Hayu mendongak dan menatap Bisma, tatapannya datar, dia mendesah kasar, namun suara seseorang menggelegar, membuatnya terhenyak.
“Cukup!”
Mami Bisma datang untuk menemui anaknya dan memperingati Hayu untuk tak datang malam ini ke rumah mereka, namun ketika dia masuk ke ruangan putranya, sekretarisnya bilang, Bisma sedang menemui Hayu. Maka dengan kecepatan di atas rata-rata dia menghampiri Bisma di kubikel Hayu.
“Jaga emosi kamu, Bisma. Ini di luar, kamu mau mempermalukan diri kamu sendiri hanya karena perempuan seperti dia. Ayo kembali ke ruangan kamu, ada yang Mami ingin bicarakan dengan kamu.”
Mau tak mau Bisma menurut, Hayu belum sempat menyapa Mami Bisma, namun melihat mami Bisma yang tak menatapnya sama sekali, diurungkannya niatnya untuk menyapa wanita yang masih cantik itu. Hayu mendesah kesal, menatap punggung kedua orang itu dengan raut wajah yang lelah.
“Papa kamu yakin ingin mempertahankan cintamu itu?” tanya Candra yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.
“Ish, Bapak mengagetkan saya, kalau saya jantungan bagaimana?”
“Saya hanya mau memberikan berkas ini, Hayu,” ucapnya memberikan setumpuk berkas yang sudah ditanda tangani.
Hayu menerimanya tanpa mau menjawab pertanyaan yang diajukan Candra padanya. Kembali duduk di kursi kebesarannya dan mulai membereskan pekerjaannya.
Tepat pukul lima sore, semua pekerjaannya selesai. Hayu bersiap-siap pulang, Bisma yang sudah sejak tadi keluar dari ruangan, segera menghampiri hayu.
“Ayo kita pulang,” ajaknya. Candra yang baru keluar dari ruangannya acuh tak acuh melihat mereka berdua, bahkan berlalu begitu saja. sungguh dia tak sedikit pun melirik Bisma dan juga Hayu.
Hayu mengerutkan keningnya, kenapa sikap Candra sungguh aneh sore ini, biasanya mereka bertiga akan berbaur dan saling melempar candaan karena sudah di luar jam kerja, tapi kemudian Hayu tak mau ambil pusing, mungkin saja atasannya itu sedang terburu-buru.
Hayu dan Bisma segera turun dan masuk ke dalam mobilnya. Seperti rencana awal, dia akan mengantarkan Hayu dan pergi ke rumahnya. Di dalam perjalanan mereka saling diam. Entah kenapa perasaan Hayu tidak tenang, dia merasa akan terjadi sesuatu dengannya.
“Yu,” panggil Bisma pada kekasihnya yang sejak tadi terlihat melamun.
Hayu menoleh, menatap Bisma dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Masih marah denganku?”
“Enggak, buat apa? Aku nggak mau membuang energiku Bisma. Kamu tahu sendiri bagaimana aku, seperti apa sifatku, jadi kenapa harus dibahas, hal yang tak berujung ini.”
Bisma diam, dia memang tahu Hayu tipe yang sabar dan jarang sekali marah, meskipun kadang orang berbuat jahat padanya, dia selalu mengalah, menurutnya Hayu terlalu naif dan sedikit bodoh.
Mereka sampai di depan rumah Hayu, Bisma memarkirkan mobilnya dan mengantar Hayu masuk ke dalam rumah. Ibu Hayu menyambut mereka.
“Sore, Bu. Bisma minta ijin mau mengajak Hayu makan malam ke rumah Bisma, bolehkan, Bu?”
Ibu Hayu mengangguk setuju, dia mana mungkin bisa menolak permintaan kekasih anaknya itu. Beliau tahu betul jika anaknya sangat mencintai Bisma.
“Tentu saja, boleh. Tapi ingat, jam malam, Hayu sudah harus kembali ke rumah.”
Hayu memperhatikan interaksi mereka berdua, dia naik ke kamarnya dan bersiap-siap. Menggunakan celana jeans di padu dengan blus kekinian dari brand yang lumayan ternama membuatnya percaya diri. dia mematut dirinya di depan cermin.
“Untung saja aku memiliki blus ini, hadiah ulang tahun termahal yang pernah aku miliki,” ucapnya memutar tubuhnya.
Selesai mengoleskan pelembab di wajah cantiknya, dia turun ke bawah, menemui Bisma dan berpamitan pada ibunya. Dalam hati dia meminta maaf pada ibunya, meminta doa agar dia bisa tahan, saat makan malam di rumah Bisma.
