Table of Contents
Lates Chapters
HTB~5
Beberapa lantai di bawah ruangan CEO. Hachii! Seira buru-buru menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. Napasnya pendek, dadanya terasa sesak. Ia mempercepat langkah menuju toilet wanita, menekan pintu hingga terbuka lebar, lalu masuk dan langsung berdiri di depan wastafel.…
HTB~4
Di ruang kerja CEO. Ruangan itu luas dan modern, didominasi kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, memberikan pemandangan langsung ke gemerlap kota. Meja kerja besar berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi rak-rak berisi buku dan penghargaan perusahaan. Lampu gantung berbentuk geometris memancarkan…
HTB~3
Di lorong menuju lift, Herman mendekati Sena lagi. Langkahnya sengaja dipercepat, suaranya berbisik tajam, penuh dengan nada mengejek. "Jadi, kapan kamu mau umumkan rencana pernikahanmu?" Sena menghentikan langkah. Mata tajamnya menatap Herman, penuh perhitungan. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. “Itu urusan pribadi…
HTB~2
Beberapa jam lalu sebelum insiden kopi di lorong kantor. Ponsel di bawah bantal Seira bergetar keras, memaksa kelopak matanya terbuka meski lelah belum sepenuhnya terbayar. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 5:30 pagi. Nama "Pak Rizal" terpampang di layar. Ia menghela napas panjang,…
HTB~1
"Seira, berapa kali Ibu bilang, jangan tanya soal itu lagi!" Suara keras ibunya bergema di dapur kecil mereka, membuat Seira mundur selangkah. Matanya nanar memandang punggung ibunya yang sibuk mencuci piring. "Tapi, Bu, aku hanya ingin tahu. Kenapa sulit sekali untuk menceritakannya?"…
Comments
You May Also Like
5 Chapters
Chapter 1: HTB~1
"Seira, berapa kali Ibu bilang, jangan tanya soal itu lagi!" Suara keras ibunya bergema di dapur kecil mereka, membuat Seira mundur selangkah. Matanya nanar memandang punggung ibunya yang sibuk mencuci piring. "Tapi, Bu, aku hanya ingin tahu. Kenapa sulit sekali untuk menceritakannya?"…
ReadmoreChapter 2: HTB~2
Beberapa jam lalu sebelum insiden kopi di lorong kantor. Ponsel di bawah bantal Seira bergetar keras, memaksa kelopak matanya terbuka meski lelah belum sepenuhnya terbayar. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 5:30 pagi. Nama "Pak Rizal" terpampang di layar. Ia menghela napas panjang,…
ReadmoreChapter 3: HTB~3
Di lorong menuju lift, Herman mendekati Sena lagi. Langkahnya sengaja dipercepat, suaranya berbisik tajam, penuh dengan nada mengejek. "Jadi, kapan kamu mau umumkan rencana pernikahanmu?" Sena menghentikan langkah. Mata tajamnya menatap Herman, penuh perhitungan. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. “Itu urusan pribadi…
ReadmoreChapter 4: HTB~4
Di ruang kerja CEO. Ruangan itu luas dan modern, didominasi kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, memberikan pemandangan langsung ke gemerlap kota. Meja kerja besar berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi rak-rak berisi buku dan penghargaan perusahaan. Lampu gantung berbentuk geometris memancarkan…
ReadmoreChapter 5: HTB~5
Beberapa lantai di bawah ruangan CEO. Hachii! Seira buru-buru menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. Napasnya pendek, dadanya terasa sesak. Ia mempercepat langkah menuju toilet wanita, menekan pintu hingga terbuka lebar, lalu masuk dan langsung berdiri di depan wastafel.…
Readmore





