Dendam Rosia Jingga

Bab 40 – Sebenarnya

“Tidak, aku tidak mau, tidak …” Rosia menggeleng-geleng. Dia berusaha bicara dengan kuat tetapi tubuhnya terasa begitu lemah, dan suaranya sulit sekali keluar.

Rosia membuka mata dan …

“Ini di mana?” Rosia mencoba duduk memandangi sekelilingnya.

Dia ada di sebuah kamar yang tidak terlalu besar dengan interior minimalis dan terkesan manly.

“Rosia?” Dari pintu muncul Ale diikuti seorang wanita cantik.

“Thank God, kamu bangun akhirnya.” Catherine, wanita cantik itu, dengan cepat mendekat, duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Rosia.

Rosia bingung. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan semua kembali.

“Aku mau pulang. Aku harus pulang,” kata Rosia tiba-tiba. Dia berusaha turun dari kasur.

“Rosi, tenanglah. Kamu belum pulih. Tenang, ya?” Lembut tetapi tegas, Catherine menahan Rosia agar tidak pergi.

Tapi Rosia tidak bisa menunggu. Dia harus pergi dari siapapun yang berhubungan dengan Abel, termasuk Ale. Karena mereka pasti akan segera tahu apa yang terjadi. Rosia mengungkap kejahatan Abel, lalu pria itu tumbang, dan mungkin akan segera mati.

Sudah cukup Rosia berurusan dengan mereka. Dia harus pergi!

“Kamu masih lemah, Rosia. Hari sudah lewat tengah malam, beristirahatlah.” Suara lembut itu dengan tatapan penuh sayang, membuat Rosia memilih diam.

Rosia kembali berbaring dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan.

“Kamu ingat, Ale dan aku menemukanmu di pinggir jalan. Lalu kamu pingsan. Ale membawamu kemari, ke rumahnya. Kamu pasti lapar. Sebentar aku ambilkan makanan. Besok setelah kamu membaik, kamu boleh pulang,” kata Catherine.

Rosia tidak menjawab apa-apa. Catherine meninggalkan kamar itu, tinggal Ale yang menemaninya. Ale yang sedari tadi berdiri, mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang.

“Apa yang terjadi, Rosia?” tanya Ale.

Rosia tidak segera menjawab pertanyaan itu. Hanya air mata yang mengalir dan membasahi pipinya. Ingin sekali Rosia berkata semua gara-gara keluarga Ardante. Tapi semua sudah selesai. Rosia akan pergi dan tidak akan kembali. Lalu Ale? Rosia memandang pria baik hati itu, yang Rosia anggap kakak selama ini.

Catherine ada di rumah Ale. Apa ini artinya Ale dan Catherine punya hubungan istimewa itu benar? Ah, kenapa Ale sampai jatuh hati pada anak Ardante? Perlukah Rosia memberitahu Ale siapa Abel Ardante?

“Rosia, ada apa?” Ale kembali bertanya karena Rosia masih juga belum membuka suaranya. “Apa soal pekerjaan? Atau kamu ada masalah dengan teman kerjamu?”

Rosia hanya menggeleng sementara air matanya tidak mau berhenti. Dia mengusapnya dengan punggung tangan.

“Kalau belum bisa cerita ga apa-apa. Besok kalau sudah tenang saja kamu bicara.” Ale tidak mau memaksa. Dia melihat Rosia belum siap menyampaikan apa yang dia alami.

Catherine muncul dengan nampan di tangan. Aroma sup merebak. Dia kembali duduk di sisi ranjang dan membantu Rosia makan.

Hati Rosia makin tidak karuan. Catherine orang baik, Ale juga orang baik. Mereka pantas bahagia. Apakah Rosia harus mengatakan semuanya dan menghancurkan hubungan mereka? Rosia tidak tahu.

*****

 

“Apa?! Apa aku tidak salah dengar?!” Keras, dengan rasa terkejut yang luar biasa Devano muncul di depan kedua orang tuanya. Dia berdiri tegak, menatap dengan penuh tanda tanya dan perasaan campur aduk.

Erlina dan Abel menoleh pada putra kedua mereka. Tatapan mereka sama terkejutnya. Wajah mereka sangat tegang tidak bisa dijelaskan seperti apa.

“Jadi, papa membunuh ayah Rosia?” Mengucapkan kalimat itu, suara Devano bergetar. Dia merasa kepalanya berat, sedang tubuhnya setengah melayang.

Bukan jawaban ya atau tidak, tatapan nanar dari kedua orang tuanya membuat Devano yakin yang dia dengar adalah benar!

“Ya Tuhan ….” Terasa lemas sekujur tubuh Devano. Dia sedikit oleng hingga refleks tangan kanannya memegang dinding.

