Table of Contents
- Chapter 1: Bab 1. Awal Mula Goresan Luka
- Chapter 2: Bab 2. Retaknya Dermaga
- Chapter 3: Bab 3. Labirin Dua Dasawarsa
- Chapter 4: Bab 4. Senyum di Balik Pagar
- Chapter 5: Bab 5. Kecurigaan Arunika
- Chapter 6: Bab 6. Luka di Kota Kenangan
- Chapter 7: Bab 7. Kehilangan
- Chapter 8: Bab 8. Runtuhnya Dua Dasawarsa
- Chapter 9: Bab 9. Memaksa Pulang
- Chapter 10: Bab 10. Kejanggalan
Lates Chapters
Pelayaran Menuju Langit Terbuka
Akhirnya Arunika sampai di penghujung perjalanan. Selasar itu kini sepi, tidak lagi terasa mencekam, justru begitu menenangkan. Samudra sudah menjauh pergi. Suasana telah kembali senyap, berganti dengan merdunya kicau burung. Pagi kembali datang, saatnya menyingsing harapan baru bersamaan dengan sinar mentari pagi. Arunika…
Bab 2. Karamnya Dua Dasawarsa di Selasar Maaf
Samudra membuka pagar dengan tangan gemetar. "Pa ... saya ... saya hanya ingin bicara sebentar dengan Arunika. Saya ingin minta maaf secara langsung." Papa Arunika tidak menunggu Samudra menyelesaikan kalimatnya. Dengan langkah lebar yang penuh tenaga, pria tua itu menghampiri Samudra. Begitu jarak…
Bab 19. Gema Masa Lalu
Dewa sedikit tersentak, lalu tawa kecil yang rendah meluncur dari bibirnya. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, menyadari bahwa pengamatannya mungkin terdengar sedikit terlalu detail bagi seseorang yang baru pertama kali bertemu secara langsung. "Ah, maaf kalau terdengar lancang, Mbak Arunika," ujar Dewa…
Bab 18. Acara Syukuran
Siapa dia?” tanya Arunika lirih, suaranya hampir hilang ditelan sunyi. Arunika membatalkan mengangkat telepon dari nomor tidak dikenalnya itu. “Sebaiknya tidak usah aku angkat. Tidak semua orang itu baik, kan?” gumam Arunika. “Yang jelas, itu bukan nomor Samudra.” Nomor Samudra tidak diblokir, dia…
Bab 17. Penyelesaian Tanpa Bertemu
Papa menarik napas panjang, menatap lekat manik mata putrinya yang masih digenangi sisa air mata. "Keadilan itu mungkin akan berjalan lambat, Nduk. Akan tetapi, pada saatnya nanti pasti akan datang. Apalagi jika kita berdiri di atas kebenaran yang mutlak. Samudra bukan hanya melawan…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Bab 1. Awal Mula Goresan Luka
”Selama dua dasawarsa, aku adalah sebuah kapal yang pongah, merasa aman bersandar di dermaga yang sama. Aku membiarkan sauhku tertanam begitu dalam di dasar lautmu. Mengira bahwa ini semua adalah bentuk tertinggi dari kesetiaan. Selama ini, aku tidak pernah menyadari telah menjaga karat…
ReadmoreChapter 2: Bab 2. Retaknya Dermaga
“What?” ”Kenapa aku ke sini, katamu?” Arunika tertawa getir, air mata mulai menggenang. “Kamu memblokir semua akses komunikasi denganku, Sam. Telepon, WhatsApp, Instagram, telegram, bahkan tik tok juga. Kamu menghilang seolah aku ini hantu. Apa menurutmu itu cara yang dewasa untuk mengakhiri sebuah…
ReadmoreChapter 3: Bab 3. Labirin Dua Dasawarsa
“Dermaga itu telah karam, dan aku belajar berenang di laut yang kau ciptakan dari air mataku sendiri.” Arunika Kinasih pertama kali mengenal pria yang Samudra Narendra, ketika dia masih berusia delapan tahun. Sementara itu Samudra sudah berusia 13 tahun kala itu. Samudra adalah…
ReadmoreChapter 4: Bab 4. Senyum di Balik Pagar
”Arunika …?” Suara Samudra terdengar parau, nyaris tidak terdengar, padahal perumahan itu sangat sepi. Meskipun weekend, kebanyakan penghuni kompleks perumahan di dalam rumah, dengan benteng tinggi mengelilingi rumah mereka. “Kenapa, Kamu kaget?” tanya Arunika Gadis muda di samping Samudra menoleh ke arah Arunika,…
ReadmoreChapter 5: Bab 5. Kecurigaan Arunika
“Iya, kadang, kalau aku bisa.” “Apa jangan-jangan datangnya, Kamu jemput juga?” tanya Arunika curiga.” “Hmmm, mulai deh.” “Jawab, Sam.” Samudra menghela nafas berat. “Tidak, Run. Dia kalau datang ke sini naik taksi, kok.” “Kenapa sih, jadi curigaan gini?” tanya Samudra dengan nada tidak…
ReadmoreChapter 6: Bab 6. Luka di Kota Kenangan
”Aku hanya bertanya, Sam. Kenapa kamu jadi defensif begitu?” ”Karena kamu terus-terusan mengungkit hal yang sama! Seolah-olah aku ini penjahat,” suara Samudra mulai meninggi, menarik perhatian beberapa pengunjung restoran. “Aku ini kasihan sama dia, Run. Dia itu dari keluarga nggak punya. Ibunya itu…
ReadmoreChapter 7: Bab 7. Kehilangan
Tanpa menunggu jawaban Arunika, Samudra melangkah keluar dari restoran, meninggalkan aroma parfumnya yang kini terasa menyesakkan bagi Arunika. Samudra berjalan cepat menuju area parkir, tanpa menoleh pada Arunika yang masih terpaku di kursinya. Pria itu bahkan tidak peduli apakah Arunika baik-baik saja di…
