“Tidak, aku tidak mau, tidak …” Rosia menggeleng-geleng. Dia berusaha bicara dengan kuat tetapi tubuhnya terasa begitu lemah, dan suaranya sulit sekali keluar.
Rosia membuka mata dan …
“Ini di mana?” Rosia mencoba duduk memandangi sekelilingnya.
Dia ada di sebuah kamar yang tidak terlalu besar dengan interior minimalis dan terkesan manly.
“Rosia?” Dari pintu muncul Ale diikuti seorang wanita cantik.
“Thank God, kamu bangun akhirnya.” Catherine, wanita cantik itu, dengan cepat mendekat, duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Rosia.
Rosia bingung. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan semua kembali.
“Aku mau pulang. Aku harus pulang,” kata Rosia tiba-tiba. Dia berusaha turun dari kasur.
“Rosi, tenanglah. Kamu belum pulih. Tenang, ya?” Lembut tetapi tegas, Catherine menahan Rosia agar tidak pergi.
Tapi Rosia tidak bisa menunggu. Dia harus pergi dari siapapun yang berhubungan dengan Abel, termasuk Ale. Karena mereka pasti akan segera tahu apa yang terjadi. Rosia mengungkap kejahatan Abel, lalu pria itu tumbang, dan mungkin akan segera mati.
Sudah cukup Rosia berurusan dengan mereka. Dia harus pergi!
“Kamu masih lemah, Rosia. Hari sudah lewat tengah malam, beristirahatlah.” Suara lembut itu dengan tatapan penuh sayang, membuat Rosia memilih diam.
Rosia kembali berbaring dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan.
“Kamu ingat, Ale dan aku menemukanmu di pinggir jalan. Lalu kamu pingsan. Ale membawamu kemari, ke rumahnya. Kamu pasti lapar. Sebentar aku ambilkan makanan. Besok setelah kamu membaik, kamu boleh pulang,” kata Catherine.
Rosia tidak menjawab apa-apa. Catherine meninggalkan kamar itu, tinggal Ale yang menemaninya. Ale yang sedari tadi berdiri, mengambil kursi dan duduk di sebelah ranjang.
“Apa yang terjadi, Rosia?” tanya Ale.
Rosia tidak segera menjawab pertanyaan itu. Hanya air mata yang mengalir dan membasahi pipinya. Ingin sekali Rosia berkata semua gara-gara keluarga Ardante. Tapi semua sudah selesai. Rosia akan pergi dan tidak akan kembali. Lalu Ale? Rosia memandang pria baik hati itu, yang Rosia anggap kakak selama ini.
Catherine ada di rumah Ale. Apa ini artinya Ale dan Catherine punya hubungan istimewa itu benar? Ah, kenapa Ale sampai jatuh hati pada anak Ardante? Perlukah Rosia memberitahu Ale siapa Abel Ardante?
“Rosia, ada apa?” Ale kembali bertanya karena Rosia masih juga belum membuka suaranya. “Apa soal pekerjaan? Atau kamu ada masalah dengan teman kerjamu?”
Rosia hanya menggeleng sementara air matanya tidak mau berhenti. Dia mengusapnya dengan punggung tangan.
“Kalau belum bisa cerita ga apa-apa. Besok kalau sudah tenang saja kamu bicara.” Ale tidak mau memaksa. Dia melihat Rosia belum siap menyampaikan apa yang dia alami.
Catherine muncul dengan nampan di tangan. Aroma sup merebak. Dia kembali duduk di sisi ranjang dan membantu Rosia makan.
Hati Rosia makin tidak karuan. Catherine orang baik, Ale juga orang baik. Mereka pantas bahagia. Apakah Rosia harus mengatakan semuanya dan menghancurkan hubungan mereka? Rosia tidak tahu.
*****
“Apa?! Apa aku tidak salah dengar?!” Keras, dengan rasa terkejut yang luar biasa Devano muncul di depan kedua orang tuanya. Dia berdiri tegak, menatap dengan penuh tanda tanya dan perasaan campur aduk.
Erlina dan Abel menoleh pada putra kedua mereka. Tatapan mereka sama terkejutnya. Wajah mereka sangat tegang tidak bisa dijelaskan seperti apa.
“Jadi, papa membunuh ayah Rosia?” Mengucapkan kalimat itu, suara Devano bergetar. Dia merasa kepalanya berat, sedang tubuhnya setengah melayang.
