Iparku Suka Numpang Makan.
Part 1
Awal Bulan.
“Zeta, udah Mateng belum masakannya? Anakku udah lapar nih?!” Suara lantang dari Kak Lily menggema sampai arah dapur di mana aku sedang menata makanan di meja makan.
“Eh kakak, masuk saja Kak, kayaknya sudah matang deh Kak, karena Zeta sudah masak sedari habis shubuh tadi.” Terdengar suara yang sudah familiar di telingaku.
Iya suara seorang pria yang telah menjadi suamiku sejak empat bulan yang lalu.
“Ya udah kalau begitu Kakak langsung kebelakang saja.”
Aku langsung gegas memisahkan lauk untuk sarapan Ibu dan juga Bapak mertuaku, karena kalau Aku tak pisahkan terlebih dahulu pasti langsung habis sama Kak Lily dan kedua anak lakinya.
“Eh Kak Lily.”
Sapaku, untung saja masakan yang Aku simpan untuk ibu sudah selesai Aku simpan di lemari makanan.
“Kamu masak apa Zeta hari ini? Kakak lapar banget nih, anak-anak juga sudah rewel aja minta makan.”
“Ini Kak, ada sayur sop sama ayam goreng dan sambel tomat.”
“Ya udah kalian cuci tangan dulu sana, baru langsung makan.”
Perintah Kak Lily pada kedua anak lakinya itu.
“Eh tunggu om Zahdan datang dulu ya, biar kita bisa sarapan bareng.”
Pintaku saat melihat kedua anak Kak Lily sedang ingin menyendokkan nasinya.
Jika Aku tak bilang seperti itu bisa-bisa makanan untuk sarapan ini langsung habis tanpa tersisa dan suamiku tak bisa sarapan dia.
Karena prinsip Kak Lily yang selalu dikatakan ke anak-anaknya ialah siapa cepat dia dapat.
Huh menyebalkan bukan.
“Sudah biarinin aja sih Zeta, namanya anak-anak mereka itu butuh asupan yang banyak dan bergizi, kamu tinggal masak aja lagi nanti untuk Zahdan!”
Protes Kak Lily yang sedang membuatkan susu untuk kedua anaknya.
Iya membuat susu dari susu yang Aku stok untuk suamiku, Kak Lily memang menganggap apa yang ada di rumah adiknya adalah kepunyaannya juga jadi dia mau apapun tinggal ambil saja.
“Tapi Kak, kalau Aku masak lagi sudah tak sempat Kak, sudah kesiangan ini.”
Beruntung kedua anaknya hanya diam saja tak mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya, dan Mas Zahdan akhirnya juga sudah datang.
“Kok belum makan?”
Tanya Mas Zahdan sambil mengusap kedua kepala keponakannya itu. Dan duduk di bangku meja makan yang posisinya berada di tengah, sedang sebelah kirinya kedua anak Kak Lily, Aku sendiri berada di sebelah kanan Mas Zahdan.
“Itu istrimu melarang anakku makan!”
Kak Lily langsung duduk sambil menyerahkan kedua gelas susu untuk kedua anaknya.
Aku menunggu apa lagi yang akan dikatakan Kak Lily, bukankah aku melarang ada sebabnya, kalau dia hanya bilang Aku melarang saja, bisa-bisa salah persepsi nanti sama Mas Zahdan.
Aahhh benar ternyata dia tidak melanjutkan kalimatnya lagi, dia hanya tersenyum sinis sambil menatapku.
“Zeta, maksudmu apa? Kenapa melarang mereka, lihat mereka sudah sangat lapar seperti itu.”
Tuh kan benar, pasti dikiranya Aku yang jahatkan jadinya, benar-benar Kak Lily ini keberadaannya menguji kesabaranku.
“Bukan melarangnya Mas, hanya saja Aku minta supaya makannya nunggu Mas datang biar bisa makan bersama, hanya itu saja. Iya kan benar Rama Yana?”
Aku langsung menatap pada kedua anak laki kak Lily.
Kedua anak itu mengangguk. Syukurlah mereka tak seburuk ibunya. Aku menghela nafas panjang.
“Oh seperti itu, ya sudah sekarang om sudah datang, jadi ayo kita sarapan.”
Ajak suamiku, Aku langsung melirik ke arah Kak Lily dan ternyata Kak Lily nampak tak suka dengan sikap adiknya itu.
“Kak, Kak Danu bulan depan mau pulang ya?”
Mas Zahdan membuka pembicaraan.
