1001 Kisah

Jodohku Dari Facebook

Penulis : Syarmalee97

 

 

“Jangan terlalu membenci seseorang. Karena bisa saja rasa bencimu berubah jadi cinta.”

 

Kenalin nama gadis cantik ini Nayara Anandhita, biasa dipanggil Arra umurnya 18 tahun. Setelah lulus dari SMA, Arra tidak melanjutkan pendidikannya. Melainkan, Arra langsung bekerja di Konter atau toko pulsa dan handphone.

 

Tahun 2013 tepatnya bulan Juli. Arra masuk dalam sebuah grup sosial media Facebook, saat pertama masuk Arra langsung diterima oleh sang admin. Pemilik juga pembuat grup di Facebook.

 

Awalnya biasa saja. Arra memposting beberapa status juga ada banyak yang mengomentari dan menyapanya. Tiba-tiba saja Arra dimintai permintaan pertemanan oleh salah satu akun, Arra pun dengan cepat mengonfirmasinya.

 

Beberapa hari masuk ke dalam grup itu. Arra kembali memposting status. Namun, bukan di dalam grup. Melainkan di beranda miliknya sendiri.

 

[Lagi sakit. Tapi, harus tetap semangat kerja] 

 

Kurang lebih begitu status yang Arra buat. Setelah membuat status Arra menyimpan HP-nya lalu melayani pelanggan yang ingin membeli pulsa.

 

Arra kembali memainkan ponselnya setelah melayani pelanggan. Dari postingan yang sebelumnya dibuat Arra. Arra melihat ada orang yang mengomentari statusnya.

 

[Kerja di mana, Teh?] Komentar akun yang ternyata sebelumnya pernah mengirimi permintaan pertemanan.

 

[Kerja dikonter, A.]

 

[Oh, lagi sakit, ya?]

 

[Iya, sedikit, hehe!] Arra kembali membalas.

 

Dari berbalas komentar. Akun itu mengirimi Arra pesan pribadi melalui inbox, panggil saja dia Ji Chang Wook.

 

[Assalamu’alaikum, Teh] 

 

[Wa’alaikumsalam] 

 

Balas berbalas pesan berlangsung cukup lama. Bahkan, sampai berhari-hari. Arra dan Ji Chang Wook mulai akrab walaupun kenal hanya melalui sosial media. 

 

Dari berbalas-balas komentar hingga berakhir dengan mengirim pesan pribadi melalui inbox. Ji Chang Wook mulai menyukai Arra, dia mengatakan jika suka dengan Arra. Tapi, Arra tidak membalas perasaannya saat itu karena Arra malas untuk berpacaran.

 

 

🍁🍁🍁

 

 

2 bulan kemudian.

 

Arra kembali memposting status di media sosial Facebook-nya. Ada beberapa akun lain yang mengomentari status milik Arra, tapi bukan Ji Chang Wook orangnya. Dari beberapa orang yang mengomentari, memang ada salah satu akun yang berkomentar cukup banyak. Bahkan, menurut Arra berbalas komentar dengannya cukup menarik.

 

Sementara itu, Arra yang mulai bosan beralih dengan masuk ke grup yang dimasuki sebelumnya. Namun, tiba-tiba saja ada notifikasi jika Arra sudah dikeluarkan oleh admin.

 

“Kok, dikeluarin,” batin Arra. 

 

Arra mencoba masuk kembali tapi tidak bisa. Arra melihat informasi grup ternyata admin grup yang diikuti Arra itu adalah Ji Chang Wook. Arra yang kecewa dengan Ji Chang Wook karena dikeluarkan dari grup secara tiba-tiba langsung mengirim pesan padanya.

 

[Assalamualaikum. A, Arra kok dikeluarin dari grup?]

 

Ji Chang Wook dengan cepat membalas.

 

[Waalaikumsalam. Kenapa emangnya?]

 

[Kok, kenapa? Arra salah apa, kenapa tiba-tiba dikeluarin?]

