Table of Contents
Lates Chapters
Diskusi
Bisa dibilang, ini adalah kali pertama mereka kencan setelah status itu berganti. Naya sejujurnya agak takut dengan hal-hal seperti ini meski Teguh adalah temannya sejak kecil. Kebanyakan yang dia tahu, tentang kisah-kisah para temannya, atau bahkan dirinya sendiri ketika dulu kencan pertama kali,…
Tentang Yudis
Satu minggu sejak pertemuan mereka di kafe itu. Naya baru menyadari bahwa tingkah Teguh sebelum dan setelah berpacaran dengannya tidaklah berbeda jauh. Mereka jarang bertukar kabar, namun Teguh selalu memberitahu dengan jelas jadwal kerjanya. Pemuda itu selalu memintanya muncul di depan pintu tiap…
Kepastian
Naya menghela napas, rasanya seperti baru kemarin mereka menangis karena kematian Rahayu. Namun kini sudah tiga hari berlalu. Gadis itu melirik ke arah ponselnya, pesan-pesan Teguh kembali hadir sejak kemarin meski tak pernah ia balas. Apa lagi yang dia cari? pikir gadis itu.…
Rahayu
Naya tidur sepanjang hari usai kejadian malam itu. Perasaannya benar-benar tak enak ketika ia bangun. Ia masih tak habis pikir dengan betapa bodoh dirinya menolak orang yang sejujurnya dia suka hanya karena realitas yang mungkin bisa menghancurkan mereka. Dia suka sama kamu, ucapan…
Pacaran?
Apa ... aku salah denger ya? Naya berusaha tak memikirkannya bahkan setelah konser itu berakhir. Pertanyaan itu terdengar sangat jelas ketika Teguh menanyakan arti hubungan mereka di tengah-tengah lagu. Namun ia memutuskan untuk tak meresponsnya karena masih terbawa suasana lagu. Masa dia suka…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Teman Lama
Naya tak pernah menyukai teman sendiri. Sepanjang ia hidup di dunia menyebalkan ini. Naya selalu mampu memisahkan perasaannya pada tiap lelaki yang ia kenal. Jika sejak awal mereka adalah teman, maka mereka akan tetap begitu sampai akhir. Jika sejak awal ia ingin mereka…
ReadmoreChapter 2: Tak Sesuai Kata
Pertemuan mereka malam itu membuat Naya bertanya-tanya tentang perasaannya sendiri. Tentu tidak ada momen menarik di sana, jika dipikir dengan rasional pun interaksinya dengan Teguh tidak seintens itu. Mereka memang selalu bertingkah demikian dan seharusnya itu tak membuat Naya menaruh perasaan lebih. Namun…
ReadmoreChapter 3: Babe
Rumah Naya dulu selalu dijadikan tempat nongkrong ketika mereka berada di peralihan masa SD ke SMP. Rumah itu selalu ramai tiap siang hari hingga sore dan mereka akan berkumpul untuk mengaji malam di masjid. Dulu, Teguh sering menumpang tidur siang di rumahnya bersama…
ReadmoreChapter 4: Jahil
Naya tahu kalau Teguh itu orang yang tengil, namun ia tak menyangka bahwa Teguh akan semenyebalkan ini dalam memberinya panggilan. Sejauh yang ia ingat, Teguh memang tak tengil padanya. Ia tak pernah mendengar pemuda itu memanggilnya atau teman-teman cewek yang lain dengan panggilan…
ReadmoreChapter 5: Mencari
Ketika masih masa sekolah, entah itu SMA atau pun kuliah, mendekati orang yang disukai bukanlah hal yang sulit. Tidak peduli mereka berbeda kelas dengan kita, tak peduli jika sekolahnya berbeda, pada masa seperti itu kita memiliki banyak waktu luang untuk mencari tahu segala…
ReadmoreChapter 6: Cobaan
Ketika seseorang jatuh cinta, ia akan masuk dalam fase obsesi di mana segala hal yang dilakukan oleh sosok yang disukainya akan sangat menarik dan menimbulkan rasa bahagia. Fase itu akan menciptakan rasa adiktif pada diri mereka dan ingin terus mencari sang terkasih untuk…
ReadmoreChapter 7: Perkelahian
Berbeda dibandingkan sebelum-sebelumnya, Naya tidak membutuhkan waktu lama untuk lepas dari jeratan tingkah jahil Teguh malam lalu. Ia tahu, itu tak berarti apa pun. Itu hanya cara Teguh bercanda padanya, tidak ada maksud tertentu dibalik tingkah menyebalkannya. Menanamkan pemikiran seperti itu membuatnya lebih…
ReadmoreChapter 8: Pengen Nikah Gak?
