Tidak ada malam pertama.
Hampir tengah malam, mobil mereka tiba di Apartemen.
Arpha segera pergi ke kamarnya setelah memastikan mereka masuk ke dalam Apartemen. Membanting tubuhnya di kasur untuk melepaskan penat. Lelah badan dan pikiran akibat terlalu andil dalam masalah bosnya. Arpha bisa bernafas lega sekarang. Satu masalah sudah selesai Meskipun harus dengan main sandiwara.
Tapi ada yang mengganggu pikirannya. Nyonya besar dan Nona Alin sudah tau atau curiga dengan pernikahan mereka?
Bagaimana mereka bisa mengetahuinya? Ah, bisa kacau sebelum waktunya!
Arpha hanya bisa berharap, Pernikahan mereka akan bisa berubah arah.
Tidak lagi dengan status pernikahan kontrak. Dia berharap begitu. Ini akan meringankan pekerjaannya.
Alexander sudah mengantar Erina ke depan kamar. Membukakan pintu untuk Erina.
“Terimakasih Tuan.”
“Tidak masalah. Seharusnya aku yang berterima kasih. Kau sudah banyak membantuku malam ini.”
“Ah tidak juga. Aku punya hutang begitu banyak padamu. Sepertinya ini belum terasa lunas.”
Kau benar! Hutangmu sangat banyak! Seharusnya kau menggantinya dengan seumur hidupmu. Baru itu bisa lunas!
“Tuan…”
“Oh, ya. Selamat beristirahat.” Alexander gugup dihadapan Erina.
“Iya. Tuan juga beristirahat lah. Tidak ada lagi yang membuatmu khawatir bukan?”
“Tentu saja. Aku sudah lega sekarang. Ah baiklah. Aku pergi.” Alexander memutar tubuhnya.
Lalu melangkah dengan masih sesekali menoleh ke arah pintu Erina yang sudah tertutup.
Di dalam, Erina melepas semua gaunnya. Dia kesusahan tanpa bantuan dari siapapun. Walau akhirnya bisa melepasnya dengan susah payah. Erina terlihat lelah.
Selesai mencuci wajah dan bersih bersih yang lain, Erina segera menghempaskan tubuhnya di atas Ranjang. Dia melamun sebentar, menatap langit langit.
“Aku tidak pernah bermimpi, akan menikah dua kali dalam hidupku. Lebih tidak pernah membayangkan menjalani pernikahan kontrak hanya demi menebus hutang.”
Erina kembali teringat Bryan, kembali mengumpat Bryan. Namun itu tak bertahan lama. Matanya pelan pelan terpejam dan akhirnya terlelap sudah. Menembus alam mimpi tanpa beban.
Lain yang terjadi di kamar Alexander.
Pria itu kelimpungan. Menatap sedih Ranjang besar miliknya. Tanpa adanya Bunga atau tanda tanda jika ini adalah kamar sang pengantin baru seperti yang dikatakan pada ibunya tadi.
Dia baru saja menikah, tapi kenapa tidak ada perubahan? Tidur masih sendiri.
Mana malam pertama yang ia impikan dulu? Mana masa bulan madu yang katanya indah?
Ah! Alex hanya bisa menjerit dalam hati. Via keparat!
“Erina.” Bibir yang tadi memaki itu kini tersenyum senyum sendiri.
Lalu tiba tiba wajahnya memerah tak jelas.
“Masa iya aku jatuh cinta pada wanita itu sih? Murahan amat aku? Baru mengenalnya. Mana dia sudah pernah menikah.”
“Tapi, bukankah wajar aku jatuh cinta padanya. Dia sangat manis dan cantik. Begitu anggun dan lembut. Mama dan Shela, bahkan Arpha saja sepertinya langsung menaruh hati padanya.”
“Apa aku juga begitu?”
Alexander masih membolak balikkan tubuhnya. Tampak begitu resah. ‘Apa Erina sudah tidur ya?’ Dia ingin mengintip.
‘Murahan Sekali aku!’ kembali mengurungkan niatnya.
Lalu mau tidak mau, memaksakan diri untuk terpejam.
Pagi sudah menyisih jauh, Matahari sudah terlihat lebih tinggi.
Arpha sudah tidak ada di tempatnya. Ke kantor tanpa membangunkan Alex. Sengaja.
Arpha Sekretaris yang pengertian, ingin membiarkan masa masa bulan madu Tuannya agar tidak terganggu pekerjaan kantor yang menumpuk. Haha… Bulan Madu?
Arpha terkekeh. Bukan,bukan itu sebenarnya. Lebih kepada membiarkan Tuannya beristirahat dahulu, dan… siapa tau bisa lebih dekat dengan Erina.
Alex mulai terlihat bergerak, hidungnya mencium sesuatu yang membuat perutnya berbunyi.
Netranya memicing sebelah untuk mengintip.
Kepulan asap terlihat berasal dari meja yang tak jauh dari Ranjangnya. Alex melongok untuk memastikan.
Wah! Segelas susu hangat dan Sandwich sudah berada disana.
Alexander kini menarik tubuhnya untuk duduk.
“Siapa yang menyiapkan ini? Apa mungkin Arpha?” Baru saja hendak menjajakkan kakinya di lantai. Pintu kamar mandi terbuka. Seorang wanita cantik alami tanpa makeup tersenyum ke arahnya.
“Tuan Alex.. Kau sudah bangun?”
Alexander masih terpana, setengah sadar atau tidak dia hanya mengangguk.