 

[Aa, nggak suka lihat kamu balas-balasan komentar sama dia.]

 

Arra terkejut melihat balasan yang dikirim Ji Chang Wook, lalu membalas pesan yang dikirimnya.

 

[Komentar, komentar yang mana? Dia siapa?]

 

[Yang tadi, kamu balas-balasan komentar sama dia.]

 

[Aneh, Arra yang balas-balasan komentar. Kok, Aa keluarin Arra dari grup. Apa urusannya sama grup?]

 

[Aa nggak suka lihat kamu balas-balasan komentar kaya gitu. Jadi, kamu nggak suka Aa karena ada yang lain. Ada yang lebih menarik.] Ji Chang Wook Menuduh Arra

 

Arra yang terkejut dengan balasan pesan yang dikirim oleh Ji Chang Wook merasa cukup kesal.

 

[Aneh Aa, mah. Arra masuk ke grup ‘kan bukan karena apa-apa. Tapi, karena mau kenal aja sama yang lain. Arra juga nggak kenal sama dia. Tapi, cuma balas-balasan komentar doang. Kok, jadi aneh-aneh bawa bawa perasaan lagi.]

 

[Emang iya ‘kan. Jujur aja, pantesan Aa inbox beberapa kali jawaban kamu singkat terus. Ternyata kamu suka yang lain.]

 

Mungkin, Ji Chang Wook ini cemburu melihat isi komentar Arra dengan akun lain yang membuat Ji Chang Wook merasa jika Arra menyukai orang lain dan menolak perasaannya.

 

[Suudzon Aa mah, nggak baik, ih!]

 

[Alah, so alim ! Fotonya aja dikerudung, padahal laki-laki ini itu dilayanin.]

 

Arra sangat marah melihat isi pesan yang dikirim Ji Chang Wook padanya. 

 

[Astaghfirulloh. Kok, Aa jadi ngomong yang nggak-nggak. Ya udah, nggak apa-apa dikeluarin juga!]

 

Arra benar benar kesal dengan Ji Chang Wook. Padahal, di grup itu Arra mendapat teman-teman baru karena kebetulan setelah lulus sekolah Arra tidak punya teman untuk sekedar bertukar pesan. 

 

Arra mencoba melihat akun milik Ji Chang Wook. Namun, ternyata Ji Chang Wook sudah lebih dulu memblokir pertemanannya dengan Arra.

 

“Dasar orang aneh, mudah-mudahan nggak kenal lagi sama orang kaya gitu, benci tahu nggak Arra. Baru kenal juga udah ngomong yang nggak-nggak,” batin Arra.

 

***

 

1 tahun berlalu

 

Arra membuat akun Facebook baru. Dengan nama dan tanpa foto profil terpasang. Karena trauma dengan kejadian sebelumnya. 

 

Arra meminta beberapa pertemanan kepada orang lain. tak hanya itu, Arra juga mendapat permintaan pertemanan dari orang lain.

 

Ada satu akun yang meminta pertemanan dengan nama Park Seo Joon. Arra pun langsung mengonfirmasinya.

 

Setiap status yang Arra buat. Park Seo Joon selalu mengomentarinya. Begitu juga Arra yang slalu membalasnya. Bukan apa-apa Arra membalas setiap orang yang berkomentar karena Arra takut dikira sombong. Apalagi, mengingat beberapa akun sering mengatainya sombong jika komentarnya tidak dibalas.

 

Park Seo Joon mengirim inbox setelah beberapa kali berkomentar. Setelah beberapa hari bertukar pesan. Dia menanyakan banyak hal. Di mulai dari alamat rumah, pekerjaan, usia dan kegiatan sehari-hari. 

 

Park Seo Joon meminta untuk berkenalan juga meminta untuk bertemu. Karena kegiatan sehari-hari Arra hanya bekerja. Arra tidak memiliki waktu untuk bermain karena jika libur Arra hanya memanfaatkannya dengan sekedar beristirahat di rumah. 

