Aku menatap langit kamar. Sebuah kebiasaan yang sulit kuhindari, melamun membayangkan betapa senang memakai boots berjalan diatas salju, atau hanya jalan santai di pinggir kota Venice, atau Paris. Entah kapan akan terwujud. Tapi, aku harus yakin bisa, karena itu mudah bagi Allah untuk mewujudkannya, hanya butuh sebuah usaha maksimal, yang tentu saja ditemani doa sebagai senjata utama.
Terlintas saat siang tadi aku bertemu Arkan di kantor Alvaro, secepat kilat aku menghindar bertemu dengannya, yang mungkin dia sudah melihatku. Beruntung cahaya di sudut ruang itu redup, membuat wajahku tidak sepenuhnya jelas. Sejak Nadya mengatakan ingin mendekati Arkan, aku ambil posisi, tak mau memberi harapan lebih pada Arkan. Walaupun sebenarnya aku juga mulai ada rasa. Salah satunya dengan mengurangi waktu bertemu.
“[Selamat Lai, kamu masuk semifinal, yuk, ah, makan-makan, satu jam lagi aku jemput ya]”
Aku tertegun membaca pesan Nadya, rupanya dia yang ingat hari ini penguman kompetisi boots itu, justru aku yang lupa. Berita bahagia ini kuberitahukan pada ibu, agar nantinya doa serta pujian ibu padaku semakin dilangitkan. Aku berharap ibu mendukung setelah tau kabar ini.
“Senang sekali ibu mendengarnya, tapi…bagaimana dengan biaya nanti disana?” Tanya ibu to the point.
“Akan kupikirkan nanti, ibu tidak perlu khawatir, pasti ada jalan bagi yang punya niat dan tujuan baik, bukan?” Sambil menatap Ibu yang mengangguk tanda memantapkan hati. Memang syarat dari kompetisi itu, jika peserta masuk semifinal, akan diundang oleh panitia untuk datang di kota penyelenggara, yaitu Milan. Semua biaya ditanggung oleh mereka, mirip seperti beasiswa ke luar negeri. Masalahnya, mereka memakai sistem klaim, karena menghindari pembatalan peserta. Jadi yang benar-benar datanglah yang akan diganti uang oleh mereka. Tugasku, kembali mencari pinjaman untuk biaya berangkat, juga sejumlah uang untuk pegangan selama belum terkonfirmasi proses klaim-nya.
Aku menghela nafas dalam, duduk di sofa ruang tengah. Berpikir keras, dalam menemukan cara mendapat uang sejumlah dua puluh jutaan, hutang di Bu Ratna kurang tiga puluh persen, namun sungkan bila menambah pinjaman kembali. Ditengah perdebatan pikiranku, Nadya datang. Tidak terasa selama dua jam lebih diri ini hanya duduk di sofa memikirkan cara yang membuatnya ingin menyerah saja dari kompetisi itu. Namun sayang, jika harus mengorbankan mimpi keliling dunia, dimana akan dimulai dari Milan, jika memang terjadi.
“Lai, gak perlu dipikirin, entar juga datang sendiri uangnya.” Canda Nadya sambil makan bakso mercon kesukaannya. Dia mengajakku makan di warung bakso yang cocok dilidahnya sejak jaman SMA, di dekat rumahku.
“Aku malu jika harus meminjam ke Bu Ratna lagi Nad, aku juga malu kalau pinjam ke koperasi atau sejenisnya, rasanya tidak akan di ACC dengan alasan dipakai ikut kompetisi sepatu, ke luar negeri lagi.” Ucapku sambil memakan bakso biasa tanpa isian, karena aku tak suka pedas.
“Istighfar Lai, kali aja ada rezeki tak terduga.” Ujar Nadya santai
“Ya, semoga, bismillah tiga minggu lagi ada keajaiban.” Kataku mencoba optimis, kami, pun, membicarakan tata cara seputar naik pesawat dimana kebetulan ini pertama kali untukku, dan langsung menyebrangi samudra, lalu obrolan berlanjut tentang pembuatan paspor, visa dan lain sebagainya. Beruntung sahabatku ini pernah berpengalaman ke luar negeri, tentu saja karena diundang brand untuk promosi.
