Table of Contents
- Chapter 21: Bab 21. Inti Pilar Ketujuh
- Chapter 22: Bab 22: Gerbang yang terbuka
- Chapter 23: Bab 23: Pertempuran di ambang gerbang
- Chapter 24: Bab 24.Kunci yang hilang
- Chapter 25: Bab 25.Anak tanpa nama
- Chapter 26: Bab 26. Dilema Cahaya
- Chapter 27: Bab 27. Pewaris bayangan
- Chapter 28: Bab 28. Ledakan Dua Dunia
- Chapter 29: Bab 29.Fajar di dunia baru
- Chapter 30: Bab epilog : Cahaya yang abadi
Lates Chapters
Bab epilog : Cahaya yang abadi
Sunyi. Itulah kesan pertama yang dirasakan Arka ketika akhirnya semua getaran berhenti. Setelah Ledakan Dua Dunia, dunia bawah perlahan membangun dirinya kembali. Bukan dalam kegelapan, bukan dalam cahaya yang menyilaukan, melainkan dalam keseimbangan baru. Arka berdiri di sebuah lembah yang dulu…
Bab 29.Fajar di dunia baru
Kabut bercahaya masih menutupi langit dunia bawah tanah, sisa-sisa dari Ledakan Dua Dunia. Batu-batu kristal yang runtuh perlahan membeku di udara, melayang seperti bintang-bintang kecil, memancarkan cahaya lembut ke segala arah. Untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun, tempat yang selalu kelam itu tampak…
Bab 28. Ledakan Dua Dunia
Langit bawah tanah yang semula dipenuhi cahaya redup mendadak berubah menjadi lautan kilatan cahaya dan gelap pekat yang saling bertabrakan. Pilar Cahaya yang berhasil dibangkitkan Arka bergetar keras, memancarkan sinar keemasan yang membelah kegelapan. Namun, pada saat yang sama, bayangan dari dunia atas…
Bab 27. Pewaris bayangan
Lorong itu mendadak menjadi arena pertempuran. Udara bergetar oleh aura kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya dari kristal dinding pun meredup. Sosok berjubah hitam itu melangkah maju dengan tenang, seolah waktu tunduk padanya. Mata merahnya menembus kegelapan, menyala bagaikan bara api di…
Bab 26. Dilema Cahaya
Lorong itu kembali sunyi. Hanya detak jantung Arka yang terdengar di telinganya, begitu keras seakan mencoba menenggelamkan semua suara lain. Ia masih berdiri di depan Anak Tanpa Nama, yang kini duduk kembali dengan rantai cahaya yang bergetar pelan. Liora menatapnya tanpa…
Comments
2 pemikiran pada “Lumen Cahaya dari Dunia Bawah Tanah”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1: Gempa
Langit sore itu berwarna kelabu, seperti menahan tangis yang belum tumpah. Arka berdiri di pinggir tebing kecil di belakang rumah neneknya, menatap hutan pinus yang memanjang ke barat. Suara desir angin menyapu pucuk-pucuk pohon, membawa aroma tanah basah dan bisikan kenangan yang samar.…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Penjaga Gerbang
Arka melangkah pelan, mengikuti Lysra menuruni jalan batu yang diterangi cahaya samar dari dinding kristal. Setiap tapak langkah mereka seperti menimbulkan percikan cahaya kecil. Meski tubuhnya masih lelah akibat terjatuh, rasa ingin tahunya jauh lebih kuat. Mereka melewati jembatan gantung yang menggantung di…
ReadmoreChapter 3: Bab 3 Pilar yang hilang
Langkah Arka bergema pelan di lorong berbatu yang membentang ke arah utara, tempat yang mereka sebut sebagai Tanah Senyap. Udara di sana lebih dingin dan lebih tipis dibandingkan wilayah lain di Lumora. Bahkan Lysra, sang Penjaga Gerbang, berjalan dengan waspada, tangannya selalu siap…
ReadmoreChapter 4: Bab 4 : Cahaya Pertama
Sinar dari Pilar Harapan masih menyala samar di kejauhan, menyisakan jejak tipis di udara yang dingin dan penuh kabut. Arka duduk diam di ujung jurang kecil, matanya menatap kehampaan, namun pikirannya penuh riuh pertanyaan. Ia bukan lagi anak biasa dari dunia atas. Setelah…
ReadmoreChapter 5: Bab 5.Lembah Tidak Bernama
Udara di lembah itu tak bergerak. Tidak hangat, tidak dingin. Hanya sunyi. Bahkan langkah kaki pun seolah diserap tanah sebelum sempat bergema. Arka berdiri di tepian tebing, menatap ke bawah: lautan kabut abu-abu membentang sejauh mata memandang. Di bawah sana, katanya, tersembunyi Pilar…
ReadmoreChapter 6: Bab 6.Rahasia Pilar Keenam
Langkah mereka semakin dalam menapaki inti dunia bawah. Dinding-dinding batu mulai dipenuhi simbol yang menyala samar, seolah mengikuti kehadiran mereka. Pilar-pilar sebelumnya bersinar di dalam kristal kecil yang tergantung di dada Arka merah, biru, emas, hijau, dan putih. Lima warna cahaya yang mewakili:…
ReadmoreChapter 7: Bab 7.Pilar Tujuh yang Terlupakan
Bayangan ya di terowongan itu seperti membeku. Tak ada angin. Tak ada gema. Hanya detak jantung Arka yang mengiringi langkah-langkah mereka yang kian dalam menuju wilayah yang bahkan para Penjaga Cahaya pun tidak berani sebutkan: Tanah Tanpa Nama. Lysra menggigit bibirnya. “Seharusnya… tidak…
ReadmoreChapter 8: Bab. 8 Gerbang Tanpa Nama
