Dengan dada berdebar-debar, Rosia Jingga Kinasih memandang pria berusia lebih setengah baya di depannya. Kumis tebal dan jambang memenuhi dagu dan rahang pria itu, membuatnya tampak berkharisma dan penuh wibawa. Posturnya yang tinggi dan gagah sekalipun sudah tidak lagi muda, menunjukkan dia bukan pria sembarangan.
Pria itu menatap Rosia dengan cermat dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti mau mencari tahu sesempurna apa wanita muda yang berani melamar ke perusahaan besarnya. Apa kapasitasnya sehingga dia nekad menyodorkan diri menjadi bagian perusahaan Ardante Company.
“Kamu diterima. Kembalilah besok pagi jam delapan. Aku langsung yang akan menunjukkan di mana kamu harus bekerja.” Tatapan tajam menghujam Rosia. Suaranya berat, tetapi tenang. Kata-katanya jelas adalah perintah, bukan untuk dibantah.
Rosia menelan ludah. Makin kuat debar-debar di dada melanda. Akhirnya, setelah sepuluh tahun, Rosia berhasil! Dia berhasil masuk ke perusahaan Tuan Besar Abel Ardante.
“Tuan yakin?” Wanita tinggi kurus yang duduk di samping Abel bicara dengan tatapan heran.
“Kenapa? Ada yang salah?” Abel memandang wanita itu, sekretarisnya. Suara beratnya terdengar sedikit kesal.
“Bukan begitu maksudku, Tuan. Rosia masih sangat baru lulus kuliah. Dia belum ada pengalaman. Apa mungkin dia mampu menyesuaikan diri dengan ritme kerja di kantor ini?” Wanita itu bicara tegas. Dia yakin sebenarnya jika Rosia tidak akan diterima di kantor itu.
“Kita punya waktu tiga bulan untuk menguji kemampuannya. Kamu insecure karena fresh graduate seperti dia, Selly?” Abel memandang sekretarisnya dengan senyum sinis di ujung bibir.
“Tidak, Tuan.” Selly menyahut dengan cepat. “Aku tidak mau perusahaan akan merugi jika tidak menemukan orang yang tepat. Karena akan berpengaruh dengan hasil kerja bukan hanya satu orang, tetapi yang lain juga.”
Abel kembali tersenyum kecil sembari melirik sekretarisnya. “Kamu tidak perlu kuatir. Selama masa percobaan, dia akan ada di bawah pengawasan Doris.”
“Baiklah. Mudah-mudahan Tuan tidak salah mengambil keputusan,” ujar si sekretaris tidak lega.
Rosia terus mengamati keduanya. Tidak enak sekali mendengar mereka berdebat terang-terangan tentang dirinya. Di sisi lain, Rosia hampir yakin, mereka bukan sekadar bos dan pegawai cantik baik model sebagai sekretaris. Ada rasa bergidik di hati Rosia melihat gelagat keduanya. Tampak normal, tetapi tatapan mereka satu sama lain, Rosia merasa tetap ada yang ganjil.
Abel menatap Rosia. “Kamu dengar jelas keputusanku. Kamu bisa mulai bekerja besok pagi. Jam delapan tepat, tidak boleh terlambat satu menit pun. Time is money, kamu harus ingat itu.”
“Baik, Tuan, terima kasih,” kata Rosia dengan mata lurus memandang ke depan.
“Besok, carilah Doris Fardan. Dia yang akan mengawasi kamu selama tiga bulan kamu bekerja. Jangan sekalipun melakukan kesalahan atau kamu tidak akan bisa lanjut bekerja,” ujar Abel dengan tegas.
“Baik, Tuan.” Rosia menjawab tegas.
“Pergilah,” kata Abel mengakhiri pertemuan itu.
“Saya permisi,” sahut Rosia.
Dia meninggalkan ruangan besar dan indah, kantor utama Tuan Besar Abel Ardante. Rosia merasa debar-debar kuat di dadanya perlahan menyusut dan kembali normal begitu dia makin menjauh. Rosia melangkah menuju toilet yang ada di ujung kantor besar itu.
Rosia menatap cermin besar di sana. Matanya memandang dirinya dengan mata nanar dan tegang. Yang Rosia lihat, Abel Ardante sedang berdiri dengan wajah garang, menatap galak penuh amarah pada seorang pria kurus yang tidak begitu tinggi di depannya.
