Hati Tidak Bercerita

By: MH Ghani
96 Readers 5 Chapters 9.9

Romance

Seira tidak pernah meminta hidup yang rumit. Hari-harinya dihabiskan di antara kantor dan rumah sakit, merawat ibunya yang terbaring lemah dan melunasi tumpukan utang yang terus memburu. Dunia seakan mengepungnya tanpa memberi celah untuk bernapas. Di sisi lain, Sena hidup dalam kemewahan yang justru mengurungnya. Sebagai…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

HTB~5

  Beberapa lantai di bawah ruangan CEO.   Hachii!   Seira buru-buru menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. Napasnya pendek, dadanya terasa sesak. Ia mempercepat langkah menuju toilet wanita, menekan pintu hingga terbuka lebar, lalu masuk dan langsung berdiri di depan wastafel.…

HTB~4

Di ruang kerja CEO. Ruangan itu luas dan modern, didominasi kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, memberikan pemandangan langsung ke gemerlap kota. Meja kerja besar berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi rak-rak berisi buku dan penghargaan perusahaan. Lampu gantung berbentuk geometris memancarkan…

HTB~3

Di lorong menuju lift, Herman mendekati Sena lagi. Langkahnya sengaja dipercepat, suaranya berbisik tajam, penuh dengan nada mengejek. "Jadi, kapan kamu mau umumkan rencana pernikahanmu?" Sena menghentikan langkah. Mata tajamnya menatap Herman, penuh perhitungan. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. “Itu urusan pribadi…

HTB~2

Beberapa jam lalu sebelum insiden kopi di lorong kantor. Ponsel di bawah bantal Seira bergetar keras, memaksa kelopak matanya terbuka meski lelah belum sepenuhnya terbayar. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 5:30 pagi. Nama "Pak Rizal" terpampang di layar. Ia menghela napas panjang,…

HTB~1

  "Seira, berapa kali Ibu bilang, jangan tanya soal itu lagi!" Suara keras ibunya bergema di dapur kecil mereka, membuat Seira mundur selangkah. Matanya nanar memandang punggung ibunya yang sibuk mencuci piring. "Tapi, Bu, aku hanya ingin tahu. Kenapa sulit sekali untuk menceritakannya?"…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

andy.lorenza
Aryati Mudjiono
eli.budianto
dwi.fitriani
5 Chapters

Chapter 1: HTB~1

Oleh: MH Ghani
  "Seira, berapa kali Ibu bilang, jangan tanya soal itu lagi!" Suara keras ibunya bergema di dapur kecil mereka, membuat Seira mundur selangkah. Matanya nanar memandang punggung ibunya yang sibuk mencuci piring. "Tapi, Bu, aku hanya ingin tahu. Kenapa sulit sekali untuk menceritakannya?"…
Readmore

Chapter 2: HTB~2

Oleh: MH Ghani
Beberapa jam lalu sebelum insiden kopi di lorong kantor. Ponsel di bawah bantal Seira bergetar keras, memaksa kelopak matanya terbuka meski lelah belum sepenuhnya terbayar. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 5:30 pagi. Nama "Pak Rizal" terpampang di layar. Ia menghela napas panjang,…
Readmore

Chapter 3: HTB~3

Oleh: MH Ghani
Di lorong menuju lift, Herman mendekati Sena lagi. Langkahnya sengaja dipercepat, suaranya berbisik tajam, penuh dengan nada mengejek. "Jadi, kapan kamu mau umumkan rencana pernikahanmu?" Sena menghentikan langkah. Mata tajamnya menatap Herman, penuh perhitungan. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. “Itu urusan pribadi…
Readmore

Chapter 4: HTB~4

Oleh: MH Ghani
Di ruang kerja CEO. Ruangan itu luas dan modern, didominasi kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, memberikan pemandangan langsung ke gemerlap kota. Meja kerja besar berdiri kokoh di tengah ruangan, dikelilingi rak-rak berisi buku dan penghargaan perusahaan. Lampu gantung berbentuk geometris memancarkan…
Readmore

Chapter 5: HTB~5

Oleh: MH Ghani
  Beberapa lantai di bawah ruangan CEO.   Hachii!   Seira buru-buru menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan. Napasnya pendek, dadanya terasa sesak. Ia mempercepat langkah menuju toilet wanita, menekan pintu hingga terbuka lebar, lalu masuk dan langsung berdiri di depan wastafel.…
Readmore
error: Content is protected !!