“Mas, kenapa ke sini?” Rosia tidak habis pikir, mereka masuk ke halaman mansion Ardante.
“Ibu kamu menunggu di sini, Rosia.” Catherine yang menjawab.
“Apa?” Rosia kaget bukan kepalang mendengar itu. Ada apa ini?
Mereka turun dari kendaraan dan masuk ke ruang depan yang besar. Di dalam ruangan, Abel dan Erlin ada di sana. Mereka duduk berhadapan dengan Ale dan Marini.
“Ibu? Kenapa Ibu di sini?!” Rosia berdiri dengan mata merah. Wajahnya masih sembab. Amarah terasa dari ucapannya.
“Rosia …” Abel berusaha berdiri, agak sempoyongan karena kakinya tidak mampu menyanggah tubuhnya yang masih lemah. Tentu saja dia oleng dan kembali terduduk.
“Ibu, Ibu ada apa?” Rosia mendekati Marini dan menarik lengannya. Kemarahan Rosia kembali meluap. Dia tidak siap bertemu dengan Abel lagi. Yang Rosia mau dia pergi dan tidak mau berurusan dengan Ardante lagi.
Marini memeluk Rosia, mendekapnya, dan mengusap punggung gadis itu agar tenang. Rosia berusaha melepaskan diri, hingga Marini terdorong dan terjatuh di sofa yang tepat ada di belakangnya.
“Ibu, kenapa Ibu datang malah ke sini?” tanya Rosia lagi.
“Rosia, maafkan aku … maafkan aku …” Abel berbicara dengan mata basah. Perasaan bersalah dan penuh dosa semakin mengejarnya. Dia tahu betapa dendam mendalam terpatri di dada Rosia atas tindakan kejinya pada ayah Rosia.
Di samping Abel, Erlina berdiri, memegang bahu Abel. Wanita itu juga terlihat tegang, memandang penuh harap Rosia mau membuka hati memberi maaf untuk suaminya.
Rosia tidak bergeming. Kedua tangan di sisi badannya terkepal kuat. Giginya beradu, menahan segala rasa yang campur aduk tidak karuan. Ketiga anak Abel berdiri di sekitar orang tuanya, semua tegang dan menatap tajam pada Rosia.
Catherine menatap bingung pada orang-orang di depannya. Dia melihat Ale, lalu Devano. Mereka terlihat sudah paham apa yang terjadi. Hanya Catherine sendiri yang tidak tahu ada ada dengan papa mamanya dan juga Rosia dan ibunya.
“Aku pria jahat dan bodoh … Kamu, kamu … pasti benci padaku … Aku pantas … Kamu boleh … Aku …” Mata Abel masih bergerak-gerak. Dia bingung tidak tahu harus mengucapkan apa di depan Rosia.
Rosia tidak bergerak. Dia membalas tatapan Abel dengan segala rasa di dalam dada. Marah, benci, kecewa, sedih, dan sakit yang begitu dalam.
“Minta, mintalah … Apapun, aku akan … berikan. Tapi … maafkan aku, Rosia.” Semakin berat dan bergetar suara yang keluar dari mulut Abel.
Tangan Rosia makin kuat dia kepal. Dadanya naik turun menahan semua rasa yang menekan hingga seperti sesak.
“Aku mohon … aku hanya mau beban ini … dosaku … aku mohon …,” lanjut Abel. “Jika aku harus mati, asal mendapat maafmu dan juga Marini … aku akan sangat lega ….”
Rosia akhirnya membuka mulut dengan tatapan menghujam pada Abel yang menatap mengiba. “Kalau aku minta semua hartamu, apa Tuan akan berikan padaku?”
Tepat saat itu Bernardo muncul. Dia langsung merasakan ketegangan yang ada di ruangan itu.
Abel menatap Rosia dengan mulut setengah terbuka. Erlina pun terkejut mendengar itu. Apa itu tujuan Rosia datang ke perusahaan dan akhirnya membuka kebusukan Abel? Devano, Bernardo, dan juga Chaterine, bahkan Marini terkejut dengan kalimat itu.
