Di sebuah kebun di Distrik Wilwien itu kini hanya tersisa 3 orang gadis penyihir Vitania, Rikka Gallipolia, Natsuki Sena, dan Antilles Samarchia. Sambil terkurung di dalam kubah perisai sihir jiwa, mereka akan bertarung mempertaruhkan nyawa mereka disini sampai titik darah penghabisan.
“Percuma saja, kau tidak akan bisa menghubungi gadis penyihir lainnya. Aku sudah mengekang seluruh akses komunikasimu ke dunia luar dengan perisai ini,” ujar Rikka.
“Kau benar-benar sudah melampaui batas, Rikka,” kata Antilles.
Walaupun berada di dalam perisai sihir, namun hembusan angin siang menjelang petang masih begitu terasa di sini.
“Lantas sekarang apa?” tanyanya.
“Sekarang saatnya menghentikan semua omong kosongmu itu,” ujar Sena sambil melempar shurikennya pada wanita itu.
TINGG TINGG
“Sepertinya kalian adalah pengkhianat yang keras kepala ya,” ucap Antilles sambil menangkis shuriken itu.
Demi meminimalisir pertarungan, Rikka pun berusaha membujuk wanita itu kembali.
“Sebagai sesama gadis penyihir Vitania, sesama anggota Brigade Penyihir, sejujurnya aku tidak mau melakukan semua ini. Aku sangat membenci pertumpahan darah seperti ini. Jadi kumohon, dengarkanlah kami. Apa yang selama ini kita lakukan itu salah besar,”
“Apa maksudmu?” tanya Antilles dengan tatapan sinis.
“Pemberontakan yang selama ini kita lakukan adalah kesalahan besar. Perlawanan tak berarti yang kita lancarkan selama ini hanya akan menelan lebih banyak korban saja, termasuk gadis penyihir seperti kita,” tutur gadis penyihir jiwa itu.
Wanita itu hanya diam dengan tatapan sinis mendengar perkataan Rikka.
“Daripada kita memberontak seperti ini, kenapa kita tidak-“
Belum selesai Rikka berujar, Antilles memotong perkataannya.
“Sudah aku katakan untuk ke sekian kalinya, pengkhianat tetaplah pengkhianat!!” bentak wanita itu sambil mengarahkan pedangnya.
“Dan satu lagi, jangan sekali-kali kau berani membujukku dengan pemikiran bodohmu itu. Jangan sok idealis karena apa yang kau cita-citakan itu tidak ada gunanya dan hanya akan menjadi sampah belaka,”
Antilles melontarkan ucapan menyakitkan itu pada Rikka. Dirinya benar-benar menutup diri terhadap saran apapun yang berasal dari rekannya itu.
Mendengar hal yang menyakitkan tersebut, Sena nampak menundukkan wajahnya.
“Apa? Sampah?”
Gadis Higashi itu nampak mengepalkan tangannya.
“Sena…”
Sebagai tangan kanan Rikka Gallipolia, Natsuki Sena merupakan orang yang sangat mengagumi pemikiran dan visi misi dari sang ketua. Gagasannya yang berani beda dibandingkan anggota Brigade Penyihir lainnya membuatnya istimewa di mata gadis Higashi itu. Ia juga percaya bahwa apa yang dicita-citakan oleh sang ketua akan tercapai, mendamaikan Vitania tanpa pertumpahan darah. Namun sayangnya tidak ada yang peduli.
“Hei, kau sadar dengan apa yang telah kau ucapkan itu? Kau tak sekalipun mendengar apa yang dikatakan oleh Nyonya Rikka ‘kan?” tanya Sena.
“Iya. Dengan penuh kesadaran. Memangnya kenapa, kadet? Aku tak punya waktu untuk mendengar semua semua celotehan delusinya itu. Semuanya pastilah omong kosong belaka,” jawab Antilles dengan angkuhnya.
