Table of Contents
- Chapter 1: Percikan Pertama di Pantai Bara
- Chapter 2: Sisa Pasir di Sepatu
- Chapter 3: Direct Message (DM) : Malu tapi Mau
- Chapter 4: OFFSIDE
- Chapter 5: Persimpangan Gengsi
- Chapter 6: Cemburu Salah Alamat
- Chapter 7: Retorika Pisang Ijo
- Chapter 8: Antara Titik dan Koma
- Chapter 9: Merevisi Takdir
- Chapter 10: Anomali
Lates Chapters
Halaman yang Sengaja Disobek
Malam di Makassar hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Jarum jam di dinding kamar Arfiana bergerak dengan suara detak yang menghujam jantung, seolah setiap detiknya adalah vonis yang dijatuhkan pada kesombongannya. Di atas meja kerja yang biasanya rapi dengan tumpukan naskah dan…
Ternyata…
Ada sebuah paradoks dalam dunia penyuntingan, terkadang semakin banyak kita memperbaiki sebuah kalimat, semakin hilang makna aslinya. Dan itulah yang sedang kulakukan pada hidupku. Aku terlalu banyak menyunting perasaanku, terlalu banyak memangkas kerentananku, hingga ternyata... aku kehilangan inti dari kebahagiaanku sendiri. Seminggu setelah…
Halaman yang Terlipat
Aku selalu percaya bahwa sebuah buku yang baik adalah buku yang halamannya tetap mulus, tanpa coretan, apalagi lipatan di sudut-sudutnya. Bagiku, lipatan adalah bentuk pengkhianatan terhadap kerapian. Namun pagi itu, di bawah langit Makassar yang biru bersih, aku tersadar bahwa hidup Mesa’ juga…
Kukira Tanpa Cacat
Perjalanan pulang dari Toraja terasa jauh lebih singkat, meski rute yang kami lalui tetap sama panjangnya. Mungkin karena beban di pundakku sudah banyak yang tertinggal di puncak Lolai, atau mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan ritme mesin motor merah Mesa’ yang menderu…
Menuju Sempurna
Libur semester kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi tumpukan naskah siswa yang harus kucoret-coret dengan tinta merah sampai jemariku kaku, tidak ada bunyi lonceng sekolah yang mengejar-ngejar waktu seperti pengawas yang kejam, dan tidak ada tatapan menyelidik dari rekan guru di…
Comments
6 pemikiran pada “Bara Yang Padam”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Percikan Pertama di Pantai Bara
Menjadi seorang guru di kota sebesar Makassar bukanlah perkara mudah. Setiap hari, energiku terkuras habis di depan kelas, menghadapi puluhan kepala dengan karakter yang berbeda-beda. Sore itu, kepalaku rasanya ingin pecah. Suara spidol yang sudah ingin habis tintanya beradu dengan papan tulis dan…
ReadmoreChapter 2: Sisa Pasir di Sepatu
Ternyata, ombak di Pantai Bara tidak benar-benar membawa pergi kekesalanku. Harusnya, begitu mobil meninggalkan Bulukumba, urusanku dengan laki-laki Toraja itu selesai. Namun, takdir Tuhan punya rencana lain yang jauh lebih berliku daripada jalanan Poros Makassar-Bulukumba yang sedang kami lalui. Perjalanan pulang terasa…
ReadmoreChapter 3: Direct Message (DM) : Malu tapi Mau
Senin pagi di Makassar selalu punya aromanya sendiri campuran antara debu jalanan yang terbang tertiup angin kencang, asap kendaraan yang terjebak macet panjang di sepanjang jalan poros, dan aroma kopi pagi yang kuharap bisa membantuku tetap terjaga. Aku berdiri di depan kelas, menghadap…
ReadmoreChapter 4: OFFSIDE
Makassar jam empat sore adalah ujian kesabaran yang sesungguhnya. Klakson kendaraan bersahut-sahutan seperti simfoni yang sumbang, beradu dengan debu jalanan yang terbang ditiup angin kencang. Aku memacu kendaraanku membelah kemacetan Hertasning, sesekali melirik jam di pergelangan tangan. Terik matahari yang terkenal “menggigit” kulit…
ReadmoreChapter 5: Persimpangan Gengsi
`Katanya, pagi adalah waktu terbaik untuk memulai harapan baru. Namun bagiku, pagi ini hanyalah pengulangan dari sebuah kegelisahan yang gagal kutidurkan semalam. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden kamarku terasa terlalu terang, seolah sedang mengejek hatiku yang masih betah mendekam dalam…
ReadmoreChapter 6: Cemburu Salah Alamat
Suara knalpot motor Mesa’ menderu stabil, membelah kemacetan sore Makassar menuju arah Tanjung Bunga. Seharusnya, aku merasa was-was karena dibonceng oleh laki-laki yang baru kukenal secara "tidak sengaja" ini. Namun kenyataannya, pikiranku jauh lebih bising daripada suara mesin di bawahku. Udara sore yang…
ReadmoreChapter 7: Retorika Pisang Ijo
Pagi ini, Makassar seolah bangun dengan suasana hati yang berbeda. Matahari yang biasanya menyengat sejak pukul tujuh pagi, kini terasa lebih bersahabat. Cahayanya menerobos masuk melalui celah gorden kamarku, membentuk garis-garis emas di atas lantai kayu. Namun, bukan cahaya itu yang membangunkanku, melainkan…
