Table of Contents
- Chapter 1: Guncangan Ekonomi x Uang Dua Ribu pun Aku tak Punya
- Chapter 2: Ternyata Bapak Mertuaku Genit x Nasib yang Sama Apakah Karena Keturunan
- Chapter 3: Berbagi Beras dari Mertua dengan Ibuku x Kenapa Hanya Mengandalkan Uang Transferan dari Ibu, Mas
- Chapter 4: Tua-tua Keladi x Suamiku Tidak Percaya Aku Dilecehkan Bapaknya
- Chapter 5: Aku tak Sanggup Lagi x Dijadikan Kambing Hitam
- Chapter 6: Pulang ke Rumah Ibu
- Chapter 7: Bercerita Keluh Kesah
- Chapter 8: Pergi Tanpa Izin dari Suami adalah Dosa
- Chapter 9: Ku Jemput Dirimu
- Chapter 10: Disidang Ibu Mertua
Lates Chapters
Ending
Dua bulan kemudian. Sudah 2 bulan semenjak kepergian Farida, keadaan Tasya semakin memburuk. Tubuhnya semakin kurus dan pucat bahkan Tasya sering kesulitan untuk menekan makanan membuatnya semakin tamoak kurus. "Ma, bagaimana ini. Keadaan Tasya semakin memburuk. Kita harus bagaimana sekarang?" tanya…
Sampai Disini
Sudah dia hati Farida dan Feri mencari Tasya dan Adam namun mereka masih belum menemukannya. "Mas, bagaimana ini? Besok aku sudah harus berangkat tapi sampai sekarang kita masih belum menemukan Tasya. Aku takut benar-benar tidak bisa bertemu dengan Tasya sebelum aku berangkat,"…
Pulang
Tok... Tok... Tok. Suara gedoran pintu yang cukup keras dari arah luar membuat Nadia yang sudah tidur harus tebangun. Dengan sedikit malas Nadia berjalan keluar dari kamar dan menghampiri pintu. "Siapa sih malam-malam begini bertamu. Nggak punya sopan santun banget,"…
Talak Tiga
Tiba-tiba saja Gladis bersimpuh di kaki Adam membuatnya semakin bingung. "Maafkan aku, Mas. Aku minta maaf," ucap Gladis sembari menangis sesenggukan. Adam yang merasa belum puas dengan jawaban dari Gladis, segera meminta penjelasan yang lebih akurat. "Hentikan nak Adam! Tespek…
Ketahuan
Setelah makan malam, Adam dan Gladis masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggiran ranjang. Adam tampak ragu-ragu untuk mulai membahas apa yang dikatakan Nadia tadi di telpon. "Emmm Gladis, Mas mau bicara sesuatu, " ucap Adam ragu-ragu. Gladis menatap ke…
Comments
20 Chapters
Chapter 1: Guncangan Ekonomi x Uang Dua Ribu pun Aku tak Punya
Farida berjalan ke dapur menghampiri wadah beras yang terlihat transparan. Hatinya merasa kacau saat menakar beras yang hanya tinggal setengah gelas. Sayur dan lauk-pauk sudah habis sejak kemarin bahkan piring-piring kotor pun sudah menumpuk karena sabun pencuci piringnya sudah habis. "Ya Allah sudah…
ReadmoreChapter 2: Ternyata Bapak Mertuaku Genit x Nasib yang Sama Apakah Karena Keturunan
"Tapi aku sudah berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik, Bu," kata Farida. "Menjadi ibu rumah tangga yang baik? Baik apanya." Nadia menarik ujung bibirnya dengan begitu sengit. "Ibu rumah tangga yang baik itu nggak pernah ngerepotin," lanjut Nadia. "Maksud ibu apa? Aku…
ReadmoreChapter 3: Berbagi Beras dari Mertua dengan Ibuku x Kenapa Hanya Mengandalkan Uang Transferan dari Ibu, Mas
Hati Farida sangat teriris melihat butiran kristal dari orang yang sangat disayanginya, jatuh begitu deras sampai membuatnya sesenggukan. Bahu kurus orang tuanya berguncang hebat menahan isak tangis yang semakin terdengar menggebu. "Sudah, ibu jangan menangis lagi, ya." Farida melepaskan pelukannya. Sebelah tangannya mencoba…
ReadmoreChapter 4: Tua-tua Keladi x Suamiku Tidak Percaya Aku Dilecehkan Bapaknya
Hardi semakin berani dengan menggerakkan telapak tangannya dan menyentuh wajah Farida lalu mengusapnya dengan lembut. Tak tinggal diam. Farida pun menampar keras pipi bapak mertuanya. Plak! Suara tamparan itu terdengar cukup keras hingga membuat Hardi tidak bergeming untuk sesaat. "Beraninya kamu menamparku," ucap…
ReadmoreChapter 5: Aku tak Sanggup Lagi x Dijadikan Kambing Hitam
Lelah rasanya hati Farida menghadapi semua ujian yang menimpanya selama ini. Dadanya bahkan terasa sangat sesak meski hanya untuk bernapas. Farida menghempaskan cengkraman tangan Adam dan ia pun berlari menuju kamarnya. Di sanalah tempat yang menjadi saksi bisu selama ini dimana Farida selalu…
ReadmoreChapter 6: Pulang ke Rumah Ibu
Semua pakaian yang ada di dalam lemarinya kini sudah berpindah ke dalam sebuah tas lusuh berwarna pink. Farida hanya bisa menatap tas usang itu dengan mata berkaca-kaca. Seandainya saja suami yang aku cintai bisa menjadi sandaran hatiku setiap aku merasakan kesepian, gundah…
ReadmoreChapter 7: Bercerita Keluh Kesah
