VIP Signed

Ketika Aku Mati

By: ine.time
44 Readers 24 Chapters 9.9

20 HARI MENCARI MAAF

Setelah mati, manusia seharusnya dibawa ke alam akhirat. Semua hal-hal terindah selama hidup akan diperlihatkan kembali, tetapi … Lia Nadira tidak mendapat itu. Ia justru melihat ibunya berakhir di panti werda, suaminya hidup bersama sahabatnya sendiri, dan satu fakta yang membuat segalanya runtuh …. kematiannya bukan…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

Epilog.

Bagi Adit, tahun-tahun setelah Lia pergi tidak benar-benar berjalan. Tahun hanya lewat karena tidak ada yang bisa menghentikan waktu.   Adit tetap datang ke kantor. Tetap berdiri di ruang sidang. Tetap menyebut pasal demi pasal dengan suara tegas. Klien menyebutnya hebat. Lawan menyebutnya…

Ketika Aku Mati.

Lia keluar dari kamar mandi sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Aroma sabun bercampur asin laut memenuhi kamar kecil penginapan itu. Murni sedang duduk di tepi ranjang, melipat pakaian dengan rapi. “Ibu keluar duluan sama Mas Adit,” ungkap Murni, “Non, hari ini…

Future Justice.

“Oalah, Bu. Kita memang sudah lama sekali enggak liburan, ya, Bu,” celoteh Murni, matanya menatap ke luar jendela mobil. “Iya, Mur,” jawab Rukmini singkat. Lia menoleh ke belakang. Melihat senyum di wajah ibunya, tersadar seharusnya dulu ia lebih sering mengajak mereka berlibur. “Kalau…

(Hilang) Kendali.

“Kita pergi malam ini,” kata Rian cepat lalu menarik koper ke sudut ruangan. Citra yang sedari tadi hanya mondar-mandir di ruang tamu apartemennya langsung membeku. “Pergi? Ke mana?” “Ke mana saja! Yang penting keluar dari sini.” “Pekerjaanku bagaimana?” Rian menatapnya tajam. “Kamu pilih…

Sudah Selesai?

“Wah, harum sekali.” Lia tersenyum saat aroma santan memenuhi ruang makan. “Tumben Mbok masak opor.” “Sini, Non. Baru mau Mbok panggil.” Murni membalik satu piring di depan kursi utama lalu menarik kursinya sedikit. “Eh, Non sudah turun duluan.” Di dekat jendela, Rukmini duduk…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

eli.budianto
dwi.fitriani
20 Chapters

Chapter 1: Aku Adalah Kamu.

Oleh: ine.time
Ia membuka mata. Keheningan menyapa terlebih dahulu. Tangannya meraba alas tempatnya terbaring.  Berkali-kali ia meraba dada, pergelangan tangan, juga area leher. Tidak ada denyut sebagai tanda satu kehidupan. Jemarinya yang gemetar akhirnya menyentuh hidung. Tidak juga ada sensasi hangat dari hembusan napasnya sendiri.…
Readmore

Chapter 2: Takdir yang Ditawar

Oleh: ine.time
“Baiklah. Ini adalah salah satu hadiah untukmu.” Nara mengangkat tangan. Bukan menunjuk surga kali ini, melainkan ruang kosong di samping mereka. Udara di sana bergetar pelan, seperti permukaan air yang disentuh ujung jari. Perlahan, bayangan terbentuk. Langit masih kelabu. Payung-payung hitam terbuka berderet,…
Readmore

Chapter 3: Hitung Mundur

Oleh: ine.time
Udara menghantam paru-parunya. Tepat. Nyeri. Hidup. Membuat Lia refleks membuka mata dan tangannya mencengkeram erat dada. Denting lampu kristal yang bergoyang di atas kepalanya memantulkan cahaya matahari yang menerobos masuk lewat sela gorden di sisi kanan. Lia mengerjapkan mata.  Ia menoleh cepat ke…
Readmore

Chapter 4: Hanya Lelah

Oleh: ine.time
Hangat cahaya pagi menerpa wajahnya. Lia sangat menyukainya. Dulu … Lia harus bangun berkejaran dengan matahari. Ia tidak pernah bisa melihat matahari terbit karena sibuk berdesakan di angkutan umum untuk tiba di kantor.  Setelah pulang kerja, Lia masih harus berkemelut dengan pekerjaan sampingan…
Readmore

Chapter 5: Melanggar Batas

Oleh: ine.time
Entah sudah berapa lama Lia duduk diam di ruang kerjanya. Tidak ada yang berbeda. Suasana kantor tampak sama seperti biasanya. Aroma kopi dari pantry. Suara sibuk mesin fotocopy dan aktivitas harian para karyawan. Semuanya normal, tetapi bagi Lia, entah normal itu harus seperti…
Readmore

Chapter 6: Delapan Belas

Oleh: ine.time
Lia menatap tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya. Terasa begitu erat hingga Lia merasa sesak. Pada tangan itulah Lia menyerahkan segalanya. Waktu, cinta, uang … segalanya. Tatapan Lia naik menuju wajah Rian. Wajah yang dulu membuatnya merasa aman. Wajah yang ia pilih untuk menua…
Readmore

Chapter 7: Adit Gunawan

Oleh: ine.time
Langkah Adit Gunawan tampak tergesa. Hampir berlari. Sesekali ia melirik arloji di pergelangan tangannya lantas mendesah pelan. Beberapa hari belakangan jadwalnya sangat padat. Semalam ia baru saja sampai dari luar kota. Bahkan belum sempat untuk beristirahat dengan semestinya. Sekali lagi ia memeriksa angka…
Readmore

Chapter 8: Medium Rare.

