Makan malam telah usai. Erina terlihat sibuk membereskan bekas makan mereka. Mama ingin membantu, tapi Erina mencegah. Lalu Alin akhirnya turun tangan untuk membantu. Sementara Alex mengajak Mama ke ruang tengah.
Mengobrol ringan disana sambil sesekali Mama masih menyindir Malam pertama mereka.
Alin menyusul setelah selesai membantu Erina.Kemudian Erina juga dengan membawa cemilan.
Nampak seperti Keluarga Bahagia sebagaimana mestinya. Alex duduk menempel tubuh Erina. Wanita itu terasa risih, menggeser sedikit duduknya. Tapi lagi lagi Alex menarik pinggangnya agar menempel lagi. “Jangan membuat Mama curiga.” Alex berbisik.
Mau tidak mau, Erina hanya bisa menurut. Apalagi ketika Alex sesekali mengangkat dagunya, mencium pipinya kadang juga Singgah ke bibirnya. Erina mengeram. Tapi lagi lagi Alex berbisik, “Biar Mama tidak curiga.”
Huh! Erina hanya bisa pasrah. Sambil mengumpat dalam hati. ‘Lihat setelah ini! Aku akan menuntut mu Tuan Alex!’
“Ah, Mama pergi ke Toilet sebentar.” Mama tiba tiba berpamitan.
“Iya Ma. Apa ingin ku antar?” Tanya Erin.
“Ah, tidak perlu.” Jawab Mama, beranjak segera.
Tak lama setelah Mama ke kamar mandi mereka di kejutan oleh suara seperti sesuatu yang terjatuh. Tentu mereka panik dan segera berlari untuk melihat.
Benar saja yang di khawatirkan Alex. Mama sedang meringis dengan posisi berselonjor di lantai.
“Mama! Mama jatuh?” Tanya Alex langsung mendekati.
“Iya Alex. Tolong Mama.” Mama meringis kesakitan.
Tanpa bertanya lagi Alex membopong Mama ke sofa. Di ikuti Erina dan Alin yang terlihat sama sama khawatir.
“Apa yang terjadi, kenapa Mama bisa jatuh?” Tanya Alex setelah Mama di sofa.
” Mama kepeleset Lex saat akan keluar. Mama kurang hati hati saja.” jawab Mama yang memegangi kakinya.
” Ini minum dulu Ma.” Erina memberikan satu gelas air putih. Tadi pada saat yang lain kembali ruang tengah Erina sengaja pergi kedapur dulu untuk mengambil air minum.
Mama mengambilnya,dalam sekali tenggak air pun sudah habis.
“Apa gak sebaiknya Mama dibawa ke rumah sakit mas?” Tanya Erina terlihat khawatir dengan kondisi Mama.
“Gimana Ma. Apa kita kerumah sakit aja biar mama diperiksa dokter?” Bukannya menjawab pertanyaan Erina .Alex malah balik bertanya pada Mama.
“Ia Ma. Kita kerumah sakit aja ya.” timpal kak Shela yang tak kalah khawatirnya.
“Gak perlu.Ini sepertinya kaki Mama cuma terkilir.” jawab Mama. Memegangi kakinya yang terasa sakit.
“Mas apa punya minyak tawon atau apa gitu?” Tanya Erina.
“Untuk apa? Sepertinya ada di kotak p3k” jawab Alex menunjuk kotak p3k yang menempel di dinding.
” Untuk mengurut kaki Mama biar gak bengkak” jawab Erina. Kemudian ia bangun dan mengambil kotak p3k yang di tunjuk Alex tadi. Untung saja yang ia cari ada.
“Maaf ya Ma. Biar Erina coba urut pake ini dulu.” Mama hanya mengangguk tanda mengijinkan.
Erina perlahan memegang pergelangan kaki Mama mengoleskan minyak tawon,ia sedikit memberikan pijatan lembut disana. Dan lama kelamaan semakin sedikit kuat.
Mama meringis. “Ah.. sakit. Pelan dong?”
“Tahan Ma. Ini beneran terkilir. Aku bisa perbaiki uratnya.” Sahut Erina.
“Benarkah kamu bisa?” Tanya Alex.
“Kita lihat nanti hasilnya ya.” Jawab Erina kembali melanjutkan pijatan.
‘Ya ampun kamu perhatian sekali,kamu benar benar menantu idaman’ batin Mama.
‘Pijatannya semakin Enak. hihi.’ Mama lama lama merasa nyaman di kakinya.
Melihat ketelatenan Erina dan melihat ketulusan Erina membuat alex ,Mama dan Kak Alin kagum padanya.