Udara berubah saat Pilar Ketujuh menyatu dalam tubuh Arka. Tak hanya hening tapi mati. Tak ada gema. Tak ada aliran energi seperti biasanya saat pilar berpadu. Bahkan napas mereka seakan tertahan oleh sesuatu yang lebih besar, lebih purba, dan lebih mengintai. Serei berdiri…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Bayangan yang Berbisik
Angin dingin menusuk tulang saat Arka, Serei, dan Lysra menuruni jalan batu dari Gerbang Tanpa Nama. Langit di atas mereka bergelombang seperti permukaan air hitam, tanpa bulan, tanpa bintang—namun cahaya aneh membias dari bawah, dari retakan-retakan lembah, seolah bumi menangis dari dalam. “Tempat…
ReadmoreChapter 10: Bab . 10 Pilar Harapan
Langit Bayangan Utara tetap kelam. Kabut tipis merayap di antara celah-celah batu, menyembunyikan suara dan menelan cahaya. Namun di antara semua itu, satu titik bersinar lembut: Pilar Pertama, dikenal sebagai Pilar Harapan, berada jauh di utara di puncak reruntuhan Benteng Cahaya Pertama. Bersama…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Lorong Tidak Bernama
Lorong itu bukan sekadar gelap, lorong itu tak bernama, tak berbentuk, dan seakan tak mengenal arah. Begitu Arka dan rombongannya melewatinya, mereka tak lagi bisa kembali. “Ini bukan tempat yang ditinggalkan. Ini tempat yang sengaja disembunyikan,” bisik Lysra dengan napas tercekat. Lorong itu muncul…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Danau Bisikan
Langit Dunia Bawah tampak lebih suram dari biasanya. Arka menatap kabut kelabu yang menggantung di atas danau yang sunyi, permukaannya sejernih kaca — terlalu tenang, seperti menyembunyikan sesuatu yang tak ingin dibangunkan. Ratu Tanis telah memperingatkan mereka tentang tempat ini. Danau Bisikan adalah…
ReadmoreChapter 13: Bab 13: Tangan Dari Kegelapan
Kabut di sekitar Danau Bisikan itu membeku. Waktu seolah berhenti, ditelan ketegangan saat sosok berjubah itu berdiri di atas permukaan air tak tenggelam, tak tergores riak. Ia adalah Bayangan dari Utara, mantan Penjaga Cahaya yang kini menjelma ancaman paling berbahaya bagi Lumen dan…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Gerbang Pilar ketiga
Langkah Arka menggema saat mereka menyusuri lorong sempit yang menurun, dindingnya dipenuhi akar bercahaya yang tampak seperti nadi raksasa. Udara lembap dan dingin menyentuh kulit mereka. Kael memimpin, sementara Surn meski masih terluka, dia menolak untuk tinggal. Setelah melewati dua Pilar, mereka menyadari…
ReadmoreChapter 15: Bab 15.Penjaga Tanpa Wajah
Langit gua memendar warna kehijauan ketika Arka, Kael, dan Surn melangkah memasuki wilayah baru — zona sunyi yang bahkan gema langkah mereka terasa ditelan oleh udara tebal dan dingin. Pilar Kejujuran telah menjadi bagian dari Arka, namun itu bukan akhir dari ujian.…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Serangan Ditengah Cahaya
Cahaya itu datang tiba-tiba, memecah kegelapan yang selama ini membungkus dunia bawah tanah. Seolah langit yang tak pernah mereka lihat akhirnya terbuka, melepaskan kilau keemasan yang menusuk mata. Arka berdiri terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan. Lumen bola cahaya yang selama ini mereka jaga…
ReadmoreChapter 17: Bab. 17 Kebangkitan Sang Bayangan
Baik, aku akan langsung. Lagkah - langkah Arka menggema di lorong batu yang dingin dan panjang. Api kecil di obor yang ia genggam bergetar, seakan cemas dengan kegelapan yang terus menelan cahaya di sekitarnya. Udara terasa lebih berat daripada biasanya, setiap tarikan napas…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Perjanjian Kegelapan
Langit merah kelam di medan batin itu bergemuruh, seolah ribuan suara berbisik dalam bahasa yang tak dimengerti. Arka berdiri goyah, tubuhnya masih bergetar karena cahaya dalam darahnya yang berusaha menolak pusaran kegelapan yang melingkupinya. Bayangan Purba menunduk, wajah tanpa bentuknya semakin jelas: mata…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Keseimbangan Yang Retak
Pusaran perak itu berputar begitu cepat hingga seolah menelan seluruh dunia batin. Cahaya dan bayangan menyatu, tidak lagi saling menghancurkan, melainkan menciptakan harmoni yang asing dan tak stabil. Arka terjebak di tengahnya, tubuhnya melayang tanpa pijakan. Ia merasakan dua kekuatan yang berlawanan merobek…
ReadmoreChapter 20: Bab 20. Bayangan dalam darah
Arka duduk di tepi lorong batu yang retak, tubuhnya masih gemetar setelah pertemuan dengan Bayangan Purba. Setiap hembusan napas terasa berat, seolah udara di sekitar menolak masuk ke paru-parunya. Di balik kulitnya, cahaya biru berdenyut pelan, tetapi setiap denyutan itu disertai aliran…
Readmore






Tetap semangat menulis, kembangkan literasinya.
Love it ka… lanjut