 

Park Seo Joon pun meminta bertemu di tempat bekerja Arra saja, dan Arra menyetujui apa yang diminta Park Seo Joon. Sebelum pulang dari tempat bekerja, Park Seo Joon datang dengan menggunakan sepeda motor menuju tempat bekerja Arra.

 

Ting!

 

Arra mendapat satu pesan masuk.

Arra yang sedang membereskan barang juga menghitung penjualan hari itu. Melihat ke arah ponselnya lalu membuka pesan masuk.

 

[Assalamualaikum. Ini aa, Ra. Yang pakai motor hitam.]

 

Arra yang terkejut melihat isi pesan itu dengan cepat menoleh ke arah depan lalu melihat seseorang yang duduk di sepeda motor memakai helm berwarna putih, jaket jeans berwarna biru juga celana jeans dengan warna senada.

 

[Waalaikumsalam. Arra kira Aa teh nggak jadi datang.]

 

[Iyaa, maaf datangnya tiba-tiba.]

 

[Nggak apa-apa kok, A. Tapi, Arra sebentar lagi mau pulang, ketemunya paling sebentar.]

 

[Ya udah, nanti pulangnya dianterin.]

 

Jarak rumah Arra menuju tempat kerja tidak terlalu jauh. Arra juga pulang pergi dengan cara berjalan kaki. Karena rumah Arra di belakang tempat kerja hanya terhalang beberapa rumah.

 

Setelah selesai. Arra pamit pulang, bukannya naik motor, Arra lebih memilih untuk berjalan kaki dengan Park Seo Joon yang mengikuti dengan sepeda motor di belakangnya.

 

Sesampainya di depan rumah.

 

“A, makasih udah dianterin. mau mampir dulu?” tawar Arra yang berdiri satu meter dari tempat Park Seo Joon menaiki motornya.

 

“Boleh,” jawabnya yang membuat Arra terkejut. Arra pikir, jika Arra berkata seperti itu dia akan menolak. Tetapi, dia malah menjawab dengan setuju

 

“Ka-kalo gitu. Ayo masuk, A!” ajak Arra terbata. Park Seo Joon turun dari motornya lalu mengambil sebuah kresek berwarna putih

 

Arra berjalan dengan pelan karena takut dengan bapak dan ibunya. Apalagi, Arra pulang dengan membawa seorang pria.

 

“Assalamualaikum.” Arra mengucapkan salam seraya membuka pintu

 

“Waalaikumsalam,” jawab orang-orang dari rumah.

 

Arra diam mematung di ambang pintu.

 

“Kenapa?” tanya bapak.

 

“I-ini, Pak. Euhh ….”

 

“Apa? Masuk atuh, udah malam ini teh!”

 

“I-ini, Pak. A-ada yang datang,” ujar Arra pelan

 

“Siapa emang? Bapak mah nggak nunggu tamu.”

 

“I-ini temennya Arra,” jawab Arra dengan pelan. Seluruh keluarga, bapak, ibu, adik dan kakak Arra terkejut.

 

“Teman? Teman yang mana?” tanya bapak beranjak dari duduknya lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.

 

Betapa terkejutnya bapak melihat seorang pria berdiri di belakang Arra. “Oh, sok atuh masuk!” ajak bapak dengan ekspresi sedikit terkejut karena baru kali ini Arra membawa temannya datang apalagi seorang pria.

 

“I-iya, Pak, assalamualaikum.” Park Seo Joon masuk sambil mengucapkan salam.

 

“Waalaikumsalam.” 

 

“Sok, duduk, A!” ucap bapak lalu duduk di samping Park Seo joon, sedangkan Arra duduk tak jauh darinya. Duduk bersama adik dan kakaknya.

 

Semua keluarga Arra datang mendengar Arra pulang bersama pria. Karena kebetulan rumah Arra dan saudara ibunya berdekatan. Mereka melihat pria yang dibawa Arra, banyak pertanyaan yang ditanyakan keluarga Arra pada Park Seo Joon. 