Bukan jawaban ya atau tidak, tatapan nanar dari kedua orang tuanya membuat Devano yakin yang dia dengar adalah benar!
“Ya Tuhan ….” Terasa lemas sekujur tubuh Devano. Dia sedikit oleng hingga refleks tangan kanannya memegang dinding.
Abel tidak bicara apa-apa. Dia hanya menangis sesenggukan. Erina, dengan tatapan penuh kesedihan, mendekati putranya dan memegang tangannya.
“Bisa kita bicara?” ucap Erlina pelan.
“Apa yang mau dibicarakan? Sudah jelas, papaku … adalah … ah!” Devano menghentakkan tangannya hingga pegangan Erlina lepas.
“Devan, dengarkan Mama,” bujuk Erlina dengan mata yang mulai basah. Suaranya bergetar dan serak. Berat sekali harus membuka rahasia besar yang tersimpan sejak anak-anaknya masih bocah.
“Selama ini Papa dan Mama menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya? Kalian benar-benar jahat! Rosia menjadi anak yatim, itu karena papa?! Ya, Tuhan, ya Tuhan … Ini gila!” Devano tidak tahu harus bicara apa lagi. Rasanya masih belum percaya dengan kenyataan yang terbuka di depannya.
“Papa salah, Papa jahat.” Akhirnya, Abel mampu mengendalikan sesak dan tangisnya. Dia mulai bicara meski suaranya tidak terdengar jelas.
Devano mengepalkan kedua tangan, menatap dengan marah dan sedih pada papa yang memang selama ini sering membuat dia terluka.
“Aku … aku salah sangka. Aku men-duga ayah Rosia … mencurangi aku se-bagai … teman bisnis. Aku kalap dan …”
“Papa habisi nyawanya.” Devano menyelesaikan kalimat itu.
Abel kembali terguguh. Rasa bersalah terus menusuk dadanya.
“Hampir dua tahun setelah kematian ayah Rosia, baru terbongkar bahwa orang kepercayaan ayahmu yang berkhianat.” Erlina meneruskan cerita.
Devano menoleh kepada ibunya, masih dengan kedua tangan terkepal.
“Penyesalan Papa terus sepanjang hidupnya. Dia mencari Rosia dan ibunya, tapi … mereka sudah pergi, tidak lagi di Jakarta,” lanjut Erlina. “Mama tahu yang sebenarnya setelah sekian tahun. Tidak sengaja aku melihat papamu menangis bersujud di tengah malam, akhirnya dia katakan semua. Beban dosa yang dia pikul tak pernah selesai. Papa terus berusaha menemukan Rosia dan ibunya untuk meminta maaf.”
“Jadi Papa tahu siapa Rosia sejak awal dia masuk perusahaan?” Suara Devano makin rendah. Tapi tatapan marah dan sedih di wajahnya belum berkurang.
Abel menggeleng. Dengan suara serak dia bicara. “Tidak. Aku hanya me-rasa dia tidak asing … seperti per-nah tahu wajah seperti itu. Hanya … aku tidak per-nah menduga, dia, Rosia … anak An-drian.”
“Ya Tuhan ….” Devano mengusap wajahnya. “Berarti Rosia tahu? Dia sengaja melamar kerja di perusahaan … Jadi ….”
Devano mulai menghubungkan dan menduga apa yang sebenarnya terjadi. Perasaan Devano tidak karuan. Semua kenangan tentang Rosia muncul di benaknya. Senyum gadis itu. Ketika dia bicara, saat bekerja di depan komputer, saat di dapur memasak buat Erlina. Semua. Semua muncul begitu saja di kepala Devano. Bahkan saat Devano tanpa sengaja mencium Rosia!
“No way. Ros ….” Devano berbisik lirih.
“Devan, kakak-kakakmu belum tahu semua ini.” Erlina membuyarkan lamunan Devano.
Devano kembali mengangkat wajah dan memandang sang bunda.
“Please, tahan dirimu. Papa perlu menenangkan hati. Dia akan bicara dengan mereka. Biar Papa dan Mama selesaikan ini. Please, bantu tenangkan Rosia. Beritahu, Papa ingin sekali minta maaf padanya dan ibunya.”
Devano tidak tahu harus bilang apa. Dia hanya mengangguk. Yang pasti, jika dia bertemu Rosia, semua akan berbeda.
*
*
#20harimencarimaaf
#day21
#novelgoodcompetition