Iparku Suka Numpang Makan
Part 21
Suami Kak Lily.
Benar-benar menghadapi kak Lily tidak tahu harus pakai jurus apalagi.
Dilawan dengan ketegasan sudah, dilembutin juga sudah, tapi tetap saja masih arogan gitu.
Acara masak untuk makan siang bersama ibu berjalan dengan lancar, entahlah kak Lily kemana, hanya saja kedua anaknya masih tetap dirumah ibu dari pagi tadi hingga siang ini.
Jangan tanyakan apakah anak kak Lily tidak ingin sekolah seperti anak-anak lainnya, seperti di paud atau ke taman kanak-kanak atau les belajar lainnya.
Tentu saja mereka juga ingin seperti anak-anak yang lainnya, bahkan sangat ingin, hanya saja karena kak Lily belum mengijinkannya, akhirnya hari-hari yang mereka lalui pun ya hanya menonton televisi atau bermain saja, untungnya mereka kalau bermain tidak pernah jauh-jauh hanya disekitaran rumah ibu, aku, kak Nur ya atau rumah mereka sendiri.
Lalu ketika mas Zahdan atau ibu ingin menyekolahkan nya saja, tidak boleh juga sama kak Lily, karena katanya nanti hanya akan merepotkan dia saja, siapa yang akan mengantarkan dan menjemput mereka pulang nantinya.
Memang sekolah untuk anak-anak yang seumuran dengan Rama dan Yana, tidak ada yang dekat. Aku, bukannya tak ingin mengantar, tapi kata kak Lily jika aku yang mengantar atau menjemputnya, nanti kak Lily juga ikut bersama, idih malas banget, yang ada bakal keluar uang terus nanti. Iya kan.
“Bu, memang kapan suaminya kak Lily akan pulang Bu?” tanyaku saat aku dan ibu sudah selesai makan siang, dan kami saat ini sedang duduk menemani kedua anak kak Lily yang sedang menonton kartun si kembar yang bagaikan minum obat itu, sehari tiga kali tayangnya.
Sedangkan bapak mertuaku lebih memilih duduk diluar, mau cari angin katanya, entahlah angin itu pergi kemana sampai harus dicari sama bapak mertuaku. Hehe, canda pak.
“Kemarin ibu juga sudah bertanya sama Rama dan Yana katanya sih Minggu besok.” Jawab ibu sambil matanya tetap fokus ke layar televisi sekali-kali ibu tertawa ketika melihat kartun yang katanya mirip Rama dan Yana, bedanya keponakanku itu tidak botak.
“Oh begitu ya Bu.” Aku kembali terdiam.
Jujur saja, aku baru sekali bertemu dengannya itu pun ketika aku menikah, karena esoknya setelah aku menikah kak Doni suami kak Lily itu sudah pergi lagi. Jadi aku tidak mengetahui seperti apa karakternya kak Doni, bahkan tampangnya saja sekarang aku lupa-lupa ingat, maklumlah ingatanku tidak tajam jika harus mengingat orang yang baru pertama kali bertemu.
“Kak Doni itu orangnya seperti apa ya Bu?”
“Kenapa memangnya?” tanya ibu sambil melihat ke arahku sekilas dan kembali fokus ke televisi.
“Yah Cuma mau tahu saja Bu, karena Zeta kan belum pernah bertemu dengan kak Doni.”
“Masa sih kamu belum pernah ketemu?” kini ibu memiringkan posisi duduknya hingga kami hampir berhadap-hadapan.
“Eh pernah sih Bu ketemu sekali, itu pun pas Zeta dan mas Zahdan dipelaminan, kan Bu.”
“Oh gitu ya, iya ya, ibu lupa, besoknya Doni sudah pergi lagi ya?”
“Iya Bu, makanya Zeta jadi penasaran seperti apa sis kak Doni itu?” tanyaku lagi berharap ibu mau menjelaskan seperti apa yang namanya kak Doni itu.
“Doni ya. Hmm, Doni itu orangnya.” Ibu terdiam sebentar seperti sedang berfikir serius.
“Seperti apa Bu?” Tanyaku lagi sambil fokus menatap wajah ibu.
“Besok kalau sudah ketemu, kamu cari tau saja sendirilah.” Ujar ibu mertuaku itu.
“Iih ibu, udah ditungguin lama, dikirain bakal jawab apa, aahh ibu mah.” Ujarku sambil mengayun-ngayunkan tangan ibu.
