Table of Contents
- Chapter 1: Gang Sempit
- Chapter 2: Pengobat Rindu
- Chapter 3: Jarak Yang Menjelma Angka
- Chapter 4: Luka Yang Tak Terdata
- Chapter 5: Tembok Di Balik Pintu Kayu
- Chapter 6: Kalkulasi
- Chapter 7: Kasih Sayang Dianggap Keliru
- Chapter 8: Jurnal dan Ruang Hampa
- Chapter 9: Rekonsiliasi Yang Terhapus
- Chapter 10: Membangun di Atas Puing Kepercayaan
Lates Chapters
Prolog
Sinopsis Novelet: "Pixel Rindu dan Prosa yang Pulang" Tema Utama: Rekonsiliasi, Pengampunan, dan Integritas Batin. Alur Cerita Cerita ini mengikuti perjalanan Randi, seorang ahli administrasi dan akuntansi yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya di Makassar untuk bekerja sebagai buruh logistik di Jawa Tengah demi menyambung…
Jurnal Penutup Yang Sempurna
Aku menatap barisan buku di rak perpustakaan kampus, jemariku menyentuh punggung buku puisi Chairil Anwar dan roman-roman klasik Pramoedya Ananta Toer. Sebagai mahasiswi Fakultas Sastra Indonesia semester tiga, aku belajar bahwa setiap narasi besar selalu membutuhkan konflik untuk mencapai resolusi. Begitu juga dengan…
Amortisasi Luka
Di dunia akuntansi yang ditekuni Ayah, ada istilah amortisasi sebuah proses penghapusan nilai aset tidak berwujud secara bertahap selama masa manfaatnya. Setelah malam menyakitkan di pinggir jalan raya Makassar itu, aku melihat Ayah mulai menerapkan prinsip itu pada hatinya sendiri. Ia mulai melakukan…
Luka Yang Permanen
Kedatangan Kak Gladis memang laksana oase di tengah gurun panjang pengabaian yang dialami Ayah. Untuk beberapa saat, rumah kami dipenuhi dengan hangatnya tawa dan aroma masakan yang sudah lama tak tercium. Namun, bagi seorang pria yang hidupnya diabdikan pada ketelitian angka seperti Ayah,…
Jurnal Penyesuaian Hati
Rumah di gang sempit itu biasanya hanya dihuni oleh suara deru kipas angin tua dan denting sendok yang beradu dengan piring dalam keheningan yang canggung. Namun, sejak kedatangan Kak Gladys, atmosfer di dalam rumah kami seolah mengalami perombakan total. Pandemi Covid-19 yang mencekam…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Gang Sempit
”Dalam linguistik, kita mengenal istilah ‘Zero Morpheme’, sebuah keberadaan yang tidak tampak bentuknya, namun secara fungsional ia mengubah segalanya. Seperti itulah Ayah bagi kami selama lima tahun, sebuah kekosongan yang memberi makna pada setiap luka yang kami pikul.” Malam ini, di sela-sela tumpukan…
ReadmoreChapter 2: Pengobat Rindu
“Dalam kajian semantik, kata ‘Pulang’ memiliki makna dasar kembali ke tempat asal. Namun bagi seorang anak yang ditinggalkan, ‘Pulang’ adalah sebuah metafora tentang keutuhan yang mustahil. Ia adalah kata kerja yang paling sering kami rapalkan dalam doa, namun paling jarang dikabulkan oleh semesta.”…
ReadmoreChapter 3: Jarak Yang Menjelma Angka
“Dalam sintaksis kehidupan, jabatan hanyalah sebuah kata keterangan tempat. Ia bisa mengubah di mana seseorang duduk, tapi jarang sekali mengubah ke mana seseorang akan pulang. Ayah mungkin telah berpindah dari lantai gudang yang dingin ke balik meja administrasi yang rapi, namun bagiku, ia…
ReadmoreChapter 4: Luka Yang Tak Terdata
“Dalam ilmu morfologi, kita mempelajari bagaimana sebuah kata dasar berubah makna setelah mendapatkan afiksasi. Lima tahun adalah prefiks yang kejam. Ia mengubah kata ‘Ayah’ dari sebuah subjek yang melindungi menjadi sebuah kata ganti jauh yang abstrak. Di tahun kelima ini, kami bukan lagi…
ReadmoreChapter 5: Tembok Di Balik Pintu Kayu
“Dalam kajian pragmatik, sebuah tuturan tidak hanya dinilai dari maknanya, melainkan dari maksud dan dampaknya. Kata ‘Maaf’ yang diucapkan setelah lima tahun bukan lagi berfungsi sebagai permohonan ampun, melainkan sekadar partikel yang menggantung di udara tak mampu menembus dinding pertahanan yang telah dibangun…
ReadmoreChapter 6: Kalkulasi
Keputusan Ayah untuk kembali ke SMA Bakti Luhur sekolah swasta tempat ia mengabdi sebagai guru Sosiologi sebelum eksodusnya ke Jawa Tengah, bukanlah sebuah nostalgia romantis. Itu adalah upaya kalkulatif untuk menebus waktu. Ayah merasa, dengan kembali ke habitat asalnya, ia bisa memulihkan martabatnya…
ReadmoreChapter 7: Kasih Sayang Dianggap Keliru
Kemenangan Ayah atas Pak Heru di meja audit sekolah membawa dampak instan: Ayah resmi dilantik sebagai Kepala Tata Usaha (KTU) menggantikan posisi musuhnya yang kini “dibuang” ke bagian kearsipan di gedung belakang yang lembab. Jabatan itu memberi Ayah akses penuh ke seluruh data…
