Table of Contents
Lates Chapters
Sakit
“Nyonya, biar Mbak Ani aja yang ngelanjutin.” Mbak Ani berusah mengambil alih pekerjaan Nea. “Mbak, Nea mau masak. Mbak kerjain yang lain aja, serahkan semuanya sama Nea. Tenang aja, soal rasa mah jangan diragukan.” Tidak ada pilihan lain, berdebat sama Nea juga tidak…
Kedatangan Mertua
Setelah Zee pergi sekolah dan Aciel bekerja, Nea malah dikejutkan dengan kehadiran seseorang. Ia tidak tahu harus bereaksi apa setelah mendengar percakapan orang itu dengan Aciel. Haruskah Nea menghindar atau senang? Sebelumnya ia sudah menyambutnya dan mempersilakan untuk duduk sementara dirinya saat…
Kebiasaan Baru
Hari sudah memasuki pukul 3 subuh dan sudah menjadi kebiasaan untuk mbak Ani ke dapur menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan yang akan dimasak setelah itu ia kembali ke kamar untuk melaksanakan ibadah tetapi saat hendak memasuki kamar, ia mendapati sebuah suara seseorang berjalan.…
Cuek Tapi Perhatian
Mata Nea tak bisa berlatih menatap perkarangan rumah yang dipenuhi oleh tanaman tersusun rapi serta beberapa furniture yang menambah kesan klasik dan modern. Perkarangan luas yang bisa dijadikan lapangan bola membuat wanita itu kagum. Bahkan rumahnya saat ia masih kecil tidak sebesar…
Restu
Hari ini begitu panjang dan melelahkan. Diawali dari bangun pagi persiapan make up dan segala macam, lalu akad nikah dan berlanjut ke resepsi setelah itu berpamitan dengan keluarga membuat tubuh wanita yang sejak tadi memeluk Zee merasa lelah. Ingin mengeluh tetapi…
Comments
You May Also Like
20 Chapters
Chapter 1: Awal Kontrak
“Ini adalah rumah saya dan di sini hanya ada aturan saya, orang asing sudah semestinya tidak ikut campur. Anda kira apa? Saya akan menerima perjanjian bodoh itu? Cuih! Saya tidak seburuk itu sampai menjual diri pada pria tidak tahu diri seperti anda!” Amarah…
ReadmoreChapter 2: Awal Petaka
Kekacauan hidup Nea dimulai saat Niko, sahabat Nea satu-satunya datang ke rumahnya. Nea sudah menyadari kehadiran Niko ke rumahnya bukan pertanda baik. Lihatlah saat ini Niko sedang berbincang dengan kedua orang tuanya, seakan mengambil hati orang tua Nea. “Cih! Gayanya sok jadi anak…
ReadmoreChapter 3: Pertemuan Tidak Sengaja
Niko mulai gelisah saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi acara akan di mulai dan papanya sudah mulai mengirim pesan padanya. “Mbak, apa masih lama lagi?” tanya Niko pada salah satu pegawai salon. Pegawai tersebut tersenyum melihat Niko yang gelisah. …
ReadmoreChapter 4: Kesalahpahaman Berujung Petaka
Diam adalah emas tidak selalu membawa keberuntungan. Kali ini karena diamnya Nea, ia terjebak pada pria bernama Aciel ini. Pak Broto sudah salah paham mengira mereka memiliki hubungan. "Om, Nea sama dia nggak punya hubung—" Ucapan Nea menggantung karena secara tiba-tiba tangannya digenggam…
ReadmoreChapter 5: Diculik
Nea memandangi ponsel yang terus bergetar di hadapannya. Ini adalah panggilan keempat yang diabaikan olehnya. Helaan napas berat keluar dari mulutnya. "Kenapa ngga diangkat sih," gerutu seorang gadis yang serangan dengan Nea. "Nggak penting," ucap Nea sambil membalikkan layar ponselnya. "Siapa sih?" Gadis…
ReadmoreChapter 6: Kelemahan Nea
Aciel melempar tas miliknya ke sembarang arah yang berakibat vas bunga yang ada di atas nakas jatuh ke lantai. Suara pecahan vas yang menggema membuat beberapa orang yang ada di rumah langsung mencari sumber suara. "Shit!" teriak Aciel. Tidak ada yang berani menenangkan…
ReadmoreChapter 7: Kontrak Pernikahan
“Apa yang terjadi, Nea?” Ini ketiga kalinya Indri bertanya pada Nea dan lagi dan lagi gadis itu bungkam. “Jangan hanya diam! Jawab Nea!” Kesabaran Indri mulai habis. Ia mengguncang tubuh Nea. Apa yang harus Nea jawab? Ia saja terkejut dengan apa yang terjadi. …
ReadmoreChapter 8: Anak Aciel
Kepulangann seorang pria disambut dengan beberapa pelayan. Masing-masing pelayan mempunyai tugas yang berbeda. Hari ini tidak biasanya Aciel pulang lebih awal. Dayana yang beberapa hari ini menginap di rumah Aciel pun ikut menyambut putranya. "El, kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengabari lebih awal…