Sedang Aku masih memperhatikan cara makan Kak Lily, dipiringnya itu ada dua potong ayam dan sayur sop serta sambal yang dia letakkan di pinggir piringnya, kalau nampak dari jauh persis seperti gunung yang siap meletus.
Bukankah dia bilang anaknya yang butuh asupan banyak, tapi sepertinya anaknya hanya mengambil biasa saja sesuai porsi anak-anak, apa sebenarnya ibunya yang butuh asupan banyak, hmm mungkin Kak Lily sedang masa pertumbuhan.
Aku yang tanpa sadar tersenyum sendiri sambil menyuapkan nasi ke mulutku, ditegur langsung oleh kak Lily yang sepertinya melihatku.
“Kamu ngapain senyum-senyum ga jelas begitu?” tanya Kak Lily dengan sewotnya.
“Eh apa Kak, ga ada apa-apa kok Kak. Ayo di lanjut lagi ngobrolnya.”
Aku langsung melirik ke arah suamiku dan suamiku hanya balik tersenyum sambil menggelengkan kepalanya merasa heran dengan tingkah istrinya ini.
“Iya Zahdan, suamiku akan pulang sekitar pertengahan bulan depan lah kira-kira.”
“Oh syukurlah, akhirnya Rama dan Yana bisa temu kangen sama papahnya.”
Ujar mas Zahdan sambil melihat ke arah keponakannya itu.
“Iya tentu saja, tapi inget loh Zahdan jangan berharap kakak bakal ngasih oleh-oleh ke kalian, karena ga akan cukup nanti untuk keluarga Kakak, Ibu dan Bapak aja, Kaka juga ga tau akan dapat oleh-oleh atau tidak.”
“Kak, kami ga dapat oleh-oleh dari Kak Danu juga ga apa-apa Kak, ga masalah bagi kami, Aku sendiri sudah merasa senang melihat Rama dan Yana bisa berjumpa dengan Ayahnya.”
“Iya Aku tau kok Zahdan, kamu pasti ga mengharapkan oleh-oleh dari Danu, Kakak bicara begini buat istrimu itu, biar dia ga kaget kalau kakak ga ngasih oleh-oleh.”
Ucap kak Lily sambil menatap tajam ke arahku.
“Uhug, uhug.”
Aku sampai terbatuk-batuk karena tatapan maut dari kak Lily.
Mas Zahdan langsung buru-buru memberikan air minum miliknya untuk Aku.
“Pelan-pelan dek makannya.” Pinta suamiku sambil menepuk pelan pundakku.
“Iya Mas. Makasih ya mas.”
“Tuh kan, baru kakak bilang begitu saja istrimu sudah bengek begitu, apalagi kalau kakak ga kasih tau bisa-bisa istrimu langsung masuk IGD lagi.”
“Ya ampun Kak Lily, Aku itu batuk bukan karena ucapan Kakak tapi karena tatapan mata itu loh, ish tajam banget setajam pisau dapur.”
Ucapku sambil tersenyum.
“Apa kamu bilang!”
Kak Lily hendak berdiri dan menghampiri diriku tapi segera ditahan oleh suamiku.
“Kakak udah selesai makannya, kalau sudah biar dirapihin sama Zeta.”
“Eh ntar dulu, enak saja ambil serobot piring orang!”
Kak Lily kembali makan makanan yang ada di piringnya, entah seperti apa ukuran kenyang menurutnya.
Aku dan Mas Zahdan sendiri kalau sarapan tak pernah bisa banyak, yang penting untuk mengisi perut saja biar tidak masuk angin, sedang Kak Lily sarapannya seperti orang yang habis bekerja berat saja.
Aku beruntung punya suami yang tak seperti Kakaknya, apa jadinya jika Mas Zahdan seperti kak Lily.
Setelah menghabiskan tiga potong ayam dan menambah sayur sop dan sambal tanpa nasi, baru akhirnya Kak Lily menyudahi aktifitas sarapannya.
Sedangkan kedua anaknya sudah kembali pulang kerumahnya karena mau nonton kartun anak kembar berkepala botak itu. Mas Zahdan juga sudah berangkat kerja.
Sedang Aku gegas ke rumah mertuaku dan memberikan makanan yang tadi sudah aku siapkan. Setelah itu Aku kembali sibuk dengan urusan dapurku.
Tapi tak lupa Aku kunci dulu pintu depan gerbang dan pintu rumahku, karena Kak Lily biasanya akan datang untuk numpang tidur di rumahku karena tak suka dengar suara anaknya yang sering ribut masalah mainan dan lain sebagainya.