“Hehehe, habis ibu bingung mau jelasin kayak gimana, nanti malah salah lagi, setiap orang itu kan kadang berbeda dalam mengartikan karakter orang, iya kan.” Jelas ibu.
“Iya, iya, iya aja deh Bu.” Ujarku manyun.
“Duh mantu ibu ngambek nih Yee, Rama coba nenek pinjem mobilannya sebentar.” Panggil ibu pada Rama yang ada di depannya.
“Buat apa nek?” tanya Rama bingung.
“Ya buat Tante mu nih lagi ngambek.” Ujar ibu lagi sambil tertawa.
Eh Rama nya malah serius memberikan mobilan itu ke ibu.
“Nih, main ini aja biar ga ngambek “ ujar ibu sambil menyerahkan mobilan polisi kecil berwarna putih itu.
“Iibbuuu.” Aku langsung menggelitikin ibu, dan ibu malah langsung menepuk lenganku.
“Geli ah, Zeta, udah sana.” Ampun deh tabokan ibu mantap banget, beda emang ibu-ibu yang udah punya pengalaman ngurus bocah.
Aku langsung menghentikan kegiatanku menggelitik pinggang ibu, selanjutnya aku lebih memilih untuk mengusap lenganku yang habis ditabok ibu tadi, huhuhu pegal mirip kayak habis disuntik.
Rama dan Yana hanya tertawa saja menyaksikan aku dan ibu.
Setelah lelah berbincang-bincang dengan ibu, dan mataku pun sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya aku pun pamit pulang.
Tidur siang memang bukan suatu hal yang wajib bagiku, tapi semenjak menikah dan punya ipar seperti kak Lily, tidur siang itu menjadi suatu keharusan bagiku, agar aku bisa kuat fisik dan mental menghadapi kak Lily.
Sore harinya saat aku sudah terbangun dan akan pergi membeli lauk kedepan, aku lihat kak Lily sedang berada di warung Mpok Atiek.
“Zeta, berhenti dulu sini!” ujar kak Lily sambil mencegat motorku.
Bagai makan buah simalakama, ga berhenti bakal nabrak kak Lily yang ada di depan motorku, kalau berhenti, tau lah sendiri pasti ada aja keributan.
Dengan terpaksa akhirnya aku berhenti daripada bakal bikin heboh orang sekampung karena berita, seorang istri menabrak kakak suaminya, ga lucu kan nanti.
“Haduh kak, ngapain sih pakai cegat motor Zeta segala, nanti kalau ketabrak bagaimana?!” ujarku kesal.
“Kalau ga begini, bagaimana mungkin kamu mau berhenti!” bukannya minta maaf malah galakan dia, aneh.
“Ya terus ada apa kak?!” tanyaku sambil memperhatikan isi plastik berwarna bening yang kak Lily bawa dari warung Mpok Atiek tadi yang ternyata isinya adalah telor dan mie.
“Dengar ya, Minggu besok suamiku pulang!”
“Terus!” ujarku malas.
“Dengar, seperti yang pernah aku bilang padamu, jangan pernah berharap oleh-oleh atau minta padaku ataupun kak Doni. Lalu jika aku memberi pada ibu, kau juga tidak boleh minta, dengar itu!”
“Ada lagi?” tanyaku, jujur saja aku sangat malas sekali kalau harus berlama-lama ngobrol dengan kak Lily, bukan kenapa-kenapa, Cuma bikin emosi saja soalnya.
“Ingat ya, semua yang telah kamu lakukan padaku, akan aku adukan pada suamiku! Tunggu saja sebentar lagi kamu akan merasakan hari-hari mu yang selalu sial, hahahaha!” ujar kak Lily.
“Haduh hanya itu saja, ga penting banget sih kak, oleh-oleh aku ga butuh, aku bisa beli yang aku inginkan, terus aduan mu itu terserah saja, aku juga ga takut, jadi adukan saja.” Kak Lily terdiam mendengar ucapanku.
Mungkin dia pikir aku akan takut dengan apa yang dia katakan, kau salah kak Lily.
“Udah ah sana minggir, bikin ribet aja.” Aku langsung menyalahkan sepeda motorku dan memasang posisi seperti ingin melajukan motorku seraya ingin menabraknya. Lalu kak Lily buru-buru minggir hingga dia kesandung batu dan hampir saja akan jatuh.
“Dasar adik ipar ga tau adab!” ujarnya menggerutu.