 

Park Seo Joon melihat keluarga Arra yang cukup banyak membuatnya tidak berkutik. Hanya duduk menunduk dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh keluarga Arra. Setelah beberapa waktu berlalu dan malam semakin larut, Park Seo Joon pamit pulang pada Arra dan keluarga.

 

***

1 bulan berlalu.

 

Park seo joon hilang setelah datang ke rumah Arra tempo hari. Arra merasa jika Park Seo Joon hanya bermain-main dan hanya penasaran dengan Arra.

 

Malam hari.

 

Saat hendak pulang dari bekerja. Arra mendapat satu pesan atau SMS dari nomor Park Seo Joon.

 

[Assalamu’alaikum. Ra, ini aa. Maaf baru ngabarin lagi.]

 

Arra terkejut melihat pesan yang dikirim

Park Seo Joon. Padahal, Arra sudah menganggap jika Park Seo Joon hanya penasaran dengannya.

 

[Waalaikumsalam, A. Oh iya, nggak apa-apa, A. Ke mana aja?]

 

[Sepulang dari rumah kamu waktu itu. Aa disuruh pergi ke Bangka, Ra. Buat kirim barang. Kebetulan, di sana juga agak lama. dua hari lalu baru pulang.]

 

[Oh, Arra kira Aa ke mana. Nggak ada ngabarin Arra.]

 

[Iya. Maaf ya, Ra. Oiya, besok aa mau datang sama Mama sama Teteh.]

 

Melihat pesan terakhir itu Arra terkejut bukan main. Kenapa Park Seo Joon berbicara jika dirinya akan datang bersama ibu dan kakaknya?

 

[Emang mau ngapain, A?]

 

[Ada, deh. Besok paling sorean, aa datangnya, ya! bilangin aja sama mama dan bapak.]

 

[Iya, A.]

 

[Ya udah, nanti dikabarin lagi, ya. Aa lagi kerja. Assalamualaikum.]

 

[Waalaikumsalam.]

 

Arra yang tengah berjalan sambil membalas pesan dari Park Seo Joon. Dengan cepat berlari menuju rumah, lalu memberitahukan apa yang dikatakan Park Seo Joon kepada orang tuanya.

 

Betapa terkejutnya orang tua Arra mengetahui jika pria yang dianggap mereka hanya penasaran dengan Arra malah ingin datang bersama orang tua dan kakaknya.

 

“Kamu teh serius?” tanya bapak.

 

“Serius atuh, Pak, masa bohong,” jawab Arra.

 

“Kalau ternyata dia datang untuk ngajakin nikah gimana? Kamu siap emang?” tanya bapak kepada Arra.

 

Mendengar kata nikah, Arra terdiam beberapa saat. Bapak dan ibu Arra melihat Arra yang terdiam mungkin terkejut dengan apa yang dikatakan bapak.

 

“Jawab atuh! Harus pasti, tapi, bapak mah nggak akan maksa. Terserah kamu aja!” ucap bapak mencoba menenangkan Arra.

 

“Makanya, Ra, jangan asal bawa-bawa orang atuh. Kan jadi gini,” ujar ibu Arra.

 

Arra terdiam kembali sambil memainkan jarinya.

 

“Sok dipikir dulu, Ra. Kalau si aa teh udah bawa orang tuanya berarti dia teh ada maksud,” ucap bapak, dan Arra hanya mengangguk pelan.

 

“Udah, ah! Jangan bengong. Istirahat aja udah malem,” ucap ibu Arra. Arra mengangguk saja.

 

Keesokan harinya.

 

Park Seo Joon benar-benar datang bersama kakak dan ibunya. Benar saja, mereka datang ada maksud meminang Arra untuk anaknya. Mereka memberi waktu 1 bulan untuk Arra berpikir.

