Penulis : Wishper
Sayup isak tangis di keheningan menjelang malam terdengar merana, mengukir pedih di langit yang tengah merah merona. Lembayung baru saja tiba, menemani sesosok gadis melipur lara.
Cendana, nama yang menggurat indah di kanvas angkasa, pemberian ibunda tercinta. Andai beliau ada di sisinya, andai mereka masih bersama, pastilah tangan keriput penuh kasih tersebut akan lembut mengusap ubun-ubun kepala, hingga gadis kecilnya bahagia senantiasa.
“Aku rindu Bunda, aku butuh Bunda,” rengeknya mewakili retak yang semakin merambat di bongkah hati, tatkala mengingat sahabat tercinta malah meminang gadis lain ketimbang dirinya.
Seakan belum cukup takdir menyakitinya dengan perpisahan, kali ini giliran Malaka yang ikut andil dalam kehancuran jiwa. Pasak hatinya tak lagi kuat menopang, luluh-lantak bagai seongok kotoran di tanah. Tidak berharga.
Mengadu pada Sang Pencipta pun percuma bagi Cendana. Ia hanya butuh cinta.
Kenangan awal pertemuan mereka berputar kembali, terngiang dalam imajinasi, persis menonton tayangan indah berujung pedih berulang kali. Memainkan adegan demi adegan seiring retak di dada yang semakin menganga.
Kala itu, Cendana sedang kesal dengan orang rumahnya, berjalan sembari melantunkan senandung ceria. Rembulan bulat sempurna menggelayut di awang-awang langit, tirai malam menebar pesona dengan taburan gemintang yang bagai goresan elok oleh seorang pelukis piawai.
Tanpa sengaja, dilihatnya seorang lelaki bermuram durja memeluk batu nisan.
Awalnya Cendana pikir itu hantu, barulah ketika melihat pria berkaus cokelat meraung sambil memukuli tanah, ia sadar yang di sana itu adalah manusia.
Diam-diam gadis berambut sebahu memperhatikan, mengintip dari balik pohon. Entah kenapa hatinya tertarik mengikuti ketika pemuda yang entah siapa ini melangkah pergi, membelah jalanan lengang meninggalkan area pekuburan.
Disempatkannya melirik ukiran nama di nisan yang baru saja ditangisi pemuda itu, nama seorang wanita yang meninggal di usia empat puluhan. Sepertinya sosok ibu.
Lihat? Ternyata nasib keduanya sama, berpisah dari malaikat tak bersayap yang diutus Tuhan untuk merawat mereka.
Cendana mengikuti agak jauh di belakang pemuda berkaus cokelat dengan sedikit rasa yang berbeda, prihatin sekaligus simpati. Lupa jika ia semakin jauh dari tempat tinggal.
“Biar saja,” pikir Cendana. Paling-paling orang rumah hanya bertanya-tanya ke mana gerangan dirinya. Mana mungkin mereka khawatir.
Ketika tapak kaki sudah berada di tengah jembatan, barulah langkah pemuda itu berhenti. Dipandanginya permukaan sungai yang sangat jernih jikalau dinaung siang, kini menghitam bersama malam.
“Jangan!”
Entah apa yang membuat Cendana berani ikut campur urusan orang, kepedulian dan simpati, mungkin. Tepat ketika pemuda itu hendak memijakkan kaki di pagar jembatan, ia berteriak sembari beranjak mendekat.
Kesedihan mengambang pekat di wajah tampan yang menekuk kusut, sebuah tragedi telah merengut seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya. Bagi pemuda itu, menyaksikan ibunya meninggal di depan mata dan kematian tiada berbeda. Ia ingin segera mengakhiri semua penyesalan dengan menantang kuasa Tuhan.
“Jangan bunuh diri, jangan lakukan hal keji seperti itu. Ibumu tidak mungkin senang.”
“Kamu memang tahu apa?!” Rona yang terpancar sarat akan duka. Pemuda itu tidak peduli dengan siapa ia berbicara, yang tersulut hanya emosi karena kesoktahuan si lawan bicara.
“Takdir memisahkanmu dengan ibumu, begitu pula aku. Kita sama-sama harus terpisah dengan wanita terbaik di dunia karena takdir yang rasanya tak adil. Jadi aku tahu persis apa yang kamu rasakan.”
Lihatlah, pertemuan mereka seumpama takdir yang menyatukan potong hati serupa. Tanpa garis khusus, tanpa pertemuan terencana, keduanya dipertemukan.
Andai Cendana tidak memberanikan diri mengambil tindakan malam itu, jika saja tidak terbetik di hatinya untuk mengikuti sosok lelaki yang bahkan tidak dikenal, maka Malaka pasti sudah mati. Sahabatnya itu tentu telah lama menyusul Sang Bunda.
Itu kejadian setahun lalu, waktu yang umumnya dihabiskan sepasang muda-mudi dalam taman cinta sebelum dilanjutkan ke dalam istana. Jenjang lebih serius.
Sekarang, impiannya sejak dulu untuk menjadi mempelai wanita telah pupus. Tercacah lalu berguguran, bagai daun jati yang gugur di musim kemarau, untuk kemudian kering dan mustahil disatukan seperti semula.
Semua ini menyakitkan. Segala takdir yang tergurat ini menyesakkan.
“Apa arti aku dalam hidupmu, Malaka? Siapa diriku bagimu? Beginikah caramu membalas budi yang sering kau bicarakan seusai aku menyelamatkanmu malam itu?!”