Farida duduk berhadapan dengan Nani di sebuah kursi kayu. Bajunya masih basah karena belum diganti dan hanya ditutupi dengan selembar handuk yang warnanya sudah sedikit pudar. "Apa! Jadi kamu hampir dilecehkan oleh bapak mertua kamu tapi suami kamu tidak percaya!" Nani begitu…
ReadmoreChapter 8: Pergi Tanpa Izin dari Suami adalah Dosa
Adam melangkahkan kakinya meniti jalanan yang sedikit becek dan licin karena hujan yang mengguyur begitu deras. Sementara hari yang sudah petang membuatnya harus lebih berhati-hati dalam memilih target pijakan kakinya. "Masa iya aku harus sampai bercerai dengan Farida," batin Adam yang…
ReadmoreChapter 9: Ku Jemput Dirimu
Adam yang masih lunglai di atas lantai kini mulai menyeka air matanya yang sudah menerjang pertahanan kelakianya. "Apa jangan-jangan Farida ada di rumah ibu, Ya," ucap Adam seketika semringah seperti menemukan jalan keluar dari masalahnya. "Iya benar! Farida pasti ada di…
ReadmoreChapter 10: Disidang Ibu Mertua
Adam duduk tertunduk di depan ibu mertuanya yang masih menatapnya dalam. Sementara Farida ikut juga duduk di sebelah Adam berdampingan dengannya. "Nak Adam, apa kamu ingat janji yang kamu ucapkan di depan mendiang almarhum bapak Farida. Kamu sudah berjanji untuk membahagiakan dia…
ReadmoreChapter 11: Pulang
Hampir tengah malam akhirnya Farida memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya bersama dengan Adam. Tak lupa ia membangunkan Tasya yang sudah tidur nyenyak meski hanya di kasur tipis yang warnanya pun sudah kusam. "Bu, aku minta maaf sekali, ya, karena sudah…
ReadmoreChapter 12: Tidak Diakui Anak Lagi
Farida memungut beberapa helai baju yang berserakan karena ulah Adam. Handuk basah bekasnya pun tak digantung dan hanya tergeletak di atas ranjang. "Ya ampun kamu ini, Mas. Kebiasaan sekali menaruh handuk di sini," ucap Farida menggerutu melihat baju-baju kotor yang bertebaran. …
ReadmoreChapter 13: Kemarahan Nadia
Di rumah Hardi ... Berbeda dengan Adam, Hardi justru terlihat sangat kesal karena Adam lebih memilih istrinya dan tidak begitu mempercayainya. "Akh sial! Bisa-bisanya si Adam lebih percaya sama wanita itu," ucap Hardi kesal sembari melemparkan gagang pancing di pojokan belakang…
ReadmoreChapter 14: Hari Pertama Kerja Harus Semangat Jangan Loyo
Keesokan paginya, pukul 06:20. Adam menatap Farida yang tengah menyiapkan sarapan dari kejauhan tanpa sepengetahuan Farida. "Gara-gara belain si Farida, aku jadi kehilangan jatah uang bulanan dari ibu," batin Adam kesal. Ia masih menatap Farida tapi kali ini tatapan itu…
ReadmoreChapter 15: Lelah
"Ya abisnya sih kamu ngasih kerjaan begini banget. Nggak ada enak-enaknya," sindir Adam. "Wah bener-bener nggak tau diri banget sih kamu, Dam. Udah ayok lanjut kerja lagi. Nggak enak tau sama yang lainnya. Nggak enak juga sama bos," ajak Agus. Dengan…
ReadmoreChapter 16: Gara-gara Sepotong Ayam Goreng
"Beneran, Mas. Tadi Tasya minta makan pakai ayam goreng yang kamu minta itu." "Terus, kamu nggak bilang kalau itu buat aku dan kamu kasih gitu aja ke Tasya!" Nada suara Adam mulai berubah naik. Adam yang tadi sudah dekat ke arah…
ReadmoreChapter 17: Memusuhi Istri Hanya Karena Masalah Sepele
Pagi harinya, Farida bangun untuk dan masak untuk makan anak dan juga suaminya, sementara dirinya hari itu tengah berpuasa dan sudah berhasil menghabiskan sisa makanan semalam sehingga tak terbuang sama sekali. "Ini kopinya, Mas," ucap Farida sembari memberikan kopi panas pada Adam…
ReadmoreChapter 18: Dua Hari Kerja Sudah Dapat Peringatan
Setelah selesai mengobrol dengan Hardi, kini Adam pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat kerja. Kali ini ekspresi wajah Adam terlihat sangat bahagia. Ia yakin jika hubungannya dengan kedua orang tuanya akan membaik setelah ini. "Oke Dam, bapak akan coba bilang…
ReadmoreChapter 19: Menjilat Ludah Sendiri Demi Uang
Adam terpaksa memilih pulang ke rumah karena rumah Nadia tutup. Tak ada orang di sana karena Hardi pun tengah pergi memancing dan belum pulang sementara Nadia tengah pergi entah kemana. Adam sudah menyiapkan mental dan juga telinganya untuk menghadapi pertanyaan dari Farida,…
ReadmoreChapter 20: Rumitnya Berumah Tangga
Hardi pulang ke rumah dan langsung disambut oleh Nadia yang duduk bersedekap di sofa ruang tamu. Wajahnya tampak ketus dan juga jutek. "Kamu darimana saja, pak? Jam segini baru pulang," ucap Nadia dengan nada yang masih datar. "Biasa, Bu. Bapak habis…
Readmore