‘ Kenapa dia terlihat begitu tulus memperlakukan Mama. Ahh.. Kalau beginikan aku jadi menyukainya. Eh Tidak! Shela kamu harus ingat kamu harus cari tahu dulu siapa wanita ini’ batin Alin yang terus berperang sendiri antara menyukai dan mencurigai.
‘Erina kamu memang istri idaman, bodohnya orang yang sudah membuangmu’ batin Alex tambah mengagumi wanita itu.
” Selesai!” ucap Erina,membuyarkan lamunan ketiga orang itu.
“Coba digerakkan Mah. Apa masih sesakit tadi?” tanyanya. Mama menggerakan sedikit kakinya. ” Eh, iya. Sudah lumayan enakan.” Mama benar benar heran kok Erina bisa memijat. Kakinya langsung sembuh seperti sedia kala lagi.
‘ Sepertinya ini kesempatan aku untuk mengajak Erina ke rumah utama,jika disana aku lebih gampang untuk mencari tau tentangnya.’ batin Mama.
“Benar Ma, sudah sembuh?” Tanya Alex belum yakin.
“Ah Alex. Ini masih sedikit sakit.” Bohong Mama.
“Katanya tadi sudah sembuh.”
“Sepertinya kumat lagi deh. Harus beberapa kali di urut kayaknya.” Alasan Mama.
“Ah, iya. Memang seharusnya begitu Ma.” Sahut Erina.
“Alex. Kalau begitu, Mama boleh ya bawa Erina ke rumah. Kaki Mama masih sakit jika ada Erina Mama pasti ada yang ngurusin.”
Ucap Mama membujuk Alex.
‘Aduh gimana ini?’ batin Alex menoleh pada Erina yang hanya mengangkat bahu tanda tak punya pendapat.
“Alex…”
“Em..gimana ya Ma. Kami kan masih pengantin baru masa Mama tega merusak bulan madu kami sih?” Elak Alex.
“Lagian kan ada kak Alin yang jagain Mama” tolaknya lagi.
“Aku besok harus pulang ke rumah Alex Mas Adrian akan pulang.” Jawab Alin berbohong.
“Alex… Disana kamu kan juga punya kamar. Kamar kamu malah sudah kami hias sedemikian rupa spesial untuk pengantin baru. Lagian, siapa juga yang mau mengganggu bulan madu kalian. Mama kan cuma mau di urusin menantu mama yang pintar mengurut ini. Tidak seperti Via yang bisanya cuma shoping sama dandan saja. ” Kesal Mama.
“Lho.. kok bisa malah ngomongin jalang itu sih!” Alex jadi kesal.
“Makanya, kalian ikut pulang! Mama mau itu titik!” Bentak Mama sekarang.
Alex menoleh pada Erina. Erina menggeleng samar.
Ah, tapi ini kesempatan baik. Aku bisa dekat dekat Erina kalau disana. Erinatidak mungkin tidur terpisah denganku. Sudah pasti dia takut Mama curiga. Yes! Pikiran Alex mendadak sudah traveling.
‘Pengantin baru beneran!’ hatinya bersorak mendukung keinginan Mama.
“Baiklah Mama. Apa sih yang tidak untuk Mama ku tersayang. Kau boleh membawa menantumu yang cantik ini. Asal aku ikut!”
Mama dan Shela langsung berbinar. Tapi Erina malah yang tampak khawatir. Dia mulai resah dengan apa yang akan dia lakukan di sana nanti.
“Erina. Berkemaslah. Sekarang kita pulang ke Rumah Utama ya. Kasihan Mama.” Ucap Alex pada Erina.
“Sekarang?” Getir Erina.
“Besok! Ya sekarang lah sayang… Kasihan Mama. Dia butuh istirahat. Jadilah menantu yang baik.” Ucap Alex begitu manis.
Erina masih belum bergerak. Hingga Alex menariknya. “Ayolah. Aku akan membantumu berkemas.” Lalu membawanya ke kamar.
“Tuan.” Erina menghentikan langkahnya setelah mereka sudah jauh dari Mama.
“Apa aku perlu menginap disana?”
“Iyakan saja Erina. Atau semua akan terbongkar. Kau mau mengembalikan uang ku hah!” Jurus ancaman Alex dikeluarkan , membuat Erina langsung pucat.
“Tapi Tuan.”
“Sudah, urusan lain kita pikirkan nanti. Yang terpenting saat ini Mereka percaya dengan status kita. Biar Mama senang. Begitu saja.”
Erina lagi lagi hanya bisa pasrah.
Sekarang menyeret kakinya dengan lesu ke kamar untuk berkemas.