Cendana meraung pilu, meringkuk lebih dalam, membenam diri di kediamannya. Andai bisa, ia ingin mati sekarang juga. Ia tidak mau semua kenangan gila ini menetap dan mengendap pekat di dalam ingatan selamanya.
Padahal dahulu, hubungan mereka sangat indah.
Usia Malaka lebih muda darinya, tapi hal tersebut bukan menjadi penghalang tumbuhnya cinta di antara keduanya. Hampir setiap malam Cendana menemani belajar, membantu sebisanya. Gadis itu juga selalu menunggu kepulangan Malaka dari Universitas.
Melulu setiap ada kesempatan, keduanya jalan bersama, menikmati sepinya taman kota di bawah naungan langit gulita. Walau lebih sering berbincang dalam kamar, semua momen-momen tersebut disimpannya baik-baik dalam kotak kenangan spesial di relung nurani.
“Cendana, boleh aku jatuh cinta padamu?”
Air mata gadis itu meleleh kembali. Selalu dan selalu, sekadar mengingat pertanyaan Malaka saat itu sontak membuatnya tergugu, menangis pilu penuh tujahan sembilu.
“I-iya, tentu.”
Di kala senja menambah rupawan panorama dunia, pertanyaan tersebut terlontar dengan mudahnya, dijawab sesuai rasa yang bersemayam di hati Cendana.
Saat itu semua kebahagiaan membumbung indah di langit-langit hatinya, menepis awan gelap yang biasanya mengungkung. Terbayang betapa cantiknya ia dibalut gaun putih, bersanding pria dengan jas menawan.
Cendana meraung lagi, mengutuk takdir.
Lantas, kenapa detik ini, semua seakan berbalik menyakitinya? Kenapa Malaka harus menikahi gadis lain jika memang mencintainya? Kanapa?!
“Cendana! Aku mohon jangan begini, kamu harus mengerti.”
Seruan Malaka terdengar bersama derit gerbang berkarat yang terbuka, derap langkah mendekat ke arah kediamannya. Cendana tahu pasti pemuda itu akan datang, tapi ia tak berniat keluar dan menemuinya.
“Mengerti, katamu?! Kau minta aku mengerti?! Lalu bagai mana perasaanku selama ini, apakah kau mengerti, Malaka?!” batin Cendana meraung.
Ketukan terdengar, sahabatnya sudah tepat berada di depan.
“Cendana, aku minta maaf. Sungguh, aku mencintaimu. Tapi kau tahu jelas alasanku menikahinya. Tolong jangan begini, aku tidak ingin putus persahabatan denganmu.”
Cendana tidak peduli, ditutupnya telinga kuat-kuat, berharap bisa meredam semua suara dunia. Ia terlalu sakit untuk melakukan apa-apa, bahkan hanya untuk berbicara.
“Ayolah, Cendana. Aku mohon, aku mohon dengarkan penjelasanku.”
“Penjelasan, katamu?! Aku tidak butuh penjelasan, aku butuh cinta!”
Tangisnya menyeruak sanubari dalam diam, mengoyak rasa, membanting asa. Cendana tidak mau lagi berurusan dengan Malaka, tidak akan pernah lagi! Pemuda itu berdusta, cintanya selama ini hanya bohong belaka. Ia benci! Sangat benci!
Lama tidak ada jawaban, Malaka menghela napas pasrah. Sahabatnya pasti sangat marah sekarang, lebih tepatnya kecewa. Teramat. Malaka menyapu pandang keliling sesaat, lalu melangkah ke arah gerbang berkarat.
“Aku minta maaf jika ini menyakitimu. Mungkin kau belum mau bicara padaku, Cendana. Tapi kuharap kau mau datang di pernikahanku nanti. Salam, sahabat yang mencintaimu, Malaka.”
***
Malaka mengusap wajah, rambut panjang sebatas lehernya tampak kusam sebab tadi berlari. Sungguh, tidak ingin rasanya membuat Cendana menangis.Namun, ia bisa apa? Tuhan menuliskan cerita bukan tanpa logika, takdir tidak dipagari perasaan manusia yang selalu ingin keajaiban ada.
Setahun belakangan, rasanya beruntung sekali bisa bertemu Cendana, supel dan ceria. Banyak semangat yang disalurkannya, membuat Malaka lebih bergairah melanjutkan hidup setelah kehilangan satu-satunya keluarga.
Setahun ini, seiring persahabatan mereka, bibit cinta tertanam tanpa diminta, tumbuh subur menjulang tanpa siapa pun duga.
Bahkan meski pemuda itu sadar takdir tidak akan membiarkan kembang terkutuk terus terjaga, tanpa ragu rasa itu tetap tumbuh berbunga.
Kini, takdir memangkasnya. Menepati janji tak tertulis.
Gerbang besi berderit terbuka, bulu kuduk meremang akibat suaranya.
Untuk terakhir kali sebelum mengayun langkah pergi, Malaka menoleh ke belakang, menatap batu nisan bertuliskan nama sahabatnya.
Cendana Cendrawasih.
“Sungguh, aku mencintaimu. Tapi sadarlah, kita tidak bisa bersatu. Aku di sini, tidak di sana sepertimu. Ingatlah, kamu sendiri yang bilang bahwa kamu telah meninggal dua minggu sebelum pertemuan itu. Kamu harus menerima kenyataan, Cendana.”
Malaka pergi dari area pemakaman, meninggalkan Cendana yang terus menangis di gundukan tanah merah tempat tinggalnya.
Tamat