Abel tidak bicara apa-apa. Dia hanya menangis sesenggukan. Erina, dengan tatapan penuh kesedihan, mendekati putranya dan memegang tangannya.

“Bisa kita bicara?” ucap Erlina pelan.

“Apa yang mau dibicarakan? Sudah jelas, papaku … adalah … ah!” Devano menghentakkan tangannya hingga pegangan Erlina lepas.

“Devan, dengarkan Mama,” bujuk Erlina dengan mata yang mulai basah. Suaranya bergetar dan serak. Berat sekali harus membuka rahasia besar yang tersimpan sejak anak-anaknya masih bocah.

“Selama ini Papa dan Mama menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya? Kalian benar-benar jahat! Rosia menjadi anak yatim, itu karena papa?! Ya, Tuhan, ya Tuhan … Ini gila!” Devano tidak tahu harus bicara apa lagi. Rasanya masih belum percaya dengan kenyataan yang terbuka di depannya.

“Papa salah, Papa jahat.” Akhirnya, Abel mampu mengendalikan sesak dan tangisnya. Dia mulai bicara meski suaranya tidak terdengar jelas.

Devano mengepalkan kedua tangan, menatap dengan marah dan sedih pada papa yang memang selama ini sering membuat dia terluka.

“Aku … aku salah sangka. Aku men-duga ayah Rosia … mencurangi aku se-bagai … teman bisnis. Aku kalap dan …”

“Papa habisi nyawanya.” Devano menyelesaikan kalimat itu.

Abel kembali terguguh. Rasa bersalah terus menusuk dadanya.

“Hampir dua tahun setelah kematian ayah Rosia, baru terbongkar bahwa orang kepercayaan ayahmu yang berkhianat.” Erlina meneruskan cerita.

Devano menoleh kepada ibunya, masih dengan kedua tangan terkepal.

“Penyesalan Papa terus sepanjang hidupnya. Dia mencari Rosia dan ibunya, tapi … mereka sudah pergi, tidak lagi di Jakarta,” lanjut Erlina. “Mama tahu yang sebenarnya setelah sekian tahun. Tidak sengaja aku melihat papamu menangis bersujud di tengah malam, akhirnya dia katakan semua. Beban dosa yang dia pikul tak pernah selesai. Papa terus berusaha menemukan Rosia dan ibunya untuk meminta maaf.”

“Jadi Papa tahu siapa Rosia sejak awal dia masuk perusahaan?” Suara Devano makin rendah. Tapi tatapan marah dan sedih di wajahnya belum berkurang.

Abel menggeleng. Dengan suara serak dia bicara. “Tidak. Aku hanya me-rasa dia tidak asing … seperti per-nah tahu wajah seperti itu. Hanya … aku tidak per-nah menduga, dia, Rosia … anak An-drian.”

“Ya Tuhan ….” Devano mengusap wajahnya. “Berarti Rosia tahu? Dia sengaja melamar kerja di perusahaan … Jadi ….”

Devano mulai menghubungkan dan menduga apa yang sebenarnya terjadi. Perasaan Devano tidak karuan. Semua kenangan tentang Rosia muncul di benaknya. Senyum gadis itu. Ketika dia bicara, saat bekerja di depan komputer, saat di dapur memasak buat Erlina. Semua. Semua muncul begitu saja di kepala Devano. Bahkan saat Devano tanpa sengaja mencium Rosia!

“No way. Ros ….” Devano berbisik lirih.

“Devan, kakak-kakakmu belum tahu semua ini.” Erlina membuyarkan lamunan Devano.

Devano kembali mengangkat wajah dan memandang sang bunda.

“Please, tahan dirimu. Papa perlu menenangkan hati. Dia akan bicara dengan mereka. Biar Papa dan Mama selesaikan ini. Please, bantu tenangkan Rosia. Beritahu, Papa ingin sekali minta maaf padanya dan ibunya.”

Devano tidak tahu harus bilang apa. Dia hanya mengangguk. Yang pasti, jika dia bertemu Rosia, semua akan berbeda.

 

*

*

 

#20harimencarimaaf

#day21

#novelgoodcompetition

Lates Chapters

Bab 44 – Done

Semua mata tertuju pada Marini. “Bertahun-tahun aku juga marah dan menolak apa yang harus kami alami. Kenapa kami diperlakukan tidak adil? Kenapa Tuhan izinkan ini…

Bab 43 – Pertemuan

“Mas, kenapa ke sini?” Rosia tidak habis pikir, mereka masuk ke halaman mansion Ardante. “Ibu kamu menunggu di sini, Rosia.” Catherine yang menjawab. “Apa?” Rosia…

Bab 42 – Hancur

Rosia menunggu Catherine memberi penjelasan. Tidak mungkin Ale minta Rosia tinggal dengannya. Itu tidak akan baik, Ale adalah seorang laki-laki. Sekalipun dia dekat, seperti kakak…

Bab 41 – Ros?

