Rosia menatap Abel lekat-lekat. Pria itu terbaring dengan mata terpejam. Terlihat lelap, seakan-akan dia tidak sakit sama sekali.
Rosia maju tiga langkah lebih mendekat. Dia berdiri di sebelah ranjang tak jauh dari kaki Abel. Hati Rosia bergemuruh. Ada banyak yang Rosia mau tanyakan, ucapkan, dan luapkan di depan Abel.
“Mengapa Tuan membunuh ayahku? Kalaupun ayahku jahat, apa Tuan pantas mengambil nyawanya? Tuhan yang kasih ayahku hidup. Apa hak Tuan membunuh dia?”
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Rosia. Dadanya terasa penuh dan sesak. Tak mampu lagi dia menyimpan semua marah dan sakit sendirian. Dia harus melepas semua rasa pedih yang terus menekan sekian lama.
“Apa Tuan tidak berpikir, ada seorang anak yang kehilangan ayah dengan kematiannya? Seorang anak yang jadi yatim dan tidak bertumbuh dengan kasih yang lengkap. Dia dan ibunya harus mengalami banyak sekali kesulitan demi bertahan hidup. Apa Tuan tidak punya hati? Bagaimana kalau itu terjadi pada Cathy, Bernard, dan Devan?
“Apa mereka akan seperti sekarang? Punya segalanya dan bisa dapat apa saja. Sementara anak itu harus menelan marah dan luka karena ayahnya harus mati di tangan Tuan. Aku benci padamu, Tuan Abel. Aku benci padamu. Aku berharap hukuman Tuhan akan terus terjadi padamu dan semua keluargamu.”
Mengatakan semua itu air mata Rosia berderai. Tak bisa dia tahan lagi. Kedua pipinya basah, tatapannya pada Abel semakin redup.
Setelah melepas semua rasa di dada, Rosia menunduk dalam-dalam sambil menangis sesenggukan. Dia merasa tubuhnya lemas dan lunglai. Meskipun sudah dia tumpahkan semuanya di depan Abel, ternyata belum lega. Masih ada perih yang bergelayut.
“Kamu … Rosia?”
Pertanyaan itu membuat Rosia mengangkat kepala dan berhenti menangis.
Abel yang bicara. Rupanya pria itu terbangun. Suaranya tidak jelas saat mengucapkan kata-kata. Bibirnya miring dan bergerak-gerak di ujung kiri.
“Kamu, Rosia, kamu …” Abel membuka suara, dengan bibir yang kesulitan bergerak. Matanya menatap lebar pada Rosia dengan wajah merah dan tegang.
Rosia menatap tajam pada Abel. Dua langkah dia maju, tatapannya makin dalam. Tiga langkah lagi Rosia mendekat, matanya bertemu dengan mata Abel.
“Ya, Tuan. Aku Rosia.” Rosia berdiri tegak dengan tatapan menghujam pada Abel.
Abel berusaha duduk. Matanya bergerak-gerak menjelajah wajah ayu Rosia. “Kamu anak …
Tampak Abel sangat tegang. Wajahnya makin memerah.
“Kalau aku sebut Andrian Pranajaya? Tuan ingat?” Satu-satu mulut Rosia mengucapkan kata-kata itu.
Mata Abel makin lebar. “Kamu, kamu … Andrian …”
“Ya, dia ayahku. Pria yang kamu bunuh itu adalah ayahku.” Rosia tidak akan menutupi lagi kenyataan yang ada.
Ini kesempatan paling baik buat Rosia. Dia hanya berdua berhadapan dengan Abel. Kalau dia mau, dengan kondisi Abel yang lemah begitu, Rosia mudah membunuh pria itu.
“Rosia … maafkan aku … maafkan aku …” Tangan dan tubuh Abel mulai bergetar. Sekalipun tidak jelas kata-kata yang keluar dari bibir Abel, Rosia dapat menangkapnya. Pria itu terus menatap Rosia dengan mata merah dan butiran bening mengumpul di ujung matanya.
