Dua Puluh Hari

By: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
38 Readers 7 Chapters 9.9

20 HARI MENCARI MAAF

Diajeng Candra Kirana, mahasiswi semester akhir yang tengah berperang melawan singkatnya respon dosen pembimbing juga kekasihnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tidak pernah hampir gila, kecuali saat support sistemnya kaya t*i. Mengumpat pun sudah tidak sudi, sebab Jenderal—mantan kekasihnya kembali setelah lima hari. Diajeng telah memutuskan…
Read Share

Table of Contents

Lates Chapters

7. Obrolan di Meja Makan

Diandra menyiapkan piring tambahan untuk tamu spesial Diajeng. Setelah Diajeng meminta dengan malu-malu khas miliknya, Diandra penasaran. Jujur saja dia belum melihat sosok manusia yang membuat adiknya tidak tidur semalaman. Untuk hal yang dikatakan Diajeng pada malam saat monitor hp milik Diajeng tersambung…

6. Nyekar Date

Sang bayu berembus pelan seolah tahu bahwa dua anak manusia itu tengah menggenggam rindu dan luka yang tak bisa dijelaskan lewat kata. Terlalu banyak kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan lain, hal ini menyebabkan keduanya diam sepanjang jalan. Meskipun syarat maaf sudah terucap, dan…

5. Misi Mencari Bunga Kamboja

Senin pagi, matahari masih malas menyinari bumi. Jenderal sudah chat Diajeng.  Chat Jenderal Di, aku pengen kerumah kamu. Aku bawain pie susu iniii. Diajeng hanya membaca tanpa membalas. Masalahnya ini masih jam lima pagi, siapa juga orang waras hang mau menerima tamu saat…

4. Rayuan Jenderal Buaya

Pertemuan di taman Westeria menjadi titik balik Jenderal memperjuangkan maaf dari Diajeng. Bagi Jenderal, gagal adalah skenario terburuk dari hal buruk yang telah menjadi temannya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, Jenderal menyusun strategi untuk merayu Diajeng. Meskipun rayuan maut sekalipun sudah tidak…

3. Syarat Diajeng

  Ahad pagi, Diajeng sudah hectic dengan kepulangannya ke rumah Kakek. Satu koper kecil dan backpack hitam serta tas selempang mini menjadi bawaan Diajeng kali ini. Outfit simpel pun Diajeng pilih sebab dia tidak mau ribet sendiri. Tiket kereta sudah di tangan, Diajeng…

Comments

Tinggalkan komentar

You May Also Like

Aryati Mudjiono
eli.budianto
dwi.fitriani
7 Chapters

Chapter 1: 1. Hari yang Sial

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
"Sial." Maki Diajeng saat Pak Gagah tidak membalas pesannya setelah kemarin beliau menyanggupi untuk bimbingan di pagi ini. Diajeng Candra Kirana, seorang mahasiswi semester akhir yang menjadi salah satu korban ghosting Pak Gagah. Jika bukan kalah war dosen pembimbing, ogah sekali Diajeng mendapatkan…
Readmore

Chapter 2: 2. Perkara Chat di Malam Hari

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
Lima hari sejak terakhir pesan yang dikirim Diajeng, Jenderal membalasnya. Bukan seperti orang yang baru melakukan kesalahan. Jenderal menyapa dengan biasa. Sangat biasa untuk ukuran manusia normal. Diajeng heran, ya. Sangat, seperti saran Kak Biru kapan hari itu ternyata Jenderal kembali menghubungi setelah…
Readmore

Chapter 3: 3. Syarat Diajeng

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
  Ahad pagi, Diajeng sudah hectic dengan kepulangannya ke rumah Kakek. Satu koper kecil dan backpack hitam serta tas selempang mini menjadi bawaan Diajeng kali ini. Outfit simpel pun Diajeng pilih sebab dia tidak mau ribet sendiri. Tiket kereta sudah di tangan, Diajeng…
Readmore

Chapter 4: 4. Rayuan Jenderal Buaya

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
Pertemuan di taman Westeria menjadi titik balik Jenderal memperjuangkan maaf dari Diajeng. Bagi Jenderal, gagal adalah skenario terburuk dari hal buruk yang telah menjadi temannya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, Jenderal menyusun strategi untuk merayu Diajeng. Meskipun rayuan maut sekalipun sudah tidak…
Readmore

Chapter 5: 5. Misi Mencari Bunga Kamboja

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
Senin pagi, matahari masih malas menyinari bumi. Jenderal sudah chat Diajeng.  Chat Jenderal Di, aku pengen kerumah kamu. Aku bawain pie susu iniii. Diajeng hanya membaca tanpa membalas. Masalahnya ini masih jam lima pagi, siapa juga orang waras hang mau menerima tamu saat…
Readmore

Chapter 6: 6. Nyekar Date

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
Sang bayu berembus pelan seolah tahu bahwa dua anak manusia itu tengah menggenggam rindu dan luka yang tak bisa dijelaskan lewat kata. Terlalu banyak kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan lain, hal ini menyebabkan keduanya diam sepanjang jalan. Meskipun syarat maaf sudah terucap, dan…
Readmore

Chapter 7: 7. Obrolan di Meja Makan

Oleh: ratmaningtiyastuti.nurlatifah
Diandra menyiapkan piring tambahan untuk tamu spesial Diajeng. Setelah Diajeng meminta dengan malu-malu khas miliknya, Diandra penasaran. Jujur saja dia belum melihat sosok manusia yang membuat adiknya tidak tidur semalaman. Untuk hal yang dikatakan Diajeng pada malam saat monitor hp milik Diajeng tersambung…
Readmore
error: Content is protected !!