Memasuki mobil Bisma menuju rumah yang menurutnya seperti neraka itu, kadang dia berpikir apa mungkin dia bisa hidup di tengah keluarga itu, namun Hayu punya keyakinan, sebelum berjuang dia tidak akan menyerah begitu saja.
Membayangkan saja terkadang membuatnya sesak. Mobil yang mereka kendarai sudah masuk halaman rumah mereka yang luas. Hayu turun dari mobil, keningnya berkerut, bertanya dalam hati, meyakinkan dirinya jika dia tak salah lihat.
“Kamu bilang mereka mengundangku makan malam, jadi ini yang kamu maksud? Ini mobil Jelita bukan, jadi kedatanganku hanya sebagai pelengkap atau sebagai pembanding?”
“Kenapa berbicara seperti itu, kami tidak pernah membandingkan kamu dengan jelita. Sudahlah, ayo, aku tidak mau berdebat denganmu.”
Bisma menarik Hayu ke dalam, mau tak mau dia mengikuti kekasihnya ke dalam. Dalam hati merapalkan doa-doa yang menguatkannya.
“Malam, Mi, Pi,“ sapa Bisma pada kedua orang tuanya. Mereka hanya menanggapi dengan anggukan kecil.
Hayu pun mengikuti Bisma, hendak bersalaman, namun dia mengurungkan niatnya, dia ingat betul, terakhir kali dia mengulurkan tangan, tak ada niat sedikit pun untuk mami Bisma menanggapi uluran tangan Hayu.
“Selamat malam, Tuan dan Nyonya, malam Mbak Jelita.”
Tak ada satu pun yang menanggapi sapaan Hayu. Bisma hanya mendengus kasar dan menyuruh Hayu duduk di sampingnya.
Baru masuk saja, sudah disuguhi hal yang membuat selera makannya hilang, bagaimana dia mau makan malam setelah ini.
Pak Adibrata tak menganggap Hayu, dia sibuk dengan makannya. Begitu juga nyonya Ayu, semuanya acuh tak acuh. Hayu meremas tangannya di bawah meja. Hanya lirikan Jelita yang sempat tertangkap ekor matanya.
“Kamu mau makan apa, Yu. Biar aku ambilkan,” tawar Bisma pada kekasihnya itu. Dia tahu kalau semua orang yang duduk di meja makan mengabaikan Hayu.
“Kenapa kamu yang meladeninya, Bisma! Harusnya dia yang meladeni kamu, bukan kebalikannya!” seru Bu Ayu pada anak semata wayangnya.
“Jelita, ambilkan Bisma makan malamnya.”
Bu Ayu menyuruh Jelita mengambilkan makanan untuk Bisma. Segera Jelita mengambil piring Bisma dan mengisinya dengan menu kesukaan Bisma. Dia cukup tahu banyak tentang makanan kesukaan Bisma ketimbang Hayu. Hati Hayu bagai diremas dengan kekuatan penuh. Sakit tapi tak berdarah.
Bisma menoleh ke arah Hayu, menatap Hayu sungkan. Hayu mengangguk, membiarkan Bisma menerima makanan dari Jelita. Sementara dia bingung harus makan atau tidak.
Jelita yang sedang bersandiwara pun dengan cepat mengambilkan Hayu makanan, menaruh beberapa lauk di piring Hayu. “Makanlah, Yu.”
“Terima kasih, Mbak.”
Jelita mengangguk dan tersenyum, Bu Ayu tersenyum melihat apa yang dilakukan Jelita. Tak salah dia memilih Jelita, biarkan dia tak bisa memasak asal bisa meladeni Bisma, begitu yang dipikirkannya.
“Harusnya kamu seperti Jelita, Hayu. Dia bisa menyenangkan Bisma dan tahu makanan yang Bisma sukai,” ujar Bu Ayu tanpa basa basi. Mendadak nasi yang berada di tenggorokannya susah ditelannya, ada rasa yang tak bisa Hayu ungkapkan.
“Ah, Tante, jangan memujiku terlalu berlebihan,” sahut Jelita dengan manisnya.
Hayu benar-benar disuguhi telenovela yang membuatnya sesak dan ingin segera pergi dari sana secepat kilat. Lagi-lagi dia merutuki kebodohannya.
“Makanlah yang banyak, Hayu,” ucap Jelita sok perhatian dengan rivalnya itu. Bu Ayu mengelus kepala Jelita dengan sayang. Sementara Pak Adibrata hanya fokus dengan kegiatannya sendiri. Dia tak mau ambil pusing apa yang terjadi di meja makan.
“Jadi apa kamu tahu posisi Jelita?”
Hayu mendongak.
“Mi!”
-bersambung-