Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Menggantikan
- Chapter 2: Bab 2. Menggantikan 2
- Chapter 3: Bab 3. Wanita Penipu.
- Chapter 4: Bab 4. Wanita Penipu 2.
- Chapter 5: Bab 5. Berhenti Menjadi Orang Bodoh
- Chapter 6: Bab 6. Kesabaran Yang Teruji
- Chapter 7: Bab 7. Ujian
- Chapter 8: Bab 8. Undangan Makan Malam
- Chapter 9: Bab 9. Wanita Yang Sama
- Chapter 10: Bab 10. Wanita Yang Sama 2
Lates Chapters
98. Extra Part
Sosok pria yang diam-diam memperhatikan dua sejoli tengah berbahagia, setelah di karuniai seorang anak yang begitu tampan dan putri yang cantik kini gelar sarjana untuk kedua kalinya telah didapatkan. Sukses dalam rumah tangga, mendidik anak-anak dan menjaga keromantisan dengan sang suami telah ia…
97. Ending
Kebahagiaan kini di rasakan oleh keluarga besar Wiratama dan juga keluarga besar di pesantren dan panti. Terlebih Umi Rahayu dan Abah Yusuf. Setelah berapa jam mereka dalam keadaan cemas dan rasa takut akan sesuatu terjadi pada Pelangi. "Alhamdulillah, sayang kamu baik-baik saja.…
96. Ketegangan Langit
Setelah malam itu pembicaraan yang membuat dirinya kembali tenang. Sang ayah memberikan wejangan padanya jika semua akan baik-baik saja. Anak dan istrinya pasti bisa melewati semua dengan tenang. "Den mau berangkat sekarang? Apa tidak sebaiknya menunggu Nyonya sama neng Pelangi?" Mbok Sri…
95. Tanpa Memilih
Kehamilan Pelangi yang semakin membesar tidak menghalangi langkahnya untuk tetap menuntut ilmu di universitas milik suaminya. Meski sikap teman-temannya canggung padanya tetapi Pelangi tetaplah Pelangi yang rendah hati ia merangkul semua temannya tanpa terkecuali laki-laki. Baginya yang terjadi berapa bukan yang lalu…
94. Kehamilan Pelangi 2
"Mah, Pelangi tidak apa-apa. Hanya ketiduran terlalu lelah terlebih sekarang—" Langit menatap keluarganya yang kini berada di dalam kamarnya. "Kita bicarakan di luar saja, jangan sampai kalian mengejutkan istriku yang istirahat," lanjutnya setelah terdiam sesaat. Dengan perasaan yang diliputi rasa penasaran…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Menggantikan
"Astagfirullahaladzim, Intan!!" Suara Rosa mengejutkan mereka yang berada di ruang tamu. Umi yang saat itu tidak jauh dari Rosa tidak kalah terkejut dengan kosongnya kamar Intan terlebih keadaan kamar yang masih terlihat rapih dengan hiasan pengantin yang tidak berubah. Abah yang…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Menggantikan 2
"Bismillahirrahmanirrahim, Abah, Umi, aku bersedia–" Pelangi mengehentikan ucapannya saat suara Umi terdengar parau. "Tidak sayang, jangan lakukan ini. Pikirkan sekali lagi, tidak perlu berkorban sejauh ini. Sudah cukup nak, sudah. Masalah ini biarkan kami yang menghadapinya kamu tidak usah berkorban…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Wanita Penipu.
"Pelangi bisa kamu jelaskan ini?" Pelangi tersentak dengan benda yang di jatuhkan oleh Langit, benda yang amat dia sembunyikan untuk menghindar perdebatan dan masalah baru di antara dua belah pihak, terlebih keluarganya yang menjadi penyebabnya. "Pelangi apa kau, tuli? Sampai kamu…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Wanita Penipu 2.
