Table of Contents
Lates Chapters
Ada apa dengan Jerome
Ini sudah keseratus kali kalau tidak salah Tara memegangi bibirnya. Jaya dengan bibirnya yang merah muda itu bisa-bisanya bergentayangan di dalam kepala yang hanya menyisakan sedikit ruang pada otaknya itu. Tidak tidak tidak! Bukankah, seharusnya Tara marah dan menghajar pria itu! Kenapa bisa-bisanya…
Sengatan Listrik
Seorang siswa tersungkur memegangi sudut bibirnya, Jaya mencengkeram kerah baju siswa itu, menariknya lalu kembali meninjunya bertubi-tubi. Siswa lain berusaha memukulnya tapi Jaya berhasil menghindar yang lainnya lagi menendang, lagi-lagi Jaya bisa menangkis dan membalas mereka dengan pukulan. Lima siswa itu tumbang tapi…
Cinta Jajar Genjang
"Gelisah banget gue liat, lo. Kenapa? Cacingan? Pantes walau makan lo banyak badan lo tetep aja kering kerontang." Bian baru diam saat mulutnya dijapit dengan tangan Tara yang mengerucut. "Berisik banget sih lo kayak mulut tetangga." "Emang gue tetangga lo kali." "Pantes. Mulut…
Hilang Kendali
"Ra, lo nggak capek apa berdiri terus di situ? Duduk sini, gih." Rita menunjuk kursi kosong yang ada di sebelahnya dengan sedotan. "Pegel gue liatnya." Tara menggoyang-goyangkan tangan seraya memaksakan senyumnya. Ternyata, gadis cantik itu punya hati juga. Beda sekali dengan pria yang…
Berdebar
Tara menyipitkan mata saat Jaya berulang kali menghubunginya. Dia menggesernya ke arah yang paling jauh dengan dirinya menggunakan kaki dan sama sekali tidak ada niatan untuk mengangkatnya. Lagi pula ini sudah pukul delapan malam, apalagi yang dimau pria itu untuk Tara lakukan? Ketika…
Comments
Satu pemikiran pada “Mak Comblang Kena Batunya”
Tinggalkan komentar
14 Chapters
Chapter 1: Mak Comblang Perintis
”Dua ratus, empat ratus, empat juta seratus … lumayan juga bulan ini.” Tara tengkurap dengan menggoyang-goyangkan kedua kaki yang dilipat. Bibirnya komat-kamit, tangannya sibuk menulis memberi ceklis, sesekali kedua matanya menatap langit-langit sembari berpikir strategi apa lagi yang harus ia gunakan untuk menarik…
ReadmoreChapter 2: Si Jaya-Jaya itu….
"Si tolol! Lo ngapain si atraksi pagi-pagi?" Bian menggerutu dengan punggung yang berkosplay sebagai kereta kencana membawa Tara menuju ruang UKS untuk mengobati luka lecet pada lengan dan kakinya. "Berat juga lagi — aduh! Gue turunin ya lo kalau mukul kepala gue lagi!"…
ReadmoreChapter 3: Aneh, bukan?
"Gue gak mimpi kan, ini?" Tara mengerjap menepuk-tepuk pipinya. "Lo Jaya, kan? Yang, preman sekolah itu? Yang, sok jagoan itu?" Gadis itu memukul mulutnya yang selalu saja mengeluarkan segala isi kepalanya tanpa terfilter lebih dulu. "Sorry," cicitnya kemudian. "Kata siapa gue sok jagoan?…
ReadmoreChapter 4: Antek-Antek Jaya
"Jangan-jangan Jaya ngilmu, Bi!" "Ngilmu matamu!" "Bian ih mulutnya! Kenapa sih lo ngegas mulu, ah? Bawaain bayi, ya?" "Lagian mulut lo kebiasaan asal jeplak aja!" Tara menopang dagu, mengetuk-ketuk pipi dengan jari-jari menunggu pesanan bakso dan es teh seraya mengingat kejadian tempo hari…
ReadmoreChapter 5: Sumpah Serapah Tara
[embed]https://youtu.be/x2XX3cNW4K0?si=O7hVk3vdYoLrBP7T[/embed] ”Kenapa lo?” Bian melirik malas ke arah Tara yang mendadak menatapnya dengan senyum yang mencurigakan. “Lo ngaca dulu, gih! Senyum lo itu nyeremin.” Tara mencebik. “Lo tau nggak Jaya nongkorongnya dimana? Dia kok jarang banget masuk sekolah. Tu anak emang gak dikeluarin…
ReadmoreChapter 6: Babu Tara
"Lo tau norak nggak! Norak itu lo! Lo itu norak! Jaya norak!" "Gue gak norak!" Bunyi buk terdengar bersamaan dengan Jaya yang terjungkal pada tempat duduknya. "Iya iya lo nggak norak, biar Teo aja yang norak," sindir Bagas melirik Teo dengan sambil menyantap…
ReadmoreChapter 7: Mungkin, Jodoh?
