1001 Kisah

Sehidup Sesyurga

Penulis : Yuyun Ambaryani

 

Di sebuah restoran seafood di daerah Jimbaran, Bali. Asha dibantu oleh para karyawan restoran mengadakan pesta kejutan kecil untuk Murad, suaminya. Ketika mereka sedang makan siang, tiba-tiba nama Murad dan Asha disebut dan diberi ucapan selamat ulang tahun pernikahan yang ke-10th. Sontak Murad terkejut lalu memandang wajah istrinya.

 

“Sayang, ini pasti ulahmu,” ucap Murad.

 

“Happy Anniversary, aku berharap bisa bersamamu selamanya sehidup sesurga, “ ujar Asha menjawabnya.

 

“Hidup bahagia bersama keluarga kecil kita sampai maut memisahkan dan dipertemukan kembali di Surga Allah SWT, aamiin,” sambung Murad sambil memeluk dan mengecup kening sang istri.

 

Asha menyambutnya dengan mencium punggung tangan suaminya. “Aamiin Allahumma Aamiin,“ jawab Asha.

***

Asha terhanyut, sesaat kemudian ingatannya melambung ke beberapa tahun silam di saat mereka pertama kali bertemu dan tidak lama kemudian mereka mempersiapkan pesta pernikahan. Saat itu Asha menerima uang adat dari Murad untuk mengurus segala keperluan pesta pernikahan mereka. Semuanya ditanganinya seorang diri dengan baik. Mulai dari konsep pernikahan yang diinginkan sesuai dengan impian Asha, gaun pernikahan, undangan, gedung, dekorasi pelaminan, katering dan bahkan suvenir semua tamu undangan ia siapkan dengan gembira.

 

Ah … ternyata ia melamun dan ingatannya terbang kembali ke masa lalu.

 

Tak terasa air mata mengalir membasahi pipi, ia menyeka air matanya dan meraih sebuah buku lalu kembali ke tempat tidur di mana putranya telah menunggu. Mulai bercerita hingga putranya tertidur pulas. Asha menatap lembut wajah putranya yang terlihat begitu damai. Wajah mungil ini begitu mirip dengan ayahnya. Murad adalah seorang suami yang penyabar dan pekerja keras. Ia bekerja di sebuah perusahaan konstruksi ternama di kotanya. 

 

Setiap akhir pekan mereka berlibur ke luar kota atau sekedar jalan-jalan di kota untuk bercengkrama dengan keluarga kecilnya. Keluarga mereka pun tak jauh dari masalah, tetapi Murad dan Asha selalu bisa menjaga keharmonisan keluarga. Hingga suatu ketika Murad di vonis mengidap suatu penyakit yang akhirnya membawanya kembali kepada Allah SWT seakan hancur dunianya, tetapi Asha berusaha selalu tabah menjalankan takdirnya dan membesarkan putranya dengan baik.

 

Debaran jantungnya masih terasa memburu, menahan gejolak yang seakan membuncah di dalam dadanya. Seolah tidak bisa menerima kenyataan bahwa Murad sang suami kini telah tiada, kembali ke hadirat yang maha pencipta. Beberapa kali ia menarik napas panjang dan berusaha menguasai diri. Kemudian ia berbaring di samping putranya dan berusaha memejamkan mata. 

 

Keesokan harinya, Asha mempersiapkan keperluan sekolah putranya tak lupa bekal makan siang dan minuman. Ia pun mempersiapkan diri untuk berangkat ke kantor setelah mengantar sekolah putranya. Sebagai seorang single parents ia menangani semua urusan anak dan rumah tangga seorang diri tanpa bantuan asisten rumah tangga.

 

Setelah pekerjaan di kantor selesai ia pamit pulang untuk mengerjakan proyek buku novel di rumah. Asha adalah seorang jurnalis, tetapi mempunyai hobi menulis novel. Proyek buku novel kali ini agak sedikit rumit. Kadang ide tiba-tiba muncul tapi terkadang buntu tidak ada ide sama sekali. Kemudian terdengar suara dering ponsel dari dalam tas kerjanya.

Ia mengambil dan menjawab panggilan tersebut.

 

“Halo, assalamualaikum dengan Asha di sini ada yang bisa saya bantu?” Asha menyapa.

 

“Walaikumsalam ini dengan Ibu Asha?” tanya seseorang di seberang sana.

 

“Benar saya sendiri,” jawab Asha

 

“Ini dari mana dan ada perlu apa?” tanya Asha kemudian.

 

“Kami dari biro perjalanan umroh dan wisata keliling negaraTimur Tengah. Ingin memberitahukan kepada Anda, karena sesuatu hal rencana perjalanan Anda ditunda untuk beberapa waktu. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya wassalamu’alaikum.” Terdengar suara di seberang memutuskan panggilan.

 

“Walaikumsalam wr wb,” jawab Asha.

 

“Huh … bila ia tidak mundur, itu tidak akan terjadi,” keluhnya penuh sesal.

 

“Tetapi apa boleh buat, semua yang terjadi di luar rencana …,“ lanjutnya.

 

Asha masih duduk termangu-mangu. Kemudian ia pun beranjak berdiri lalu berjalan menuju kebun. Di sanalah biasanya ia mencari inspirasi untuk melanjutkan cerita dalam proyek menulisnya. Asha selalu bersemangat merampungkan beberapa proyek novelnya yang lain. Tetapi entah apa yang terjadi kali ini, semua kata-kata dan ide-ide cemerlang yang biasa bertumpuk di kepala seakan raib dan menghilang begitu saja, entah ke mana. Seperti rencana liburannya yang gagal, semua sudah dipersiapkan dengan baik tetapi apalah daya. Manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan.