"Kamu akan merima akibat dari perbuatan kamu. Kamu akan membayar mahal atas penipuan yang kamu lakukan padaku, wanita licik!" Gumam Langit menatap Pelangi dari ekor matanya. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi Pelangi yang sudah bersiap untuk mengikuti sang suami ke kota. Usai…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Berhenti Menjadi Orang Bodoh
"Pelangi bangun, Pelangi!!" Langit mencoba membangunkan tubuh Pelangi yang tergeletak di atas tempat tidur dengan tubuh lemah. "Ya, tuhan. Semoga dia tidak apa-apa." Gumam Langit panik. "Ma– mas, aku tidak apa-apa. Ini hanya–" ucapan Pelangi terhenti seiring dengan tubuhnya yang…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Kesabaran Yang Teruji
Langit menendang ember yang ada di hadapannya kebencian dan kemarahannya atas apa yang di lakukan oleh Pelangi dan keluarganya telah menorehkan rasa yang sulit untuk ia terima. Terlebih melihat wajah Pelangi maka ingatannya kembali pada saat dia menjabat tangan Abah untuk menikahi Pelangi.…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Ujian
Suara Langit menghentikan langkah Pelangi walau Langit membencinya tetap saja sebagai seorang istri Pelangi tidak mengabaikan panggilan suaminya. Meski hatinya sakit saat sang suami memanggilnya dengan sebutan wanita penipu baginya itu lebih baik, setidaknya ada suara yang memanggil dirinya. "Mas apa…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Undangan Makan Malam
Hari itu hari yang membuat Pelangi mengurung diri di kamar, setelah keadaan Langit yang membaik tidak sedikit pun Langit pergi dari apartemen. Sehingga gerak Pelangi terbatas walau sebenarnya hal itu biasa namun, Langit melarangnya keluar dari kamar selama dia berada di ruang…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Wanita Yang Sama
"Assalamualaikum, kak," Pelangi terpaku sesat menetralkan detak jantungnya yang berdetak semakin kencang. Namun, ia tersadar jika dirinya adalah seorang istri dari Langit bukan lagi wanita yang menunggu janji yang di ucapkan oleh pria yang kini menjadi adik iparnya. "Wa'alaikumsalam," Pelangi berbalik…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Wanita Yang Sama 2
"Kenapa Dek Pelangi melakukan ini?" Ucapan yang berhasil membuat Pelangi terkejut mendengar suara yang tidak asing baginya. Tetapi Pelangi mampu mengendalikan diri tidak ingin hatinya diliputi rasa yang tidak seharusnya, dengan cepat Pelangi menoleh kearah Rizky yang tidak jauh dari Pelangi…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Tamu Tak Di Undangan
"Maksud ayah, apa?" tanya Langit, tidak memahami maksud dari sang ayah. "Apa yang terjadi, sebenarnya? Ayah tahu kamu menyembunyikannya sesuatu, apakah kamu terpaksa menikahi, Pelangi?" Gustav memindai wajah putranya yang kini tertunduk. "Apa yang ingin ayah ketahui dari hubungan…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Tamu Tak Di Undang 2
"Apa kabar Pelangi?" Pelangi yang syok dengan kehadiran wanita di depannya, wanita yang menorehkan luka begitu dalam pada dirinya yang mengharuskan hidup dengan seorang pria karena menggantikan posisinya yang kabur di hari pernikahan. "Te– teh Intan? Bagaimana teteh tahu,…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Ancaman Intan
Berapa hari setelah kedatangan Intan di rumah Pelangi selama itu pula Intan, selalu memiliki alasan untuk bertemu dengan Langit. Bahkan mereka sering terlihat menghabiskan waktu bersama di salah satu kafe bahkan hingga hotel. Namun, sejak Pelangi melarang intan datang ke rumah sejak saat…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Sikap Dingin Langit
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Langit. Memperhatikan wajah keduanya yang hanya diam, namun sayang Langit tidak melihat apa yang di lakukan oleh Intan pada Pelangi. Sementara itu kedatangan Langit mampu mengejutkan Intan. Sehingga Intan membulatkan matanya kearah Pelangi, agar tidak…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Hati Seorang Langit
"Praaaanggggggg!!!" "Kau?!" Rosa memastikan apa yang ia lihat adalah benar wanita yang seharusnya menikah dengan putranya kini duduk dengan manis bahkan tanpa merasa bersalah. Wanita yang membuat dirinya mendapatkan menantu yang sangat ia sayangi, namun rasa marahnya…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Rencana Intan
Aktivitas pagi yang sudah biasa dengan kesunyian tanpa ada suara apa pun bahkan sekedar suara langkah kaki pun tidak terdengar. Langit sibuk di dalam kamarnya, begitu juga dengan Pelangi yang berada di belakang menyiram bunga yang ia tanam dan yang ia bawa dari…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Merebut Hati Langit
Langit bergeming di tempatnya ucapan Intan berhasil merusak pikirannya yang sejak pagi akan memperbaiki masalahnya dengan Pelangi. Kini dengan kehadiran Intan berhasil memperkeruh keadaan. Ya langit ingin semuanya kembali dan benar yang di katakan orang kepercayaannya yang mengatakan jika Pelangi adalah wanita…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Pesta
Langit mencoba tersenyum yang pasti senyuman penuh dengan keterpaksaan. Tidak mungkin Langit memperkenalkan Pelangi pada pria di depannya. Namun dengan keterpaksaan Ia pun harus memperkenalkan Pelangi tidak ingin orang lain berpikir bahwa dirinya menyembunyikan Pelangi. "Ya, dia Pelangi istri saya. Kebetulan istri…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Talak
"M– mas," lirih Pelangi. "Abang, apa yang kamu lakukan? Pelangi adalah istrimu! Tega kamu bang, ini hari bahagia Mama tapi Abang –" ucapan langit terhenti tetapi tangan Langit telah sampai di wajahnya "Brengsek kamu!! Aku benar-benar bodoh. Kalian pasangan kotor! Aku…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Talak 2
"Baik mas, kami pergi. Abah, Umi, tunggu sebentar," ucap Pelangi setelah berpamitan dengan orang tuanya. Abah dan Umi hanya saling pandang jika bukan karena putrinya tentu mereka sudah marah pada Langit. Talak tiga yang di ucapkan membuat hati mereka nyeri terlebih semua…
Readmore





