Table of Contents
Lates Chapters
Hilang, Tak Bersisa
Lutut Keina lemas. Dia salah kemarin menganggap Jovan mulai berubah sikapnya. Ingin mengumpat, setiap kata seakan tercekat. Kakinya melangkah keluar, lunglai. “Baguslah, sadar diri kamu! Keluar tanpa harus diusir!” Jovan berkacak pinggang melihat Keina yang berjalan limbung. Tak ada kasihan untuk Keina. “Jika…
Mendadak Linglung
Jovan dan wanita di sebelahnya tidak bergeser satu inci pun dari sana. Seusai Keina mengusir mereka. Malah melemparkan senyuman smirk pada Keina. Lalu Jovan bertepuk tangan sambil terbahak. Dan diikuti suara tawa wanita berpakaian minim bahan dan berwarna terang itu. Membuat Keina semakin…
Tremor
Di tempat lain. Di sebuah bangunan gedung di kawasan industri modern. Pintu ruangan diketuk. Terdengar deheman dari dalam, lelaki bertubuh besar itu baru berani membuka pintu. Terlihat sepasang mata dingin menatap arah pintu dan tampak tak sabar karena telah menginterupsi waktu kerjanya. “Lapor…
Tidak Bisa Bertahan
Melihat keraguan yang terpancar dari wajah majikannya. “Sebentar Nyonya, pesannya Tuan saya masih simpan di laci dapur.” Umi segera melesat tanpa menunggu jawaban dari majikan perempuannya. Keina berjalan bolak-balik, berpikir keras. “Ayo Keina! Apa lagi yang harus kamu lakukan?” “Jangan berdiam diri. Ini…
Ups, Apa Ini…?!
Suasana di dalam mobil, hening. Mamang melirik ke arah spion tengah, sekilas dilihatnya raut wajah Keina yang sayu. Mamang kelihatan gelisah di balik kemudinya. Keina mengalihkan pandangan dari luar jendela yang tidak menarik perhatiannya, lalu tak sengaja melihat gerik supirnya itu dan segera…
Comments
You May Also Like
9 Chapters
Chapter 1: Kehilangan
“Keina, kami turut berduka atas kepergian Bapak Marteen yang mendadak. Kami pun tidak menyangkanya. Beliau pemimpin yang baik, mengayomi seluruh karyawannya. Kami dari jajaran direksi sangat kehilangan beliau,” ucap salah satu direktur saat bertemu di rumah duka. Keina tidak begitu hapal dengan wajah…
ReadmoreChapter 2: Kenangan
Sementara itu, di dalam sebuah mobil Wrangler yang berhenti tak jauh dari kediaman Marteen. Seorang pria duduk menatap suram ke arah luar jendela mobil. Melihat seliweran orang berlalu datang dan pergi mengunjungi rumah besar Marteen. “Tuan ….,” panggil pria bertubuh gempal di balik…
ReadmoreChapter 3: Yang Spesial
Sudah tiga hari Keina mengurung diri di kediaman ayahnya. Ia hanya keluar saat acara kirim doa bersama untuk almarhum ayahnya. Mendoakan tulus dari lubuk hatinya. Air matanya masih lolos satu-satu mengenang ayahnya. Sementara Jovan hanya menemaninya di hari pertama saja, di saat banyak…
ReadmoreChapter 4: Tandatangan
Esoknya, sedan hitam mewah berhenti tepat di depan rumah. Turun seorang pria berjas lengkap dengan tergesa-gesa. Pria itu hampir saja menabrak pria tua yang sedang membersihkan mobil, “Mang, awas! Nutupin jalan aja!” bentak pria itu garang. “Eh, maaf Den Jovan ...,” jawab pria…
ReadmoreChapter 5: Ups, Apa Ini…?!
Suasana di dalam mobil, hening. Mamang melirik ke arah spion tengah, sekilas dilihatnya raut wajah Keina yang sayu. Mamang kelihatan gelisah di balik kemudinya. Keina mengalihkan pandangan dari luar jendela yang tidak menarik perhatiannya, lalu tak sengaja melihat gerik supirnya itu dan segera…
ReadmoreChapter 6: Tidak Bisa Bertahan
Melihat keraguan yang terpancar dari wajah majikannya. “Sebentar Nyonya, pesannya Tuan saya masih simpan di laci dapur.” Umi segera melesat tanpa menunggu jawaban dari majikan perempuannya. Keina berjalan bolak-balik, berpikir keras. “Ayo Keina! Apa lagi yang harus kamu lakukan?” “Jangan berdiam diri. Ini…
ReadmoreChapter 7: Tremor
Di tempat lain. Di sebuah bangunan gedung di kawasan industri modern. Pintu ruangan diketuk. Terdengar deheman dari dalam, lelaki bertubuh besar itu baru berani membuka pintu. Terlihat sepasang mata dingin menatap arah pintu dan tampak tak sabar karena telah menginterupsi waktu kerjanya. “Lapor…
ReadmoreChapter 8: Mendadak Linglung
Jovan dan wanita di sebelahnya tidak bergeser satu inci pun dari sana. Seusai Keina mengusir mereka. Malah melemparkan senyuman smirk pada Keina. Lalu Jovan bertepuk tangan sambil terbahak. Dan diikuti suara tawa wanita berpakaian minim bahan dan berwarna terang itu. Membuat Keina semakin…
ReadmoreChapter 9: Hilang, Tak Bersisa
Lutut Keina lemas. Dia salah kemarin menganggap Jovan mulai berubah sikapnya. Ingin mengumpat, setiap kata seakan tercekat. Kakinya melangkah keluar, lunglai. “Baguslah, sadar diri kamu! Keluar tanpa harus diusir!” Jovan berkacak pinggang melihat Keina yang berjalan limbung. Tak ada kasihan untuk Keina. “Jika…
Readmore