“Aku sudah menyiapkan air hangat untuk Tuan mandi. Silahkan.”
Alexander mulai tersadar, jika wanita itu adalah Erina. Istrinya bukan? Wanita yang baru dia nikahi semalam!
“Dan sarapan Anda di atas meja. Kalau begitu Aku permisi.” Erina melangkah dahulu mengambil pakaian kotor Alexander dan bergegas keluar.
“Erina.” Alexander memanggil membuat Erina menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Iya Tuan. Apa ada pekerjaan lain?”
Hah? Apa ada pekerjaan lain katamu? Aku ini suamimu. Harusnya kamu menemaniku sarapan. Bukan malah meninggalkan aku!
“Tuan.”
“Eh, tidak. Emm.. Dimana Arpha?” Lah.. pertanyaan Alexander menyimpang dengan apa yang baru saja di otaknya tadi.
“Tuan Arpha sudah pergi ke kantor. Dia hanya berpesan agar Tuan Alex beristirahat saja. Dan berpesan agar aku menjaga anda.” Jawab Erina.
Itu? Cerdas Sekali Arpha. Dia menyuruhmu menjaga ku Erina! Maka kemarilah dan sarapan bersamaku.
Ingin sekali Alexander mengatakan itu. Tapi lidahnya kelu. Lagi lagi hanya mengangguk, memandangi pintu yang telah ditutup oleh Erina.
Alexnder mendengus, kemudian melangkah ke kamar mandi.
Di Rumah Utama.
Mama menghampiri Alin dengan pakaian rapi dan menjinjing tas tangan.
“Mama mau kemana?” Tanya Alin.
“Antar Mama ke Apartemen Alex.” Jawab Mama.
“Mama kangen sama menantu Mama itu ya?” Goda Alin.
“Mama ingin menyelidikinya. Apakah mereka itu benar benar saling mencintai atau informasi yang kita dapat itu benar adanya. Jika mereka hanya kawin kontrak. Ayolah Lin. Bukankah kau juga penasaran dengan Erina. Kita harus menyelidiki siapa Erina sebelum Alex kembali terjebak dalam cinta yang tidak bermutu.” Oleh Mama.
Alin pun setuju. Dengan semangat dia pun bergegas mengikuti langkah kaki Mamanya ke mobil.
“Nanti disana kita jangan baik baik sama wanita itu Mam.” Ucap Alin.
“Ya. Kita akan sedikit memberikan pelajaran agar wanitaitu benar adanya. Jika mereka hanya kawin kontrak. Ayolah Alin. Bukankah kau juga penasaran dengan Erina. Kita harus menyelidiki siapa Erina sebelum Alex kembali terjebak dalam cinta yang tidak bermutu.” Oleh Mama.
Alin pun setuju. Dengan semangat dia pun bergegas mengikuti langkah kaki Mamanya ke mobil.
“Nanti disana kita jangan baik baik sama wanita itu Mam.” Ucap Alin.
“Ya. Kita akan sedikit memberikan pelajaran agar wanita itu tau jika keluarga Alexander tidak bisa diremehkan.” Jawab Mama.
“Bagus!”
Hari sudah beranjak menjelang sore.
Erina sibuk di dapur untuk memasak dengan bahan bahan yang ia dapat dari seorang pelayan yang sudah mengantarnya. Itu pasti atas suruhan Arpha. Erina berniat membuat makan malam untuk Alexander. dirinya dan sekaligus untuk Arpha.
Erina asyik memasak sampai tak sadar memasak begitu banyak.
Sekarang dia memandangi meja yang sudah penuh dengan masakannya.
“Siapa yang mau memakannya?” Erina berpikir demikian sambil menggaruk kepalanya sendiri.
Alexander juga belum tentu mau menyentuh masakannya.
Ah, tidak masalah. Jika tidak termakan boleh di bungkus untuk dibagikan kepada para pemulung. Itu pikiran Erina.
Sekarang dia melangkah ke kamar Alexander untuk mencoba menawarkan masakannya.
Baru saja melangkah, Erina menoleh ke arah tangga saat mendengar derap langkah kaki.
“Mama! Kak Alin!” Melihat dua wanita itu sudah berjalan ke arahnya, Erina langsung berlari menyambut.
Erina segera menyambut tangan mereka dan menciumnya secara bergantian. Mama tersenyum hangat sementara Alin membuang muka.
“Kenapa tidak bilang dahulu jika akan kemari?” Tanya Erina.
“Bagaimana mau bilang? Nomor Alex tidak aktif. Nomor mu , mana kami punya!” Sahut Alinketus.
Baru saja Erina ingin mempersilahkan mereka, Mama sudah menoleh ke arah meja. Hidungnya langsung mencium bau wangi makanan. Mama segera kesana diikuti Alin dan Erina juga mengikuti Mereka.
“Makanan sebanyak ini. Siapa yang buat?” Tanya Mama. Langsung menyendok salah satunya dan mencicipi.
“Saya Ma.”
Mama langsung terbelalak. “Kamu..Kamu sendiri yang memasak ini semua sendiri?”
“Iya. Apa enak Ma?”
Mama menyenggol Pinggang Alin. “Ku harus mencicipinya. Masakan wanita ini benar benar nikmat.” Bisik Mama.
“Masak sih.” Alin belum percaya, lalu ragu ragu untuk menciduk.
Matanya seketika membulat sempurna. Tapi dia belum berkomentar dan menciduk masakan yang lain untuk memastikan.
“Wah! Makanan Mama lewat!