“Kau, beraninya kau berkata seperti itu,”
“Sena-“
Gadis Higashi itu lalu mengangkat wajahnya dengan amarah.
“JANGAN SEKALI-KALI KAU MENGHINA PEMIKIRAN NYONYA RIKKA!!”
“Sena, tahan dirimu,” Rikka berusaha menenangkannya.
Sena benar-benar murka setelah mendengar perkataan yang menghina ketuanya tersebut. Amarah membara nampak jelas pada raut wajahnya.
“PEMIKIRANNYA, IDEALISMENYA, DIA BUKANLAH SAMPAH DELUSI SEPERTI YANG KAU KIRA!!”
“Sena…”
“DIA MELAKUKAN INI DEMI KEBAIKAN RAKYAT KITA. JANGAN SEKALI-KALI BERKATA BAHWA KAU MEMBELA RAKYAT VITANIA JIKA KAU TIDAK MENGHARGAI APA YANG KAMI CITA-CITAKAN!!”
Antilles hanya terdiam mendengarnya.
“DEMI KEADILAH, ORANG EGOIS SEPERTI DIRIMU TIDAK PANTAS MEMBELA RAKYAT INI. PENJAHAT SEPERTIMU TIDAK AKAN SENA MAAFKAN!!”
Gadis ninja itu langsung memasang kuda-kuda dan menyilangkan kedua tangannya dengan sepasang shuriken di jarinya, lalu menduplikasinya dengan mantra sihir.
“BUNSHIN!!”
Antilles yang melihatnya langsung memasang posisi bertahan.
“MEKARLAH, HYAKKA RYOURAN!!”
SWINGG
Sena melemparkan sekitar 8 buah shuriken ke arah Antilles dengan satu shuriken yang mendahului mereka.
“Apa yang kau lakukan itu percuma saja,”
Antilles berusaha untuk menangkis kembali shuriken itu dengan pedangnya, namun saat ia melakukannya sesuatu terjadi.
“Apa?”
Shuriken yang ia tebas tiba-tiba seperti berubah menjadi kelopak-kelopak bunga cherry blossom yang baru mekar lalu menggores pipi wanita itu.
“Ini…”
Serangan itu ternyata diikuti oleh sekitar ratusan shuriken lain yang melesat di belakangnya.
SRING SRING SRING
Antilles berusaha melindungi tubuhnya yang mulai tersayat-sayat oleh serangan ratusan shuriken itu.
“WHIRLPOOL!!”
BRUKK
Sena menghentakkan tangan kirinya ke tanah. Antilles pun terjatuh ke tanah seperti ada sesuatu yang menariknya. Rupanya itu pengembangan teknik sihir milik Sena yang mengubah wujud shuriken itu menjadi kawat-kawat tipis yang menariknya ke tanah.
Seakan masih belum cukup, Sena pun melancarkan serangan ketiga.
“TERBANGLAH, BIG KNIFE!!”
Sena mengarahkan tangan kanannya ke atas dan mengepalkannya. Ia mengendalikan ratusan Shuriken yang melayang-layang itu agar melesat ke langit. Tepat di atas tubuh Antilles yang terikat di tanah, shuriken-shuriken itu seakan menyatu dan membentuk sebuah pisau daging raksasa.
“TERIMALAH, EXECUTE!!”
Sena menghentakkan tangan kanannya ke tanah, mengendalikan pisau raksasa itu agar menghujam ke bawah.
BRUKKK
Dengan cepat, pisau daging raksasa itu menghujam tanah dan menghantam posisi Antilles yang tak mampu bergerak itu. Serangan yang cukup dahsyat itu mengakibatkan debu bertebaran di mana-mana.
“Sudah berakhir,”
Gadis Higashi itu berpikir kalau dia sudah menang. Tapi sayangnya ia terlalu cepat berpuas diri.
