Table of Contents
Lates Chapters
Sebuah Rencana
Leo menatap Vima, "Pertanyaanmu harus aku jawab sekarang atau bisa lain kali?" "Pertanyaanku tidak terlalu penting, Bang. Terserah, Abang akan menjawabnya atau tidak." Vima meletakkan sendok es krim, melihat ke sudut toko, "apa kita bisa pergi sekarang? Aku tidak suka saat aku merasa…
Rum Raisin
"Vi, kita nonton bioskop. Mau enggak?" Leo bertanya berbisik. Dia tidak mau mama mendengar rencananya. "Film apa, Bang?" Vima pun ikut berbisik, seolah-olah mereka berdua berkomplot untuk menyembunyikan suatu rahasia yang sangat penting. "Nonton film Jurrasic Park. Mau enggak?" Vima tampak mempertimbangkan usulan…
Vimala
"Ehm, makanlah dulu kalian berdua, nanti ngobrol lagi!" kata namboru sambil melihat Vima dan Leo. Vima semakin merasa malu, dia lupa dengan kehadiran namboru. Mukanya terasa hangat. Vima berkonsentrasi dengan nasi goreng di piring, sedangkan Leo tertawa kecil melihat perubahan Vima. "Aku…
Dijodohkan
"Yo, tidak ada Vima rumah ini langsung terasa sepi ya? Padahal dia di sini juga cuma beberapa hari." "Aku kan cuma sebentar merasakan kehadiran Vima di sini, Ma." Ujar Leo, tangannya mengoles selai cokelat. Menu favoritnya saat sarapan adalah roti bakar dengan…
OSPEK
"Vi, mau ikut beli makan tidak? Atau mau nitip aja?" Leli mendatangi dirinya yang sedang berada di dalam kamar. Leli berpakaian rapi, sudah mengganti daster andalannya dengan celana panjang dan kaos. Vima melihat jam di dinding, masih terlalu sore untuk membeli makan malam.…
Comments
You May Also Like
9 Chapters
Chapter 1: Merantau
Semarang, 1997 Panas menyengat sampai menyentuh kulit dan puncak kepala, Vima terseok-seok menggeret koper beroda juga sekardus oleh-oleh. Terminal bis Terboyo sangat ramai, dia membaca nama terminal itu dari papan nama yang dipasang saat akan memasuki terminal. Dihapusnya peluh yang menetes membasahi dahi,…
ReadmoreChapter 2: Bertemu Rey
"Vima, masuklah!" Namboru menyongsong kedatangan Vima, lalu memeluknya erat, dari dulu namboru selalu sayang pada Vima. "Letakkan koper sama barang bawaanmu di situ, biar si mbak nanti yang bawa ke kamarmu. Duduklah di sini, kita ngobrol-ngobrol dulu. Bagaimana perjalananmu?" Namboru bicara tanpa jeda,…
ReadmoreChapter 3: Abang Leo Pulang
"Siang Bou, aku sudah pulang!" Rumah terasa lengang, tadi Vima hanya bertemu Mbak Darsih di depan. Mungkin namboru sedang beristirahat di kamar. Diarahkan langkah kakinya ke kamar namboru, untuk memberitahukan kedatangannya sekaligus menyampaikan soal tempat kos. Diketuknya pintu kamar namboru. "Bou, ini Vima."…
ReadmoreChapter 4: Jadi Anak Kos
"Selamat pagi dunia!" Vima berteriak sambil membuka jendela kamar. Vima menikmati angin yang berembus menyelusup masuk lalu merayapi tubuhnya. Di luar matahari mulai mengeluarkan warna semburat merah keemasan. Sangat cantik. Tadi malam Vima susah tidur, dia terlalu gelisah menanti pagi. Hari ini abang…
ReadmoreChapter 5: OSPEK
"Vi, mau ikut beli makan tidak? Atau mau nitip aja?" Leli mendatangi dirinya yang sedang berada di dalam kamar. Leli berpakaian rapi, sudah mengganti daster andalannya dengan celana panjang dan kaos. Vima melihat jam di dinding, masih terlalu sore untuk membeli makan malam.…
ReadmoreChapter 6: Dijodohkan
"Yo, tidak ada Vima rumah ini langsung terasa sepi ya? Padahal dia di sini juga cuma beberapa hari." "Aku kan cuma sebentar merasakan kehadiran Vima di sini, Ma." Ujar Leo, tangannya mengoles selai cokelat. Menu favoritnya saat sarapan adalah roti bakar dengan…
ReadmoreChapter 7: Vimala
"Ehm, makanlah dulu kalian berdua, nanti ngobrol lagi!" kata namboru sambil melihat Vima dan Leo. Vima semakin merasa malu, dia lupa dengan kehadiran namboru. Mukanya terasa hangat. Vima berkonsentrasi dengan nasi goreng di piring, sedangkan Leo tertawa kecil melihat perubahan Vima. "Aku…
ReadmoreChapter 8: Rum Raisin
"Vi, kita nonton bioskop. Mau enggak?" Leo bertanya berbisik. Dia tidak mau mama mendengar rencananya. "Film apa, Bang?" Vima pun ikut berbisik, seolah-olah mereka berdua berkomplot untuk menyembunyikan suatu rahasia yang sangat penting. "Nonton film Jurrasic Park. Mau enggak?" Vima tampak mempertimbangkan usulan…
ReadmoreChapter 9: Sebuah Rencana
Leo menatap Vima, "Pertanyaanmu harus aku jawab sekarang atau bisa lain kali?" "Pertanyaanku tidak terlalu penting, Bang. Terserah, Abang akan menjawabnya atau tidak." Vima meletakkan sendok es krim, melihat ke sudut toko, "apa kita bisa pergi sekarang? Aku tidak suka saat aku merasa…
Readmore