“Kurasa Tuan akan keberatan,” ujar Rosia sinis. Dia menggeleng dengan ketus, tetapi matanya basah karena butiran bening yang mengumpul di sana dan hampir tumpah. “Aku juga tidak menginginkan hartamu, Tuan. Sebanyak apapun yang aku punya, tidak akan mengembalikan ayahku.”
Catherine mencoba memahami apa yang terjadi. Dia mengusap lembut pundak Devano yang tepat beridiri di sampingnya meminta penjelasan. Singkat, Devano menjawab dan membuat Catherine melotot, tidak percaya yang dia dengar.
Chaterine menangis seketika menyaksikan semua itu. Dia mengenal Rosia begitu manis dan menyenangkan. Dia seperti menemukan adik perempuan yang tidak pernah dia miliki. Hatinya hancur melihat kenyataan, kepedihan terdalam yang Rosia harus telan dan nikmati sepanjang hidupnya karena Abel, ayah Catherine.
Sementara, mendengar yang Rosia katakan, Abel dan Erlina berpandangan. Apa yang sebenarnya gadis muda itu inginkan?
“Atau … aku akan ….” Abel menoleh pada Erlina. Dia menatap istrinya sungguh-sungguh. “… aku akan menyerahkan diriku ke … polisi, Erli.”
“Mas, kumohon … Mas ….” Erlina menunduk dalam-dalam. Dia tidak ingin menangis, tapi hampir tidak sanggup menahan air matanya.
Dada Rosia makin kencang berdetak. Dia tidak berkedip memandang suami istri yang ada di depannya. Ketika anak Abel tak ada yang bergerak. Mereka sangat tegang. Ingin berbuat apa juga tidak tahu dan apakah akan menolong situasi itu.
“Itu akan menyelesaikan semua, Erli … Sekian lama aku hidup dengan rasa berdosa … Tidak akan cukup apapun yang aku-“
Erlina melepas tangannya dari Abel, membuat Abel menghentikan kata-kata. Erlina maju mendekati Rosia dan kembali bersimpuh di bawah kaki gadis itu.
“Rosia, Rosia, aku mohon … Berikan maafmu, kasihanilah suamiku.” Dengan tangan gemetar Erlina memeluk kaki Rosia. Air matanya mengalir deras sampai membasahi kaki Rosia
Melihat pemandangan itu, Abel ikut menangis. Tidak keras tapi terdengar sangat pilu dan menyayat hati. Ketiga anak Abel semakin tak karuan dan bingung harus bagaimana.
“Nyonya, jangan begini.” Rosia menunduk, dia memegang kedua bahu Erlina dan memintanya kembali bangun. Kemarahannya sedikit menguap. Dia bingung harus bagaimana melihat mereka seperti itu.
Marini juga terburu-buru membantu Erlina bangun. Catherine tidak sanggup lagi melihat itu. Dia memalingkan wajahnya dan berjalan ke arah pintu. Dia ingin sekali berlalu dari tempat itu. Campur aduk rasa hatinya menyaksikan semua. Antara marah dan iba, entah apalagi yang dia rasakan. Dia memandang Ale, tepat prioa itu juga sedang menatapnya.
Erlina telah kembali duduk. Kali ini di samping Marini. Marini memegang tangan Erlina dengan sebelah tangan dan tangan satu lagi merangkul bahu Erlina. Isakan masih terdengar dari Erlina.
“Semua sudah berlalu. Apa yang sudah terjadi tak bisa kita ubah. Tuhan mengizinkannya meskipun aku tahu, Tuhan tidak menginginkan itu terjadi.” Marini menguatkan hatinya mengatakan semua itu.
Tatapan mata semua di ruangan itu tertuju pada Marini. Kalimatnya menunjukkan kebesaran hatinya. Tidak ada marah, tidak ada benci, dan tidak ada ucapan kasar dari waniat itu. Wajahnya memerah, tetapi dia bicara dengan sangat tenang.
*
*
#20harimencarimaaf
#day21
#novelgoodcompetition