Table of Contents
- Chapter 1: Membangunkan Singa Buas
- Chapter 2: Derita
- Chapter 3: Malaikat Kecil yang Sempat Tak Diharapkan
- Chapter 4: Pertemuan yang Tak Disangka
- Chapter 5: Apa Alasanmu?
- Chapter 6: Takut Dilupakan
- Chapter 7: Perdebatan dan Tawaran
- Chapter 8: Kesempatan Dalam Kesempitan
- Chapter 9: Selangkah Lebih Maju
- Chapter 10: Surat Cinta
Lates Chapters
Dekapan Hangat di Malam Hari
"Apa?! Model cilik?" Kara tak sadar memekik kencang, kala mendengar tawaran yang tak terduga dari mulut Barra. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pria itu, karena bisa-bisanya Barra dengan yakin menjadikan anak lelakinya sebagai model cilik. Bukankah seharusnya pria itu harus…
Larangan dan Rindu
Larangan Avaline, bukan berarti apa-apa untuk Barra. Larangan tersebut bagai angin lalu yang sama sekali tak dihiraukannya. Di mana hal itu langsung terbukti setelah Barra menyelesaikan setumpuk pekerjaannya di kantor. Meski waktu hampir menunjukkan tengah malam, Barra tetap memacu kendaraannya. Ia terlihat…
Surat Cinta
Gleghh! Baru saja Barra merasa senang karena ibunya sudah berhasil teralihkan dengan pembahasan lain, akan tetapi sekarang? Wanita yang selalu mendidiknya dengan keras itu malah kembali mengembalikan topik. Dengan kembali menegakkan posisi duduknya, Avaline menatap penuh menyelidik ke arah sang anak…
Selangkah Lebih Maju
"Perkenalkan saya adalah sopir pribadinya Tuan Barra, yang ditugaskan untuk mengantarkan Nyonya Kara dan Tuan Muda Arka!" jelas pria itu seraya kembali menunduk hormat. "Tuan Muda?" Arka menyahut dengan alis yang menekuk dalam. Satu jari telunjuk mungilnya pun kini bertengger sempurna di…
Kesempatan Dalam Kesempitan
"Ap–apa? Tes DNA?" Wajah Kara langsung pucat mendengarnya. Kedua tangan yang sedari tadi menahan dada bidang Barra pun seketika lemas tak berdaya. Dirinya bagai kehilangan kekuatan. Bahkan hampir saja terjatuh, andai pria yang ada di hadapannya ini tak sedang memegangi salah satu…
Comments
You May Also Like
12 Chapters
Chapter 1: Membangunkan Singa Buas
"Ughh!" Suara lenguhan itu seketika membuat seorang gadis cantik terbangun dari tidurnya. Dengan kepala yang terasa pening, Kara berupaya bangkit. Ia mengerjap beberapa saat melihat sekitar yang terasa asing, hingga sedetik kemudian kedua netranya membulat sempurna ketika merasakan sebuah tangan kekar yang…
ReadmoreChapter 2: Derita
"Tidak! Ini tidak mungkin!" Kara Isabelle, gadis berwajah cantik itu tengah membeku menatap dua garis merah yang terpampang jelas di hadapannya. Seharusnya hari ini Kara berada di kampus. Melaksanakan tugas barunya sebagai asisten dosen, dan menyelesaikan beberapa mata kuliahnya dengan baik…
ReadmoreChapter 3: Malaikat Kecil yang Sempat Tak Diharapkan
"Bunda! Ayo, Bunda! Bangun!" Seutas senyum sumringah seketika tercipta di wajah cantik Kara, berkat sosok mungil yang telah membangunkannya pagi ini. Tak sabar ia langsung memeluk dan membubuhi beberapa kecupan singkat pada sosok kecil yang amat menggemaskan itu, hingga membuat sosok berambut…
ReadmoreChapter 4: Pertemuan yang Tak Disangka
"No, Mom! Sudah aku bilang! Aku belum siap untuk menjalin hubungan serius dengan siapa pun! Aku tidak mau! Jadi tolong jangan paksa aku lagi!" Bughhh! Benda pipih seharga puluhan juta itu melayang dan terpantul begitu saja pada sebuah kursi tanpa arti…
ReadmoreChapter 5: Apa Alasanmu?
"Yah, Bunda. Kenapa enggak di sini aja? Arka 'kan juga mau ikut ngobrol sama Bunda dan Om Baik!" Sosok mungil itu merenggut tak setuju. Namun siapa sangka, Kara yang biasa menjadi orang pertama menenangka Arka malah kalah cepat dengan sosok pria yang…
ReadmoreChapter 6: Takut Dilupakan
"Sebaiknya kau jangan salah sangka, Barra! Aku memang pertama kali melakukannya denganmu, tetapi itu bukan berarti aku tidak pernah melakukannya dengan berbagai pria lain di luar sana setelahnya!" Kara mengatakannya dengan lantang, hingga mampu membuat satu alis tebal dari sang lawan bicaranya…
ReadmoreChapter 7: Perdebatan dan Tawaran
"Siapa Anda? Anda tidak berhak ikut campur dengan urusan saya dan wanita ini!" Tanpa membuka kaca mata hitamnya, pria itu hanya tersenyum miring. Kara yang masih membeku di tempatnya pun tak berkata apa-apa, otaknya masih bekerja mencoba mencari tahu tentang bagaimana pria…
ReadmoreChapter 8: Kesempatan Dalam Kesempitan
"Ap–apa? Tes DNA?" Wajah Kara langsung pucat mendengarnya. Kedua tangan yang sedari tadi menahan dada bidang Barra pun seketika lemas tak berdaya. Dirinya bagai kehilangan kekuatan. Bahkan hampir saja terjatuh, andai pria yang ada di hadapannya ini tak sedang memegangi salah satu…
ReadmoreChapter 9: Selangkah Lebih Maju
"Perkenalkan saya adalah sopir pribadinya Tuan Barra, yang ditugaskan untuk mengantarkan Nyonya Kara dan Tuan Muda Arka!" jelas pria itu seraya kembali menunduk hormat. "Tuan Muda?" Arka menyahut dengan alis yang menekuk dalam. Satu jari telunjuk mungilnya pun kini bertengger sempurna di…
ReadmoreChapter 10: Surat Cinta
Gleghh! Baru saja Barra merasa senang karena ibunya sudah berhasil teralihkan dengan pembahasan lain, akan tetapi sekarang? Wanita yang selalu mendidiknya dengan keras itu malah kembali mengembalikan topik. Dengan kembali menegakkan posisi duduknya, Avaline menatap penuh menyelidik ke arah sang anak…
ReadmoreChapter 11: Larangan dan Rindu
Larangan Avaline, bukan berarti apa-apa untuk Barra. Larangan tersebut bagai angin lalu yang sama sekali tak dihiraukannya. Di mana hal itu langsung terbukti setelah Barra menyelesaikan setumpuk pekerjaannya di kantor. Meski waktu hampir menunjukkan tengah malam, Barra tetap memacu kendaraannya. Ia terlihat…
ReadmoreChapter 12: Dekapan Hangat di Malam Hari
"Apa?! Model cilik?" Kara tak sadar memekik kencang, kala mendengar tawaran yang tak terduga dari mulut Barra. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pria itu, karena bisa-bisanya Barra dengan yakin menjadikan anak lelakinya sebagai model cilik. Bukankah seharusnya pria itu harus…
Readmore