Rosia keluar kamar Ale. Perlahan dia berjalan sambil memandang ruangan demi ruangan. Dia harus pergi dari situ. Rosia akan pulang ke Surabaya secepatnya. Tetapi, Rosia…

Bab 39 – Pengakuan

Rosia menatap Abel lekat-lekat. Pria itu terbaring dengan mata terpejam. Terlihat lelap, seakan-akan dia tidak sakit sama sekali. Rosia maju tiga langkah lebih mendekat. Dia…

Bab 38 – Please

Dua hari berlalu. Rosia tidak bertemu dengan Bernardo dan Devano di kantor. Mereka sibuk dengan Abel yang masih dalam masa kritis. Rosia pun tidak bisa…

Bab 37 – Abel Tumbang

“Mereka kacau dan menyebalkan, Nyonya. Suamimu yang membunuh ayahku. Anak-anakmu hanya beruntung saja karena suami Nyonya sukses. Mereka membuat aku kesal karena aku harus kehilangan…

Bab 36 – Peluk Aku, Rosi

Rosia hampir melepaskan pelukan Bernardo, tapi dia urungkan. Dia membiarkan Bernardo memeluknya dengan kuat. Dia seperti ingin melepas beban yang sangat berat yang menekan begitu…

Bab 35 – Kejutan di Ruang Meeting

Bernardo menahan geram yang menggulung di dadanya. Tapi dia sudah menduga ini yang akan terjadi. Kalau sedang suntuk karena wanita, ayah dan adiknya tidak bisa…

Bab 34 – Jadilah Pria Dewasa!

Sampai di rumah Doris. Wanita itu tampak agak pucat dan loyo. Berbeda dengan keceriaan yang selalu dia tunjukkan. Tetapi saat mendapatkan pizza, dia lebih cerah…

Bab 33 – Di Antara Tiga Ardante

“Papa percaya sama aku?” Bernardo berhadapan dengan Abel. Ketegangan sangat terasa di ruangan itu. Abel duduk bersandar pada punggung kursi dengan wajah merah. Ada amarah…

Bab 32 – Pertengkaran

Rosia membeku. Dunia di sekelilingnya seperti berhenti. Yang dia rasa sekujur tubuhnya panas. Detak jantungnya begitu cepat seolah-olah tidak terkendali. Sementara setiap engsel tubuhnya seperti…

Bab 31 – Devano Galau Parah

"Rosi, kamu paham pasti maksud Ibu. Kamu satu-satunya harta Ibu yang paling berharga. Setelah ayahmu pergi, apa yang Ibu perjuangkan? Kamu, Nak. Kamu kesayangan Ibu."…

Bab 30 – Jaga Diri, Jaga Hati

"Happy birthday, Mom. Love you so much." Bernardo memberikan kecupan di kedua pipi Erlina, lalu menyerahkan bunga dan bingkisan yang dia siapkan. "Makasih, Bern. Cantik…

Bab 29 – Ibu, Selly, dan Erlina

Bernardo bangun pagi itu dengan kepala pening. Semalam dia asyik di club dan pulang lewat jam dua pagi. Saat dia membuka matahari sudah terang. Dia…

Bab 28 – Ibu Di Mana?

"Aku mesti balik. Lain kali kita lunch bareng lagi." Ale berdiri dan bersiap meninggalkan kafe itu. Ale berjalan mendekati Catherine. Dia berbicara sebentar dengan wanita…

Bab 27 – Di Kafe Catherine

Rosia pun menanyakan pertanyaan yang sama, berulang kali dan tidak ada jawaban yang memuaskan. "Pertanyaan bodoh itu masih kadang aku tanyakan." Doris tersenyum kecil, senyum…

Bab 26 – Tetap di Dekatku

Kembali Bernardo menjalankan kendaraan dan melanjutkan perjalanan. "Kurasa Bu Selly memang pegawai yang cakap, dia bekerja dengan sangat baik." Rosia bicara setelah sekian lama hanya…

Bab 25 – Rahasia Selly

"Maaf, Tuan. Ini teman lama saya. Mas Ale." Rosia malah memperkenalkan Ale pada Bernardo. Bernardo hanya menatap datar. Ale memperhatikan Bernardo dan Rosia. Dia merasa…

Bab 24 – Special Night

"Aku mau membuat special night buat mama." Jawaban yang sangat tidak Rosia kira. Bernardo minta Rosia ikut karena ada urusannya dengan Erlina? "Aku akan jelaskan…
error: Content is protected !!