“Kamu kira tidak ada yang tahu perbuatan bejatmu? Aku melihat dengan mataku sendiri. Kamu menarik ayahku lalu menembak dia tepat di dadanya. Dasar jahat, biadab!” seru Rosia dengan hati kembali panas. Sementara seluruh tubuhnya mulai gemetar.
“Kamu … kamu …” Mendengar kata-kata itu Abel makin gemetar. Dia sangat terkejut karena ternyata Rosia menyaksikan ketika tangan Abel menarik pelatuk pistol dan menghabisi nyawa Andrian.
“Aku sengaja melamar jadi pegawaimu karena mau menghabisimu, Tuan. Aku mau melihatmu hancur dan menderita, lebih menderita dari apa yang aku dan ibuku alami karena kamu bunuh ayahku! Jangan cepat mati, Tuan. Aku minta pada Tuhan, kamu akan sakit sampai mati tak bisa, hidup tak mau. Kamu laki-laki terkutuk!” Rosia sudah tidak bisa menahan lagi semua beban dendam yang lama tersimpan. Dia luapkan dengan wajah merah penuh amarah.
Tubuh Abel makin gemetar lalu dia oleng dan terguling di kasurnya. Tepat saat itu Devano muncul di belakang Rosia.
“Papa!”
Rosia berbalik dan melihat dengan terkejut luar biasa!
“Apa yang kamu lakukan, Ros!?” tanya Devano dengan setengah berteriak.
Rosia tidak bergerak. Ada ketakutan memenuhi hatinya. Devano pasti mendengar semua yang Rosia katakan pada Abel.
“Papa!” Devano masuk dengan cepat dan membantu Abel untuk berbaring dengan posisi yang benar.
“Aku, aku …” Abel berusaha bicara tetapi kesulitan. Wajahnya merah padam dengan mata mulai berair.
“Apa ada yang sakit? Yang mana, Pa? Aku panggil suster.” Devano terlihat cemas.
Segera dia memencet bel emergency meminta perawat datang untuk memeriksa kondisi Abel. Tidak sampai dua menit, dua perawat sudah datang dan segera melihat Abel. Diam-diam, Rosia menyingkir dan meninggalkan tempat itu.
Perasaan Rosia kacau. Antara lega dia sudah meluapkan semua marah dan berhadapan langsung dengan Abelardo Ardante sebagai pembunuh ayahnya tetapi juga takut, apa yang akan Devano lakukan kalau sampai ayahnya makin memburuk gara-gara Rosia?
Rosia terus menjauh, berlari mengikuti jalanan tanpa berpikir dia akan ke mana. Matanya tak berhenti menangis. Takut, marah, lega, dan juga bingung menyerbu di dadanya. Rosia tidak tahu harus bagaimana.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Rosia makin lambat bergerak. Dia merasa letih dan lemas, akhirnya terduduk di pinggir jalan, entah ada di mana. Rosia terdiam, memandang pada aspal yang dialiri air hujan. Air matanya belum berhenti mengalir.
“Apa semua sudah selesai? Aku akan pergi. Aku tidak akan kembali pada keluarga itu. Ini sudah selesai, kan?” ucap Rosia lirih, dengan bibir gemetar karena rasa dingin yang mulai menghantam tubuhnya.
“Lepaskan.” Suara lembut itu kembali berbisik di dasar hatinya.
Rosia memejamkan mata. Siapa yang bicara?
“Sampai kapan kamu terjebak dengan amarah dan benci? Lepaskan.” Makin jelas suara itu terdengar, masih tetap lembut.
“Tuhan … apa Kau yang bicara?” ujar Rosia sambil menengadah ke langit.
Tidak lagi terdengar suara. Hujan pun perlahan reda. Mendung perlahan menyingkir. Rosia masih terduduk di pinggir jalan dengan tubuh mengiggil.
“Rosia?! Kamu kenapa?”
Mendengar suara itu, Rosia mengangkat mukanya.
“Mas Ale ….” Air mata Rosia langsung mengalir kembali. Tiba-tiba tubuhnya oleng dan dia pingsan.
*
*
#20harimencarimaaf
#day20
#novelgoodcompetition