ReadmoreChapter 9: Sikap Aneh Aciel
Sejak pagi Indri sudah sibuk dengan bahan makanan. Wanita itu ingin memasak makanan yang enak untuk Nea hari ini, sup tulang sapi, perkedel, dan ayam goreng kesukaan Nea menjadi menu utama. Tadi pagi Rea sempat meminta dibuatkan bakwan juga, tapi sayang bahan makanan…
ReadmoreChapter 10: Hadiah
"Kenapa kamu nggak cerita dekat sama Nak El?" tanya Indri mulai mengintrogasi Nea. "Emangnya ada apa, ma? Kenapa pria berjas itu nganterin kalian sampai rumah? Motor Nea ke mana?" "Ceritanya panjang, pa. Pokoknya tadi Nak El yang nolongin mama, terus katanya…
ReadmoreChapter 11: Day One
Niko memandangi penampilan Nea dari atas sampai bawah. Gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Penampilannya dipercantik dengan senyum bahagia yang tak kendur sedikit pun. “Kenapa?” tanya Nea sembari melihat penampilannya dari atas sampai bawah. “Gue ngerasa ada yang beda,” ucap Niko. “Apa…
ReadmoreChapter 12: Niat Baik
Aciel duduk dengan mata terpejam di dalam mobil. Ia terus mendengar suara anak kecil yang terus bercerita tiada henti, walaupun tidak ada respon sama sekali dari Aciel. “Papa, temen Zee beli mainan baru. Dia beli Barbie yang bisa bicara, bagus banget.” Sepanjang…
ReadmoreChapter 13: Pinangan Aciel
“Saya Aciel Cale datang ke rumah ini bermaksud untuk—“ Ucapannya menggantung, ia merasa gugup seakan apa yang dilakukannya asli. Padahal ini hanyalah formalitas semata. Sebuah tarikan napas panjang mengawali Aciel kembali berbicara. “Saya bermaksud meminang putri bapak, Nea Halina.” Aciel melihat ke arah…
ReadmoreChapter 14: Kedatangan Tak Terduga
Nea berusaha untuk fokus akan tetapi gagal. Nyeri pada perutnya tidak bisa diajak kompromi. Sejak tadi ia terus memegangi perut. Sesekali terdengar suara ringisan kecil dari mulut gadis itu. “Ne, kamu nggak papa?” tanya teman kerja Nea yang duduk bersebelahan dengannya. Kepalanya menggeleng…
ReadmoreChapter 15: Siapa Zee Sebenarnya
Nea memperhatikan seorang gadis kecil yang tengah terbaring lemah di atas ranjang. Hatinya merasa iba melihat kondisi gadis itu, terlebih lagi ia terus mengigau dengan menyebut kata ‘mama’. Tidak mau mengganggu tidur Zee, Nea memilih melihat-lihat kamar gadis kecil itu. Ada banyak…
ReadmoreChapter 16: Berjodoh
Rumah Nea kini terasa hidup. Suara Zee terdengar hingga ke sudut rumah. Panas Zee langsung turun dan kini gadis itu tengah bermain dengan Rea, sementara Nea sibuk dengan laptopnya di meja makan. Ia mengerjakan pekerjaannya yang tertinggal. “Ne, ibu merasa Nak El…
ReadmoreChapter 17: Asing
“Ne, apa aku seasing itu sampe kamu nggak cerita apa pun? Masa iya harus dengar dari mulut orang lain, sih? Jelasin ke aku ada apa sebenarnya.” Niko yang datang tiba-tiba ke kantor Nea hanya untuk memarahi gadis itu. “Ne, kenapa diam aja!”…
ReadmoreChapter 18: Memandang Rendah
Malam ini Nea begitu sibuk. Setelah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Ayu, kini dia diberikan pekerjaan baru oleh Pak Adi. Tubuhnya mulai lemah karena bekerja seharian tetapi semangatnya masih penuh. Rasa lelah sedikit tidak mempengaruhi semangat Nea yang menggebu-gebu. Masalah Niko, Nea menjadi…
ReadmoreChapter 19: Memperebutkan Nea
Mata Niko tidak bisa beralih, tubuhnya membeku serta matanya terus menatap ke satu tempat. Setelah duduk sekitar setengah jam, Niko dikejutkan dengan kehadiran Nea. Nea yang di hadapannya kali ini berbeda, ia terlihat anggun mengenakan gaun putih panjang hingga menyapu lantai serta…
ReadmoreChapter 20: Menghitung Hari
Pernikahan tinggal menghitung beberapa hari lagi. Rumah Nea mulai ramai didatangi oleh tetangga serta kerabat. Pernikahan memang diselenggarakan di gedung tetapi ada beberapa persiapan yang dilakukan di rumah yang dibantu oleh kerabat Nea serta tetangga. Rea baru saja kembali membagikan undangan. Sesuai…
Readmore