 

Hari berganti, 1 bulan cepat berlalu. Sebelum mengambil keputusan, Arra mencoba meminta petunjuk dengan shalat istikharah. Petunjuk itu datang lewat mimpi Arra. Dengan kesungguhan hati dan petunjuk yang sudah diberikan, Arra memutuskan untuk menerima pinangan dari Park Seo Joon.

 

Setelah pinangan itu. 1 bulan setelahnya akan diadakan ijab kabul. Karena keluarga dua belah pihak. Keluarga Arra dan Park Seo Joon memutuskan untuk syukuran saja tanpa ada pesta dan Arra juga Park Seo Joon tidak keberatan dengan hal itu.

 

***

 

1 Minggu setelah pernikahan.

 

Park Seo Joon membuka ponselnya di depan Arra, lalu Park seo joon memperlihatkan sebuah grup dari layar ponselnya.

 

“Kenal nggak, Ra?” tanyanya. Arra lalu melihatnya dengan jelas.

 

“Oh, grup di Facebook. Itu, dulu Arra dikeluarin dari sana.”

 

“Kenapa?”

 

“Masa Arra dituduh so alim. Udah gitu, Arra dibilang layanin laki-laki ini itu.” Arra berdecak kesal.

 

“Jahat, ya?” ucap Park Seo Joon dengan santai. 

 

Arra mengangguk. “Iya, jahat banget, A! Benci Arra sama Dia!”

 

“Jadi, benci sama aa?” tanya Park Seo Joon.

 

“Hah?!” tanya Arra terkejut sedangkan Park Seo Joon asyik dengan ponselnya. “Maksudnya apa, A?” lanjutnya bertanya.

 

“Padahal yang buat grup itu aa, lho, Ra,” ungkap Park Seo Joon membuat Arra terkejut.

 

“Yang bener?”

 

“Bener,” jawab Park Seo Joon dengan wajah serius.

 

Plak!

 

Arra memukul lengan Park Seo Joon cukup keras.

 

“Awh! Sakit atuh, ih!” Park Seo joon mengusap lengannya.

 

“Jadi Aa yang bilang Arra so alim teh? jahat pisan atuh, ih!” Arra berdecak kesal.

 

“Kan udah lama atuh, Ra. Nggak apa-apa da masa lalu,” sahut Park Seo Joon tanpa bersalah sedikit pun.

 

“Masa lalu apanya! Jahat tahu nggak, A!”

 

“Iya, maaf atuh, Ra, maaf. Da sekarang mah udah nikah,” godanya sambil mengedipkan mata. Arra menatap wajah Park Seo Joon dengan tajam.

 

Tamat

Lates Chapters

Cerita Cinta Cendana

  Penulis : Wishper   Sayup isak tangis di keheningan menjelang malam terdengar merana, mengukir pedih di langit yang tengah merah merona. Lembayung baru saja…

Gara-gara Segelas Caramel Machiato

  Penulis : Uslifatunisa    Di sudut ruangan. Tempat yang selalu menjadi favoritnya dengan pesanan yang sama tiap hari, segelas cappucino. Dia selalu mengenakan setelan…

Sehidup Sesyurga

Penulis : Yuyun Ambaryani   Di sebuah restoran seafood di daerah Jimbaran, Bali. Asha dibantu oleh para karyawan restoran mengadakan pesta kejutan kecil untuk Murad,…

You and Me

Penulis : White Lily_   Sore ini, seperti biasa Dara pergi ke salah satu toko buku di pusat dunia dunia di Jakarta.   Cuaca cukup…

Cinta Tak Pandang Rupa

Penulis : Nyonyapap   “Agghhh … apakah kesalahan dan dosa yang pernah aku lakukan, Tuhan? Sampai-sampai aku haruskah kamu hukum seperti ini? Ini sudah kali…

Melepas Luka Cinta Darimu

Penulis : Raraf   Sejak dikecewakan oleh Heri, Dila tak ingin kenal lagi dengan cowok. Heri telah berhasil membekaskan luka hati yang mendalam. Dila sangat…
error: Content is protected !!