“Begitu ya? Sihirmu sangat dahsyat sekali. Tapi sayangnya kau lupa siapa yang sedang kau hadapi sekarang, Natsuki Sena,”
“Ap-“
Belum selesai Sena berucap, Antilles tiba-tiba muncul dari balik gumpalan debu dan menendang perutnya dengan keras.
BRUKK
“Uhukk…”
“SENA!!”
Keadaan berbalik dengan sangat cepat. Antilles menyerangnya bertubi-tubi dengan Dancing Art, Teknik Topan Selat Timur Laut. Serangan balik yang dilancarkan oleh sang peringkat 10 itu membuat gadis Higashi itu tak berdaya.
BRUK BRUK BRUK
“Sayang sekali, tapi apa yang kalian cita-citakan itu takkan pernah tercapai,”
Antilles mengangkat tubuh Sena yang sudah tak berdaya itu dengan pedang yang ditancapkan pada baju ninjanya. Ia pun merapalkan sebuah mantra.
“SENA!!”
“Good Night, Vindoyitta!!”
SWINGG
WUSHHH
BRUKK
Tubuh Sena terhempas dengan sangat kuat oleh sihir angin, lalu menghantam perisai yang diciptakan Rikka itu dengan sangat keras.
“Ughh…”
Sena pun terjatuh ke tanah. Tubuhnya kembali menjadi wujud manusia biasa dan ia tak sadarkan diri.
“SENA!! Cih…”
Rikka yang melihat hal itu mencoba menyerang Antilles kembali dengan sihir jiwa, tapi itu sia-sia saja.
“Sudah kubilang itu percuma saja,” ucap Antilles sambil menebas sihir jiwa itu.
“Sekarang hanya tinggal kita berdua saja. Ayo kita tuntaskan semua ini,” lanjutnya.
Rikka berpikir keras untuk mengalahkan wanita itu. Tapi sekarang tidak ada pilihan lain. Ia harus mengalahkannya walaupun mungkin nyawanya jadi taruhan.
“Baiklah, tapi sepertinya ini menjadi pertarungan terakhir kita,” ujar Rikka.
Keduanya akan memulai pertarungan penentu nasib mereka. Antilles menarik napas dan menciptakan sebuah pusaran angin kecil di pedangnya. Sementara itu Rikka juga melakukan hal yang sama dengan menciptakan cahaya pada pisau kecilnya. Mereka saling berhadapan satu sama lainnya sekarang.
Angin sore berhembus dari arah utara, menembus perisai jiwa itu dan keluar dari sisi selatan kubahnya. Semuanya nampak sunyi hingga pertarungan hidup mati mereka pun dimulai.
WUSHH
TRINGG
Adu pedang dan pisau pun tak terelakkan. Mereka berdua saling bertarung di dalam kubah sihir jiwa itu. Hembusan angin dan garis-garis cahaya tercipta dari pertarungan diantara keduanya.
TRINGG TRINGG TRINGG
Mereka tak mengeluarkan suara sedikitpun dalam pertarungan penentu itu. Pukulan, tendangan, tangkisan, lompatan, hingga tebasan saling mereka lancarkan satu sama lain ke arah lawan.
TRINGG TRINGG TRINGG
Tak terasa pertarungan sudah berlangsung hampir 15 menit lamanya dan belum ada satu pun yang terlihat akan memenangkannya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ada suatu hal aneh yang mereka rasakan dalam pertarungan itu.
“Eh, tunggu. Tidak mungkin. Ini?”
Pola pertarungan mereka seperti sudah terbaca oleh keduanya, seakan mereka sudah pernah melakukan pertarungan itu sebelumnya.
“Mustahil, kenapa?”
Tempo pertarungan semakin cepat, tapi pola pertarungan yang mereka prediksi malah semakin akurat. Tidak salah lagi, mereka pernah melakukan pertarungan ini sebelumnya. Baik Antilles maupun Rikka, mereka pun akhirnya menyadari siapa mereka sebenarnya.
“Apa jangan-jangan…”
“…kau adalah…”
***