“Ya ampun enak banget bakso ini, duh, pengen nambah tapi takut melar, nih.” Ucap Nadya membuatku terkekeh, “Lai, kamu, kan lagi libur. Sebentar lagi aku bertemu Arkan, ikut yuk, refreshing sesekali, biar ide desain makin lancar.” Aku menolak dengan alasan kepikiran ibuku, tapi Nadya sudah menyeret lengan ini untuk masuk ke mobil merahnya.
Di sebuah studio kecil yang di sewa Nadya untuk photoshoot, terlihat Arkan sedang mengatur pencahayaan kamera. Nadya berdiri disampingnya dengan raut kasmaran, dengan mengenakan pakaian yang ia promosikan.
“Arkan, gimana, sudah terlihat oke, nggak?” Ucap Nadya dengan berpose.
“Oke banget, Nad, kayaknya Campaign ini akan sukses besar.” Ucap Arkan memotivasi, sedang aku hanya menyimak mereka. Arkan tidak tahu jika Nadya datang bersamaku.
Nadya terkekeh kecil, “Makasih, kamu tahu, aku gak sekedar cari fotografer jago, tapi fotografer yang mengerti aku.”
“Dan, aku ngerti kamu.” Jawab Arkan sambil menyesuaikan kamera, berhasil membuat Nadya merona seketika. Namun ada rasa sesak mendengar hal itu.
“Kamu lebih dari itu Arkan, aku rasa kita bisa jadi sebuah tim hebat, atau mungkin lebih.” Jawab Nadya dengan mengakhiri pose dalam satu sesi, dia tengah merayu Arkan untuk memujanya. Aku melihat raut wajah Arkan yang biasa saja dan tersenyum samar. Mungkinkah dia tahu Nadya menyukainya, bagaimana denganku? Tiba-tiba kakiku lemas karena sejak tadi berdiri di balik patung properti, aku meraih kursi plastik namun justru terjatuh, membuat Arkan menoleh.
“Laira…aku baru tahu kamu disini.” Dia segera menolongku berdiri, “kamu tak apa?” Ucapnya, tampak khawatir.
“It’s oke, untung gak terkilir, gakpapa, kok, maaf membuat gaduh.” Ucapku seadanya, sambil melihat ekspresi Nadya yang mencebik, karena Arkan memegang lenganku.
Dalam tiga sesi terakhir, Arkan banyak bicara denganku. Sesekali Nadya menimpali. Aku menceritakan semifinal kompetisi itu, lalu beralih pada kesehatan ibuku, serta dia juga cerita akan mengikuti lomba fotografi di Paris. Kami tampak akrab, membuat Nadya semakin cemberut. Aku sadar dia cemburu, dan aku tak bisa berkutik saat mata ini tak sengaja beradu pandang dengan Arkan saat membereskan produk Nadya. Untung saja momen itu tidak telihat sahabatku, karena dia sedang di ruang ganti.
Saat pulang, Nadya tidak mengajakku bicara, dia pura-pura sibuk menelpon dengan klien ataupun memutar musik dengan sedikit kencang. Aku tahu dia marah padaku karena menanggapi Arkan. Dia menurunkan aku begitu saja tepat di ujung Gang, padahal mobil masih bisa masuk. Tidak masalah, aku berjalan masuk sejauh dua ratus meter, sambil memainkan ponsel, lalu ada notifikasi pesan. Nadya, cepat sekali,
“[Maaf Lai, uang pendaftaran kompetisi boots tolong dikembalikan minggu depan ya]”
Seketika perutku mual, belum juga terpikir untuk berangkat ke Milan memakai uang apa, malah ditambah dengan tagihan pendaftaran. Aku berjalan gontai sampai dirumah, disambut pelukan hangat ibuku.
-bersambung-