sendiri. Ga apa-apa lah ya, siapa lagi yang nyenengin istri kalau bukan suaminya, hehe.
“Hmm mas, jelasin dong tentang tadi yang dirumah kak Lily.” Pintaku, karena jujur saja aku sangat penasaran.
“Bagian apanya?”
“Hmm pertama, kenapa kak Lily hanya memberikan kami air mineral saja sedang untuk kalian adik dan suaminya air berwarna?”
“Karena kak Lily ga mau repot bikinin teh atau air berwarna lainnya hanya untuk orang lain, bikin rugi.”
“Hah, masa sih mas, emang dia pernah bilang begitu?”
“Iya,setiap suaminya datang pasti tetangga nya diundang, dan aku pernah bilang supaya, jangan cuma air mineral yang disuguhkan karena kak Lily yang mengundangnya.”
“Terus kak Lily bilang begitu mas?” mas Zahdan mengangguk, sungguh keterlaluan.
“Lalu kenapa Bu Sri dan yang lainnya tidak makan keripik tempenya tadi?”
“Karena pernah waktu itu, jamuannya habis, lalu setelah suaminya pergi lagi, kak Lily langsung protes ke tetangganya pas lagi ketemu belanja sayur, dia bilang, kalau bertamu harus tau diri, jangan mentang-mentang disuguhi makanan langsung dihabisin.”
“Bu Sri cerita ke mas Zahdan?”
“Ga, mang sayur yang cerita ke ibu.”
“Ya ampun, kak Lily ya, kalau ga mau habis makanannya ya jangan ngundang tetangga dong, lagian suami pulang aja heboh banget sih, pakai ngasih tau tetangga segala!” aku jadi terbawa emosi mendengar penjelasan mas Zahdan.
“Sabar dek, jangankan kamu, ibu saja jadi tidak enak dengan perlakuan kak Lily, habis itu ibu langsung masak banyak dan membungkusnya jadi beberapa bungkusan untuk diantarkan ke rumah tetangga kak Lily, sebagai permohonan maaf.”
“Jangan-jangan mereka ga mau makan siang karena itu juga alasannya?”
“Iya.”
“Kak Zidan juga?” mas Zahdan mengangguk langsung.
“Saat itu, kak Zidan tau dengan ulah kak Lily, tau ga dek, kak Zidan langsung melabrak kak Lily dan bilang hal yang sama dengan yang kamu bilang tadi, supaya ga perlu mengundang tetangga lagi, tapi jiwa pamer kak Lily ga mau menerima saran kak Zidan.”
“Oh gitu, lalu mas beli kue bolu itu, atas inisiatif mas atau siapa?”
“Ya inisiatif mas sendiri, karena mereka pasti lapar, mas tau mereka itu pasti sudah disamperin sama kak Lily dari jam sembelinan.”
“Kasihan ya Bu Sri dan yang lainnya. Tapi kenapa mereka mau sih mas tetap datang kerumah kak Lily?”
“Ya alasan mereka karena ga enak sama ibu dan juga sama kak Doni, nanti dikira kak Doni, mereka itu yang tidak mau bertetangga.” Aku menganggukkan kepalanya demi mendengar penjelasan dari mas Zahdan.
Tak lama, pesanan kami pun datang, mas Zahdan langsung kedepan untuk mengambil pesanan dan membayarnya, sedangkan aku langsung pergi kebelakang untuk menyiapkan mangkok dan piringnya, yah karena aku ga masak jadi kami tadi memesan nasi juga sekalian.
“Dek, ini sotonya, mas mau kerumah ibu dulu nganter soto ini, mumpung masih panas.”
“Iya mas, hati-hati kalau ketemu kak Lily langsung umpetin dulu sotonya mas.”
“Mau diumpetin dimana dek soto panas begini, masa iya mas taruh dalam baju, badan mas nanti yang jadi kepanasan.”
“Yah habis gimana lagi mas.”
“Udah tenang saja, kalau lagi ada kak Doni, kak Lily ga bakal keluyuran, dia pasti lagi dirumahnya.”
“Masa sih mas?”
“Iya, paling nanti sore ke rumah ibu sambil ngasih oleh-oleh.”
“Itu juga kalau ibu dapat, ya mas.” Ujarku sambil tertawa.
“Hust ga boleh begitu.” Aku langsung menahan tawaku karena ga enak juga sama mas Zahdan, biar bagaimanapun juga kak Lily adalah kakak kandungnya.
“Ternyata oleh-olehnya bukan istimewa juga ya mas, ditoko daerah sini juga banyak yang jual, aku kira itu makanan ciri khas tempat kak Doni kerja, jadi susah didapat kalau ga ketempatnya langsung.”
“Iya kan mas udah bilang sama kamu, kalau mau mas bisa beliin.”
“Iya mas.” Ujarku tersenyum malu karena mengingat belakangan ini aku jadi sering kepikiran karena penasaran oleh-oleh apa yang akan dibawa oleh suaminya kak Lily.