Oleh: ine.time
“Aku baru masuk kalau mobil kamu sudah pergi, ya,” ujar Adit singkat. “Enggak usah, Dit. Aku masih bisa—” Kalimat Lia terhenti ketika ia menekan tombol kunci mobilnya. Tidak ada bunyi. Ia mencoba lagi. Tetap tidak menyala. “Kenapa?” tanya Adit. Lia mendesah pelan. “Mogok…
Readmore

Chapter 9: Aku Enggak Mau Mati.

Oleh: ine.time
“Ini mobil baru, Mas? Soalnya jarang ada dua masalah begini di mobil baru.” Sejenak Lia dan Adit saling berpandangan. Montir paruh baya itu melepaskan sarung tangan karetnya. “Dua masalah bagaimana, Bang?” tanya Adit mendekati montir. “Iya, Mas.” Montir menunjuk ke dudukan mesin. “Baut…
Readmore

Chapter 10: Di Balik Lemari.

Oleh: ine.time
Lia menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan tasnya di meja sebelum melangkah lagi ke arah dapur. “Mbok?” panggilnya pelan. Asisten rumah tangga itu muncul dari arah belakang, mengeringkan tangan dengan lap kecil. “Iya, Non Lia. Sudah pulang? Mau makan…
Readmore

Chapter 11: Alibi.

Oleh: ine.time
Adit menatap langit-langit kamar apartemennya. Tangannya terlipat di bawah kepala. Kalimat Lia berputar di kepalanya seperti jarum jam yang tak mau berhenti. Bahkan wajah Lia masih terbayang-bayang. Aku … enggak mau mati. Jelas sekali kalau Lia merasa terancam. Seingatnya Lia adalah seseorang yang…
Readmore

Chapter 12: Saya Mencintai Lia.

Oleh: ine.time
Laptopnya sudah terbuka lama. Kursor berkedip-kedip, tetapi Adit masih belum mengetik apapun. “Aku perlu menyusun gugatan cerainya,” ucap Adit pada akhirnya. Lia hanya memberikan satu anggukan kecil. Ada keraguan yang jelas terpancar dari wajahnya. “Lia, kamu mau … membatalkan gugatannya?” Lia mengangkat wajahnya…
Readmore

Chapter 13: Cerai.

Oleh: ine.time
Detik berikutnya terjadi terlalu cepat. Rian melangkah maju. Tinju mendarat di wajah Adit. Tubuh Adit terdorong setengah langkah ke belakang. Payung terlepas dan jatuh menggelinding di lantai teras. Suara teriakan Rukmini dan Murni terdengar. Lia masih terdiam. Rasa logam langsung terasa di lidah…
Readmore

Chapter 14: Cinta Pertama

Oleh: ine.time
Lia turun dengan langkah pelan, rambutnya masih setengah basah sehabis mandi. Aroma nasi goreng menyambutnya dari ruang makan. Ia berhenti sebentar. Biasanya, di jam seperti ini, Rukmini sudah duduk rapi di kursinya, menunggu Lia dan Rian datang untuk sarapan bersama, tetapi kursi itu…
Readmore

Chapter 15: Harga Sebuah Pilihan.

Oleh: ine.time
Gerimis turun tipis seperti debu air yang melayang pelan di udara. Lia sudah berdiri di depan kafe itu hampir lima menit ketika siluet seseorang berlari kecil dari seberang jalan. Pria itu menunduk, satu tangannya menutup bagian atas kepala, berusaha menghindari titik-titik air yang…
Readmore

Chapter 16: Jika Tidak Bisa Bersamamu.

Oleh: ine.time
Adit berbalik … pergi. Tidak tahu harus apa. Takut. Bingung. Marah. Bercampur satu dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Bayangan tubuh Lia yang bersimbah darah terus berputar di kepalanya. Suara rem, decit ban, benturan. Mobil terbalik. Wajah Lia yang pucat. Langkahnya cepat. Semakin…
Readmore

Chapter 17: Umpan yang Dilepaskan.

Oleh: ine.time
Lia menatap pantulan dirinya di cermin. Blus krem. Rok hitam. Rambut diikat rendah. Kali ini ia menggunakan pewarna bibir lebih merah.  Tangannya berhenti sebentar saat merapikan tas kerja. Ingat akan pesan yang dikirimkan Adit semalam. Beri aku satu hari. Kita punya bukti agar…
Readmore

Chapter 18: Saksi atau Tersangka.

Oleh: ine.time
Adit sudah berada di dalam mobilnya sejak setengah jam lalu. Memarkir agak jauh dari gerbang perumahan Lia. Kaca jendela diturunkan sedikit. Mesin mati. Tangannya memegang setir, tetapi pikirannya tidak diam. Kuitansi itu masih terlipat di dashboard. Pagi ini, ia sudah mendatangi alamat bengkel…
Readmore

Chapter 19: Harga Kebebasan.

Oleh: ine.time
Email itu sudah terkirim. Keputusan telah diambil. Tidak dapat ditarik kembali. Perlahan, Lia mencabut sebuah flashdisk dari port USB. Ia mencengkeramnya erat. Benda kecil itu menyimpan seluruh sisa keberaniannya.  Lia menatap layar laptop lebih lama, hingga dering ponselnya memaksanya menoleh. Lia bangkit, memasukkan…
Readmore

Chapter 20: Sudah Selesai?

Oleh: ine.time
“Wah, harum sekali.” Lia tersenyum saat aroma santan memenuhi ruang makan. “Tumben Mbok masak opor.” “Sini, Non. Baru mau Mbok panggil.” Murni membalik satu piring di depan kursi utama lalu menarik kursinya sedikit. “Eh, Non sudah turun duluan.” Di dekat jendela, Rukmini duduk…
Readmore
error: Content is protected !!