ReadmoreChapter 8: Bab 8. Runtuhnya Dua Dasawarsa
Kalimat itu menjadi pintu masuk yang sempurna. Samudra tahu betul bahwa menyebut nama Gista adalah cara tercepat untuk melunakkan hati Arunika. Mereka pun mulai bertukar kabar lagi, meski ritmenya tak lagi sama. Komunikasi mereka kini terasa seperti berjalan di atas kulit telur, yang…
ReadmoreChapter 9: Bab 9. Memaksa Pulang
Bu Sari membawa sebuah nampan berisi nasi kuning dan lauk-pauk. Bu Sari sedang mengadakan syukuran atas kelahiran cucu pertamanya. “Arunika?” Tidak ada jawaban. Namun, Bu Sari merasa curiga karena pintu depan tidak terkunci rapat, sedikit terbuka seolah penghuninya lupa menekan selotnya. Dengan perasaan…
ReadmoreChapter 10: Bab 10. Kejanggalan
Suara itu adalah suara yang sudah sangat lama tidak Arunika dengar secara langsung. Arunika menoleh perlahan. Di ambang pintu, berdiri dua sosok yang tampak sangat lelah dengan tas pundak yang masih mereka sandang. Mamanya Arunika langsung lari memeluk putrinya, tangisnya pecah seketika saat…
ReadmoreChapter 11: Bab 11. Terbongkar
Arunika membeku, jemarinya meremas pinggiran selimut lagi. Pertanyaan itu lebih tajam dari jarum infus yang menusuk kulitnya. Gadis itu belum bercerita kalau dia sudah resign. "Harusnya kamu sedang di kantor, kan, kalau tidak sakit? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama, kan?" desak…
ReadmoreChapter 12: Bab 12. Memungut Serpihan Harga Diri
Arunika menggeleng perlahan, sebuah gerakan kecil yang terasa begitu berat seolah ada beban ribuan ton yang menahan lehernya. Matanya yang cekung menatap nanar ke arah jendela kamar, di mana di luar sana, bayang - bayang atap rumah Samudra masih terlihat samar di antara…
ReadmoreChapter 13: Bab 13. Menata Hidup
Arunika menahan napas, tangannya mencengkeram kusen jendela hingga buku - buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi sisa dari trauma yang belum sepenuhnya tuntas. Di seberang jalan, gerbang rumah Samudra terbuka lebar. Rumah yang selama dua puluh tahun menjadi saksi bisu tawa…
ReadmoreChapter 14: Bab 14. Memulai Karier Baru
Arunika berhenti sejenak. Gadis itu melihat tumpukan kertas di pinggir jalan. Di tumpukan paling atas, ada sebuah album foto usang yang sampulnya sudah robek. Itu album foto masa SMA Samudra. Di sana juga ada fotonya pastinya. Foto di mana Arunika yang masih mengenakan…
ReadmoreChapter 15: Bab 15. Kepulangan Papa
Enam bulan berlalu secepat kedipan mata jika diisi dengan kegiatan yang produktif. Papanya Arunika akhirnya juga sudah waktunya pulang. Rumah yang tadinya terasa seperti penjara, kini penuh dengan kesibukan rencana pensiun. Arunika becermin. Tubuhnya sudah kembali berisi. Sorot matanya tajam dan penuh kesadaran.…
ReadmoreChapter 16: Bab 16. Bucin Membawa Petaka
Dunia seolah berhenti berputar di kamar yang baru saja terasa seperti surga itu. Arunika menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong, namun jantungnya berdegup sekeras tabuhan genderang perang. Arunika membaca baris demi baris dokumen itu dengan mata membelalak. Tubuhnya gemetar hebat. Dokumen itu menyatakan…
ReadmoreChapter 17: Bab 17. Penyelesaian Tanpa Bertemu
Papa menarik napas panjang, menatap lekat manik mata putrinya yang masih digenangi sisa air mata. "Keadilan itu mungkin akan berjalan lambat, Nduk. Akan tetapi, pada saatnya nanti pasti akan datang. Apalagi jika kita berdiri di atas kebenaran yang mutlak. Samudra bukan hanya melawan…
ReadmoreChapter 18: Bab 18. Acara Syukuran
Siapa dia?” tanya Arunika lirih, suaranya hampir hilang ditelan sunyi. Arunika membatalkan mengangkat telepon dari nomor tidak dikenalnya itu. “Sebaiknya tidak usah aku angkat. Tidak semua orang itu baik, kan?” gumam Arunika. “Yang jelas, itu bukan nomor Samudra.” Nomor Samudra tidak diblokir, dia…
ReadmoreChapter 19: Bab 19. Gema Masa Lalu
Dewa sedikit tersentak, lalu tawa kecil yang rendah meluncur dari bibirnya. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan canggung, menyadari bahwa pengamatannya mungkin terdengar sedikit terlalu detail bagi seseorang yang baru pertama kali bertemu secara langsung. "Ah, maaf kalau terdengar lancang, Mbak Arunika," ujar Dewa…
ReadmoreChapter 20: Bab 2. Karamnya Dua Dasawarsa di Selasar Maaf
Samudra membuka pagar dengan tangan gemetar. "Pa ... saya ... saya hanya ingin bicara sebentar dengan Arunika. Saya ingin minta maaf secara langsung." Papa Arunika tidak menunggu Samudra menyelesaikan kalimatnya. Dengan langkah lebar yang penuh tenaga, pria tua itu menghampiri Samudra. Begitu jarak…
Readmore