ReadmoreChapter 8: Antara Titik dan Koma
Dinding-dinding ruang guru sekolah ini ternyata punya telinga yang jauh lebih tajam daripada pendengaran siswa mana pun saat jam pelajaran terakhir. Mereka tidak butuh pengeras suara untuk menyebarkan kabar cukup dengan lirikan mata yang tajam, desas-desus yang dilempar pelan, dan senyum simpul yang…
ReadmoreChapter 9: Merevisi Takdir
Langit Makassar sore itu benar-benar sedang menunjukkan amarahnya. Awan hitam yang pekat, berat, dan bergulung-gulung seolah terbuat dari jelaga, berarak cepat dari arah pelabuhan Paotere. Mereka bergerak seperti pasukan raksasa yang siap menelan sisa-sisa cahaya matahari yang tadi pagi sempat terasa hangat dan…
ReadmoreChapter 10: Anomali
Malam setelah hujan deras di Makassar itu terasa lebih panjang, lebih sunyi, dan jauh lebih dingin dari biasanya. Aku duduk di tepi tempat tidur yang tertata rapi seperti seluruh aspek hidupku yang lain mematikan lampu kamar, dan membiarkan hanya cahaya dari layar ponsel…
ReadmoreChapter 11: Subjek dan Predikat yang Berbenturan
Pukul delapan pagi di Makassar tidak pernah benar-benar terasa hangat jika kau berada di bawah naungan gedung beton sekolah ini. Udara dari AC sentral di ruang guru berdesis pelan, merayap di antara sekat-sekat meja kayu, membawa hawa dingin yang statis dan kering. Aku…
ReadmoreChapter 12: Hitam VS Putih
Suara mesin tik dari meja urusan administrasi di ujung koridor terdengar seperti detak jantung yang sedang dikejar tenggat waktu. Aku benci suara itu, monoton.. kaku, dan tidak memberikan ruang untuk kesalahan. Sama seperti perasaanku saat ini. Aku berdiri di depan pintu kayu jati…
ReadmoreChapter 13: Alauddin Saksi Bisu
Ternyata, ada saat-saat di mana tinta merah di tanganku terasa berat, bukan karena banyaknya kesalahan yang harus dikoreksi, melainkan karena aku mulai ragu apakah naskah di depanku memang perlu diubah. Sejak hari di mana aku berdiri di depan Pak Rusli dan mempertaruhkan reputasiku…
ReadmoreChapter 14: Draf yang Hampir Retak
Menyembunyikan sebuah hubungan di bawah atap sekolah ini ternyata jauh lebih sulit daripada mengoreksi naskah yang penuh salah ketik. Setiap kali mata kami bertemu di koridor, atau saat aku melewati lapangan hijau tempatnya melatih, aku merasa seperti sedang menyisipkan spasi yang terlalu lebar…
ReadmoreChapter 15: Sekali Lagi
Gerimis semalam menyisakan aroma tanah basah yang biasanya menenangkan, namun sore ini, aroma itu hanya mempertegas rasa sesak di dadaku. Aku mengunci diri di kamar sejak pulang dari sekolah, membiarkan ponselku tergeletak mati di atas nakas. Aku tidak siap melihat ada nama Dira…
ReadmoreChapter 16: Menuju Sempurna
Libur semester kali ini terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi tumpukan naskah siswa yang harus kucoret-coret dengan tinta merah sampai jemariku kaku, tidak ada bunyi lonceng sekolah yang mengejar-ngejar waktu seperti pengawas yang kejam, dan tidak ada tatapan menyelidik dari rekan guru di…
ReadmoreChapter 17: Kukira Tanpa Cacat
Perjalanan pulang dari Toraja terasa jauh lebih singkat, meski rute yang kami lalui tetap sama panjangnya. Mungkin karena beban di pundakku sudah banyak yang tertinggal di puncak Lolai, atau mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dengan ritme mesin motor merah Mesa’ yang menderu…
ReadmoreChapter 18: Halaman yang Terlipat
Aku selalu percaya bahwa sebuah buku yang baik adalah buku yang halamannya tetap mulus, tanpa coretan, apalagi lipatan di sudut-sudutnya. Bagiku, lipatan adalah bentuk pengkhianatan terhadap kerapian. Namun pagi itu, di bawah langit Makassar yang biru bersih, aku tersadar bahwa hidup Mesa’ juga…
ReadmoreChapter 19: Ternyata…
Ada sebuah paradoks dalam dunia penyuntingan, terkadang semakin banyak kita memperbaiki sebuah kalimat, semakin hilang makna aslinya. Dan itulah yang sedang kulakukan pada hidupku. Aku terlalu banyak menyunting perasaanku, terlalu banyak memangkas kerentananku, hingga ternyata... aku kehilangan inti dari kebahagiaanku sendiri. Seminggu setelah…
ReadmoreChapter 20: Halaman yang Sengaja Disobek
Malam di Makassar hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Jarum jam di dinding kamar Arfiana bergerak dengan suara detak yang menghujam jantung, seolah setiap detiknya adalah vonis yang dijatuhkan pada kesombongannya. Di atas meja kerja yang biasanya rapi dengan tumpukan naskah dan…
Readmore






keren
Mantap👍👍
Gaassss kan terossss bess 🔥
TERIMA KASIHHHHHH…
pantau terus sampai chapter 20 ya ges yaaaa..
hehehe ♡:*
😻😻😻
Ibu guru keren novelnya 🥰