 

Impian liburan yang ia gadang-gadang ke Turki pun hanyalah impian belaka. Meskipun semua rencana telah dipersiapkan dengan sempurna. 

 

“Baiklah … next time mungkin akan terlaksana. Menjelajahi kota-kota impian di Turki,” ucapnya penuh harap dalam hati sambil tersenyum.

 

Banyak rencana yang telah lama diimpikannya bersama sang suami, semua kandas tinggal impian. Janji pergi umroh dan berhaji bersama kini tinggal angan-angan belaka. Ingatan Asha kembali terpaut kepada Murad sang suami. Kerinduan yang tak pernah terobati seakan menggerogoti hatinya. Rindu yang tak pernah akan sirna, tetapi Asha tetap bertahan demi kedua buah hatinya. Semakin malam ia pun makin tenggelam ke dalam lamunannya. Matanya menerawang jauh ke atas langit-langit kamarnya.

 

“Kita akan melaksanakan ibadah umroh beberapa tahun lagi.” Suara Murad seakan berbisik.

 

“Mungkin di saat itu anak kita mulai beranjak dewasa yang tidak akan begitu bergantung kepada kita, mereka sudah mandiri dan bisa melakukan apa pun sendiri,” lanjutnya sambil menatap kegelapan malam, tatapan matanya terlihat kosong menunjukkan pikirannya sedang berkelana entah ke mana.

 

 Asha hanya terdiam duduk terpaku di samping suaminya. Banyak hal yang berkecamuk di dalam benak wanita itu.

 

“Apa ketika pergi umroh nanti, kita hanya berdua saja?” tanya Asha kepada suaminya.

 

Sesaat kemudian Murad menganggukkan kepalanya.

 

“Akan kutunjukkan apa yang disebut romantis itu?” katanya kemudian sambil menatap wajah Asha istrinya lekat-lekat.  

“Apa? Bagaimana menurutmu romantis itu … ?” tanya Asha kepada Murad sambil tersenyum bahagia.

 

“Baiklah akan kujelaskan kepadamu, Sayang,” jawab Murad berlagak sebagai seorang guru yang memberikan pemahaman kepada muridnya.

 

Asha membalas tatapan matanya kemudian membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Murad. Untuk beberapa saat mereka berpelukan, dan saling terdiam membiarkan hati mereka berbicara satu sama lain. Hari semakin larut suara binatang malam seolah menjadi musik pengiring yang mengalun merdu. Di dalam hati Asha berjanji akan selalu ada di samping Murad dan mendampingi kedua buah hatinya. Tak terasa ia pun tertidur pulas dengan memeluk sang suami di dalam mimpi.

 

Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari mushola di dekat rumahnya. Ia pun terbangun dan membuka mata lalu beranjak dari tempat tidur. Tiba-tiba Asha menangis sesenggukan tak mampu menahan duka di dalam hatinya ketika menyadari semua yang dia alami ini hanya mimpi. Murad benar-benar telah tiada. Kepergian Murad menghadap sang maha pencipta 4 tahun lalu itu benar-benar membuat dirinya hancur. Begitu banyak rencana yang ia persiapkan belum terlaksana karena kepergian suaminya. Sebuah untaian tasbih dari kayu cendana pemberian sang suami, yang setiap saat ia bawa ke mana-mana yang membuat hatinya terasa dekat walau hanya di dalam doa.

Semua janji yang telah terukir harus tersingkir karena takdir. Banyak rencana yang belum terlaksana, tetapi ia percaya takdir Allah SWT-lah yang terbaik. Manusia bisa merencanakan apa pun dengan sebaik-baiknya tetapi Allah SWT sang perancang rencana yang terbaik. 

Sragen, 120924

Lates Chapters

Cerita Cinta Cendana

  Penulis : Wishper   Sayup isak tangis di keheningan menjelang malam terdengar merana, mengukir pedih di langit yang tengah merah merona. Lembayung baru saja…

Jodohku Dari Facebook

Penulis : Syarmalee97     "Jangan terlalu membenci seseorang. Karena bisa saja rasa bencimu berubah jadi cinta."   Kenalin nama gadis cantik ini Nayara Anandhita,…

Gara-gara Segelas Caramel Machiato

  Penulis : Uslifatunisa    Di sudut ruangan. Tempat yang selalu menjadi favoritnya dengan pesanan yang sama tiap hari, segelas cappucino. Dia selalu mengenakan setelan…

You and Me

Penulis : White Lily_   Sore ini, seperti biasa Dara pergi ke salah satu toko buku di pusat dunia dunia di Jakarta.   Cuaca cukup…

Cinta Tak Pandang Rupa

Penulis : Nyonyapap   “Agghhh … apakah kesalahan dan dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan? Sampai-sampai aku haruskah kamu hukum seperti ini? Ini sudah kali…

Melepas Luka Cinta Darimu

Penulis : Raraf   Sejak dikecewakan oleh Heri, Dila tak ingin kenal lagi dengan cowok. Heri telah berhasil membekaskan luka hati yang mendalam. Dila sangat…
error: Content is protected !!