Table of Contents
Lates Chapters
Bab 7
'Sayang' Hanya karena satu kata itu, aku langsung linglung seketika. Blank dan haluku membumbung tinggi. Serius! Saking linglungnya, setelah itu aku sampai tidak tau bagaimana perdebatan Pak Dika dengan Guntur. Aku hanya ingat mereka memang sempat berdebat sebentar, sebelum Pak…
Bab 6
Menurut kalian, apa yang harus kulakukan setelah disiram tak manusia seperti itu? Apalagi dengan Air yang aromanya busuk sekali. Mengamuk. Tentu saja! Memangnya aku harus diam saja diperlakukan seperti itu? Oh ... maaf. Aku nggak sebaik itu dan tidak salah. Jadi,…
Bab 5
Teman-temanku ngakak so hard, sampai guling-guling di tengah lapangan ketika aku selesai menceritakan kejadian tadi. Eh, canda. Nggak sampai guling-guling ke tengah lapangan kok. Cuma terpingkal-pingkal aja. Itu, sih, emang akunya aja yang lebay. Maklum, aku memang punya motto hidup, kalau 'nggak…
Bab 4
“Tanteee …!” Astagfirullah ... Aku langsung meloncat kaget, saat seruan itu menggema begitu saja dari belakangku. Saking kagetnya, bahkan donat yang sedang aku makan pun, melompat dari tanganku dan meluncur mulus ke arah got di sebelahku. Ya salam! Sarapan aku,…
Bab 3
Gara-gara mulut tanpa saringannya si Bella. Aku pun dengan refleks menyilangkan tangan di depan dada, untuk menutupi bagian yang Bella sebutkan tadi. Sebelum akhirnya menjerit histeris dan lari ke lantai atas, kembali ke kamarku. Sumpah demi neneknya Tapasya yang jahat. Aku malu…
Comments
7 Chapters
Chapter 1: Bab 1
*Happy Reading* "Bohong, Om! Tante Intan banyak pacarnya. Jangan mau di jadiin cadangan!!" Aku langsung mendengkus sebal. Ketika suara cempreng itu tiba-tiba saja menggelegar dari samping rumahku. Sialan!! Dasar bocah tengik!! Badan seupil aja, reseknya minta ampun. Awas aja kamu, bocah sialan!! "Anak…
ReadmoreChapter 2: Bab 2
“Tanteee …!” Bruk “Akh!” Hahahahahahaha .... “Bellaaa …!” Tawa Bella pun semakin membahana penuh kemenangan, mendengar kekesalanku pagi itu. Dasar anak kutil! Masih pagi udah ngerecokin orang aja! “Awas kamu, Bel! Sini Tante cubit ginjalmu!” marahku…
ReadmoreChapter 3: Bab 3
Gara-gara mulut tanpa saringannya si Bella. Aku pun dengan refleks menyilangkan tangan di depan dada, untuk menutupi bagian yang Bella sebutkan tadi. Sebelum akhirnya menjerit histeris dan lari ke lantai atas, kembali ke kamarku. Sumpah demi neneknya Tapasya yang jahat. Aku malu…
ReadmoreChapter 4: Bab 4
“Tanteee …!” Astagfirullah ... Aku langsung meloncat kaget, saat seruan itu menggema begitu saja dari belakangku. Saking kagetnya, bahkan donat yang sedang aku makan pun, melompat dari tanganku dan meluncur mulus ke arah got di sebelahku. Ya salam! Sarapan aku,…
ReadmoreChapter 5: Bab 5
Teman-temanku ngakak so hard, sampai guling-guling di tengah lapangan ketika aku selesai menceritakan kejadian tadi. Eh, canda. Nggak sampai guling-guling ke tengah lapangan kok. Cuma terpingkal-pingkal aja. Itu, sih, emang akunya aja yang lebay. Maklum, aku memang punya motto hidup, kalau 'nggak…
ReadmoreChapter 6: Bab 6
Menurut kalian, apa yang harus kulakukan setelah disiram tak manusia seperti itu? Apalagi dengan Air yang aromanya busuk sekali. Mengamuk. Tentu saja! Memangnya aku harus diam saja diperlakukan seperti itu? Oh ... maaf. Aku nggak sebaik itu dan tidak salah. Jadi,…
ReadmoreChapter 7: Bab 7
'Sayang' Hanya karena satu kata itu, aku langsung linglung seketika. Blank dan haluku membumbung tinggi. Serius! Saking linglungnya, setelah itu aku sampai tidak tau bagaimana perdebatan Pak Dika dengan Guntur. Aku hanya ingat mereka memang sempat berdebat sebentar, sebelum Pak…
Readmore