Hubungan Rena dan Ardan terasa begitu dingin bahkan di dalam grup internal mereka. Tidak ada lagi olok-olokan di dalam sana antar keduanya, tidak ada lagi yang membagikan informasi tak berguna dan mengirim pesan beruntun di sana, tidak ada lagi yang tiba-tiba mengajak mereka…
ReadmoreChapter 9: Tentang Mati Rasa
Akhir-akhir ini, Naya sering sekali melihat Teguh. Beberapa hari yang lalu pemuda itu menegurnya ketika pulang kerja, tepat jam setengah enam sore saat Naya sedang membeli gorengan di depan gang rumahnya. Tiba-tiba saja, Teguh menawarkan diri untuk mengantarnya. Itu tak pernah terjadi sebelumnya.…
ReadmoreChapter 10: Nyindir
Satu hari penuh sebelum hari lebaran tiba, hujan deras mengguyur Desa Bunga. Sepanjang malam orang-orang disibukkan angkut-angkut barang ke bagian rumah yang lebih tinggi, lantai yang dipel kini telah terendam air, dan tidak ada acara takbiran keliling desa yang biasa dilakukan ramai-ramai. Isi…
ReadmoreChapter 11: Nasgor
Naya sejujurnya hanya menganggap segala tingkah Teguh sebagai angin lalu. Tidak peduli bahwa tiap mengingatnya ia tak mampu menahan senyum, tak peduli jika matanya mampu menangkap setiap detail tingkah Teguh di sekitarnya, tak peduli jika gadis itu terus menunggu kehadiran Teguh di mana…
ReadmoreChapter 12: Nasgor
Naya sejujurnya hanya menganggap segala tingkah Teguh sebagai angin lalu. Tidak peduli bahwa tiap mengingatnya ia tak mampu menahan senyum, tak peduli jika matanya mampu menangkap setiap detail tingkah Teguh di sekitarnya, tak peduli jika gadis itu terus menunggu kehadiran Teguh di mana…
ReadmoreChapter 13: Ex
TeguhAku kerja malam Naya membaca pesan itu dalam diam. Sudah nyaris sebulan berlalu sejak mereka makan nasi goreng malam itu, dan kini hubungan Naya dan Teguh terasa jauh lebih intens. Teman tidak seperti ini, pikir Naya. Mereka tidak sedekat ini sebelumnya. Teguh mudah secara…
ReadmoreChapter 14: Manis?
Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika Naya selesai sembahyang Magrib, gadis itu mengecek ponselnya, tidak menemukan satu pun pesan dari Teguh di sana. Padahal jika sesuai jadwal, pemuda itu pasti sudah pulang jam enam tadi, dan seharusnya sempat mengabarinya, namun Teguh…
ReadmoreChapter 15: Kita Ini Apa?
“Jadi nonton Hindia?” Naya tak bisa menahan senyumannya ketika membaca pesan itu. Padahal minggu lalu dia hanya iseng menunjukkan poster konser Hindia yang akan diadakan di kota mereka, ia tak berpikir bahwa Teguh mau nonton konser seperti itu. Namun tanpa Naya duga, pemuda…
ReadmoreChapter 16: Pacaran?
Apa ... aku salah denger ya? Naya berusaha tak memikirkannya bahkan setelah konser itu berakhir. Pertanyaan itu terdengar sangat jelas ketika Teguh menanyakan arti hubungan mereka di tengah-tengah lagu. Namun ia memutuskan untuk tak meresponsnya karena masih terbawa suasana lagu. Masa dia suka…
ReadmoreChapter 17: Rahayu
Naya tidur sepanjang hari usai kejadian malam itu. Perasaannya benar-benar tak enak ketika ia bangun. Ia masih tak habis pikir dengan betapa bodoh dirinya menolak orang yang sejujurnya dia suka hanya karena realitas yang mungkin bisa menghancurkan mereka. Dia suka sama kamu, ucapan…
ReadmoreChapter 18: Kepastian
Naya menghela napas, rasanya seperti baru kemarin mereka menangis karena kematian Rahayu. Namun kini sudah tiga hari berlalu. Gadis itu melirik ke arah ponselnya, pesan-pesan Teguh kembali hadir sejak kemarin meski tak pernah ia balas. Apa lagi yang dia cari? pikir gadis itu.…
ReadmoreChapter 19: Tentang Yudis
Satu minggu sejak pertemuan mereka di kafe itu. Naya baru menyadari bahwa tingkah Teguh sebelum dan setelah berpacaran dengannya tidaklah berbeda jauh. Mereka jarang bertukar kabar, namun Teguh selalu memberitahu dengan jelas jadwal kerjanya. Pemuda itu selalu memintanya muncul di depan pintu tiap…
ReadmoreChapter 20: Diskusi
Bisa dibilang, ini adalah kali pertama mereka kencan setelah status itu berganti. Naya sejujurnya agak takut dengan hal-hal seperti ini meski Teguh adalah temannya sejak kecil. Kebanyakan yang dia tahu, tentang kisah-kisah para temannya, atau bahkan dirinya sendiri ketika dulu kencan pertama kali,…
Readmore