ReadmoreChapter 8: Jurnal dan Ruang Hampa
Malam itu, hujan di luar tidak lagi terdengar seperti rintik air, melainkan seperti ribuan jarum yang menusuk atap seng rumah Nenek. Di dalam rumah, keheningan terasa jauh lebih bising daripada guntur. Ayah duduk di meja kayu ruang tamu, bukan menghadap tumpukan berkas sekolah,…
ReadmoreChapter 9: Rekonsiliasi Yang Terhapus
Lampu neon di gang sempit itu berkedip-kedip seolah sedang sekarat, memantulkan bayangan kami yang memanjang di atas aspal yang retak. Bau selokan yang menggenang bercampur dengan aroma parfum mahal yang mulai tercium saat kami mendekati rumah Nenek dari pihak Ibu, rumah yang jaraknya…
ReadmoreChapter 10: Membangun di Atas Puing Kepercayaan
Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang menghancurkan di gang buntu itu. Kini, aku bukan lagi bocah SD yang hanya bisa mengintip dari balik tirai. Aku sudah mengenakan seragam putih biru, duduk di bangku kelas 7 SMP Bakti Bangsa. Sekolah ini adalah sebuah…
ReadmoreChapter 11: Nahkoda Di Tengah Badai Tenang
Langit di atas SMP Bakti Bangsa pagi itu tampak lebih cerah, seolah-olah semesta memberikan restunya pada lembaran baru yang sedang ditulis oleh Ayah. Di atas meja kerjanya yang masih menggunakan kipas angin berderit itu, tidak ada lagi tumpukan map kuning yang berserakan tak…
ReadmoreChapter 12: Rindu Yang Tak Terobati
Di atas meja kerja yang kini tertata rapi, sebuah papan nama kayu bertuliskan Randi, S.Sos, PLT Kepala Sekolah berdiri tegak. Ruangan itu kini jauh lebih sejuk; bukan karena pendingin udara yang mewah, melainkan karena ventilasi yang diperbaiki dan suasana kerja yang penuh harmoni.…
ReadmoreChapter 13: Defisit Kasih Sayang
Rumah Sakit Bakti Husada biasanya menjadi tempat yang Ayah datangi untuk mengurus asuransi kesehatan guru-gurunya. Namun malam ini, Ayah terbaring di sana bukan sebagai administrator, melainkan sebagai pasien yang kalah oleh raganya sendiri. Tubuh yang selama bertahun-tahun ia paksa bekerja layaknya mesin penghitung…
ReadmoreChapter 14: Spionase Rindu
Setelah keluar dari rumah sakit, Ayah tidak lagi sama. Tubuhnya mungkin sudah tegak kembali saat berjalan di koridor sekolah, namun sorot matanya seringkali tertinggal di suatu tempat yang jauh. Secara administratif, Ayah telah mencoba melakukan apa yang ia sebut sebagai Write-Off, sebuah penghapusan…
ReadmoreChapter 15: Panggilan di Tengah Pandemi
Tahun 2020 datang seperti sebuah laporan keuangan yang mendadak merah total; kacau, tak terduga, dan penuh ketakutan. Pandemi Covid-19 telah mengubah SMP Bakti Bangsa menjadi koridor-koridor hampa yang hanya menyisakan bau disinfektan. Ayah, yang kini masih menjabat sebagai PLT Kepala Sekolah, harus berjibaku…
ReadmoreChapter 16: Jurnal Penyesuaian Hati
Rumah di gang sempit itu biasanya hanya dihuni oleh suara deru kipas angin tua dan denting sendok yang beradu dengan piring dalam keheningan yang canggung. Namun, sejak kedatangan Kak Gladys, atmosfer di dalam rumah kami seolah mengalami perombakan total. Pandemi Covid-19 yang mencekam…
ReadmoreChapter 17: Luka Yang Permanen
Kedatangan Kak Gladis memang laksana oase di tengah gurun panjang pengabaian yang dialami Ayah. Untuk beberapa saat, rumah kami dipenuhi dengan hangatnya tawa dan aroma masakan yang sudah lama tak tercium. Namun, bagi seorang pria yang hidupnya diabdikan pada ketelitian angka seperti Ayah,…
ReadmoreChapter 18: Amortisasi Luka
Di dunia akuntansi yang ditekuni Ayah, ada istilah amortisasi sebuah proses penghapusan nilai aset tidak berwujud secara bertahap selama masa manfaatnya. Setelah malam menyakitkan di pinggir jalan raya Makassar itu, aku melihat Ayah mulai menerapkan prinsip itu pada hatinya sendiri. Ia mulai melakukan…
ReadmoreChapter 19: Jurnal Penutup Yang Sempurna
Aku menatap barisan buku di rak perpustakaan kampus, jemariku menyentuh punggung buku puisi Chairil Anwar dan roman-roman klasik Pramoedya Ananta Toer. Sebagai mahasiswi Fakultas Sastra Indonesia semester tiga, aku belajar bahwa setiap narasi besar selalu membutuhkan konflik untuk mencapai resolusi. Begitu juga dengan…
ReadmoreChapter 20: Prolog
Sinopsis Novelet: "Pixel Rindu dan Prosa yang Pulang" Tema Utama: Rekonsiliasi, Pengampunan, dan Integritas Batin. Alur Cerita Cerita ini mengikuti perjalanan Randi, seorang ahli administrasi dan akuntansi yang terpaksa meninggalkan anak-anaknya di Makassar untuk bekerja sebagai buruh logistik di Jawa Tengah demi menyambung…
Readmore





