Table of Contents
Lates Chapters
Bab 5
Rania menjatuhkan badan, memposisikan tubuhnya menjadi berlutut di depan kaki sang paman. Tangannya kembali dia satukan di depan dada, pandangannya menunduk dengan air mata yang jatuh sangat deras. Hatinya terasa tercabik-cabik. Dia harus melakukan sebuah adegan dimana tidak pernah sedikitpun terbesit di dalam…
Bab 4
Sebuah ruangan persegi memiliki ukuran cukup besar dengan berbagai perabotan mewah sebagai penghias. Pendingin ruangan yang menyala nyatanya masih tetap tidak bisa melegakan nafas Rania yang terasa sesak. Wanita itu terus berdiri menundukkan kepala merasakan tekanan intimidasi dari keluarga sang suami tersebut. “Ayo…
Bab 3
Sinar matahari yang sangat terik masih terus menyorot dua insan yang kini sedang bersitatap. Senyum menyeringai dari bibir Bian menyadarkan Rania dari semuanya. Wanita itu pun dengan cepat menunduk. “Rania Putri. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sejak kami pindah dari kota Bandana,…
Bab 2
Rania duduk di salah satu bangku di dalam sebuah bus kota. Kali ini dia akan pergi ke suatu tempat dimana dirinya menaruh sebuah harapan besar disana. Walaupun sang ibu mertua awalnya tidak merestui niatnya ini, akan tetapi tidak ada jalan lain lagi. Mata…
Bab 1
Rumah Sakit Nusa Nagara, Kota Bandana. Suara langkah kaki terdengar sangat jelas menggema di lorong rumah sakit. Suara langkah kaki seorang wanita yang sedang berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari. Kedua tangannya mendorong sebuah kursi roda dimana seorang wanita paruh baya duduk di…
Comments
5 Chapters
Chapter 1: Bab 1
Rumah Sakit Nusa Nagara, Kota Bandana. Suara langkah kaki terdengar sangat jelas menggema di lorong rumah sakit. Suara langkah kaki seorang wanita yang sedang berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari. Kedua tangannya mendorong sebuah kursi roda dimana seorang wanita paruh baya duduk di…
ReadmoreChapter 2: Bab 2
Rania duduk di salah satu bangku di dalam sebuah bus kota. Kali ini dia akan pergi ke suatu tempat dimana dirinya menaruh sebuah harapan besar disana. Walaupun sang ibu mertua awalnya tidak merestui niatnya ini, akan tetapi tidak ada jalan lain lagi. Mata…
ReadmoreChapter 3: Bab 3
Sinar matahari yang sangat terik masih terus menyorot dua insan yang kini sedang bersitatap. Senyum menyeringai dari bibir Bian menyadarkan Rania dari semuanya. Wanita itu pun dengan cepat menunduk. “Rania Putri. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sejak kami pindah dari kota Bandana,…
ReadmoreChapter 4: Bab 4
Sebuah ruangan persegi memiliki ukuran cukup besar dengan berbagai perabotan mewah sebagai penghias. Pendingin ruangan yang menyala nyatanya masih tetap tidak bisa melegakan nafas Rania yang terasa sesak. Wanita itu terus berdiri menundukkan kepala merasakan tekanan intimidasi dari keluarga sang suami tersebut. “Ayo…
ReadmoreChapter 5: Bab 5
Rania menjatuhkan badan, memposisikan tubuhnya menjadi berlutut di depan kaki sang paman. Tangannya kembali dia satukan di depan dada, pandangannya menunduk dengan air mata yang jatuh sangat deras. Hatinya terasa tercabik-cabik. Dia harus melakukan sebuah adegan dimana tidak pernah sedikitpun terbesit di dalam…
Readmore





