Table of Contents
Lates Chapters
Berubah pikiran
Jodohku Pangeran Penyihir ''A-aku berubah pikiran.'' Aku mengangkat sebelah tangan, menurnkannya, kembali, lalu memalingkan wajah. Malu. ''Mungkin kamu bisa melakukannya, walaupun sedikit sulit nanti.'' ''Sulit?'' Aku mengangguk, masih tanpa melihatnya. ''Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Terimakasih atas peringatanmu, Nona…
Penawaran kesepakatan
Jodohku Pangeran Penyihir ''Lalu kesalahan mana lagi yang kulakukan?'' Awalnya Xavier masih saja bermain terbak-tebakan perihal ini, tapi karna selalu kukatakan tidak bisa mengingatnya akhirnya dia mau mengatakan bahwa kesalahan itu terjadi di rumah sesaat setelah dia pergi. Tepatnya, ketika…
Datang lagi
Jodohku Pangeran Penyihir Bab 13 ''Allena, apakah semua itu benar?'' Aku hanya diam. Pertanyaan Kak Andrew bagaikan sebuah tombak yang langsung tertancap dalam tepat di hati. Rasanya sangat sakit. Apakah sebuah kebenaran yang tidak kuinginkan akan menjadi jurang pemisah diantara kita?…
Bertemu kak Andrew
Jodohku Pangeran Penyihir "Sayang, tunggu sebentar.'' Aku yang sudah bangkit untuk keempat kalinya dari tempat duduk menoleh, melihat Mama yang sedang meihat dengan tatapan yang susah dijelaskan. ''Ada apa, Ma?'' tanyaku kemudian. Ntah apa yang ingin dikatakan Mama sekarang. Mencoba…
Harus pergi ke kampus
''Apakah ini karna kutukannya?'' ''Sayang, ini bukan …'' ''Bukankah ide sarung tangan ini sudah berhasil menghalangi efek kutukannya? Papa sendiri yang mengatakan bahwa hidup Allena bisa normal seperti dulu. Kenapa sekarang Papa dan Mama malah …'' Kalimatku terhenti, suara di tenggororkan…
Comments
13 Chapters
Chapter 1: Awal tragedi
Dahulu sekali aku sempat sangat bahagia saat pulang sekolah. Yah … pada saat itu satu-satunya rumah megah bergaya klasik di ujung jalan sana yang menjadi tempatku pulang masih sangat nyaman. Ada Mama yang langsung memelukku saat masih berada di depan gerbang, Papa yang…
ReadmoreChapter 2: Tidak bisa menyentuh siapapun?
''A-Allena!'' Mama yang sedang berada di pelukan Papa terlihat terkejut saat melihatku berdiri di daun pintu. Perlahan aku mulai berjalan mendekati mereka. ''Pa, Allena ingin tahu semuanya sekarang,'' ucapku kemudian saat sudah berada di hadapan dua orang yang paling kusayangi ini. ''Sayang, tidak…
ReadmoreChapter 3: Aku pergi
Aku tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan sekarang. Pernyataan tidak masuk akal yang disampaikan Papa barusan sangat cukup membuatku kehilangan kata-kata. Rasanya bagai sebuah batu besar yang jatuh dari langit tiba-tiba menimpa dan membuatku mati seketika. Bahkan, lebih parah. Fakta ini lebih…
ReadmoreChapter 4: Dewa kematian
Aku terbangun dengan posisi sedang terbaring di atas sebuah kasur King Size yang terasa sangat nyaman, dengan selimut tebal hangat yang menutupi seluruh tubuh. Di sudut kiri terdapat sebuah jam besar bergaya klasik yang terlihat mewah, itu mengingatkanku pada hadiah yang…
ReadmoreChapter 5: Terjebak
Brak! Suara keras setelah beberapa kali dobrakan berhasil membuat daun pintu terbuka lebar, memunculkan Mike, beberapa orang pelayan, kemudian Mama dan Papa yang berdiri dengan wajah yang sama-sama melihat ke arahku. ''Allena! Sayang!'' Mama berteriak keras seperti ingin berlari mendekat padaku,…
ReadmoreChapter 6: Permainan sihir?
''Sayang! Bertahanlah …'' Papa berdiri mendekati Mama dengan wajah panik, melihatku sebentar, lalu kembali berlutut di hadapan Xavier. ''Tuan … tolong lepaskanlah Helen. Kasihanilah kami …'' Aku terdiam, baru menyadari situasinya semakin sulit akibat perbuatanku tadi. Ada rasa bersalah melihat Mama yang…
ReadmoreChapter 7: Perjanjian
''Aku juga harus pergi,'' ucap Xavier yang sekarang sudah berdiri di depan pintu balkon membelakangi kami. Ntah sejak kapan pintu itu terbuka. Aku tidak ingat, karna memang tidak pernah melakukannya. Kami semua hanya diam, tidak merespon. Tidak ada yang mau, atau…
ReadmoreChapter 8: Apa ini karna kutukannya?
''Sayang, kamu harus menyentuh Mama sekarang.'' ''Apa?!'' Aku dan Papa terkejut seketika langsung menoleh melihat Mama. ''Allena tidak mau!'' ucapku kemudian. ''Kita harus bisa membuktikan ide ini, kan? Bagaimana bisa tahu kalau tidak mencobanya?'' jawab Mama yang sekarang sudah terlihat lebih…
ReadmoreChapter 9: Harus pergi ke kampus
''Apakah ini karna kutukannya?'' ''Sayang, ini bukan …'' ''Bukankah ide sarung tangan ini sudah berhasil menghalangi efek kutukannya? Papa sendiri yang mengatakan bahwa hidup Allena bisa normal seperti dulu. Kenapa sekarang Papa dan Mama malah …'' Kalimatku terhenti, suara di tenggororkan…
ReadmoreChapter 10: Bertemu kak Andrew
Jodohku Pangeran Penyihir "Sayang, tunggu sebentar.'' Aku yang sudah bangkit untuk keempat kalinya dari tempat duduk menoleh, melihat Mama yang sedang meihat dengan tatapan yang susah dijelaskan. ''Ada apa, Ma?'' tanyaku kemudian. Ntah apa yang ingin dikatakan Mama sekarang. Mencoba…
ReadmoreChapter 11: Datang lagi
Jodohku Pangeran Penyihir Bab 13 ''Allena, apakah semua itu benar?'' Aku hanya diam. Pertanyaan Kak Andrew bagaikan sebuah tombak yang langsung tertancap dalam tepat di hati. Rasanya sangat sakit. Apakah sebuah kebenaran yang tidak kuinginkan akan menjadi jurang pemisah diantara kita?…
ReadmoreChapter 12: Penawaran kesepakatan
Jodohku Pangeran Penyihir ''Lalu kesalahan mana lagi yang kulakukan?'' Awalnya Xavier masih saja bermain terbak-tebakan perihal ini, tapi karna selalu kukatakan tidak bisa mengingatnya akhirnya dia mau mengatakan bahwa kesalahan itu terjadi di rumah sesaat setelah dia pergi. Tepatnya, ketika…
ReadmoreChapter 13: Berubah pikiran
Jodohku Pangeran Penyihir ''A-aku berubah pikiran.'' Aku mengangkat sebelah tangan, menurnkannya, kembali, lalu memalingkan wajah. Malu. ''Mungkin kamu bisa melakukannya, walaupun sedikit sulit nanti.'' ''Sulit?'' Aku mengangguk, masih tanpa melihatnya. ''Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Terimakasih atas peringatanmu, Nona…
Readmore