*
*
“Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku, hah? Kamu tidak sehebat itu. Aku, Abelardo Ardante pemenangnya.” Tangan Abel mencengkeram kuat kerah baju pria itu. Dia sampai sedikit berjinjit karena Abel menariknya makin tinggi. Tapi tidak ada ketakutan sama sekali di wajah pria itu terhadap Abel.
“Aku tidak berbuat seperti yang kamu tuduhkan. Kamu tahu, aku tidak mungkin mencurangi kamu, Abel. Ini semua fitnah. Kita sudah bekerja bersama hampir lima belas tahun. Kamu harus percaya padaku,” kata pria itu dengan serius. Suaranya tidak begitu keras tapi tegas berusaha meyakinkan Abel.
“Ho ho! Manusia bisa berubah! Uang. Uang yang bisa membuat orang tidak punya hati! Kamu sudah berubah karena kamu ingin menguasai semuanya, bukan!?” Dengan kasar Abel menjatuhkanya, lalu menendangnya dengan kuat hingga pria itu meringkuk dan merintih kesakitan.
“Ayah.” Rosia memejamkan mata erat-erat. Pemandangan mengerikan itu tidak akan pernah dia lupakan.
Abelardo Ardante, siang itu datang ke rumahnya dengan empat anak buahnya dan menganiaya ayah Rosia. Rosia sedang di kamarnya asyik menonton film di laptop, tiba-tiba mendengar suara pria yang marah dan berteriak memaki-maki ayahnya.
Rosia sangat terkejut. Di tengah ketakutan, Rosia mengintip dari pintu kamar yang sedikit dia buka dan menyaksikan bagaimana Abel memaksa ayah Rosia mengaku telah menipu Abel. Ayah Rosia tetap kekeh mengelak. Kemarahan Abel semakin meluap. Hingga akhirnya, satu tembakan tepat di dada ayah Rosia menghabisi nyawanya.
Gemetar, sambil menangis, dan serasa mau pingsan, Rosia menahan diri tidak bersuara. Dia terduduk lemas di belakang pintu kamar setelah semua kejadian itu. Hingga kira-kira satu jam berlalu, ibu Rosia yang baru pulang dari belanja berteriak sekeras-kerasnya melihat suaminya terkapar di lantai tak bernyawa.
*
*
“Sepuluh tahun, Abel. Sepuluh tahun aku menunggu hari ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku. Kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membalas dendam atas kematian ayahku.” Dengan tangan terkepal, dada naik turun menahan emosi yang meluap, Rosia menatap cermin.
Dia menyimpan kejadian itu rapat-rapat. Bahkan pada ibunya, Rosia tidak mampu membuka suara dan mengatakan apa yang terjadi. Saat ditanya apa yang dia lihat, Rosia mengatakan dia tertidur di kamar dan tidak mendengar apa-apa.
Yang lebih menyakitkan, setelah kejadian itu Abel datang sebagai sahabat yang peduli. Berita yang tersebar kemudian, ayah Rosia tewas bunuh diri karena tekanan pekerjaan membuatnya depresi. Rosia semakin marah dengan semuanya. Dia marah pada Abel Ardante. Dia marah pada ibunya yang tidak berdaya untuk mencari kebenaran. Marah pada dirinya sendiri karena masih kecil dan tidak mampu juga melakukan apa-apa. Marah pada Tuhan, karena membiarkan semua itu terjadi.
“Bukan hanya kamu, Abel, yang akan merasakan sakit hatiku. Satu per satu keluargamu akan aku buat menderita. Lihat saja. Nyawa ayahku harus kamu tebus dengan semua anggota keluarga kamu yang arogan.” Tekad Rosia sudah bulat. Rencana balas dendam yang dia susun bertahun-tahun siap dia mulai.
“Katakan selamat tinggal pada surgamu, sambutlah neraka yang akan aku hadirkan untuk kamu, Abel,” ucap Rosia lirih. Matanya menatap cermin dengan penuh kebencian, sementara air mata menitik membasahi kedua pipinya. Dengan kasar Rosia mengusap air mata dengan punggung tangan.
#20harimencarimaaf
#day1
#novelgoodcompetition