[embed]https://youtu.be/mTrxT83gSI0?si=mNg_EeDhGR7LDWJ1[/embed] Tara mulai menghentikan laju motor matic-nya. Gadis itu mengerjap takjub melihat bangunan rumah bercat serba putih di hadapannya. Tara menoleh ke belakang. "Wuuah lo beneran anak orang kaya ya, Jay!" serunya terkesima. "Kenapa? Lo berubah pikiran? Mau jadi pacar gue sekarang?"…
ReadmoreChapter 8: Antara Santet atau Uang Sepuluh Juta
[embed]https://youtu.be/3YFZyOpF7tU?si=jWQYdWyNIqe6jmrY[/embed] Dengan mata yang tidak terbuka sempurna, Tara sudah duduk di atas motor miliknya menunggu Jaya yang dari sepuluh menit tadi tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Demi suneo beserta kekayaannya dia sebenarnya menyesali keputusannya kali ini. Tapi bagaimana lagi? Lagi dan lagi sepuluh…
ReadmoreChapter 9: Otak Aneh Tara
Tara sumringah begitu saldo rekeningnya bertambah. Memang jasa mak comblang ini seharusnya mudah asal bukan Jaya saja yang menjadi target mereka. Hanya butuh waktu satu minggu dan Tara sudah berhasil menjodohkan sepasang love bird di sekolahnya. Berjalan ia menyusuri lorong sekolah dan berhenti…
ReadmoreChapter 10: Berdebar
Tara menyipitkan mata saat Jaya berulang kali menghubunginya. Dia menggesernya ke arah yang paling jauh dengan dirinya menggunakan kaki dan sama sekali tidak ada niatan untuk mengangkatnya. Lagi pula ini sudah pukul delapan malam, apalagi yang dimau pria itu untuk Tara lakukan? Ketika…
ReadmoreChapter 11: Hilang Kendali
"Ra, lo nggak capek apa berdiri terus di situ? Duduk sini, gih." Rita menunjuk kursi kosong yang ada di sebelahnya dengan sedotan. "Pegel gue liatnya." Tara menggoyang-goyangkan tangan seraya memaksakan senyumnya. Ternyata, gadis cantik itu punya hati juga. Beda sekali dengan pria yang…
ReadmoreChapter 12: Cinta Jajar Genjang
"Gelisah banget gue liat, lo. Kenapa? Cacingan? Pantes walau makan lo banyak badan lo tetep aja kering kerontang." Bian baru diam saat mulutnya dijapit dengan tangan Tara yang mengerucut. "Berisik banget sih lo kayak mulut tetangga." "Emang gue tetangga lo kali." "Pantes. Mulut…
ReadmoreChapter 13: Sengatan Listrik
Seorang siswa tersungkur memegangi sudut bibirnya, Jaya mencengkeram kerah baju siswa itu, menariknya lalu kembali meninjunya bertubi-tubi. Siswa lain berusaha memukulnya tapi Jaya berhasil menghindar yang lainnya lagi menendang, lagi-lagi Jaya bisa menangkis dan membalas mereka dengan pukulan. Lima siswa itu tumbang tapi…
ReadmoreChapter 14: Ada apa dengan Jerome
Ini sudah keseratus kali kalau tidak salah Tara memegangi bibirnya. Jaya dengan bibirnya yang merah muda itu bisa-bisanya bergentayangan di dalam kepala yang hanya menyisakan sedikit ruang pada otaknya itu. Tidak tidak tidak! Bukankah, seharusnya Tara marah dan menghajar pria itu! Kenapa bisa-bisanya…
Readmore






Komen-komen dong, Guys….