Hidup ini lucu. Kadang aku merasa sedang berdiri diatas sepatu usang, dimana bagian sol sepatunya atau bagian lain siap terlepas kapan saja. Seperti sepatu boots hitam didepanku adalah bukti itu. Kulitnya mulai retak dibagian tumit, warnanya pudar, namun rtap menjadi favoritku. Entah, mengapa aku sangat menyukai sepatu model begini, karena di negeri ini sebenarnya tak terlalu cocok memakai boots. Dia kubeli tiga tahun lalu di pasar loak, dengan uang yang seharusnya kupakai makan selama satu minggu.
Namaku Laira ayu. Aku bukan siapa-siapa. Hanya gadis dua puluh tahun yang tinggal di rumah sempit dipinggiran Jakarta bersama ibuku yang sering sakit-sakitan. Sejak Ayah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan kerja di pabrik, hidup kami berubah drastis. Semua uang habis untuk biaya pemakaman dan hutang yang menumpuk. Kini, aku bekerja sebagai admin di toko online pakaian muslimah. Mengetikkan balasan pelanggan dari pagi hingga malam, sambil menyisipkan mimpiku menjadi designer sepatu boots, agar bisa keliling dunia, minimal ke Paris-lah, selain tentunya Mekkah untuk Umroh dan bersyukur.
Terlalu jauh, ya, kadang aku merasa mimpiku bagai diatas langit ketujuh. Apalagi ketika dihadapkan realita ibu yang terbaring lemah dikasur tuanya. Semalam, batuk ibu tidak berhenti hingga pagi. Aku ingin membawanya ke rumah sakit, tapi rekeningku tersisa seratus ribu saja.
“Ibu, aku ambilkan air putih hangat lagi ya?” Tanyaku pada ibu yang menggangguk sambil tersenyum meneduhkan, meski menahan sakit.
“Ibu pasti sehat kok nak, hanya kecapean saja.” Dengan mata sendu, menerima gelas yang aku beri. Dia hanya ingin aku tetap tenang. Kubetulkan selimut yang sempat terhempas ke sisi samping tempat tidur.
“Kamu gak usah khawatir, fokus sama masa depanmu.” Ucap i u kembali. Aku memgangguk paham, lalu izin keluar tak kuasa menahan butiran air bening yang mengakir deras ke pipi.
Kata-katanya selalu sama, meskipun aku tahu kindisinya kian memburuk. Kadang aku hanya bisa menggenggam tangannya berharap ada keajaiban datang.
Di kamar sebelah, laptopku menyala. Laptop yang juga aku beli di pasar loak sesaat setelah gaji pertamaku ini telah membuat secercah harapan baru. Design boots terakhir yang kubuat semalam, dengan aksen bunga-bunga disepanjang sisi kulitnya, membuatnya terlihat manis. Aku mendesain barang ini dengan hati-hati. Ada tali panjang yang melilit hingga ke betis. Membayangkan para wanita tangguh memakainya sambil menjelajah dunia, seperti impianku.
Segera kuselesaikan u tuk sesi finishing design sepatu ini, agar tidak menghabiskan listrik untuk laptop yang menyala lebih lama. Tiba-tiba ponselku bergetar, Nadya, sahabat sejak SMA menelpon.
“[Laira, kamu gak bakal percaya]” suara Nadya terdengar ceria. Nadya adalah influencer fashion muslimah dengan ratusan ribu pengikut di salah satu sosial media. Meskipun jalur hidup kami berneda jauh, namun, dia selalu mendukung mimpiku.
“[Ada apa sih, Nad, heboh banget?]” Jawabku
“[Kamu tau lomba Global Footware Competition , kan?]” Aku mengernyitkan dahi, “[itu kompetisi sepatu internasional yang sering kamu ceritakan, mereka baru saja buka pendaftaran.]” Ujar Nadya terdengar antusias.
Aku terdiam. Kompetisi itu adalah salah satu yang paling bergengsi di dunia design sepatu. Hadiah utamanya bukan hanya uang, tapi juga magang di salah satu perusahaan sepatu ternama di Italia. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa ikut?
“[Aku tau apa yang kamu pikirkan]” Nadya melanjutkan, “[dengar, design sepatu boots kamu itu keren banget, aku yakin mereka akan suka. Kamu tinggal presentasi designnya, dan aku bisa bantu promosiin di sosial media, gimana?]”
“[Tapi, buat daftar saja aku belum ada uang, Nad, belum lagi kalau lolos harus ke Luar Negeri]” ujarku pesimis.
“[Laira, kalau kamu terus mikir halangan, gimana mau melangkah maju. Coba aja dulu, urusan lain nanti kita pikirkan belakangan]” ucap Nadya menyemangatiku.
Ucapannya benar, aku selalu takut untuk mencoba. Tapi kali ini aku tidak bisa membiarkan ketakutan mengalahkan impianku.
“[Baiklah, aku akan coba]” jawabku akhirnya, disertai tarikan nafas panjang sambil menengadahkan wajah ke langit-langit kamar.
“Laira, tolong.” Terdengar suara ibu dan tubuh yang terjatuh dari kamar sebelah, sesaat selesai menutup ponsel dari Nadya, lalu berlari ke arah lain.
“Ibu!!” Suaraku memekik
-bersambung–