Table of Contents
- Chapter 1: Galeri Cinta Masa Lalu
- Chapter 2: Cincin Diakhir Tawa
- Chapter 3: Restu Yang Mati
- Chapter 4: Kaki Yang Berkhianat
- Chapter 5: Di Balik Tanah yang Bersuara
- Chapter 6: Gaung Yang Kembali
- Chapter 7: Lingkaran Yang Terlepas
- Chapter 8: Jarak Diantara Kita
- Chapter 9: Kesetiaan Pada Jarak
- Chapter 10: Menulis Untuk Hidup
Lates Chapters
Prolog
BLURB (Sampul Belakang) Bagi Rangga, mencintai Aruna adalah sebuah pengabdian tanpa batas. Selama lima tahun, dunianya hanya berputar di antara dinding - dinding rumah sakit, aroma antiseptik, dan perjuangan sunyi melawan kanker rahim yang perlahan memadamkan cahaya di mata tunangannya. Hingga akhirnya, maut…
Hidup Setelah Mati Dalam Kenangan
Pantai Losari sore itu tidak berbeda dengan sore-sore biasanya riuh oleh klakson kendaraan yang terjebak macet di Jalan Penghibur, wangi pisang epe yang dibakar diatas bara, dan angin laut yang membawa aroma garam serta kebebasan. Namun bagi Rangga, tempat ini adalah sebuah altar…
Di Ambang Fajar
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Makassar, menyisipkan garis-garis cahaya keperakan di sela-sela tirai ruang tamu yang masih menyisakan aroma kecemasan semalam. Di dalam ruangan itu, waktu seolah berjalan lambat. Rangga dan Kirana duduk berdampingan di sofa panjang yang selama setahun ini menjadi…
Terminal Terakhir
Malam di Makassar setelah badai emosi di Nipah Mall terasa lebih pekat dari biasanya. Rangga berdiri di anjungan Pantai Losari, membiarkan angin laut yang kasar menampar wajahnya. Di tangannya, buku sketsa yang bertuliskan satu kata “MAAF” itu terasa seberat bongkahan batu. Ia menatap…
Surat Terbuka Di Balik Jendela Dunia
Dunia digital yang dulu digunakan Rangga sebagai kotak hitam untuk menyimpan memori Aruna, kini berubah menjadi medan pertempuran terakhir untuk harga dirinya. Setelah sepuluh hari rumah itu berubah menjadi makam bagi harapan, Rangga menyadari bahwa Kirana tidak akan pulang hanya karena ia menunggu…
Comments
Satu pemikiran pada “Sisa Aroma Hujan”
Tinggalkan komentar
20 Chapters
Chapter 1: Galeri Cinta Masa Lalu
Kamar itu hanya seluas empat kali empat meter, namun bagi Rangga, ruangan tersebut telah menjadi seluruh semestanya selama lima tahun terakhir. Di luar sana, Kota Makassar sedang sibuk dengan deru kendaraan dan hiruk-pikuk manusia yang mengejar mimpi. Namun di dalam sini, waktu seolah…
ReadmoreChapter 2: Cincin Diakhir Tawa
Pagi itu, jendela kamar Rangga masih tertutup rapat, seolah ia ingin mengunci sinar matahari agar tidak lancang masuk dan mengganggu kegelapannya. Tirai tebal berwarna abu-abu menghalangi setiap celah cahaya yang mencoba menyelinap masuk. Namun, ketukan keras di pintu tidak bisa diabaikan. Raka, sahabatnya…
ReadmoreChapter 3: Restu Yang Mati
Di sudut kamar yang pengap itu, Rangga menarik laci meja belajarnya. Di bawah tumpukan kertas lirik, ia mengambil sebuah foto fisik yang tepiannya sudah mulai menguning. Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi di Pantai Losari. Dalam foto itu, Aruna tertawa lepas, namun matanya selalu…
ReadmoreChapter 4: Kaki Yang Berkhianat
Dunia di luar kamar Rangga ternyata jauh lebih bising dari yang ia ingat. Setelah berminggu-minggu mengunci diri dalam gua kenangan, suara klakson kendaraan di jalanan Kota Makassar terasa seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinganya. Raka benar, ia harus keluar. Ia harus membuktikan…
ReadmoreChapter 5: Di Balik Tanah yang Bersuara
Kompleks makam tua dengan hamparan batu-batu besar menjadi hiasan makam-makan yang disana. Aroma bunga kamboja yang jatuh dan bau tanah yang lembab menyambutnya seperti pelukan dingin dari masa lalu. Di sini, di hamparan nisan yang berjajar rapi di bawah temaram lampu merkuri, kebisingan…
ReadmoreChapter 6: Gaung Yang Kembali
Enam bulan telah berlalu sejak malam di pemakaman itu. Makassar masih sama bising, sesak, dan terburu-buru. Namun, bagi Rangga, warna kota ini perlahan mulai kembali. Ia tidak lagi bangun dengan perasaan seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya. Ia mulai belajar untuk bernapas…
ReadmoreChapter 7: Lingkaran Yang Terlepas
Pagi itu, udara Kota Makassar terasa sedikit lebih ringan. Rangga berdiri di depan rumahnya, menatap lurus ke arah cakrawala di mana matahari mulai merayap naik, mengusir sisa-sisa kabut polusi dan kegelapan malam. Di jari manis tangan kirinya, logam perak itu masih melingkar. Namun,…
ReadmoreChapter 8: Jarak Diantara Kita
Rangga mengira bahwa setelah cincin itu dilepaskan, jalan di depannya akan menjadi sebuah karpet merah menuju kebahagiaan baru. Ia mengira bahwa merelakan Aruna adalah satu-satunya palang pintu yang menahan nasib baiknya. Namun, hidup tidak pernah sesederhana syair yang ia gubah di atas kertas.…
ReadmoreChapter 9: Kesetiaan Pada Jarak
Jarak ternyata bukan sekadar angka di atas peta atau spasi di antara dua kursi. Bagi Rangga, jarak telah bertransformasi menjadi sebuah ruang ibadah. Sebuah altar sunyi di mana ia mempersembahkan bentuk cinta yang paling murni. Cinta yang tidak menuntut untuk disentuh, tidak memaksa…
ReadmoreChapter 10: Menulis Untuk Hidup
Dunia digital ternyata menawarkan sebuah bentuk katarsis yang tidak pernah Rangga bayangkan sebelumnya. Di sebuah kamar kos yang sempit di sudut kota Makassar, dengan hanya ditemani suara putaran kipas angin tua yang berderit, Rangga mendaftarkan sebuah akun di platform novel online bernama LiteraSoul.…
ReadmoreChapter 11: Diantara Titik dan Koma
Angin malam Makassar yang membawa aroma garam dari pesisir Pantai Losari berhembus pelan, memainkan ujung jilbab Kirana. Di bangku taman yang catnya mulai mengelupas itu, jarak dua meter yang selama berbulan-bulan menjadi "tembok suci" antara mereka, kini telah runtuh. Rangga duduk cukup dekat…
ReadmoreChapter 12: Membasuh Luka Dengan Cahaya
Waktu bukan lagi sekadar angka yang berdetak di atas jam dinding bagi Rangga, waktu telah berubah menjadi kanvas yang perlahan-lahan ia warnai dengan keberanian baru. Sejak malam di taman itu, Makassar tidak lagi terasa seperti labirin yang menyesakkan. Kota ini, dengan aroma lautnya…
ReadmoreChapter 13: Reverberasi
Satu tahun telah berlalu sejak nisan Aruna dibasuh dengan doa dan penerimaan. Satu tahun pula sejak Rangga memutuskan untuk berhenti menjadi tawanan kenangan dan mulai menjadi arsitek masa depan bersama Kirana. Hidup, bagi Rangga sekarang, adalah rangkaian rutinitas yang menenangkan: menulis naskah buku…
ReadmoreChapter 14: Obsesi di Nipah
Pikiran manusia bagaikan labirin yang paling berbahaya, dan Rangga baru saja mengunci dirinya sendiri di dalam lorong yang paling gelap. Pesan yang ia kirimkan kepada Kirana malam itu pesan tentang kejujuran dan janji untuk setia pada kenyataan, ternyata hanyalah sebuah barikade rapuh yang…
ReadmoreChapter 15: Menggali Kubur Diatas pasir
Nipah Mall bukan lagi sekadar pusat perbelanjaan dengan arsitektur terbuka yang megah di mata Rangga. Tempat itu telah bermetamorfosis menjadi sebuah katedral sunyi tempat ia memuja masa lalu. Setiap sudut koridor yang dulunya hanya susunan semen, kaca, dan baja, kini terasa seperti lorong…
ReadmoreChapter 16: Rumah Tanpa Jendela
Kesunyian adalah sejenis suara yang paling memekakkan telinga jika ia datang dari tempat yang seharusnya penuh dengan tawa. Ketika Rangga akhirnya melangkah melewati ambang pintu rumah pada pukul satu dini hari, ia tidak disambut oleh aroma kopi sisa atau derap langkah kecil yang…
ReadmoreChapter 17: Surat Terbuka Di Balik Jendela Dunia
Dunia digital yang dulu digunakan Rangga sebagai kotak hitam untuk menyimpan memori Aruna, kini berubah menjadi medan pertempuran terakhir untuk harga dirinya. Setelah sepuluh hari rumah itu berubah menjadi makam bagi harapan, Rangga menyadari bahwa Kirana tidak akan pulang hanya karena ia menunggu…
ReadmoreChapter 18: Terminal Terakhir
Malam di Makassar setelah badai emosi di Nipah Mall terasa lebih pekat dari biasanya. Rangga berdiri di anjungan Pantai Losari, membiarkan angin laut yang kasar menampar wajahnya. Di tangannya, buku sketsa yang bertuliskan satu kata “MAAF” itu terasa seberat bongkahan batu. Ia menatap…
ReadmoreChapter 19: Di Ambang Fajar
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur Makassar, menyisipkan garis-garis cahaya keperakan di sela-sela tirai ruang tamu yang masih menyisakan aroma kecemasan semalam. Di dalam ruangan itu, waktu seolah berjalan lambat. Rangga dan Kirana duduk berdampingan di sofa panjang yang selama setahun ini menjadi…
ReadmoreChapter 20: Hidup Setelah Mati Dalam Kenangan
Pantai Losari sore itu tidak berbeda dengan sore-sore biasanya riuh oleh klakson kendaraan yang terjebak macet di Jalan Penghibur, wangi pisang epe yang dibakar diatas bara, dan angin laut yang membawa aroma garam serta kebebasan. Namun bagi Rangga, tempat ini adalah sebuah altar…
Readmore






Noivelnya bagus. yang membuat saya suka dari kisah ini. Jarang seorang laki-laki mencintai kekasihnya begitu dalam. Apalagi sampai rela mengeluarkan isi kantongnya untuk pengobatan pacarnya. Apa masih ada laki-laki seperti ini dizaman sekarang